Arsip Kategori: PERSONAL THOUGHT

Yang kualami dan orang-orang tercinta di sekelilingku

Rahmad’s exit a slap in the face to divisive PSSI *

Rahmad’s exit a slap in the face to divisive PSSI *

Rahmad Darmawan, the head coach of the Indonesian Under-23 soccer team, surprised soccer enthusiasts when he relinquished his post on Dec. 13, less than a month after he led his team to the final of the 26th SEA Games’ soccer tournament at home, which they lost.

The Indonesian Soccer Association (PSSI) had tried to persuade Rahmad to stay but to no avail, for one substantial reason: to defend the right of every best-suited player to play for the national team.

The PSSI has decided to ban players from the Indonesian Super League (ISL), which it deems as illegal as it rivals the PSSI-sanctioned Indonesian Premier League (IPL), from donning the national jersey.

It means Rahmad would have been unable to pick the best players as he did during his short stint as assistant to Wim Rijsbergen, the head coach of the senior national team, and for the SEA Games.

With Rahmad assisting Rijsbergen, the senior team stormed into the Third Round of the Asian Zone 2014 World Cup Qualifying but in his absence from the pitch’s sidelines, the team was eliminated after losing five of the six matches they played during this phase.

Apart from the failure to clinch the gold medal, the U-23 national team under Rahmad performed quite well at the SEA Games and in the friendly match against Los Angeles Galaxy on Nov. 30.

Soccer lovers view that having proved his chemistry and managerial skills in handling the promising U-23 national team, Rahmad would be the right person to take over the senior national team to end a long drought of achievements.

Had he maintained his job, he would have faced heavier challenges simply because almost all the players he brought to the national squad play in the ISL.

Young talented players like Titus Bonai, Patrich Wanggai, Okto Maniani, Hashim Kipuw, Dutch-born Diego Michiels, and many others belong to ISL clubs.

No doubt stable clubs will generate healthy competition, while a healthy competition will result in a strong national team.

Unfortunately, the PSSI has failed to create a healthy competition due to the prolonged conflicts involving its members and soccer elites, which have sparked division among the top-tier professional leagues.

Almost half a year since Djohar Arifin Husin took office as the PSSI chairman on July 9, during the association’s extraordinary congress held by the Normalization Committee in Surakarta, Central Java, the soccer elites remain unable to end their differences.

The congress merely produced a deal on figures concerning the day-to-day running of the PSSI’s businesses but failed to convey the association’s basic spirit to unite the nation as echoed by its founder, the late Suratin. The soccer elites wasted their opportunity to reconcile and formulate collective agreements on actions to develop the nation’s soccer.

But, as Rahmad said, it is unfair to sacrifice players in the dual-league controversy while the PSSI and its stakeholders have not exhausted efforts to end their deep and prolonged differences. Why must the elite rivalry punish the players?

Rahmad has left the national team but it does not negate respect for him. His yet unanswered question presents a deep lesson that reminds me of the words by Sir Bobby Charlton, English soccer’s living legend and 1966 World Cup winner: “Some people tell me that we professional players are soccer slaves. Well, if this is slavery, give me a life sentence.”

Soccer is for all. Keeping the regulations intact is absolutely correct. Enforcing the rules in line with
the spirit of fair play and unity in soccer, however, requires more than strict actions, let alone punishment for “rebel” players and clubs under the ISL.

Since both leagues have rolled on, 18 clubs in the ISL compared to 13 from the initially proposed 24 clubs in the IPL, let soccer enthusiasts see and judge the standard of the rival leagues since “soccer is democracy” and “democracy is soccer” wherein the spirit of respect exists.

It would be highly appreciated if the soccer power brokers, conflicting parties among the PSSI board members and both the ISL and IPL club officials don’t give up trying to find the best formula to take the advantages from the dual leagues for the greater objective of building a strong national team.

The difference can stand for the love of soccer and the lovers of soccer, and for the joy of all, without hurting each other.

* The writer is a freelance editor, writer and media consultant. Published on the ‘Opinion’ page, The Jakarta Post, Saturday 17 December 2011.

Indonesia Pasca-Pak Harto dan Nurdin Halid

Indonesia Pasca-Pak Harto dan Nurdin Halid

MENENTANG sosok jauh lebih mudah ketimbang melawan sebuah sistem, apalagi rezim yang telah tersistem dan melahirkan pola pikir serta perilaku sistemik. Maka, tidak mengherankan apabila sosok yang dinilai sebagai simbol maupun icon sebuah rezim berhasil ditumbangkan, tidak ada jaminan pasti pola pikir dan perilaku rezimnya otomatis terkubur dalam-dalam di liang lahat tanpa setitik lubang jarum menguap ke permukaan.

PHOTO: AFP

Ketika sebuah rezim bisa digulingkan dan tatanan yang dibangunnya ikut diporakporandakan karena dicap antipembaruan, antireformasi, dan anti- anti- lainnya yang dinilai benar, maju, dan berbudaya, saat itu pula sejatinya sebuah kerja besar menantang baru dimulai. Tidak sekadar memancang harapan, tetapi pembuktian atas slogan-slogan yang mengisi ruang publik semasa ‘’kampanye penggulingan’’ yang cenderung abstrak (kata sifat) menjadi kata kerja, kinerja nyata.

Wajar. Itulah jalan hidup. Warna dan tantangan hidup. Sunnatullah. Bikin hidup lebih hidup. Socrates sang filsuf (bukan salah seorang pesepak bola legendaris dan mantan kapten Brasil yang tidak pernah mengantarkan timnasnya menjadi juara dunia itu) mengatakan, the unexamined life is not worth living. Hidup tanpa ujian sungguh tidak layak dijalani.

Siapa pun berani menantang ujian hidup pasti memetik hasilnya: berhasil atau gagal, lulus atau tidak lulus. Kiranya semua itu hanya warna hidup. Sang pemberani tidak jarang disambut aplaus dan dielu-elukan, diidolakan dengan label pelaku perubahan –the agent of change lah kata orang-orang sekolahan. Disengat laporan media serta kalimat-kalimat penuh nada canda dan amarah di spanduk dan pamflet, dari hari ke hari massa pengidola bertambah karena, menurut Eric Hoffer dalam True Believer, mereka merasa senasib sebagai kumpulan sosok yang haus perubahan dan memiliki satu tujuan.

Ketika komandan perubahan hadir, psikologi massa menjadi dominan melihat satu tujuan. Massa bergerak. Massa bertindak. Hipnotisme suara hati massa kerap mengalahkan pertimbangan masing-masing kepala dan ‘’mencoba curiga’’ untuk jangka panjang. Yang penting, saatnya bertindak. Ujian harus dilalui karena hanya itu yang akan membuat hidup lebih berarti. Amboi, romantisnya. Lebih romantis lagi jika tujuan tercapai, barangkali seindah pasutri yang sedang berbulan madu.

Sayang, tidak jarang pula cita-cita mulia perubahan yang membebaskan diwarnai provokasi yang tidak mendidik, pembiaran, bahkan tindakan anarkistis. Disayangkan pula apabila mereka yang dinobatkan sebagai aktor (otak kotor?) serta yang menganggap diri sendiri sebagai aktor bersama massanya dituntut tidak asal bekerja dengan spirit coba-coba, melainkan kerja yang terukur hasilnya.

Ada parameter kinerja yang memberikan peluang kepada publik untuk menilai tidak lagi sekadar faktor akseptabilitas para aktor, tetapi juga akuntabilitas berdasarkan kapabilitas mereka.

Jika semua paparan tersebut diposisikan sebagai teleskop, bagaimana kondisi di Indonesia saat ini pasca Pak Harto dan Nurdin Halid?

Para penentang bersorak kegirangan penuh kemenangan ketika Pak Harto dan Nurdin terguling. Padahal yang mereka tumbangkan itu sekadar simbol dari sebuah sistem yang telah mengakar dan dijanjikan oleh para aktor bakal dienyahkan seturut spirit reformasi (versi mereka) yang digelorakan.

Yang terjadi kemudian? Tampaknya tidak perlu lagi banyak dipapar di sini karena realitas sehari-hari telah menjawabnya. Benarkah presiden-presiden pengganti lebih cakap dari Pak Harto? Benarkah pengganti Nurdin di PSSI saat ini lebih terampil?

Masing-masing memiliki sisi plus dan segi minus.  Namun, mereka tidak akan pernah bisa lepas dari parameter kinerja yang dijadikan dasar penilaian oleh publik, tidak terkecuali yang sebelumnya bersama mereka bersemangat menggelorakan reformasi bertarget penggulingan para simbol.

Namun, setelah penggulingan para simbol memetik hasil, apakah ada jaminan pasti para aktor menggaransi keinginan –belum pada taraf kepentingan—massa pendukungnya? Dari titik ini pengingkaran terhadap tesis Hoffer dimulai dan semakin nyata mencolok mata publik ketika para aktor, ternyata, lebih mementingkan diri sendiri dan kelompok kecilnya. ‘’Sistem reformasi’’ yang mereka bangun tidak lagi bertolak dari kepentingan bersama, menurut parameternya sendiri.

Oleh karena itu, publik membutuhkan pikiran jernih agar tidak membiarkan diri serta menyerahkan jiwa mereka untuk diombang-ambingkan oleh retorika dan slogan para aktor,  namun sejatinya justru dijadikan tumbal dari kepentingan mereka.  Selamat merenung……

Bersama Istri Membincang ”Free Education”

Bersama Istri Membincang ”Free Education”

Sangat lama saya tidak membincang berbagai isu pendidikan. Padahal ketika menjadi anggota penyunting penerbitan kampus, isu-isu pendidikan menjadi menu rutin di institusi saya yang mencetak mahasiswanya menjadi pendidik, IKIP Surabaya di kawasan Ketintang sebelum kebijakan memaksanya bermetamorfosis menjadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Di sela kehidupan mahasiswa yang penuh warna, saya masih punya waktu untuk menulis artikel pendidikan, kemahasiswaan (kolom mahasiswa), beberapa tulisan lainnya, dan mengirimkannya ke beberapa media lokal. Tentu hati berbunga-bunga jika tulisan saya dimuat. Bukan semata karena honorariumnya yang cukup besar untuk ukuran mahasiswa ketika itu sehingga bisa memperpanjang napas di rantau sekaligus mentraktir teman-teman, tetapi juga ada kepuasan batin yang tidak akan bisa dikonversikan ke dalam rupiah.

Terlebih lagi ketika ke toko buku mendapati tulisan-tulisan pendidikan saya dipilih sebagai artikel pilihan yang diterbitkan buletin GEMA (meskipun namanya sama, tetapi sama sekali tidak ada hubungan dengan penerbitan kampus tempat saya pernah belajar) dan buletin sejenis lainnya bersama tulisan-tulisan lainnya oleh para pakar pendidikan dan penulis lain yang lebih punya nama.

Di antara beberapa artikel saya yang dipilih tersebut sempat menjadi polemik di Surabaya Post. Bahkan, seorang guru sebuah SMA di Surabaya merasa perlu mendatangi saya di kampus untuk berdebat usai kami terlibat polemik on-print seputar pemanfaatan laboratorium bahasa di sekolah.

Buletin-buletin yang dijual di toko buku itu berisi kumpulan tulisan, khususnya opini, dari berbagai media massa di Indonesia berdasarkan bidang atau topik rubrikasi: pendidikan, politik, ekonomi, dan lain-lain. Saya tidak tahu pasti apakah buletin-buletin itu masih ada karena tidak lagi saya jumpai di toko-toko buku yang saya kunjungi beberapa tahun terakhir

Saking bahagianya, tulisan-tulisan saat mahasiswa yang dimuat itu hingga kini saya simpan. Begitu meninggalkan kampus dan bergabung koran demi koran, saya kurang konsisten lagi mengarsip berbagai tulisan dan laporan yang saya buat (dampak pemikiran rutinitas pekerjaan, hehehe…)

***

Proses pendidikan selalu menghadapi jalan panjang berliku. Namun, selalu ada tangga menuju perbaikan. CAKSOL

Akhir-akhir ini memori mengakrabi dunia pendidikan itu bangkit lagi. Kondisi yang membentuknya. Tahun ini putri sulung saya lulus dari sebuah SD. Adiknya segera masuk playgroup. Mau tidak mau, saya dan istri, yang juga seorang praktisi pendidikan, makin intens mendiskusikan rencana pendidikan selanjutnya untuk anak-anak kami, termasuk memilih sekolah yang kami nilai tepat sebagai fondasi pendidikan mereka.

Tentang berbagai kebijakan dalam sistem pendidikan, inovasi, metode, dan strategi baru dalam proses pembelajaran, jelas istri saya jauh lebih paham karena ia mengikutinya secara intens. Sedangkan yang saya tahu, pun sebagian besar dari berita, lebih sebatas penerapannya di lapangan bagi peserta didik.

Saya lebih banyak mendengar dan mencatat dalam buku tanpa lembaran kertas, di pikiran. Mengingat judul buku Jakob Sumardjo (1994), ibaratnya saya membuat Catatan dari Luar Pagar. Saya bukan pelaksana atas penerapan praktis sistem pendidikan meskipun tetap menjadi salah satu komponennya karena sebagai anggota masyarakat warga negara dan sebagai wali siswa.

Dari istri saya bisa lebih memahami apa RSBI itu. Bersama istri saya membincang hasil-hasil ujian nasional (Unas), seperti rendahnya nilai untuk Bahasa Indonesia pada Unas SMP/MTs dan SMA/SMK/MA serta ragam fenomena mulai dari nilai rata-rata Unas di Kota Surabaya tahun ini yang kalah dengan beberapa kabupaten maupun kota lain di Jawa Timur hingga soal penerimaan siswa baru (PSB).

Pada satu sisi, saya bukan fanatis terhadap capaian angka-angka dalam proses pendidikan. Tidak juga saya penganut teguh diferensiasi jenis sekolah; negeri atau swasta. Saya lebih suka berpegang pada ajaran-ajaran adab berilmu seperti dipaparkan dalam Ta’lim al Muta’allim, Usfuriyah, dan lainnya yang lazim dikaji di pesantren atau penerapan teori ‘’pendidikan untuk semua’’-nya Paulo Freire.

Mereka tidak hanya menawarkan pendidikan yang berbudi pekerti, melainkan juga berkarakter yang bisa disesuaikan dengan tuntutan kondisi Indonesia. Bukankah budi pekerti dan karakter itu yang belakangan ramai dicari-cari (lagi) oleh pendidikan kita, seperti upaya memasukkan lagi Pendidikan Pancasila dalam kurikulum sekolah?

Para politisi ramai memintanya. Kiranya mereka alpa pendidikan di republik ini juga buah dari kebijakan politik. Apa gunanya memberikan pelajaran Pancasila di sekolah-sekolah jika beberapa pemimpin, tokoh, dan pejabat publik masih doyan korupsi. Layakkah ini menjadi teladan rakyat, khususnya para siswa? Apakah itu yang dulu mereka pelajari di sekolah?

Jangan-jangan keinginan itu nanti malah ditertawakan siswa mengingat yang di atas dan sistem yang mereka bangun sejauh ini tidak cukup memberikan teladan yang semestinya.

Yang justru menggelitik pikiran adalah semakin kuatnya kecenderungan sekolah-sekolah memoles diri menjadi kapitalis –baik sekolah negeri maupun swasta, termasuk yang berstempel religius— dan semakin kehilangan pegangan karakter akibat tuntutan perlombaan pencapaian angka-angka yang berdampak pada statusnya. Imbasnya, ada kecenderungan guru juga berpola pikir kapitalis, pragmatis, dan ambisius jabatan meskipun kesehariannya tampak bagai orang suci yang layak digugu dan ditiru (dipercaya dan diteladani).

Kenaikan gaji guru, pemberian berbagai tunjangan, dan bantuan untuk sekolah adalah produk kebijakan politik dalam pendidikan. Oke-lah jika bertujuan meningkatkan mutu pendidikan. Namun, sejatinya semua itu tidak berkaitan dengan karakter pendidikan. Namanya manusia, dikasih berapa pun kebanyakan berpikir takkan pernah cukup, hehehe… Mentallah yang berbicara.

Di sisi lain, bisa dipahami bahwa sebagai sebuah proses, penerapan pendidikan juga butuh evaluasi. Pelaksanaan Unas yang menghasilkan angka-angka itu, selain kebijakan-kebijakan lainnya, merupakan upaya mengukur sejauh mana proses pendidikan berlangsung sesuai yang ditargetkan. Selagi masih dinilai sebagai barometer yang memungkinkan diterapkan sampai ada penggantinya yang kredibel, Unas pun layak dipertahankan.

Ironisnya, lagi-lagi namanya manusia, pada pelaksanaannya masih saja terjadi tindakan tidak jujur, bahkan culas dan curang yang menodai hakikat mulia pendidikan. Berdalih membantu, namun sejatinya lebih pada mengingkari dan mencederai kebebasan peserta didik untuk berpikir sesuai kemampuannya.

Ke-tidak konsisten-an maupun pengingkaran pada prinsip free education (mohon diartikan sebagai ‘’pendidikan yang bebas’’ —dalam arti kebebasan memperoleh pendidikan, termasuk memilih sekolah. Bukan ‘’pendidikan gratis’’ karena sejatinya tidak ada pendidikan gratis itu baik di sekolah negeri, apalagi swasta) masih juga berlaku ketika siswa lulus dan hendak melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Prinsip pendidikan yang sebenarnya cenderung sosialis malah dikebiri oleh kebijakan politik berargumen sempit demi keadilan. Di sisi lain, ketika institusi pendidikan semakin tidak berdaya menghadapi tuntutan persaingan bebas bernuansa kapitalis, kebijakan pemberlakuan kuota yang membabi-buta oleh beberapa pemerintahan kota dan kabupaten, serta didukung parlemen setempat, justru menjadi ironi antitesis atas laissez faire (pasar bebas) yang menjadi roh kapitalisme.

Misalnya, bagaimana mungkin anak warga Surabaya yang bersekolah SD atau SMP di Sidoarjo kemudian ditangkal masuk mendaftar di SMP maupun SMA di wilayah Surabaya? Padahal, saat mendaftarkan anak-anaknya di sekolah-sekolah yang ada di wilayah Sidoarjo tersebut, orangtua bisa jadi melihat ada kebutuhan khusus dalam pendidikan yang harus dipenuhi. Mereka menggunakan haknya untuk memperoleh free education.

Mengapa penggunaan hak itu untuk jenjang berikutnya malah dipersulit, bahkan ditolak? Ironis, memang. Apalagi jika misalnya pejabat pemerintahan di Surabaya berlindung di balik argumen kaku bahwa pembiayaan pendidikan di kota itu didanai APBD, sehingga dikhususkan untuk para lulusan sekolah-sekolah di Surabaya. Masuk akal. Tetapi, bagaimana apabila siswa yang bersangkutan itu bukan warga Surabaya, tetapi warga Sidoarjo misalnya? Bukankah APBD untuk rakyat di wilayah bersangkutan?

Saya tidak tahu pasti apakah karena kebijakan seperti itu pada tahun-tahun sebelumnya yang membuat lulusan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA di Surabaya tahun ini kalah bersaing dengan lulusan dari sekolah-sekolah di luar Surabaya.

Tetapi, seperti dikatakan istri saya, jika pendanaan pendidikan dari APBD yang menjadi acuan, maka kebijakan Pemkot Surabaya saat ini dengan pemakaian Kartu Susunan Keluarga (KSK) sebagai acuan PSB untuk sekolah-sekolah di Surabaya kiranya lebih tepat. Dengan demikian, di mana pun anak warga Surabaya bersekolah, mereka masih punya kesempatan untuk kembali menimba ilmu di kotanya—apalagi jika merasa pemenuhan kebutuhan pendidikan itu ada di sana.

Bagaimanapun, memperoleh free education merupakan hak dasar setiap warga negara sehingga kiranya lebih tepat lagi apabila sebuah kota tidak menutup pintu bagi siswa-siswa dari kota lain. Apakah fenomena ini masih terjadi di berbagai kota dan wilayah di Indonesia? Mengapa harus menutup pintu yang mengesankan takut bersaing?

Jangan sampai tragedi yang menimpa dua ibu di Amerika Serikat –Kelley Williams-Bolar di Ohio dan Tanya McDowell di Connecticut— pada Januari dan Mei tahun ini, terulang di Indonesia. Seperti ramai diberitakan media AS dan menjadi perdebatan sengit rakyat di sana, kedua ibu tersebut ditangkap gara-gara memalsukan dokumen akta lahir anak-anaknya agar bisa belajar di sekolah-sekolah lain di luar wilayahnya yang dirasakan lebih baik.

Memalsukan dokumen jelas melanggar hukum. Kedua ibu itu pun sempat ditahan. Namun, publik berteriak lantang mempertanyakan hal mendasar yang mendorong mereka melakukan pelanggaran itu. Publik menggalang dukungan dan memprotes dengan argumen mendapatkan pendidikan di mana pun di wilayah AS adalah hak setiap warga negara. Keduanya lantas dibebaskan.

Pada 1994, di kolom opini Surabaya Post, saya juga menulis fenomena ‘’bangku kosong’’ yang sejatinya merupakan ‘’bangku khusus’’ saat PSB. Bangku itu bukannya tidak berpenghuni, melainkan sengaja dikosongkan oleh pihak sekolah untuk ‘’ngobyek’’ cari pemasukan tambahan. Siswa yang hendak mengisinya dikenakan biaya tertentu hingga jutaan rupiah.

Mungkin ada juga uang yang masuk kas sekolah, tetapi sangat mungkin pula dibagi-bagi mulai dari jatah untuk kepala sekolah hingga lapisan bawah seperti tukang kebun. Masing-masing dapat jatah tertentu atas ‘’kepala’’ siswa baru sesuai jabatan. Bukankah ini mengerosi hak-hak siswa yang sejatinya lebih berhak tidak semata karena kemampuan finansial orangtuanya? Masih adakah fenomena itu sekarang di berbagai kota di Indonesia?