KEMELUT SEPAKBOLA NASIONAL: Ujung Muara Cinta dan Benci *

KEMELUT SEPAKBOLA NASIONAL: Ujung Muara Cinta dan Benci *

Your love makes me strong.
Your hate makes me unstoppable.

SAAT Cristiano Ronaldo mengucapkan mutiara kata bermuatan penegas itu, simpulan apa yang sekiranya bersemayam di kepala kita? Semangat terus bertarung dalam apa pun kondisi jiwa karena, hakikatnya, itulah roh profesionalisme dalam olahraga. Bertempur pantang menyerah!

Tentu bukan semata karena Ronaldo bintang besar, bergaji wah, serta pernah memanggul predikat Pemain Terbaik Dunia FIFA, maka ia dinilai berhak melontarkan kalimat tersebut. Siapa pun pemainnya, termasuk di Indonesia yang berlaga di ISL atau IPL, berhak merasukkan spirit kalimat itu dalam aktivitas profesionalnya sehari-hari.

Bermain dan bermain. Tetap fokus pada bola bergulir di lapangan karena di situ martabat karier dan sumber penghidupan tersajikan. Berbagai suara suporter –memuji, menyemangati, menghardik, mengecam, bahkan mencela— lebih merupakan bumbu arena. Mau tidak mau, ragam suara itu pun dicerna, tetapi seharusnya juga diolah pemain dalam tungku semangat sportivitas. Ibarat tonik penambah semangat, bukan semacam obat bius yang menihilkan kesadaran.

Seturut dualisme kepengurusan dan pelaksanaan kompetisi sepakbola di Tanah Air yang masih bergulir, adalah fenomena yang memprihatinkan menyaksikan publik, suporter, bahkan jurnalis tidak lagi tersekat dalam kamar-kamar pengidolaan klubnya, melainkan terpolarisasi menjadi dua kutub yang ‘’saling berhadapan’’. Saling serang dan barter kecaman di alam nyata maupun maya.

Seandainya sekarang sedang membaca buku, misalkan saja berjudul Kemelut Sepakbola Nasional,  lembar demi lembar dengan beragam cerita atau peristiwa bermasalah dilalui tanpa tahu pasti kapan sampai lembar terakhir yang menawarkan happy ending. Yang terjadi justru sekadar ibarat membolak-balik lembar-lembar buku –mengilas dan mengulas peristiwa silam tanpa inisiatif mengakhiri— hingga membuat jilidan (binding)-nya rusak dan lembaran halamannya pun terserak.

Dengan klub-klub kontestan kompetisi yang digulirkan dan suporternya, baik ISL maupun IPL merasa dicintai hingga masing-masing memiliki kekuatan. Dengan klub-klub kontestan di liga yang berseberangan dan suporter yang tidak menyukai, bahkan membencinya, ISL serta IPL merasa tertantang terus bertahan demi menunjukkan eksistensinya.

Dua pelanduk bertarung dengan keyakinan dan landasan hukum bernama statuta. Dasar hukum pula yang menguji kelayakan maupun kredibilitas putusan PSSI yang pro-IPL saat Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) menyatakan kemenangan Persipura Jayapura untuk tetap bisa berlaga di playoff Liga Champions Asia yang sebelumnya dicoret PSSI karena klub asal Papua itu memilih berkompetisi di ISL.

Pengadilan atas dualisme Persija Jakarta masih berlangsung. Di sisi lain, proses yang memaksa pencangkokan Arema Indonesia (‘’dua’’ di IPL dan satu di ISL) dan PSMS Medan (satu di ISL, satu di IPL) seturut ‘’pecah kapal’’ di Persebaya musim lalu (kini satu di IPL dan satunya di Divisi Utama Liga Indonesia yang sepayung dengan manajemen ISL) juga menyisakan banyak masalah.

Cita-cita menggulirkan liga yang ‘’visioner dan bermartabat’’ memang perlu dan penting. Namun, jika cita-cita itu harus diwujudkan melalui mekanisme maupun kebijakan yang merusak sistem –bukan membenahi atau menyempurnakan— yang telah dibangun dan terbukti berjalan, tentu sebuah tanda tanya besar jika kemudian tidak banyak didukung mayoritas konstituen liga dan sebagian besar khalayak suporter. Bahkan seharusnya kebijakan itu mampu menarik dukungan penuh.

Taruhlah metafora ISL dan IPL itu pemimpin. Serahkan publik menilai mana yang lebih memiliki unsur-unsur pemimpin yang tidak semata menjual jargon, tetapi juga bukti nyata, beserta tata terampil manajemennya. Visioner harus. Lainnya, sederhana saja, bisa didapat dari perbedaan manajemen ISL maupun IPL saat menggulirkan liganya, bobotnya, serta seberapa besar semuanya bisa diterima publik.

Dengan melihat bukti nyata yang ada berdasarkan realitas yang rasional, tanpa didasari cinta dan benci berlebihan, sebelum PSSI dan para pengkritiknya di KPSI menggelar kongres masing-masing pada Maret 2012, sebaiknya mereka juga belajar dari kemelut GKI Yasmin di Bogor. Berpegang pada hukum dan aturan memang harus. Namun, jika masing-masing bersikukuh pada hukum dan aturan yang memihaknya sebagai dasar bersikap, deadlock hasilnya.

Memang tidak akan pernah mudah bersikap legawa untuk hal maupun tindakan yang telanjur digenggam sebagai prinsip. Namun, demi sebuah tujuan yang lebih besar, demi cinta sejati untuk pembinaan sepakbola di Tanah Air tanpa mengagungkan jargon yang berkuasa menentukan segalanya, dibutuhkan keberanian menempuh jalan tengah yang tidak memihak PSSI maupun KPSI. Bagaimanapun, rekonsiliasi merupakan jalan kompromi yang tidak hanya untuk memerjuangkan kepentingan, tetapi juga menuntut pengorbanan.

Di sisi lain, pemerintah (Kemenpora) juga tidak bisa serta merta mencuci tangan atas kemelut ini dengan dalih tidak mau mengintervensi karena langkah itu dilarang keras FIFA. Masalahnya bukan mematuhi larangan itu, tetapi sejauh mana efektivitas kebijakannya mampu menampung kepentingan kedua kubu demi mengamankan sepakbola nasional dari skorsing kiprah global. Kemenpora seharusnya tidak hanya melontarkan kata, namun harus juga berpikir keras dan berjuang mencari formula itu sebagaimana yang mereka mainkan saat gonjang-ganjing mengakhiri kekuasaan Nurdin Halid di PSSI.

Telah banyak suara menginginkan langkah tersebut, tidak terkecuali kali terakhir oleh Nil Maizar, Pelatih Semen Padang yang nota bene berlaga IPL, saat hadir di Kantor PSSI, pekan lalu. Intinya, ia minta PSSI mengakhiri kemelut ini secepatnya agar para pemain terbaik republik ini bisa membela timnas serta tidak di-ban FIFA jika kedua kongres tetap berlangsung tanpa ada solusi. Kasihan pemain dan mereka yang selama ini menggantungkan hidup dari sepakbola Indonesia.

*) Tulisan ini dimuat di Harian Olahraga GOSPORT, 28-29 Februari 2012.

Manchester City Semakin Susah Juara

Manchester City Semakin Susah Juara

Manajer Manchester City Roberto Mancini. PHOTO: SCOTT HEPPEL-THE ASSOCIATED PRESS

Manchester United (MU), Chelsea, dan Manchester City terjungkal pada pengujung 2011 dan di hari pertama 2012. Tottenham Hotspur tertahan di kandang Swansea. Meski menang, Arsenal tetap butuh kerja ekstrakeras plus keajaiban meraih takhta juara. Pun, Liverpool yang masih mengesankan angin-anginan.

Kekalahan City 0-1 di rumah Sunderland lewat gol pemain asal Korea Selatan Ji Dong-Won empat detik sebelum tiga menit injury time berakhir, Minggu (1/1) malam, jelas menyesakkan dada Manajer Roberto Mancini. Namun, kemalangan The Citizen justru menjadi kado ultah nan indah untuk Manajer MU Sir Alex Ferguson. Lelaki Skotlandia berakrab sapa Fergie ini tidak meraih kado itu di Old Trafford pada malam Tahun Baru karena skuadnya digasak Blackburn Rovers 2-3.

Karena City dan MU kalah, alhasil perburuan takhta juara di antara mereka tetap ketat. Keduanya meraih 45 poin dari 19 laga. City tetap bertengger di puncak klasemen karena unggul selisih gol, 37 (53-16), berbanding MU 32 (49-17). Di posisi ketiga Spurs dengan 39 poin dari 18 pertandingan setelah ditahan seri 1-1 oleh Swansea, disusul Arsenal dengan 36 poin usai menang 1-0 atas QPR, lalu Chelsea dengan 34 poin di peringkat kelima berkat unggul selisih gol dibandingkan Liverpool dengan poin sama, usai menang 3-1 atas Newcastle United, masing-masing dari 19 laga.

Memasuki 2012 jelas hasil itu tidak menguntungkan duo Manchester. Memburu gelar Premier League merupakan prioritas setelah mereka terlempar dari ajang prestise Liga Champions musim ini. Ke babak 16 besar Liga Champions, Premier League menyisakan duo London: Arsenal dan Chelsea.

Terlebih lagi City yang dituntut cerdik menata rotasi pemain di bulan Januari dan Februari 2012 akibat ketatnya jadwal dengan lawan-lawan superberat plus ditinggalkan bersaudara Kolo dan Yaya Toure untuk memperkuat negaranya, Pantai Gading, di Piala Afrika 2012.

Rotasi yang ditunjukkan oleh Mancini di Stadium of Light, kandang Sunderland, pun berbuah blunder. Mencadangkan pilar-pilar seperti David Silva dan Sergio Aguero di babak pertama terbukti bukan langkah tepat. Daya dobrak The Citizen dari tengah kurang menggigit. Sejumlah peluang yang dimiliki Edin Dzeko dan Micah Richards gagal dikonversi menjadi gol.

Kekalahan dari Sunderland melengkapi hasil kurang memuaskan di laga sebelumnya saat City ditahan imbang tanpa gol oleh West Bromwich Albion. Bagi Mancini, kini jalur City memburu gelar perdana Premier League sejak 1968 benar-benar diuji dan dipertaruhkan. Sedikit saja miskalkulasi, mereka bisa tergelincir lagi saat menjamu Liverpool di Premier League, Selasa (3/1).

Minggu (8/1), Mancini juga harus menyiapkan pasukannya untuk derby menjamu MU di putaran ketiga Piala FA dan tiga hari kemudian melawat ke Anfield, kandang Liverpool, untuk laga pertama semifinal Piala Liga (Carling Cup).

Pada 22 Januari mendatang, City juga menjamu Spurs di Premier League ketika skuadnya tidak lagi lengkap karena pemainnya memenuhi panggilan tugas negara di Piala Afrika. Tiga hari berikutnya, mereka harus menjamu Liverpool lagi pada leg kedua semifinal Piala Liga.

Berbeda dengan MU ketika gap antara pemain inti dan cadangan tidak terlalu lebar, di City jelas terlihat dampaknya ketika the starting eleven reguler tidak lagi dipertahankan. Satu tengara pasti, betapa City begitu tidak berirama dan tidak cukup kokoh membendung sekaligus merobek benteng berlapis lawan ketika Silva, Yaya Toure, dan Aguero diistirahatkan.

Terlebih lagi Silva. Bisa dibayangkan betapa sangat memengaruhi performa City jika pemain asal Spanyol itu tidak main akibat akumulasi kartu, apalagi cedera panjang, pada saat Premier League kini masih separuh jalan.

Selanjutnya adalah prioritas. Bagi City, memburu gelar juara di Europa League setelah terlempar dari persaingan Liga Champions merupakan pilihan rasional untuk bisa menjadi yang terbaik di event besar. Namun, tidak demikian dengan MU yang telah terbiasa dengan atmosfer final, bahkan berhasil menjuarai Liga Champions yang lebih prestisius dibandingkan Europa League.

JADWAL LAGA MANCHESTER CITY PADA PARUH KEDUA MUSIM 2011-2012 (GMT = WIB+7)

3 JANUARI (20:00 GMT)
Manchester City  v  Liverpool  (Premier)
8 JANUARI (13:00 GMT)
Manchester City  v  Manchester United (FA Cup, Round 3)
11 JANUARI (19:45 GMT)
Manchester City  v  Liverpool (Carling Cup, Semifinal)
16 JANUARI (20:00 GMT)
Wigan Athletic  v  Manchester City (Premier)
22 JANUARI (13:30 GMT)
Manchester City  v  Tottenham Hotspur (Premier)
25 JANUARI (19:45 GMT)
Liverpool  v  Manchester City (Carling Cup, Semifinal)
1 FEBRUARI (20:00 GMT)
Everton  v  Manchester City (Premier)
4 FEBRUARI (17:30 GMT)
Manchester City  v  Fulham (Premier)
12 FEBRUARI (16:00 GMT)
Aston Villa  v  Manchester City (Premier)
16 FEBRUARI (20:05 GMT)
FC Porto  v  Manchester City (Europa League, Second Round)
22 FEBRUARI (17:00 GMT)
Manchester City  v  FC Porto (Europa League, Second Round)
25 FEBRUARI (15:00 GMT)
Manchester City   v  Blackburn Rovers (Premier)
3 MARET (15:00 GMT)
Manchester City  v  Bolton Wanderers (Premier)
10 MARET (15:00 GMT)
Swansea City  v  Manchester City (Premier)
17 MARET (15:00 GMT)
Manchester City   v  Chelsea (Premier)
24 MARET (15:00 GMT)
Stoke City  v  Manchester City (Premier)
31 MARET (14:00 GMT)
Manchester City  v  Sunderland (Premier)
7 APRIL (14:00 GMT)
Arsenal  v  Manchester City (Premier)
9 APRIL (14:00 GMT)
Manchester City  v  West Bromwich Albion (Premier)
14 APRIL (14:00 GMT)
Norwich City  v  Manchester City (Premier)
21 APRIL (14:00 GMT)
Wolverhampton Wanderers  v  Manchester City (Premier)
28 APRIL (14:00 GMT)
Manchester City   v  Manchester United (Premier)
5 MEI (14:00 GMT)
Newcastle United  v  Manchester City (Premier)
13 MEI (14:00 GMT)
Manchester City  v  Queens Park Rangers (Premier)

LUIS SUAREZ: ‘Empan Papan’ dan ‘Respect’

LUIS SUAREZ: ‘Empan Papan’ dan ‘Respect’

RACIALLY OFFENSIVE: Suarez (kiri) dan Evra saat Premier League di Anfield, Liverpool, 15 Oktober 2011. PHOTO: TIM HALES-THE ASSOCIATED PRESS

Sadar tempat, paham lokasi. Tahu menempatkan diri. Empan papan, kata orang Jawa. Rasionalisasi lost in translation yang dikemukakan striker Liverpool Luis Suarez atas dakwaan perilaku rasis kepada Patrice Evra dari Manchester United (MU) saat kedua klub berjibaku di Premier League, 15 Oktober 2011, di Anfield kiranya tidak bisa diterima.

Meskipun pribadi saya ngefans banget ke Liverpool, tindakan Suarez jelas telah menodai tidak hanya spirit sportivitas, tetapi juga respect (hormat) dalam sepak bola. Apalagi, dalam laporan setebal 115 halaman yang dirilis panel juri Persatuan Sepak Bola Inggris (FA) di pengujung 2011, setidaknya tujuh kali Suarez melontarkan hinaan rasis untuk Evra.

Di antaranya, sesuai laporan panel FA, saat Evra bertanya kenapa ia ditendang, Suarez bilang dalam bahasa Spanyol, ‘’Porque tu eres negro (Karena kamu hitam).’’

Ketika Evra meminta Suarez mengulang pernyataannya dan mengancam akan menonjoknya, masih dalam bahasa Spanyol striker timnas Uruguay itu bilang, ‘’Aku tidak bicara dengan orang kulit hitam.’’

Evra kembali mengancam menonjoknya dan, lagi-lagi, Suarez membalas dalam bahasa serupa yang berarti, ‘’OK, blackie, blackie, blackie.’’

Panel juri FA menjatuhkan skorsing delapan kali bermain dan denda 40 ribu pound (lebih dari Rp 560 juta) untuk Suarez pada 20 Desember lalu. Liverpool diberi tenggat waktu hingga 13 Januari 2012 untuk banding atas vonis tersebut.

FA mengambil putusan tegas dan tepat. Mengacu pada analisis pakar bahasa (linguistic experts) yang dihadirkannya, perkataan Suarez bisa dikategorikan racially offensive. Dengan kata lain, ucapan rasis!

Dalam pembelaannya, Suarez mengatakan, ia mengucapkan kata black (hitam) dan negro untuk meredakan ketegangan emosional dengan Evra. Lagi pula, di negaranya menyebut orang lain black atau negro itu justru pertanda keakraban. Dalam beberapa kesempatan, juga dinilai sebagai uluran persahabatan untuk meredakan ketegangan.

Panel juri FA dan ahli bahasa tidak sepakat atas pembelaan Suarez, yang dinilainya justru menggampangkan persoalan. Tidak menganggap serius bukti-bukti ucapan rasisnya dan sangat ‘’tidak memuaskan’’ dan berpotensi menyebarkan virus rasis di tubuh sepak bola Inggris.

Pada satu sisi, yang dikatakan Suarez mungkin benar. Kakeknya dulu yang tinggal di Uruguay berkulit hitam. Pembelaan untuk Suarez juga datang dari warga senegara, Gustavo Poyet, yang kini menjabat asisten manajer di Chelsea.

Sebelum laporan FA setebal 115 halaman tersebut keluar, Liverpool juga mempertanyakan kelaikan kesaksian Evra dan sanksi untuk Suarez. Skuad The Reds mengenakan T-shirts bergambar wajah Suarez sebelum laga melawan Wigan yang berakhir 0-0 pada 22 Desember lalu sebagai ekspresi dukungan. The Reds juga menyiapkan pembelaan.

Namun, terlepas dari hikayat Suarez yang pernah menggigit pundak pemain lawan saat masih berlaga di Eredivisie Belanda bersama Ajax Amsterdam dan gol lewat tangannya yang menyingkirkan Ghana secara menyakitkan di Piala Dunia 2010, dalam kasus rasis ini ia tidak cukup memahami eksistensinya.

Suarez bukan penutur asli bahasa Inggris dan tidak berasal dari negara-negara bekas koloni Inggris, namun kini ia menetap dan bermain di Inggris. Alhasil, mau tidak mau, Suarez harus belajar bagaimana berucap dan mengucapkannya secara tepat di sebuah wilayah meskipun masih dengan bahasa di negara asalnya.

Mengkaji cross-culture understanding (pemahaman lintas budaya) adalah mutlak untuk memberi pijakan berucap yang sesuai dengan beragam faktor kontekstual. Berucap sesuai latar dan konteksnya.

Sebagai pembanding, jika ke Surabaya dan bertemu seseorang yang sebelumnya tidak Anda kenal, lalu Anda mengucapkan kata (maaf) ‘jancuk’ agar lebih akrab, bisa-bisa Anda langsung ditempeleng. Jancuk sejauh ini memang tanpa arti, namun maknanya kotor dan kasar.

Meski demikian, apabila diucapkan oleh seseorang kepada yang lainnya dan saling mengenal, kata tersebut justru bisa tampil sebagai bumbu yang mengakrabkan. ‘’Jancuk, suwe gak ketemu. Pira anakmu saiki (Jancuk, lama tidak jumpa. Berapa sekarang anakmu)?’’

Faktor seperti itu yang kiranya tidak diperhitungkan oleh Suarez ketika bersitegang dengan Evra. Syukurlah, dalam laporan FA disebutkan Suarez berjanji tidak akan lagi menggunakan kata ‘negro’ saat bermain di lapangan-lapangan Inggris. Jika ia melanggar janjinya, FA tidak segan-segan menjatuhkan sanksi secara permanen.

Sebuah pelajaran bagus dari FA untuk sepak bola dunia. Apalagi FIFA juga telah mengumandangkan kampanye Say No to Racism. Betapa indah apabila tidak hanya pemain yang menaati seruan itu, namun juga suporter yang gegap gempita di tribun. Respect