Arsip Bulanan: Desember 2011

Teknologi Bunglon di Kaki CR7

Teknologi Bunglon di Kaki CR7

PHOTO: JASPER JUINEN-GETTY IMAGES EUROPE

Memasuki jeda Libur Natal dan Tahun Baru 2012, sudah 20 gol diukir Cristiano Ronaldo di pentas La Liga. Untuk sementara, bintang asal Portugal itu bertengger di pucuk daftar pencetak gol (top scorer). Sedangkan di ajang Liga Champions Eropa, 3 gol diukirnya dan masih berpeluang bertambah mengingat Real Madrid lolos ke babak 16 besar.

Nike CR Mercurial Vapor Superfly III

Tentu Ronaldo belum bisa menghela napas lega. Koleksi total 23 gol itu ternyata bisa disamai bintang Barcelona Lionel Messi. Di La Liga, untuk sementara Messi memang di posisi runner-up dengan 17 gol, tetapi di Liga Champions justru sebagai top scorer bersama Mario Gomez (Bayern Munich) dengan 6 gol. Bintang Argentina ini juga berpeluang menambah golnya karena El Barca lolos ke fase 16 besar.

Well, memasuki 2012, tentu persaingan mereka merebut Sepatu Emas bakal sesengit rivalitas Real Madrid dan Barcelona. Musim lalu Ronaldo meraih Sepatu Emas setelah mencetak total 40 gol. Namun, ujarnya, itu semua tidak cukup berarti tanpa gelar La Liga dan Liga Champions yang justru dimiliki si seteru klasik, El Barca.

Meski musim lalu Real Madrid yang dibelanya mengangkat Piala Raja setelah mengalahkan Barcelona di partai final, Ronaldo menyebut sukses klubnya di La Liga dan Liga Champions jauh lebih penting ketimbang apresiasi individu untuknya.

‘’Menjuarai La Liga atau kompetisi utama antarklub Eropa jauh lebih spesial. Musim lalu mungkin penampilan terbagus sepanjang karierku dan jelas membikin aku bahagia. Namun, tanpa gelar rasanya aku mencetak lebih sedikit sepuluh gol. Musim ini aku berusaha keras terus mencetak banyak gol dan memenangi banyak trofi,’’ ujar bintang yang akrab dilabeli CR7 ini seperti dilansir ThePostGame.com.

Nah, guna mencapai ambisi itu, Nike merasa sang icon perlu disokong total dalam penampilannya di lapangan. Maka, menjelang pengujung musim lalu, diciptakanlah Nike CR Mercurial Vapor Superfly III –sepatu khusus agar sang bintang tetap moncer, rajin menambang gol, dan berkontribusi penting untuk klubnya.

Sepatu tersebut didesain tidak hanya pas untuk jari-jari kaki, khususnya jempol, Ronaldo sehingga menjamin kenyamanan sekaligus garansi akurasi saat menendang bola. Lebih dari itu, seperti belum lama ini dipaparkan desainernya, Andrew Caine, sepatu baru tersebut juga didesain untuk mengecoh lawan. Lho kok bisa?

Begitulah adanya karena, demikian Caine, sepatu tersebut mengadopsi desain kamuflase alias pengecoh. Jika ditatap mata lawan, khususnya pemain belakang, warna sepatu berubah-ubah yang memengaruhi pandangan. Pendek kata, ‘teknologi bunglon’ yang menghasilkan efek warna pada desain sepatu itu akan sangat memengaruhi konsentrasi lawan.

Mereka bisa saja mengira CR7 bergerak ke kiri padahal ke kanan dan sebaliknya. Maka, lawan yang telah terilusi bakal kesulitan mendeteksi sekaligus menghentikan pergerakan CR7.

‘’Wajar kan karena gerakan kaki yang banyak dilihat pemain. Jika Anda defender yang ditugasi mengawal Cristiano, pasti akan mencermati ke mana gerak tubuhnya untuk bisa menghentikannya. Maka, ide mengecoh pandangan akan sedikit menyulitkan untuk bisa membaca pergerakan tubuhnya. Mengecoh pandangan itulah yang berlaku di sini,’’ tutur Caine.

SEPATU ORANYE: CR7 dalam putaran final Piala Dunia 2010 Afsel. Sepatu oranye yang dipakai merupakan awal eksperimen untuk penciptaan sepatu berteknologi bunglon yang dipakainya musim ini. PHOTO: GUARDIAN.CO.UK

Menurut Caine, permainan warna sangat berperan dalam pengecohan ini. Bagaimana lawan menatap pergerakan CR7 kala bermain di sayap serta dari berbagai arah dan sudut lain di lapangan. Tanpa banyak diwartakan ketika itu, eksperimen Nike untuk sepatu khusus CR7 itu sejatinya telah dimulai pada putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Saat itu CR7 memakai sepatu warna oranye cerah agar rekan-rekannya di timnas Portugal bisa mudah membaca pergerakan kakinya. Namun, yang berlaku pada Nike CR Mercurial Vapor Superfly III justru sebaliknya, yaitu mengecoh lawan yang melihatnya. Mereka seolah menatap kaki yang berbeda-beda tergantung dari sisi sebelah mana sepatu itu dilihat.

Masing-masing sisi sepatu itu menebarkan warna yang berbeda-beda. Dari kanan terlihat seperti garis-garis tipis bersih, tetapi bergaris tebal dengan aksen garis merah dari sisi kiri. Efek visual dua sisi itu dipadukan desain sepatu yang asimetris membuat lawan terkecoh menilai pergerakan CR7.

Menurut Caine, CR7 sangat antusias dan kooperatif dalam proses penciptaan sepatu barunya itu. Tiga kali Caine terbang ke Madrid membawa tiga prototipe berbeda guna menentukan desain yang benar-benar pas untuk CR7.

Semua tahu CR7 juga memiliki reputasi sebagai icon fesyen. Sepatu baru tersebut tidak bertujuan menambah penampilannya melainkan lebih untuk memacu performanya di lapangan demi prestasi pribadi yang berdampak positif pada klubnya.

Terbukti sepatu baru itu benar-benar bertaji di perjalanan musim ini sebelum berakhir pada Sabtu, 10 Desember 2011, ketika Real Madrid dipaksa menelan kekalahan pahit 1-3 oleh sang seteru klasik, El Barca. Yang menyesakkan dada CR7 dan segenap punggawa El Real beserta suporternya, kekalahan pada el clasico yang mengakhiri torehan 15 kali menang beruntun di La Liga itu terjadi di hadapan 79.900 pasang mata di kandang sendiri, Stadion Santiago Bernabeu.

Karena sepak bola merupakan permainan tim, jelas kekalahan itu bukan kegagalan CR7 seorang. Namun, kekalahan yang melengkapi kegagalan El Real mengimbangi kuasa El Barca musim lalu itu membuat orang semakin banyak menjagokan kembali Lionel Messi meraih penghargaan Bola Emas (Ballon D’Or) sebagai Pemain Terbaik Dunia FIFA 2011 yang diumumkan Januari 2012. Messi adalah Pemain Terbaik Dunia 2010.

Jika demikian, tanpa gelar pemain terbaik sejagat dua tahun beruntun, dengan sepatu barunya (prototipe-nya sudah masuk ke Indonesia dengan harga sekitar Rp 4,6 juta per pasang), mampukah CR7 mempertahankan Sepatu Emas-nya sekaligus membawa El Real juara La Liga atau Liga Champions, bahkan keduanya? Menarik ditunggu.

SETAHUN ENZO BEARZOT BERPULANG: Inspirasi yang Tak Pernah Padam

SETAHUN ENZO BEARZOT BERPULANG: Inspirasi yang Tak Pernah Padam

ENZO BEARZOT. PHOTO: ILPOST.IT

Tidak terasa hari ini tepat setahun Enzo Bearzot berpulang ke Sang Pencipta. Pada 21 Desember 2010, allenatore yang imejnya lekat dengan pipa rokok itu mengembuskan napas terakhir di Milan, Italia, pada usia 83 tahun.

Namun, nama Bearzot tidak akan lekang dimakan zaman seturut jasad yang tertanam. Dialah sosok yang mengantarkan Italia mengangkat trofi Piala Dunia 1982 di Spanyol. Gelar mondial pertama untuk Italia dalam kurun 44 tahun, tepatnya sejak mengangkat trofi juara pada 1938.

Prestasi yang sangat pantas dikenang, apalagi hingga kini almarhum masih dinobatkan sebagai pelatih terlama sekaligus tersukses di timnas Gli Azzurri. Melatih timnas sejak 1975, Bearzot mengantarkan Italia menempati posisi keempat di Piala Dunia 1978 Argentina dan Piala Eropa 1980 di rumah sendiri, juara pada Piala Dunia 1982, serta ke putaran final Piala Dunia 1986 Meksiko.

Bukan sekadar deretan prestasi tersebut yang membuat Bearzot sangat layak dikenang. Mantan defender yang cuma sekali memperkuat timnas selama karier bermainnya itu juga dihormati karena kepiawaiannya meracik taktik di lapangan serta sentuhan humanis untuk anak latih dan jajaran manajemen.

Tak terlewatkan kejelian Bearzot membaca ‘’tanda-tanda’’ keemasan seorang pemain meskipun pemain bersangkutan direndahkan oleh publik dan media. Orang mengenang bagaimana sebelum putaran final Piala Dunia 1982 Spanyol itu striker Paolo Rossi begitu tidak diperhitungkan dan sangat layak tidak dipanggil masuk timnas.

Namun, Bearzot cuek aja dengan semua penilaian minor untuk Rossi. Ia memanggilnya ke timnas, memainkannya pada putaran pertama (Grup 1) kontra Polandia, Peru, dan Kamerun. Di tiga laga putaran pertama ini Italia hanya mampu memetik hasil seri. Bearzot pun lebih deras dan keras dikecam karena Rossi mandul gol di tiga pertandingan tersebut.

Beruntung, meski memetik seri di tiga laga itu, bersama Polandia, Italia lolos ke putaran berikutnya karena unggul selisih gol (perlu diingat, di Piala Dunia 1982 format yang masih digunakan adalah 2 poin untuk tim yang menang dan 1 poin untuk seri. Penentuan lolos ke putaran berikutnya untuk dua tim dengan poin yang sama melalui mekanisme hitungan selisih gol, bukan head-to-head seperti sekarang).

Berada di Grup B pada putaran kedua, Italia berkumpul dengan juara bertahan Argentina dan Brasil. Bearzot dihajar lagi karena menurunkan Rossi yang masih juga tidak mampu menambang gol sebelum ditarik keluar. Meski Italia lolos karena mengalahkan Diego Maradona dkk 2-1, tetapi media koor mendesak Bearzot agar tidak menurunkan Rossi ketika melawan Brasil.

Bearzot menutup telinga atas desakan itu. Ia masih memercayai Rossi. Hasilnya? Fantastik. Pada duel yang mempertontonkan permainan cantik berpola serangan supersporadis melawan pertahanan sekukuh gerendel (catenaccio) ini, Rossi mengukir hattrick yang memastikan kemenangan Italia 3-2 atas Brasil. Lewat gol penentu kemenangan pada menit ke-74 setelah posisi imbang 2-2 (jika bertahan akan meloloskan Brasil ke semifinal karena unggul selisih gol berkat kemenangan 3-1 atas Argentina pada pertandingan pertama), Rossi lah penyelamat muka Italia dan Bearzot.

Pilihan Bearzot terbukti tidak salah. Di semifinal Italia berjumpa lagi Polandia. Lagi-lagi, dua gol Rossi membawa Gli Azzurri menang 2-0 atas Polandia. Italia ke final dan Rossi membuka gol Italia dari kemenangan 3-1 atas (kala itu) Jerman Barat. Italia juara. Rossi tampil sebagai top scorer kejuaraan ini dengan 6 gol sekaligus peraih gelar Pemain Terbaik.

Pelatih Berkarakter Lengkap

Kepada media ketika itu, Rossi mengatakan, mungkin ia telah ‘mati’ jika Bearzot juga ikut arus publik dan media yang tidak memercayainya. Rossi juga terharu ketika Bearzot tidak tunduk pada tekanan publik dan media agar tidak memasangnya setelah krisis di putaran pertama. Pun, kegigihan Bearzot meyakinkan para petinggi di asosiasi sepak bola Italia bahwa tidak ada yang salah dengan skema permainannya.

Pendek kata, demikian Rossi, Bearzot bukan hanya pelatih, tetapi juga bapak yang memahami anaknya serta terus menggelorakan semangat si anak ketika gamang dan tertekan. Sikap Bearzot ini yang membuat tim nyaman, kompak, serta membantu anggota skuad saling memahami kondisi masing-masing pemain, lantas bahu-membahu mengatasinya. Chemistry ini yang seharusnya dimiliki pelatih mana pun.

Di lapangan, Bearzot juga dikenal piawai meramu strategi. Ia sosok yang tidak mau menerima secara kaku catenaccio-nya Italia. Ia berpegang pada prinsip, bertahan bagus, menyerang bagus. Tidak akan menang jika cuma bertahan, sehingga pemain harus kuat bertahan sekaligus menyerang. Tidak boleh timpang.

‘’Saya kira sepak bola itu seharusnya dimainkan dengan dua sayap (wingers), seorang penyerang tengah, serta seorang playmaker. Begitulah cara saya memandang sebuah permainan. Beri saya kebebasan memilih pemain, lalu biarkan mereka bermain tanpa terlalu banyak membebani mereka dengan taktik. Anda tidak bisa berkata kepada Maradona, ‘Bermainlah seperti yang kukatakan’. Biarkan ia mengekspresikan dirinya sendiri dan yang lainnya akan mengurus urusannya,’’ tutur Bearzot suatu ketika.

Di Spanyol, Bearzot menerapkan formasi 4-3-3 dengan beberapa pilar seperti Franco Baresi, Gaetano Scirea, Marco Tardelli, Bruno Conti, dan Rossi.

Namun, sepandai-pandai seorang pelatih, ia juga manusia yang pasti memiliki titik maupun celah lemah. Terlebih lagi jika rival telah mampu membaca strategi yang pernah diterapkan dan setia digenggam.

Begitu juga yang berlaku pada Bearzot. Usai euforia juara di Piala Dunia 1982 Spanyol, ia masih setia mengandalkan skuad yang sama dan cenderung berpola serupa. Hasilnya, Italia gagal lolos ke putaran final Piala Eropa 1984.

Seturut kegagalan itu, media kembali bersuara lantang mengingatkan Bearzot. Kali ini sang pelatih bersedia membuka telinga. Beberapa perubahan dilakukan dan membawa hasil perbaikan. Namun, semuanya serasa berakhir ketika di Piala Dunia 1986 Gli Azzurri ditumbangkan Prancis pada babak 16 besar. Bearzot menjawabnya dengan mundur dari timnas.

Itulah Bearzot. Ia pelatih sejati yang telah memberi warna spirit dan cara bermain. Ia salah satu icon sepak bola Italia. Kepadanya sepak bola dan pelatih di dunia bisa belajar. Selamanya…

Rahmad’s exit a slap in the face to divisive PSSI *

Rahmad’s exit a slap in the face to divisive PSSI *

Rahmad Darmawan, the head coach of the Indonesian Under-23 soccer team, surprised soccer enthusiasts when he relinquished his post on Dec. 13, less than a month after he led his team to the final of the 26th SEA Games’ soccer tournament at home, which they lost.

The Indonesian Soccer Association (PSSI) had tried to persuade Rahmad to stay but to no avail, for one substantial reason: to defend the right of every best-suited player to play for the national team.

The PSSI has decided to ban players from the Indonesian Super League (ISL), which it deems as illegal as it rivals the PSSI-sanctioned Indonesian Premier League (IPL), from donning the national jersey.

It means Rahmad would have been unable to pick the best players as he did during his short stint as assistant to Wim Rijsbergen, the head coach of the senior national team, and for the SEA Games.

With Rahmad assisting Rijsbergen, the senior team stormed into the Third Round of the Asian Zone 2014 World Cup Qualifying but in his absence from the pitch’s sidelines, the team was eliminated after losing five of the six matches they played during this phase.

Apart from the failure to clinch the gold medal, the U-23 national team under Rahmad performed quite well at the SEA Games and in the friendly match against Los Angeles Galaxy on Nov. 30.

Soccer lovers view that having proved his chemistry and managerial skills in handling the promising U-23 national team, Rahmad would be the right person to take over the senior national team to end a long drought of achievements.

Had he maintained his job, he would have faced heavier challenges simply because almost all the players he brought to the national squad play in the ISL.

Young talented players like Titus Bonai, Patrich Wanggai, Okto Maniani, Hashim Kipuw, Dutch-born Diego Michiels, and many others belong to ISL clubs.

No doubt stable clubs will generate healthy competition, while a healthy competition will result in a strong national team.

Unfortunately, the PSSI has failed to create a healthy competition due to the prolonged conflicts involving its members and soccer elites, which have sparked division among the top-tier professional leagues.

Almost half a year since Djohar Arifin Husin took office as the PSSI chairman on July 9, during the association’s extraordinary congress held by the Normalization Committee in Surakarta, Central Java, the soccer elites remain unable to end their differences.

The congress merely produced a deal on figures concerning the day-to-day running of the PSSI’s businesses but failed to convey the association’s basic spirit to unite the nation as echoed by its founder, the late Suratin. The soccer elites wasted their opportunity to reconcile and formulate collective agreements on actions to develop the nation’s soccer.

But, as Rahmad said, it is unfair to sacrifice players in the dual-league controversy while the PSSI and its stakeholders have not exhausted efforts to end their deep and prolonged differences. Why must the elite rivalry punish the players?

Rahmad has left the national team but it does not negate respect for him. His yet unanswered question presents a deep lesson that reminds me of the words by Sir Bobby Charlton, English soccer’s living legend and 1966 World Cup winner: “Some people tell me that we professional players are soccer slaves. Well, if this is slavery, give me a life sentence.”

Soccer is for all. Keeping the regulations intact is absolutely correct. Enforcing the rules in line with
the spirit of fair play and unity in soccer, however, requires more than strict actions, let alone punishment for “rebel” players and clubs under the ISL.

Since both leagues have rolled on, 18 clubs in the ISL compared to 13 from the initially proposed 24 clubs in the IPL, let soccer enthusiasts see and judge the standard of the rival leagues since “soccer is democracy” and “democracy is soccer” wherein the spirit of respect exists.

It would be highly appreciated if the soccer power brokers, conflicting parties among the PSSI board members and both the ISL and IPL club officials don’t give up trying to find the best formula to take the advantages from the dual leagues for the greater objective of building a strong national team.

The difference can stand for the love of soccer and the lovers of soccer, and for the joy of all, without hurting each other.

* The writer is a freelance editor, writer and media consultant. Published on the ‘Opinion’ page, The Jakarta Post, Saturday 17 December 2011.