Perjuangan Bermartabat Perempuan Palestina dalam Diri Freida Pinto

Freida Pinto dalam ''Miral''.

DESKRIPSI dan visualisasi sekuat apa pun tidak bisa, bahkan tidak akan pernah mampu, mengalahkan kondisi sesungguhnya. Freida Pinto bukan jurnalis yang terbiasa memainkan kata-kata dari rekaman peristiwa, menyusun, dan sebisa mungkin menyajikan seperti apa adanya. Aktris Portugal yang mulai mengawang berkat Slumdog Millionaire ini justru melakukan lebih dari yang ‘’sekadar’’ bisa dilakukan jurnalis.

Lewat Miral –film terbarunya tentang guru yatim piatu yang tumbuh dewasa di antara tiga generasi perempuan Palestina yang menghuni tenda-tenda pengungsian di Yerusalem— Freida merasakan tidak hanya sebagai penyampai pesan, tetapi sekaligus juga pelaku. Menurut Freida, tidak ada pesan politik, melainkan gambaran nyata individu yang merasakan sisi penderitaan manusia sebagai korban politik pendudukan Israel.

‘’Aku justru melihat film ini sebagai jeritan demi perdamaian,’’ ujar Freida di event Toronto International Film Festival, September lalu, ‘’Film ini juga sebagai permintaan kepada generasi mendatang. Sebagaimana dikatakan Gandhi, hanya perdamaian lah jalan itu dan Rula Jabreal menegaskan kembali ide tersebut.’’

Rula adalah novelis perempuan yang melahirkan Miral berdasarkan semi-autobiografinya. Dibawa ke layar lebar dengan sutradara Julian Schnabel, nominator Piala Oscar untuk The Diving Bell and the Butterfly, serta didistribusikan Weinstein Brothers, selain diputar untuk audiens terbatas di festival film Toronto, Venice, dan London, premiere Miral juga berlangsung di markas PBB, New York, pertengahan bulan ini.

Di Eropa hingga kini film ini masih diputar, namun tidak cukup mengundang animo penonton. Miral juga tidak kelewat diharapkan sukses di Amerika Serikat setelah beberapa kelompok Yahudi menstempel film ini sebagai ‘’anti-Israel’’. Namun bila ia sampai ke benua lain, terlebih yang berpenduduk mayoritas muslim, performa bisnisnya diyakini tidak mengecewakan.

‘’Jika (Israel dan Palestina) tidak mampu memecahkan persoalan ini, Israel tidak akan pernah ada lagi. Saya tidak menghendaki itu terjadi. Orang-orang yang berteriak paling lantang itu tidak berarti mereka benar-benar sadar,’’ tutur Schnabel kepada Variety.

Miral, demikian Freida, bukan film politik melainkan kisah tentang survival, cara seseorang bisa bertahan hidup, dan tidak meluruhkan martabatnya meskipun (dipaksa) menikmati kondisi yang sangat keji serta begitu terhinakan dan tertekan.

Kepada harian The Independent Inggris, Freida  menuturkan, sebelumnya ia tahu konflik Palestina-Israel hanya dari koran-koran. Begitu Schnabel dan Rula meyakinkannya untuk ambil peran utama di Miral tidak lama usai perilisan Slumdog, Freida pun tertantang untuk lebih tahu dan lebih merasakannya langsung.

Selain mendapatkan briefing dari rekannya, seorang pengacara, tentang konflik Palestina-Israel, Freida juga langsung dikenalkan oleh Rula ke lokasi-lokasi yang menjadi latar ceritanya. Berhari-hari ia tinggal bersama beberapa keluarga Palestina. Freida juga berkunjung ke berbagai wilayah yang diduduki oleh Israel maupun yang dikangkangi oleh para pemukim Yahudi.

Selain mempersembahkan ‘’keadilan’’ lewat perannya untuk Rula yang dikaguminya, Freida menyimpulkan, tidak seorang pun mampu memahami sisi manusiawi warga Palestina sebelum ia melihat dan merasakan langsung di lokasi. ‘’Itulah alasan saya meluruhkan politik dalam film ini dan bekerja atas dasar kisah kemanusiaan,’’ ucapnya.

Miral merupakan film ketiga Freida sejak Slumdog yang sukses besar meraup pendapatan hingga US$ 360 juta dari berbagai penjuru dunia. Sebelum Miral, Freida juga bermain di You Will Meet a Tall Dark Stranger.

Miral sangat mungkin tidak akan sukses menurut ukuran kocek Hollywood, yang juga tidak lepas dari pengaruh kuat para pelobi Yahudi. Namun, mau tidak mau, Hollywood harus memperhitungkan kehadiran aktris Portugal ini dan pesan yang disampaikannya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s