ANALISIS USAI LAGA PERDANA GRUP C: Menanti Barter Serangan Total Uruguay vs Cile

BARTER SERANGAN: Bintang Meksiko Giovani dos Santos (kanan) dikawal bek Cile, Waldo Ponce (kiri) dan Gonzalo Jara pada laga Grup C Copa America 2011 di Estadio Bicentenario, San Juan, Argentina, Selasa (5/7) pagi WIB. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

Pada putaran final Piala Dunia 2010, Cile merupakan satu-satunya wakil Amerika Selatan (Zona CONEMBOL) yang gagal melaju ke perempat final. Brasil dan Argentina tumbang di perempat final masing-masing oleh Belanda dan Jerman. Sedangkan Uruguay, di luar prediksi, mengejutkan dengan lolos ke semifinal sebelum dipatahkan Belanda, yang kemudian takluk di partai final oleh Spanyol.

Di turnamen Copa America 2011, Argentina dan Brasil yang difavoritkan justru memulai langkahnya dengan hasil-hasil kurang memuaskan. Argentina ditahan Bolivia 1-1 di Grup A dan Brasil diganjal tanpa gol oleh Venezuela di Grup B.

Di Grup C, pada pertandingan di Estadio de Bicentenario di San Juan, Selasa (5/7) WIB, Uruguay dengan Diego Forlan, top player di Piala Dunia 2010, juga ditahan seri 1-1 oleh Peru. Beruntung dari total enam laga perdana penyisihan di tiga grup, duel Cile kontra Meksiko di Grup C –di stadion yang sama usai pertandingan Uruguay lawan Peru— mampu menyajikan tontonan menarik.  Bisa dikata, yang paling menarik sepanjang turnamen ini bergulir.

Cile (peringkat ke-27 dunia pada ranking terbaru FIFA) memeragakan sepak bola menyerang meskipun sempat kecolongan oleh pasukan muda Meksiko (9 dunia setelah timnas senior menjuarai Gold Cup 2011 bulan lalu, tetapi di turnamen ini turun dengan skuad muda U-22 yang dimotori Giovanni dos Santos) lewat gol heading pemain belakang Nestor Araujo menit ke-41. Namun, sejak kick-off justru duo penggedor Cile, Humberto Suazo dan Alexis Sanchez, yang tiada lelah memberondong tembok muda Meksiko nan gigih.

Tertinggal 0-1 pada babak pertama berhasil dibalas dengan dua gol di babak kedua melalui Esteban Paredes (menit ke-67) dan Arturo Vidal (menit ke-73). Sepak bola menyerang Cile akhirnya menang 2-1. ‘’Saya kira Cile akan terus melaju di Copa America ini. Dari yang saya saksikan pada 12 tim yang telah berlaga, saya kira Cile yang paling bagus,’’ komentar Asisten Pelatih Meksiko Luis Fernando Tena seperti dilansir The Associated Press.

Mewarisi skuad bentukan Marcelo Bielsa yang tahun lalu mempersembahkan prestasi terbaik di putaran final Piala Dunia sejak 1962 dengan lolos ke putaran kedua, Claudio Borghi –pelatih Cile saat ini— memang tidak perlu takut menerapkan strategi menggempur. Apalagi, skuad muda Meksiko juga tidak memeragakan sepak bola bertahan, sehingga di lapangan pun muncul barter serangan yang sangat enak ditonton.

Di sisi lain, tidak bisa disangkal bahwa Cile bisa leluasa bermanuver mengingat mereka mempunyai jam terbang dan pengalaman yang jauh mengungguli para pemain muda Meksiko. Meski demikian, spirit tempur para punggawa muda Meksiko ini layak pula diwaspadai oleh lawan-lawan mereka lainnya di Grup C: Uruguay dan Peru.

PENENTU KEMENANGAN: Ekspresi Arturo Vidal setelah memastikan kemenangan Cile atas Meksiko pada laga Grup C Copa America 2011 di San Juan, Selasa (5/7) WIB. PHOTO: AP

Pada laga sebelumnya di grup yang sama, Uruguay (18 dunia) terhindar dari kekalahan atas Peru (49 dunia) berkat gol Luis Suarez menjelang babak pertama usai. Peru yang cenderung defensif mencuri gol pada menit ke-24 lewat aksi individu brilian Paolo Guerrero dalam skema counter attack umpan jauh dari lini belakang. Guerrero terpaksa menjadi lone striker setelah di turnamen ini Peru tidak bisa diperkuat Jefferson Farfan dan Claudio Pizarro yang cedera.

Sejatinya lini belakang Peru juga tidak terlalu kokoh. Namun, mereka bisa mengimbangi Uruguay dengan determinasi tinggi serta cukup lama memainkan ball possession. Apalagi dalam pertandingan ini Uruguay yang menurunkan skuad sukses di Piala Dunia 2010 lalu –minus bek kokoh Diego Godin yang cedera— tampak kerap salah umpan. Gampang kehilangan bola.

Tanpa Godin, lini belakang Uruguay yang dikomando Diego Lugano kerap bisa diacak-acak Guerrero serta Luis Advincula yang mencoba menusuk ke petak terlarang. Beberapa kali pula gawang Fernando Muslera dalam ancaman. Di lini depan cuma Suarez yang terbilang paling mengancam dengan skill individunya dan kecerdikannya mengambil posisi, sementara Diego Forlan dan Edinson Cavani beberapa kali membuang peluang emas mencetak gol.

Forlan mengakui, pada Copa America 2011 ini peta kekuatan semakin merata terlepas apa pun strategi yang dipakai masing-masing tim. Dari enam laga perdana di tiga grup, hanya Cile yang mampu mencetak lebih dari satu gol ke gawang Lawan. ‘’Banyak tim bagus di turnamen ini,’’ ujarnya.

DIEGO FORLAN: Gagal memberikan kemenangan untuk Uruguay saat laga perdana Grup C melawan Peru di San Juan, Selasa (5/7) WIB. PHOTO: AP

Pada laga berikutnya, Sabtu 9 Juli 2011 di Mendoza, Uruguay menghadapi Cile (05.15 WIB) dan Peru kontra Meksiko (07.45 WIB). Laga Uruguay kontra Cile diperkirakan sangat menarik mengingat dua tim memiliki kecenderungan menggempur. Dengan bintang-bintang penggedor di kedua tim, kunci sukses duel ini tampaknya lebih pada adu kuat lini pertahanan dan kepiawaian para kipernya. Apakah Oscar Tabarez, arsitek Uruguay, bisa mengulang racikan sukses sebagaimana di Piala Dunia 2010 lalu?

Pada laga lainnya di Grup C, Peru diperkirakan akan terpancing lebih tergoda menggempur ketika menghadapi para pemain muda Meksiko. Kecenderungan Peru polesan Sergio Makarian memanfaatkan serangan balik dengan menantang adu sprint  tim lawan tidak bisa lagi diandalkan. Para pemain muda Meksiko di segala lini akan terus berlari dan berlari mem-pressing para pemain Peru, ke mana pun mereka bergerak.

Justru pemain-pemain muda Meksiko ini berpotensi menggempur lini pertahanan Peru yang sejatinya juga tidak cukup tangguh hingga menit-menit akhir. Para pemain Meksiko juga berpotensi memancing para pemain Peru melakukan pelanggaran berbahaya di sekitar atau dalam petak terlarang.

DATA PERTANDINGAN GRUP C

Selasa, 5 Juli 2011

Cile 2-1 Meksiko (Estadio de Bicentenario, San Juan)

Pencetak Gol: Nelson Araujo-Meksiko (41’); Esteban Paredes-Cile (67’), Arturo Vidal-Cile (73’).

CILE: Claudio Bravo, Pablo Contreras, Waldo Ponce, Gonzalo Jara, Mauricio Isla, Gary Medel, Arturo Vidal, Matias Fernandez (Carlos Carmona, 83’), Jean Beausejour (Esteban Paredes, 60’), Alexis Sanchez, Humberto Suazo (Marco Estrada, 92’). Kartu Kuning: Claudio Bravo (74’)

MEKSIKO: Luis Ernesto Michel, Hector Reynoso, Darvin Chavez, Hiram Mier, Javier Aquino (Oribe Peralta, 74’), Paul Aguilar, Diego Reyes, Nestor Araujo, Jorge Enriquez, Giovani Dos Santos, Rafael Marquez Lugo (Edgar Pacheco, 88’). Kartu Kuning: Javier Aquino (22’), Diego Reyes (25’), Paul Aguilar (67′)

MENCURI GOL: Striker Peru Paolo Guerrero (bawah) merayakan golnya ke gawang Uruguay bersama Luis Advincula pada laga perdana Grup C di Estadio Bicentenario, San Juan, Argentina pada Selasa (5/7) WIB. PHOTO: AP

Uruguay 1-1 Peru (Estadio Bicentenario, San Juan)

Pencetak Gol: Paolo Guerrero-Peru (24’), Luis Suarez-Uruguay (44’)

URUGUAY: Fernando Muslera, Maxi Pereira, Diego Lugano, Mauricio Victorino, Martin Caceres, Diego Perez, Egidio Arevalo Rios, Nicolas Lodeiro (Cristian Rodriguez, 78’), Edinson Cavani (Abel Hernandez, 78’), Diego Forlan, Luis Suarez. Kartu Kuning: Martin Caceres (81’)

PERU: Raul Fernandez, Renzo Revoredo, Santiago Acasiete, Alberto Rodriguez, Walter Vilchez, Michael Guevara (Carlos Lobaton, 57’), Adan Balbin, Rinaldo Cruzado, Yoshimar Yotun (Juan Vargas, 59’), Luis Advincula (William Chiroque, 90’), Paolo Guerrero. Kartu Kuning: Paolo Guerrero (24’), Santiago Acasiete (50’), Rinaldo Cruzado (81’), Juan Vargas (83’)

——————–

KLASEMEN SEMENTARA GRUP C

(main, menang, seri, kalah, memasukkan-kemasukan, poin)

1. Cile                      1     1     0     0     2-1     3

2. Uruguay             1     0     1     0     1-1     1

3. Peru                    1     0     1     0     1-1     1

4. Meksiko              1    0     0      1     1-2     0

——————–

Pertandingan Selanjutnya

Sabtu 9 Juli 2011

05.15 WIB: Uruguay vs Cile – Mendoza

07.45 WIB: Peru vs Meksiko – Mendoza

Memburu Sembuh untuk Luka Berbeda

Jelas tidak sama, tetapi perebutan posisi ketiga antara Uruguay dan Jerman, dini hari nanti, kiranya tetap menarik disaksikan sebelum final Belanda vs Spanyol, Senin (12/7) dini hari WIB. Uruguay dan Jerman memburu sembuh untuk jenis luka yang berbeda. Kesembuhan yang tidak saja diharapkan menyehatkan sesaat, namun membuatnya lebih tegar melangkah ke depan. Mungkin hingga empat tahun ke depan saat Piala Dunia 2014 bergeser lagi ke Brasil di Amerika Latin.

Datang ke Afsel berstatus underdog, bahkan di antara sesama tim Amerika Latin, Uruguay mengukir prestasi gemilang pada kurun 40 tahun terakhir. Gagal ke final demi menoreh kejutan sebagai juara tentu menyedihkan. Namun bisa lolos ke semifinal merupakan capaian sangat besar untuk tim yang kini berada di peringkat ke-16 FIFA ini. Kesempatan tersisa meraih posisi ketiga kini di depan mata. Hanya ini penawarnya.

Luis Suarez, striker yang diskorsing saat kalah 2-3 dari Belanda menyusul ‘’tangan usilnya’’ yang berbuah kartu merah kala melawan Ghana di perempat final, sudah bisa diturunkan lagi melawan Jerman. Kepada media, Suarez pun mengatakan, kini tiba saatnya ‘’bermain sampai mati’’ untuk tempat ketiga itu. Piala Dunia kali ini memberi Uruguay kesan luar biasa dan mereka tidak mau sekadar masuk empat besar.

Bisa masuk tiga besar tidak hanya menjanjikan kenaikan tajam posisi Uruguay di peringkat FIFA yang akan diperbarui 14 Juli nanti atau tiga hari pasca perhelatan Piala Dunia 2010. Sukses akan menjadi capaian terbaik Uruguay sejak menjuarai Piala Dunia 1950. Catatan terbaik sebelumnya adalah semifinalis Piala Dunia 1970, tapi kalah 0-1 dalam perebutan posisi ketiga oleh Jerman Barat lewat gol Wolfgang Overath pada menit ke-26 di Stadion Azteca, Mexico City, pada 20 Juni 1970.

Empat puluh tahun berlalu. Dini hari nanti di Port Elizabeth, Timnas Uruguay bertemu lagi dengan Jerman yang sudah bersatu. Selain nostalgia memberi kans untuk revans atas kekalahan 40 tahun silam, inilah kesempatan memantapkan kebangkitan baru La Celeste. Suarez, pencetak tiga gol di Piala Dunia 2010, bertekad memenanginya.

Begitu pula Diego Forlan. Bahkan selain demi kebesaran timnasnya, terdapat misi pribadi yang diusung Forlan agar tetap diturunkan pada laga ini meski bermasalah dengan paha kanannya. Yaitu, mengejar predikat pendulang gol tersubur (top scorer) Piala Dunia 2010. Saat ini Forlan mengemas 4 gol alias tertinggal satu gol dari playmaker Belanda Wesley Sneijder dan striker Spanyol David Villa.

Forlan telah mengemas lima gol dalam dua kali Piala Dunia. Saat Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang, ia mencetak satu gol namun Uruguay gagal lolos dari fase grup. Dia sudah mengemas 28 gol untuk timnas atau terpaut hanya tiga gol dari Hector Scarone sebagai pemilik rekor sepanjang masa di Timnas Uruguay. Dua kali pula Forlan meraih ‘’Sepatu Emas Eropa’’ sebagai pencetak gol terbanyak di Benua Biru.

Selain Sneijder dan Villa yang berkesempatan menambah pundi-pundi gol karena timnas yang dibelanya masih akan duel di final, koleksi 4 gol juga dikemas duo striker Jerman: Thomas Mueller dan Miroslav Klose. Mueller bisa diturunkan lagi dini hari nanti setelah absen melawan Spanyol karena akumulasi kartu. Tetapi kondisi Klose fifty-fifty akibat cedera punggung yang didapat ketika melawan Spanyol. Padahal inilah kans tersisa Klose menyamai rekor 15 gol Ronaldo (Brasil) di Piala Dunia. Sami Khedira serta Mesut Oezil yang juga dinyatakan bermasalah dengan kebugaran.

***

Perebutan tempat ketiga jelas bukan target ideal Die Panzer. Meski datang ke Afsel bukan di posisi empat besar unggulan juara –masih di bawah Brasil, Spanyol, Argentina, dan Inggris— Jerman menyentak publik bola dunia sepanjang perhelatan ini karena tampil sebagai tim paling produktif (plus-minus gol 13-2 sebelum dihentikan Spanyol di semifinal) dengan para pemain muda usia dari berbagai latar pertalian darah.

Tapi timnas berperingkat ke-6 FIFA itu (Spanyol di peringkat ke-2 dan Belanda di posisi ke-4) membersitkan harapan Jerman segera meraih gelar juara untuk kali keempat setelah menang 4-1 atas Inggris pada babak 16 besar dan mengempaskan Argentina 4-0 di perempat final. Nyatanya keperkasaan Die Panzer belum cukup ampuh mengungguli kecerdikan La Furia Roja Spanyol, yang juga menundukkannya di final Piala Eropa 2008.

Lantas, apa makna perebutan posisi ketiga ini untuk Jerman?

Test case mental. Sejauh mana Philipp Lahm dkk bisa cepat bangkit dari keterpurukan setelah diberi ‘’pelajaran’’ Spanyol. Selain hasil akhir laga yang menjadi barometer absolut prestasi, sangat menarik menyaksikan permainan Die Panzer. Duel dini hari nanti sekiranya juga bisa memberi gambaran apakah bakal menjadi momen terakhir Joachim Loew mendampingi tim setelah menggenggam jabatan pelatih dari Juergen Klinsmann usai Piala Dunia 2006 di rumah sendiri.

Jika Jerman menang dengan permainan yang kembali mengesankan, jalan Loew bertahan mungkin masih terbuka. Itu pula yang diungkapkan Kapten Lahm dan berbagai pihak yang mendukung Loew dipertahankan pasca kekalahan dari Spanyol. Jika kalah, terbuka juga peluang Loew segera dicopot meski lelaki 50 tahun ini menorehkan catatan pelatih terbaik di antara seluruh pelatih timnas untuk kategori rasio menang-kalah.

Ibarat pepatah, pantang seseorang terperosok di lubang serupa untuk kali kedua. Dua kali kesempatan Loew membawa Timnas Jerman melawan Spanyol di laga-laga krusial, final Piala Eropa 2008 dan semifinal Piala Dunia 2010. Tapi dua kali pula Die Panzer kalah. Apalagi Februari lalu Loew dan Deutscher Fusball-Bund (DFB, Persatuan Sepak Bola Jerman) sempat berselisih seputar beberapa hal terkait kontraknya, di antaranya soal kompensasi finansial dan penentuan staf untuk pelatih kepala.

Kekalahan memperebutkan tempat ketiga, apalagi jika permainan Jerman tidak mengesankan seperti melawan Spanyol, perlahan tapi pasti bukan mustahil para pengurus DFB mengungkit kepiawaian pelatih yang mantan gelandang serang itu sebagai tactician.

Di luar semua kemungkinan itu, Loew telah mewariskan wajah baru di Timnas Jerman dengan segala plus-minusnya. Timnas Jerman yang ia yakini tetap padu meski ia tidak lagi bersama mereka. Skuad Die Panzer yang menjanjikan untuk kompetisi mendatang, Piala Eropa 2012 dan Piala Dunia 2014. ‘’Tim ini memiliki para pemain bagus, segala kemungkinan masih bisa terjadi. Terlepas siapa yang memegang kendali, tim ini tetap padu. Perkembangan tim ini bukanlah akhir, namun baru permulaan,’’ tuturnya dalam konferensi pers usai kekalahan melawan Spanyol.

Oleh karena itu, menarik ditunggu bagaimana permainan Jerman dini hari nanti serta hasilnya melawan Uruguay. Apakah usai laga ini Presiden DFB Theo Zwanziger masih tetap menilai Loew sebagai ‘’pelatih yang baik’’?

* ) Beberapa bagian dari artikel ini dimuat di Jurnal Bogor, Sabtu 10 Juli 2010.

El Matador (Masih) Meragukan

VICENTE DEL BOSQUE: Banyak pilihan, ''gambling'' pun tak terhindarkan.

SPANYOL, juara Piala Eropa 2008, disebut-sebut sebagai salah satu unggulan juara di Piala Dunia 2010. Anda berhak menjagokannya. Namun seperti analisis awal Presiden UEFA Michel Platini bulan lalu, saya meragukan kans juara tim El Matador di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Spanyol, demikian Platini, memang memiliki pemain-pemain bagus di segala lini. Para pemain yang sangat diperhitungkan baik di liga domestik maupun yang merumput di liga-liga lain di Eropa, khususnya di Inggris.

Namun untuk turnamen antarbenua seperti Piala Dunia, El Matador tidak punya cukup mental menghadapi beragam tekanan yang muncul di lapangan, seperti kesiapan menghadapi peralihan cepat strategi lawan dari berbagai penjuru dunia akibat tuntutan faktor iklim.

Spanyol juga dinilai gampang pincang apabila salah satu key player di lini tertentu absen akibat akumulasi kartu kuning, karena kartu merah maupun cedera. Alhasil, kepaduan pola dan strategi di lapangan menjadi guncang mengingat dua tahun terakhir yang paling menonjol dari Timnas Spanyol adalah stabilitas karakter permainan. Piala Konfederasi 2009 di Afsel membuktikannya.

Meski tidak persis sama, saya melihat semifinal kedua Liga Champions Eropa di Nou Camp antara Barcelona dan Inter Milan beberapa waktu lalu, bisa juga memberikan gambaran itu. Barca merupakan pemasok pemain terbanyak hampir di semua lini untuk Timnas Spanyol. Betapa mereka kesulitan menciptakan celah, kreasi serangan, ketika Andres Iniesta, yang juga pilar di timnas, absen akibat cedera.

Keraguan saya terhadap Spanyol –mengamini preliminary analysis Platini— kian menebal menyaksikan daftar skuad sementara yang dilansir Pelatih Vicente del Bosque pada 10 Mei lalu. Dari provisional roster beranggotakan 30 pemain yang akan dikepras menjadi 23 pemain dalam daftar akhir ke FIFA pada 1 Juni 2010, sudah mulai terbaca adanya ‘’kebimbangan’’ pada diri Del Bosque.

Mari kita cermati. Ke-30 pemain itu adalah Casillas, Reina, Lopez, Ramos, Arbeloa, Albiol, Puyol, Pique, Marchena, Capdevila, Senna, Busquets, Alonso, Xavi, Iniesta, Fabregas, Navas, Silva, Mata, Torres, Villa, Guiza, Negredo, De Gea, Valdes, Azpilicueta, Martinez, Cazorla, Llorente, dan Pedro. Sebanyak 23 nama yang tidak tercetak tebal merupakan para pemain yang dibawa Del Bosque beruji coba ke Prancis bulan lalu dan memberi hasil memuaskan.

Sementara tujuh yang dicetak tebal itu adalah para pemain baru di skuad sementara timnas yang harus diserahkan ke FIFA. Sekali lagi, sangat menarik mencermati provisional roster Timnas Spanyol ini. Sangat menarik!

Adakah semata karena ketentuan harus menyerahkan 30 nama, maka Del Bosque harus memasukkan lima penjaga gawang (kiper) di skuad sementara tersebut? Adakah itu pertanda dia sudah sangat yakin dengan 23 pemain yang diangkutnya ke Prancis bulan lalu? Sangat mungkin, ya. Meskipun pilihan ‘’ya’’ berisiko memincangkan stabilitas tim pada saat putaran final Piala Dunia 2010 nanti.

Kelima kiper itu adalah Iker Casillas (Real Madrid), Pepe Reina (Liverpool), Diego Lopez (Villarreal), David De Gea (Atletico Madrid), dan Victor Valdes (Barcelona). Tempat Casillas dan Reina sudah dijamin. Berarti masih butuh hanya satu kiper lagi dari tiga nama (Lopez, De Gea, dan Valdes).

Jika satu jatah itu akhirnya jatuh ke Valdes, bisa jadi merupakan wujud pengakuan terhadap sang kiper dan prestasi Barcelona musim ini meskipun hasil berbagai jajak di media Spanyol belakangan ‘’kurang menghendakinya’’. Lopez bagus. Cuma apa untungnya memberi dia kesempatan sekarang apabila masih banyak waktu di kemudian hari?

Seandainya yang diinginkan Del Bosque adalah regenerasi kiper timnas demi kepentingan jangka panjang usai Piala Dunia 2010, kiranya memberi kesempatan sebagai kiper ketiga kepada De Gea, yang paling muda di antara lima kiper tersebut, merupakan pilihan terbaik.

Akhir pekan ini dan pekan depan –ketika sepakbola Spanyol menyisakan hanya satu pertandingan di liga domestik, serta satu laga lagi yakni final Piala Raja— barangkali Del Bosque punya pertimbangan matang untuk satu kiper tambahan tersebut.

Namun mengapa harus tiga kiper tambahan di daftar sementara itu, sedangkan Del Bosque kini sejatinya juga dibikin gambling dengan kebugaran Iniesta, Fabregas, dan Torres?

Tampaknya sang pelatih yakin betul ketiga pemain bintang itu bakal pulih saat turnamen berlangsung. Bagaimana bila tidak benar-benar fit? Lalu, dari daftar nama itu hanya ada satu spesialis bek kiri, yakni Joan Capdevila (Villarreal) meskipun Alvaro Arbeloa (Real Madrid) bisa dipaksakan ke posisi itu apabila kondisi menuntut.

Itulah Timnas Spanyol dan Del Bosque. Dia sudah memilih, meski di pilihan sementara yang harus dikepras menjadi 23 pemain per 1 Juni itu tidak ada beberapa pemain yang dinilai publik layak masuk timnas. Tak ada Albert Riera (Liverpool), bek kiri Nacho Monreal (Osasuna) maupun bek kanan asal Athletic Bilbao, Andoni Iraola, juga bintang muda Barcelona Bojan Krkic.

Apakah dalam daftar akhir nanti Iniesta, Fabregas, serta Torres masih bertahan, sementara Azpilicueta (international cap: 0), Javi Martinez (0), Cazorla (24 kali memperkuat timnas, sudah bermain lagi meski sepanjang musim ini banyak istirahat akibat cedera), Llorente (5 kali memperkuat timnas), serta Pedro (0) yang terbuang bersama dua kiper lagi?

Menarik ditunggu seperti apa gambling Del Bosque.

Kala Sang Pengasah Menangkal Idola

Piala Dunia 2010 Afrika Selatan hampir pasti tanpa Ronaldinho, Adriano, Diego, Alexandre Pato, Javier Zanetti, Esteban Cambiasso, Lisandro Lopez, Francesco Totti, Ruud van Nistelrooy, Patrick Vieira, bahkan Samir Nasri dan Karim Benzema, serta Charlie Davies –striker Timnas AS yang menjanjikan itu.

APAKAH pelatih sepakbola selalu benar? Karena para pengasah tim atau klub itu manusia, pasti tidak. Namun karena mereka lah penentu hitam-putihnya tim –yang bertanggung jawab atas kegagalan tim dan yang cenderung kali pertama dikorbankan seturut keterpurukan tim, tetapi tidak otomatis selalu yang terdepan dielu-elukan apabila tim berprestasi— maka selayaknya kepercayaan penuh diberikan kepadanya.

In coaches we trust.

Bukan haram. Tetapi disadari atau tidak, alangkah ganjil apabila pelatih merasa hak prerogatifnya telah dikebiri manajemen, publik, dan media. Jika ini yang terjadi, di tengah kegalauan dan tidak puas, bagaimana mereka bisa leluasa memainkan pola dan strategi di lapangan serta berharap hasil terbaik?

Karena enggan berspekulasi dengan kegagalan dan menyesal di kemudian hari, acapkali pelatih memilih berpegang teguh pada naluri prinsipnya. Inilah yang kiranya digenggam erat Carlos Dunga, pelatih Timnas Brasil ketika Senin (10/5) lalu mengumumkan daftar pemain sementara (provisional roster) skuad Samba untuk putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan bulan depan.

Wow, dari daftar sementara yang diserahkan ke FIFA itu tidak ada nama Ronaldinho. Tak hanya penggandrung bola di Brasil yang geleng-geleng kepala, tetapi juga para gibol di dunia. Bahkan Danny Jordaan, ketua panpel Piala Dunia 2010 Afsel, kelabakan dengan putusan Dunga meninggalkan Ronaldinho.

RONALDINHO: Gagal membuat Dunga terkesan dan membawanya ke Afrika Selatan. PHOTO: GETTY IMAGES

Jordaan bisa saja menyebut Ronaldinho sebagai a soccer genius, mantan Pemain Terbaik Dunia FIFA. Menyedihkan dan layak disesalkan bahwa turnamen sebesar Piala Dunia 2010 bakal ‘’menderita’’ tanpa Ronaldinho. Bintang yang ada di kepala hampir setiap orang tetap layak bisa unjuk kaki di Afsel nanti.

Namun Dunga telah bersikap, meskipun itu bertentangan dengan ‘’kelaziman’’. Di sisi lain, tidak adanya Ronaldinho dalam roster sementara sejatinya pula bukan kejutan yang luar biasa karena tengaranya terbaca jauh-jauh hari. Pada beberapa laga terakhir Kualifikasi Piala Dunia Zona Amerika Selatan (CONMEBOL), Ronaldinho sudah tidak terpakai. Begitu pula keputusan Dunga tidak membawanya ke perhelatan Piala Konfederasi di Afsel tahun lalu yang (toh) masih mampu dimenangi Brasil.

Dunga merasa tidak sreg lagi dengan kontribusi Ronaldinho di timnas beberapa tahun terakhir, khususnya penampilannya yang kurang prima bersama Samba di Olimpiade 2008 Beijing. Medali emas cabang sepakbola di olimpiade itu pun, lagi-lagi, dimenangi Timnas Argentina yang disokong magic skills Lionel Messi.

Publik dan media boleh saja menilai musim ini Ronaldinho telah menemukan kembali performa terbaiknya bersama AC Milan. Tapi di mata Dunga semua itu belum mencukupi. Skills terbaik sang bintang belum kembali. Dia masih menanggung ganjaran dari banyak ulah indisiplinernya di Barcelona, sehingga klub Catalan itu menjualnya ‘’jauh di bawah harga yang semestinya’’ ke AC Milan pada musim 2008-2009.

Dunga tidak terkesan. Masa keemasan Ronaldinho telah berlalu. Yang terakhir sebelum pengumuman roster sementara untuk Piala Dunia, Ronaldinho ditinggalkan kala Brasil melakukan laga persahabatan melawan Timnas Republik Irlandia di London pada 2 Maret 2010.

Tak hanya Ronaldinho. Adriano yang beberapa tahun terakhir juga kerap bikin ulah pun tidak masuk skuad sementara itu. Bahkan yang mencengangkan adalah tidak masuknya Diego, yang dinilai Dunga tidak cukup berkontribusi vital di Juventus musim ini, serta Alexandre Pato yang diakrabi cedera di AC Milan sepanjang musim ini.

Dunga telah mantap memilih dan harus siap menanggung risikonya. Begitu pula keputusan Marcello Lippi tidak memasukkan Francesco Totti di skuad sementara Timnas Italia. Pun tidak adanya Patrick Vieira, Karim Benzema, dan Samir Nasri di skuad sementara Timnas Prancis yang diinginkan Raymond Domenech.

Juga tidak ada Ruud van Nistelrooy di skuad sementara De Oranje Belanda. Tak masuknya Totti, Vieira, dan Nistelrooy mungkin bisa dipahami karena ketiganya sepanjang musim ini banyak dililit cedera.

MARADONA: Berketetapan hati meninggalkan Zanetti, Cambiasso, dan Lopez.

Namun untuk Nasri (Arsenal) dan Benzema (Real Madrid)? Oh, oh… Banyak yang bertanya-tanya. Begitu pula ketika Diego Maradona meninggalkan Javier Zanetti dan Esteban Cambiasso (keduanya di Inter Milan), serta Lisandro Lopez (Lyon) dalam skuad sementara Timnas Argentina untuk Piala Dunia 2010.

Publik bola dunia tahu betul Benzema dan Nasri masuk skuad ‘’Tim Ayam Jago’’ untuk kualifikasi lalu. Namun mereka juga masih ingat di timnas keduanya banyak duduk di bangku cadangan dan jarang dipasang sebagai starter.

Itu pula yang dialami Benzema di Real Madrid musim ini, meski kehadirannya di lapangan tidak jarang menjadi penyelamat klubnya dan menghadirkan ancaman bagi tim-tim lawan.

Nasri? Di Arsenal dia terbilang key player. Dia dikenal sebagai winger berbahaya. Kakinya lekat dengan bola. Larinya kencang. Dribbling skill-nya mumpuni. Manuver individunya acap kali membuat lawan-lawan Arsenal kelabakan. Ketika publik menilai tidak masuknya Nasri sebagai misteri, kiranya Domenech melihat segala kelebihan itu sebagai ‘’aset pribadi’’ yang kurang menopang kepaduan strateginya di Afsel. Apalagi Prancis memiliki stok wingers yang lebih tahan gempuran atau body contact dibandingkan Nasri yang mungil.

Cambiasso dan Zanetti adalah pemain-pemain hebat langganan Timnas Argentina. Bersama Cambiasso, musim ini kapten Inter Milan yang memang sudah berumur itu toh masih mampu membawa klubnya lolos ke final Liga Champions Eropa melawan Bayern Munich, 22 Mei nanti, di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid. Lopez musim ini juga mantap bersama Lyon hingga ke semifinal Liga Champions.

Mengapa Maradona meninggalkannya? Masih misteri. Namun saya kira ini lebih ke soal usia, kecenderungan pola main akhir-akhir ini, serta faktor persaingan di posisinya. Zanetti sudah berumur. Sebagai gelandang Cambiasso akhir-akhir ini lebih cenderung bertipe bertahan sebagai imbas policy Pelatih Inter, Jose Mourinho, yang bertentangan dengan naluri attacking football Maradona sebagai mantan penyerang jempolan.

Sedangkan untuk Lisandro Lopez, dalam beberapa kesempatan sebelumnya Maradona mengatakan sangat puas menyaksikan Lionel Messi (Barcelona), Gonzalo Higuain (Real Madrid), serta Diego Milito (Inter Milan). Pun, tidakkah di lini depan itu masih ada sang menantu, Sergio ‘’Kun’’ Aguero yang musim ini andil membawa Atletico Madrid ke final Europa League dan Piala Raja Spanyol?

Pelatih punya kuasa atas pertimbangannya. Karena kuasa itu pula, maka Pelatih Timnas AS Bob Bradley memastikan tidak memasukkan Charlie Davies, meskipun publik dan media menilai sang penyerang tetap layak dibawa ke Afsel. Bradley tidak mau tunduk pada romantisme publik kepada Davies sebagai penyerang menjanjikan. Mereka alpa pada realitas bahwa kecelakaan mobil pada Oktober lalu membuat Davies sepanjang musim ini banyak absen membela klubnya, Sochaux, di Ligue 1 Prancis. Belakangan dia memang sudah berlatih lagi, tetapi itu tidak cukup membuat Bradley yakin membawanya ke Afsel.

Davies memang tidak seberuntung Robin van Persie (Belanda), yang juga baru pulih dari cedera dan bermain di laga terakhir Arsenal di Premier League, tapi tetap masuk skuad ke Afsel. Juga Andres Iniesta, Cesc Fabregas, serta Fernando Torres (Spanyol) yang masih dimasukkan skuad meski sekarang masih bertarung dengan waktu untuk pulih dari cederanya.

Pelatih, lagi-lagi, punya kuasa atas pertimbangannya. Hanya keajaiban yang diharapkan para pemain yang tidak masuk daftar skuad sementara itu bisa berlaga di Afsel.

FIFA telah menetapkan 10 Mei lalu sebagai deadline penyerahan daftar skuad sementara beranggotakan maksimal 30 pemain, masing-masing kontestan harus memperkecilnya menjadi hanya 23 pemain dalam daftar skuad final per 1 Juni 2010. Artinya, dari maksimal 30 pemain dalam daftar sementara itu masih harus ada yang terpental. Logikanya, jika yang sudah masuk saja bisa dicoret, apalagi yang tidak masuk daftar sementara.

Meski demikian, pada keadaan darurat seperti cedera pemain dalam skuad akhir yang disahkan FIFA, timnas masih diberi kesempatan melakukan pergantian dengan memasukkan pemain baru sebagai pengganti. Nah, pengganti yang diizinkan itu tidak harus mereka yang sebelumnya masuk dalam daftar sementara. Pelatih bisa membawa pemain yang bahkan sebelumnya tidak ada dalam daftar sementara. Pergantian dilakukan paling lambat 24 jam sebelum timnas bersangkutan menjalani laga pertamanya di putaran final Piala Dunia 2010.

Jadi, untuk bisa berlaga di Afsel mendatang, Ronaldinho dan para idola lain yang tidak masuk skuad sementara harus menunggu dulu ada pemain dalam daftar itu yang cedera, mengundurkan diri, sehingga benar-benar tidak bisa bermain. Mungkinkah?

Mungkin saja meskipun amat sangat kecil peluangnya dan, lagi-lagi, semua berpulang pada kuasa pelatih.

Mencemaskan Efek Rooney, Messi, dan Ronaldo (dari Liga ke Piala Dunia)

Lionel Messi, diandalkan Barcelona dan amunisi utama Argentina. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

SIAPA saja pemain sepakbola paling berpengaruh di planet bumi saat ini? Jika pertanyaan ini diajukan kepada Fabio Capello, manajer Timnas Inggris, jawabannya ada tiga pemain: Cristiano Ronaldo (Real Madrid), Wayne Rooney (Manchester United), dan Lionel Messi (Barcelona). Lainnya?

Kata Capello kepada televisi Gol Spanyol, yang lain adalah biasa saja karena mereka tidak mampu membuat ‘’perbedaan untuk klub dan timnasnya’’ seperti diperankan Ronaldo untuk El Real dan Portugal, Rooney untuk MU dan Inggris, serta Messi bagi Barcelona dan Argentina.

Timnas ketiga pemain itu beraksi di putaran final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Juni-Juli mendatang. Bersama klubnya mereka saat ini juga fokus mengejar juara di liga domestik masing-masing.

Namun untuk persaingan pribadi pada level klub, termasuk untuk kasta tertinggi antarklub Eropa (Liga Champions), bisa dikatakan Messi telah tampil sebagai ‘’pemenang’’-nya.

Ronaldo dan Real Madrid telah tersisih pada babak 16 besar lalu. Sedangkan Rooney dipastikan istirahat antara 2-4 pekan setelah memungut cedera engkel saat MU kalah 1-2 pada first leg babak perempat final Champions di kandang Bayern Munich, pertengahan pekan ini.

Artinya, selain tidak bisa membela MU saat menerima kunjungan Bayern pertengahan pekan depan, dampak kehadiran Rooney juga tidak bisa dirasakan ‘’Setan Merah’’ ketika menjamu pesaing utamanya, Chelsea, di Premier League akhir pekan ini.

Jika penilaian Capello dijadikan patokan, berarti kans MU untuk terus melaju di Liga Champions pun terancam. Begitu pula upayanya bersama MU meraih gelar juara Premier League untuk empat musim beruntun.

Wayne Rooney (kiri), dicemaskan publik Inggris. PHOTO: ASSOCIATED PRESS

Tak terbantahkan, meski sepakbola adalah permainan kolektif, Rooney telah menjelma sebagai roh utama MU dan Inggris. Sepanjang musim ini dia telah mencetak 34 gol untuk MU pada semua ajang. Di timnas, 25 gol telah diukirnya dari total 58 kali membela skuad The Three Lions.

Oleh karena itu, bagi publik Inggris, klub mana pun yang menjuarai Premier League musim ini tidak masalah. Meski pula mereka berharap MU tanpa Rooney mampu membalik defisit atas Bayern di Liga Champions dan lolos ke semifinal, yang terpenting adalah sosok Rooney. Bintang berusia 24 tahun ini harus cepat pulih dan benar-benar fit ketika Inggris mengawali pertandingan melawan Amerika Serikat di Grup C putaran final Piala Dunia 2010 pada 12 Juni mendatang.

‘’England’s worst nightmare (Mimpi buruk paling menyeramkan Inggris),’’ tulis koran The Times, London, mengomentari cedera Rooney.

Stok striker Inggris memang tidak hanya Rooney. Namun, seperti dikatakan Capello, Rooney jadi sangat vital karena kemampuannya membuat perbedaan di lapangan. Kiranya Manajer MU Sir Alex Ferguson sangat sepakat dengan manajer timnas berpaspor Italia tersebut.

Kehilangan Rooney di Timnas Inggris jauh lebih terasa dibanding, misalnya, Timnas Spanyol tanpa Cesc Fabregas yang dipastikan absen di Piala Dunia 2010 setelah patah ketika membawa klubnya, Arsenal, mati-matian menahan Messi dkk dari Barcelona 2-2 pada leg pertama perempat final Liga Champions di Stadion Emirates, pertengahan pekan ini.

Jika ada persamaan, kehilangan Rooney bagi Timnas Inggris sama besarnya dengan Real Madrid dan Portugal tanpa Ronaldo. Apalagi kini Ronaldo, 25 tahun, dipaksa berpacu dengan Messi dkk di Barcelona untuk gelar La Liga Primera musim ini. Barcelona adalah juara bertahan di La Liga itu, begitu pun di Liga Champions.

Hingga 3 April 2010, total gol musim ini yang dikemas Ronaldo justru melebihi total penampilannya di semua ajang bersama El Real. Dia mengemas 26 gol dari 24 penampilan. Begitu pula di Timnas Portugal yang hingga sejauh ini mengukir 42 gol dari total 22 penampilan.

Cristiano Ronaldo, motor Portugal di Piala Dunia 2010. PHOTO: AFP/GETTY IMAGES

Tugas domestik di La Liga jelas menjadi sumber kecemasan Pelatih Timnas Portugal Carlos Queiroz. Apalagi sepanjang musim ini sang bintang memiliki catatan istirahat cukup panjang akibat cedera engkel yang didapat dalam ‘’tugas negara’’ membela Portugal lawan Hungaria pada 10 Oktober 2009. Dia baru comeback lagi membela Real Madrid pada 29 November 2009 dalam duel melawan seteru klasik, Barcelona, yang berakhir dengan kekalahan 0-1 di Camp Nou.

Lionel Messi? Bisa dikatakan dialah sumber kecemasan terbesar bagi Pelatih Barcelona Pep Guardiola maupun Pelatih Timnas Argentina Diego Armando Maradona. Untuk El Barca dan Pep, bintang berusia 23 tahun itu adalah amunisi utama pada ambisi mempertahankan gelar La Liga dan Liga Champions. Sudah 34 gol dipersembahkan Pemain Terbaik Dunia 2009 FIFA itu dari 41 penampilannya bersama El Barca di semua ajang sepanjang perjalanan musim ini.

Jelas sebuah beban yang menantang Messi, khususnya di Liga Champions kala pertengahan pekan depan giliran Barca menjamu Arsenal pada leg kedua perempat final. Arsenal memang tanpa dua pilar, Fabregas dan William Gallas, pun kondisi Arshavin yang masih meragukan.

Tapi Barca juga tanpa Gerard Pique (akumulasi kartu) dan kapten Carles Puyol yang terkena kartu merah langsung pada leg pertama di Emirates. Padahal keduanya adalah pilar lini belakang yang sudah teruji di pelbagai event sepanjang musim ini. Lagi pula, kurang bisa mempertahankan keunggulan gol –tidak semata kemenangan—akhir-akhir ini juga menjadi ‘’penyakit’’ Barcelona.

Mau tidak mau, Messi harus tetap bisa menunjukkan diri sebagai sang ‘’pembuat perbedaan sekaligus penentu’’ dari apa pun skema maupun pola main yang disiapkan Pep. Di Emirates pertengahan pekan ini, misalnya, Pep yang baru saja memperpanjang kontrak setahun di Camp Nou sengaja tidak menyorongnya terlalu ke depan sehingga lebih banyak beroperasi di lini tengah.

Hasilnya, seperti diakui Manajer Arsenal Arsene Wenger, dia terlalu fokus pada Messi dan menginstruksikan para pemainnya menempel ke mana pun ‘’titisan Maradona’’ itu bergerak. Akibatnya Zlatan Ibrahimovic cukup leluasa bergerak dan menghindari offside trap hingga mampu memborong dua gol El Barca.

Jika El Barca tidak hati-hati, begitu pun Messi, maka Argentina dan Maradona bisa saja meratap tiada henti menyongsong Piala Dunia 2010. Padahal seperti dikatakan Maradona, Messi layak menyandang predikat sebagai penerusnya. Demi Messi pula, pelatih yang baru saja dibuat sengsara oleh anjing piaraannya itu siap mengubah skema dan pola main Tim Tango di putaran final Piala Dunia nanti.

Tentu semua demi ‘’kenyamanan’’ Messi di lapangan. Juga agar lebih menjamin sukses Argentina sebagaimana yang ditunjukkan Messi yang andil besar membawa Argentina menjuarai Piala Dunia U-20 pada 2005 di Belanda (sekaligus menahbiskan Messi sebagai top scorer dan pemain terbaik turnamen itu), serta meraih medali emas cabang sepakbola di Olimpiade Beijing 2008.

Di Piala Dunia 2006 Jerman, Messi memang masuk skuad Argentina tapi hanya duduk di bangku cadangan sebagaimana Theo Walcott di Timnas Inggris yang kala itu dipoles Sven Goran Eriksson. Adakah Messi bakal bermain di Piala Dunia 2010 Afsel dan mengukir prestasi gemilang, membawa Tango juara, seperti keinginannya?