Rupiah dari Ombak Pantai Cimaja

Thesi Adiriza dan Pak Edin. PHOTO: NORMAN

Ide adalah emas. Namun ide yang kadang muncul tak terduga itu tidak akan menjelma sebagai emas jika tidak dibarengi keinginan kuat untuk menggapainya. Ide hanya bertakhta di awan selagi tidak ditindaklanjuti keteguhan hati untuk melangkahkan kaki mewujudkannya, yang bagi sebagian orang tidak ubahnya mimpi.

BERAWAL dari rasa penasaran sekaligus terdorong keinginan kuat untuk belajar berselancar (surfing), Thesi Adiriza mantap melangkah menuju pantai Desa Cimaja di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Thesi lantas belajar berselancar dari Nuraedin –lelaki 37 tahun yang akrab disapa Pak Edin—hingga akhirnya cukup mahir menjaga keseimbangan diri di atas papan yang meluncur di permukaan air laut.

Berselancar pun menjadi hobi yang mengasyikkan bagi Thesi. Dari keasyikan itu lantas muncul ide kreatif sekaligus produktif membuka usaha menjual papan surfing di Cimaja dengan tetap menggandeng Pak Edin.

‘’Ide awalnya timbul tahun 2000 saat saya berusia 20 tahun. Demi keinginan untuk belajar berselancar, saya rela hijrah ke Sukabumi, tepatnya di Cimaja, Pelabuhan Ratu, dari tempat tinggal saya sebelumnya di Jalan Griya Raya, Griya Mas, Bandung.  Sampai Cimaja, saya bertemu Pak Nuraedin, peselancar terbaik di Cimaja sampai kini,’’ ujar Thesi mengenang.

Di Cimaja, Pak Edin adalah pesohor untuk urusan surfing. Anak-anak sekolah, remaja, hingga dewasa sangat mengenalnya. Bahkan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia serta dari negara manca selalu mencarinya jika ingin belajar dan dibimbing ber-surfing. Ombak di pantai Cimaja memang sudah dikenal –baik di dalam maupun luar negeri— sebagai lokasi yang cocok untuk berselancar.

‘’Atas dasar itu timbul ide cara mendapatkan uang. Maka saya mengajak Pak Edin untuk membuka usaha papan surfing dan layanan perbaikan andaikata ada papan surfing yang kurang enak dipakai. Usaha ini kami mulai awal tahun 2005 dan berjalan hingga sekarang dengan nama galeri Stripes Shop. Saya mengajak Pak Edin bukan semata untuk membuka usaha galeri, tetapi sekaligus menjadikannya guru atau pelatih dalam berselancar,’’ kata Thesi menguraikan.

Percaya atau tidak, modal awal usaha mereka hanya Rp 1 juta. Sebulan kemudian modal ditambah Rp 1 juta lagi, sehingga total tersedia Rp 2 juta. Menilik keterbatasan modal awal itu, Thesi dan Edin dipaksa memutar otak bagaimana caranya agar Stripes Shop tetap menarik minat pengunjung yang hendak berselancar di pantai Cimaja.

Jadilah galeri itu diisi hanya satu buah papan selancar second, ditambah dua buah papan surfing milik pribadi mereka. Juga ada beberapa pasang pakaian renang, serta tidak ketinggalan kemeja dan kaus agar galeri tidak saja terlihat menarik, tetapi juga mengesankan eksklusif.

Berkat kesabaran dan keuletan mereka, Stripes Shop berkembang. Jumlah papan surfing dan aneka kebutuhan yang dipajang di galeri pun terus bertambah. Pengunjung  galeri rata-rata tidak hanya untuk membeli papan surfing, tetapi sekaligus minta diajari cara menggunakannya dengan benar dan baik.

Apalagi harga papan surfing di Stripes Shop cukup terjangkau kantong konsumen. Per buah papan baru dibanderol antara Rp 3 juta  hingga Rp 10 juta.  Menurut Edin, papan surfing banyak diminati turis asing dibandingkan lokal.

‘’Kami juga mengajak para pemuda di sini untuk menjadi guide yang mempromosikan papan surfing. Ada juga guide yang datang langsung dari hotel ke Stripes Shop meski tanpa ada kerja sama dengan pihak hotel. Tentu saja ada upah jasa untuk para guide yang berhasil dan agar lebih bersemangat mencari konsumen. Dengan demikian para pemuda setempat merasa terpanggil untuk mempromosikan daerahnya supaya dikenal dan dikunjungi para turis,’’ ujar Edin.

Menurut Edin, baik dan tidaknya papan selancar tergantung pada faktor personal.  Seorang peselancar yang sudah terbiasa memakai papan surfing tertentu sangat mungkin tidak cocok memakai papan yang lain. ‘’Bisa dikata faktor kebiasaan saja. Jadi belum tentu papan ini baik untuk kita, baik juga untuk orang lain. Ada yang baik untuk kita, tetapi tidak baik untuk orang lain dan sebaliknya,’’ ucap Edin menegaskan.

Terdapat beberapa bahan papan surfing. Namun yang lazim adalah terbuat dari fiber.  Ada papan selancar berjenis knee board karena dipakai dengan cara berlutut, short board yang dipakai dengan cara berdiri normal, serta long board/malibu yang lebih klasik dan menyenangkan, serta mini malibu yang berukuran lebih pendek dari malibu. Harga papan-papan selancar ini berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Semuanya handmade yang lazim dipakai oleh surfer legends.

‘’Tetapi ada juga yang dibuat dengan cara dicetak di pabrik, yang biasa disebut sebagai papan epoxy dengan harga yang hampir sama dengan papan-papan yang disebut tadi, tergantung dari bahan dan kualitasnya. Sedangkan harga papan surfing bekas sekitar Rp 800 ribu sampai Rp 3 juta,’’  kata Edin menerangkan.

Jika ada pengguna mengeluhkan papan selancar yang dipakainya, baik yang dibeli dari Stripes Shop atau dari tempat lain, Edin siap memperbaikinya, sehingga enak dipakai si peselancar. Semuanya dilakukan sebagai servis bagi konsumen agar tidak kecewa usai membeli papan surfing.

Selain memperbaiki papan, Edin juga selalu siap menjadi pelatih atau guru bagi yang mau belajar berselancar, apakah itu anak-anak sekolah, remaja, dewasa, bahkan orangtua. Turis asing, jangan ditanya lagi. Sudah banyak yang mengenal Edin. Apalagi turis asing itu juga menceritakan soal Edin kepada rekan-rekannya di negara asalnya yang ingin pergi mencari tantangan ombak di Indonesia, tepatnya ke pantai Cimaja.

Dari situlah Stripes Shop yang dikelola Thesi dan Edin mampu bertahan hingga kini.  Thesi dan Edin sangat bersyukur atas perkembangan usahanya. Namun mereka juga masih berharap perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi agar lebih giat lagi untuk mempromosikan Pelabuhan Ratu, khususnya pantai Cimaja dengan potensi ombak yang cukup baik untuk berselancar.

Tentu keinginan tersebut datang tidak hanya dari Thesi dan Edin, tetapi juga dari semua warga Sukabumi –warga Desa Cimaja khususnya—yang ingin menyaksikan daerahnya terus berkembang dan maju. Kiranya berbagai event perlu juga mulai dipikirkan untuk digelar di Cimaja, seperti menjadikannya tuan rumah kejuaraan berselancar bagi Provinsi Jawa Barat, serta event-event lain berlevel di atasnya.

Solichin I Laporan Norman dari Cimaja, Sukabumi

Tabloid FORSAS Februari 2010