Cari

BELANTARA CAK SOL

MENCOBA BEDA BUKAN DOSA

‘Sepak Bola Amarah’

SEPAK BOLA ada di mana-mana. Namun, di Indonesia sepak bola sedang merana, dibikin ‘’sengsara’’ oleh kebijakan tidak populer Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), tetapi digaungkan dengan niat mulia demi ‘’kebersihan untuk pembinaan dan prestasi masa depan’’.

Melalui pembekuan kepengurusan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) oleh Kemenpora per April lalu yang berimbas pada penghentian kompetisi serta berbuntut sanksi dari Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA), sejatinya sepak bola Indonesia juga tidak benar-benar sengsara.

Orang masih bisa menendang bola sesuai kemauan, di mana pun dan kapan pun. Tendang bola sekeras-kerasnya. Jika perlu, dengan ‘’amarah’’. Namun, yang diperlukan amarah penuh makna. Setidaknya identik dengan yang pernah dilakukan mendiang Soeratin, pendiri sekaligus Ketua Umum Pertama PSSI. Soeratin pernah memerintahkan jajaran pengurusnya agar timnya tidak kalah melawan tim bentukan Kolonialis Belanda.

‘’Amarah’’ Soeratin memiliki target jelas. Era 1930—1940-an, sebagai alat perjuangan guna menunjukkan jati diri bangsa yang begitu merindukan kemerdekaan —lebih dari sekadar kedamaian dan perdamaian berbalut sportivitas arena— sepak bola menjadi medium glorifikasi, demi serbamenang, tetapi bukan menang-menangan yang cenderung mengerdilkan serta menihilkan prinsip-prinsip sportivitas dan respek.

Glorifikasi merupakan napas wajib dalam persaingan di arena olahraga. Sejarah telah dan bakal mencatat hanya sang pemenang. Hasil, bukan proses. Namun, tidak disangkal proses berperanan vital menentukan hasil, apa pun cara dan langkahnya guna mewujudkan glorifikasi: ‘’intimidasi’’ ala Benito Mussolini kepada Giuseppe Meazza dkk demi sukses juara Piala Dunia 1934 di rumah sendiri maupun Adolf Hitler yang mewajibkan atlet-atlet Jerman tampil sebagai yang terdepan di Olimpiade Berlin 1936.

Jelas muatan pesan glorifikasi ala Soeratin berbeda dengan Mussolini dan Hitler. Sejarah tidak akan menghapus capaian mereka. Namun, sejarah juga ajeg mencatat olahraga, termasuk sepak bola, di berbagai belahan penjuru dunia tidak sepenuhnya steril dari intervensi target kepentingan politik dan kekuasaan.

Sebuah event sepak bola, apa pun labelnya (kompetisi atau sekadar turnamen), membutuhkan sokongan politik dan kekuasaan. Namun, sepak bola seharusnya tidak dinapasi politik dan kekuasaan yang condong berorientasi target jangka pendek karena dalam persaingan arena, sejatinya, ada tujuan lain yang lebih mulia ketimbang kemenangan. Sebagaimana kini dilakukan Palestina, sepak bola juga bisa menjadi sarana diplomasi sebuah bangsa.

Jika pada peperangan sah mencanangkan istilah musuh (enemy), dalam olahraga, juga politik, sebutan itu sangat layak diharamkan. Bukan musuh, tetapi lawan (rival). Menilik substansi napas persaingan, sebaiknya pula dalam olahraga tidak ada kata ‘’pecundang’’.

Dari sudut pandang serta pemahaman seperti apa politik serta kekuasaan bisa dipandang sebagai ‘’musuh’’ maupun ‘’penjajah’’ sepak bola?

Jalan Tengah

Bagi sepak bola Indonesia mutakhir, satu hal pasti belenggu penjajah dan musuh itu adalah prestasi. Tidak perlu muluk ke level kontinental maupun global, sekian lama timnas senior paceklik prestasi di kancah regional ASEAN. Juara Piala Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF) belum pernah digenggam meski beberapa kali ke partai final. Kali terakhir medali emas SEA Games pun diraih 24 tahun silam.

Namun, bukan berarti publik menihilkan jerih payah dan tingkat capaian para pemain serta semua yang terlibat membela Merah Putih pada ajang-ajang sebelumnya meskipun tidak juara. Layaknya peperangan, ada yang menang dan gugur, mereka tetap pahlawan arena.

Sebagaimana kata-kata legenda sepak bola Belanda Johan Cruyff,  ‘’Soccer is simple, but it is difficult to play simple (Sepak bola itu sederhana, tetapi bermain sederhana itu sulit).’’ Bermain sepak bola harus menendang bola, tetapi tidak asal tendang. Seperti tata kelola politik pemerintahan, di sepak bola juga terdapat seperangkat aturan (rules of the game) yang mesti dipatuhi tidak hanya yang berlaku di lapangan, tetapi juga oleh organisasi-organisasi pengelola sepak bola.

Seyogianya aturan-aturan itu dihormati dan saling melengkapi. Tidak saling dibenturkan antara aturan politik pemerintahan dan sepak bola. Diadu, niscaya tidak pernah ada titik temu karena matra pesan di dalamnya berbeda. Berkelit dan berlindung di balik sejumlah aturan —statuta atau apa pun— justru menjauhkan dari prinsip respek dan sportivitas menerima menang-kalah dalam olahraga. Pengadilan, sejatinya, juga bukan harapan menciptakan sikap legawa menerima hasil karena beranjak ke ruangan sidang berarti salah satu ada yang (merasa) dirugikan.

Jika sepak bola Indonesia memandang prestasi sebagai musuh (lebih dari sekadar lawan) yang harus ditaklukkan, kiranya semua pihak terlibat harus menyadari jalan mencapainya tidak segampang menendang bola. Banyak yang harus dibenahi. Tak semata yang mengurus dan yang terjadi di lapangan. Sejumlah faktor di luar lapangan, termasuk dalam skala luas tata kelola politik pemerintahan, juga perlu berbenah karena sepak bola berada di dalamnya. Sepak bola merupakan secuil cermin dinamika mereka.

Kebijakan yang membuat anak-anak bangsa ‘’terlempar’’ dari arena persaingan global demi terus mengasah kemampuan menuju prestasi dengan dalih berbenah juga tidak bisa diterima sepenuhnya. Mengapa harus mengucilkan diri atau dikucilkan ketika dinamika permainan dan persaingan sepak bola di luar sana semakin sengit?

Di tengah kebingungan itu, acungan dua jempol layak diberikan kepada Presiden Joko Widodo. Bisa dibilang, ia presiden ‘’gibol’’ alias gila bola. Satu jempol untuk kesediannya membuka Turnamen Piala Kemerdekaan yang digulirkan Tim Transisi bentukan Kemenpora. Ketika Piala Kemerdekaan belum purna, Presiden membuka turnamen lain yang disokong PSSI dengan label trofi Piala Presiden.

Luar biasa, seorang Presiden dua kali membuka turnamen sepak bola dalam sebulan. Langkah Presiden Joko Widodo itu bisa menjadi jalan tengah sekaligus secercah harapan bagi sepak bola Indonesia untuk keluar dari belenggu saat ini. Dengan kata lain, kompetisi segera bergulir lagi dan sepak bola Indonesia bisa kembali ke arena pembinaan menuju cita-cita menggapai prestasi dengan menghadapi saudara-saudaranya dari berbagai belahan dunia.

Rakyat Indonesia, termasuk para pemain yang belakangan merana karena kompetisi terhenti, pun tersenyum bisa kembali ke arena dan tidak sekadar menendang bola. Penonton bersukacita dan terhibur oleh suguhan sepak bola anak-anak bangsa. Mereka bersama-sama menendang bola dengan ‘’amarah’’ menuju prestasi, musuh sekian lama yang harus ditaklukkan.

Terpenting, jangan remehkan sepak bola hanya karena belum berprestasi. Sepak bola, kata David Beckham, itu permainan magis. Banyak kekuatan di dalamnya, termasuk yang sebelumnya tidak diperhitungkan.  Sepak bola mengandung kekuatan besar, tetapi seharusnya pula tidak dipolitisasi.

*) Tulisan ini dimuat di HARIAN NASIONAL edisi 31 Agustus 2015.

Featured post

PIALA DUNIA 2014 – Debutan Eropa itu Dzeko *

Striker Bosnia-Herzegovina Edin Dzeko (11) merayakan golnya ke gawang Meksiko pada laga persahabatan melawan Meksiko di Soldier Field Chicago, AS, 3 Juni 2014. REUTERS | DAVID BANKS - USA TODAY SPORTS
Striker Bosnia-Herzegovina Edin Dzeko (11) merayakan golnya ke gawang Meksiko pada laga persahabatan  di Soldier Field Chicago, AS, 3 Juni 2014. REUTERS | DAVID BANKS – USA TODAY SPORTS

SEJAK Piala Dunia pasca-Perang Dunia II bergulir, baru di Piala Dunia 2014 Brasil ini debutan tercatat hanya satu tim. Kontestan itu adalah Bosnia-Herzegovina, wakil Eropa yang juga pecahan bekas Federasi Yugoslavia.

Bosnia mengikuti jejak Inggris sebagai debutan di Piala Dunia 1950 Brasil, beberapa negara lain Eropa di sejumlah Piala Dunia berikutnya (lihat tabel), bahkan saudara sesama eks Federasi Yugoslavia: Yugoslavia (Serbia dan beberapa republik kecil) dan Kroasia di Piala Dunia 1998, Slovenia di Piala Dunia 2002, Serbia-Montenegro di Piala Dunia 2006, dan Serbia di Piala Dunia 2010.

Sebagaimana negara-negara eks Federasi Yugoslavia, sejumlah negara di Eropa Timur pasca 1990-an juga terbagi menjadi beberapa negara dengan tim masing-masing menjejak putaran Piala Dunia. Sebutlah Cekoslowakia dengan Republik Ceko ke putaran final Piala Dunia 2006 dan Slowakia di Piala Dunia 2010.

Jerman Barat mengukir debut pada 1954 di Piala Dunia Swiss, sementara Jerman Timur pada Piala Dunia 1974 di Jerman Barat. Namun, selepas runtuhnya Tembok Berlin kedua Jerman bersatu lagi dan FIFA mengakomodasi keduanya dalam catatan tunggal partisipasi mereka di Piala Dunia.
Sejarah juga mencatat, di antara debutan Eropa pada helatan Piala Dunia selepas Perang Dunia II prestasi membanggakan diukir Jerman (Barat) yang menjuarai Piala Dunia 1954 dan Kroasia sebagai penghuni peringkat ketiga di Piala Dunia 1998. Juga Portugal ke semifinal Piala Dunia 1966, serta Wales di Piala Dunia 1958 maupun Ukraina (eks Uni Soviet) di Piala Dunia 2006 yang sama-sama menjejak perempat final pada debutnya. Meski bukan rekor spektakuler, debutan Slowakia pada putaran final Piala Dunia 2010 Afsel lalu juga cukup mengejutkan dengan lolos ke putaran kedua setelah menggulingkan Italia di penyisihan grup.

PELUANG BOSNIA

Nah, bagaimana kans Bosnia di putaran final Piala Dunia 2014 Brasil?

Membincang Bosnia di arena hijau sepak bola, publik Tanah Air saat ini langsung tertambat ke sosok Edin Dzeko. Striker Muslim yang membela Manchester City, juara Liga Primer Inggris pada musim yang baru lewat, adalah tumpuan Bosnia di Piala Dunia 2014. Sebelumnya pesepak bola Bosnia yang diakrabi pencinta di Indonesia adalah Hasan Salihamidzic yang cukup lama membela klub elite Bayern Munich Jerman.

Berbeda dengan Salihamidzic yang tidak pernah mengantarkan Bosnia ke putaran final Piala Dunia, kerapnya frekuensi penayangan Dzeko dalam siaran sepak bola di televisi Tanah Air plus keberhasilan membawa timnas ke Brasil membuatnya lebih populer. Apalagi di Bosnia Dzeko sudah telanjur ditahbiskan sebagai ‘’simbol pemersatu’’ di antara saudara yang harus terpisah karena beda haluan politik. Tidak lain, karena di Manchester City ia harus main bareng Aleksandar Kolarov yang berkebangsaan Serbia.

Semua mafhum, saat Perang Balkan meletus pada 1990-an, etnis Bosnia juga berhadapan sengit dengan Serbia, etnis yang dominan era Yugoslavia. Serbia bertempur duluan memerangi etnis Kroasia, lalu Bosnia terseret. Ketika perpecahan di ambang pintu pada 1991, Dzeko masih kanak-kanak yang gemar sepak bola dan telah menyaksikan kedigdayaan timnas Yugoslavia melaju hingga perempat final Piala Dunia 1990 di Italia sebelum dihentikan Argentina. Pada 1991 klub Red Star Belgrade (Beograd) memenangi Piala Champion 1991 setelah mengalahkan Marseille di final.

Kini dunia menunggu apakah Dzeko dkk mampu memberikan prestasi terbaik dalam debut Bosnia di Piala Dunia 2014 Brasil. Berada di Grup F bersama Argentina, Nigeria, dan Iran, menilik performanya di kualifikasi Eropa, banyak pihak menjagokan Bosnia lolos ke putaran kedua. Sebutlah salah satunya jajak bursa taruhan Pinnacle ini. Argentina jelas-jelas dijagokan memimpin lolos dari Grup F dengan kemungkinan hingga 93 persen, disusul Bosnia 51 persen, Nigeria 43 persen, dan Iran 13 persen.

Menilik persentasenya, berarti Bosnia dibayangi Nigeria, yang juga menjadi andalan Afrika selain Ghana. Nigeria memang bukan tim lemah. Tim Super Eagles adalah juara Afrika. Namun, seperti Kamerun yang dirongrong persoalan internal seperti tuntutan bayaran oleh pemain, meski tak tampak mencolok di permukaan benih-benih itu juga ada di kubu Nigeria.

Pun, sebagaimana Iran, performa Nigeria di pentas resmi internasional belakangan juga tidak begitu cemerlang. Saat helatan Piala Konfederasi 2013 di Brasil, mereka hanya sekali menang dari tiga laga yang dijalani. Kemenangan telak 6-1 memang didapat Nigeria, tetapi melawan tim superlemah Tahiti. Melawan tiki-taka Spanyol, Nigeria terbukti tidak banyak berkutik.

Pemeringkatan FIFA untuk Bosnia pun jauh lebih bagus ketimbang Nigeria. Berdasarkan peringkat terakhir yang dirilis FIFA per 5 Juni 2014, Bosnia di peringkat ke-21, sedangkan Nigeria ke-44. Malah Iran lebih bagus satu setrip, yaitu di peringkat ke-43 FIFA. Peringkat Argentina tetap yang tertinggi di Grup F ini, yaitu ke-5.

Sepak bola memang bukan hitungan matematis. Juga bukan sepenuhnya peruntungan. Banyak faktor memengaruhi hasil pertandingan. Namun, menilik persiapan, kekompakan, dan performa terakhir tim, sekiranya Bosnia memang lebih layak diunggulkan mendampingi Argentina dan Dzeko adalah ace-nya.

Selain performa gemilang yang ikut andil besar membawa Manchester City juara Liga Primer, ia pencetak gol terbanyak di timnas (35 gol dari 62 penampilan). Saat kualifikasi Piala Dunia Zona Eropa, ia menorehkan 10 gol dan berada di peringkat kedua top scorer Benua Biru di bawah striker Belanda Robin van Persie dengan 11 gol.

Tinggal menunggu pembuktian Dzeko bersaing di Grup F. Selain dengan sejumlah nama tenar Argentina semacam Lionel Messi, Sergio Aguero, Higuain, Lavezzi, juga dengan bintang vital Nigeria semacam Emmanuel Emenike, dan penggedor Iran Ashkan Dejagah.

DAFTAR DEBUTAN DI PIALA DUNIA
(Cetak Tebal dari Benua Eropa)

1930 Uruguay: 13 kontestan, 13  debutan (Argentina, Belgia, Bolivia, Brasil, Chile, Prancis, Meksiko, Paraguay, Peru, Rumania, AS, Uruguay, Yugoslavia)

1934 Italia: 16 kontestan, 10 debutan (Austria, Cekoslowakia, Mesir, Jerman, Hungaria, Italia, Belanda, Spanyol, Swedia, Swiss)

1938 Prancis: 15 kontestan, 4 debutan (Kuba, Indonesia/Hindia Belanda, Norwegia, Polandia) 1950

1950 Brasil: 13 kontestan, 1 debutan (Inggris)

1954 Swiss: 16 kontestan, 4 debutan (Korea Selatan, Skotlandia, Turki, Jerman Barat)                                                                                                                                 

1958 Swedia: 16 kontestan, 3 debutan (Skotlandia, Uni Soviet, Wales)

1962 Chile: 16 kontestan, 2 debutan (Bulgaria, Kolombia)

1966 Inggris: 16 kontestan, 2 debutan (Korea Utara, Portugal)

1970 Meksiko: 16 kontestan, 3 debutan (El Salvador, Israel–masih tergabung di Zona Asia, Maroko)

1974 Jerman Barat: 16 kontestan, 4 debutan (Australia, Jerman Timur, Haiti, Zaire)

1978 Argentina: 16 kontestan, 2 debutan (Iran, Tunisia)

1982 Spanyol: 24 kontestan, 5 debutan (Aljazair, Kamerun, Honduras, Kuwait, Selandia Baru)

1986 Meksiko: 24 kontestan, 3 debutan (Kanada, Denmark, Irak)

1990 Italia: 24 kontestan, 3 debutan (Kosta Rika, Republik Irlandia, Uni Emirat Arab)

1994 AS: 24 kontestan, 4 debutan (Yunani, Nigeria, Rusia, Arab Saudi)

1998 Prancis: 32 kontestan, 5 debutan ( Kroasia, Jamaika, Jepang, Afrika Selatan, Republik Yugoslavia)

2002 Korea-Jepang: 32 kontestan, 4 debutan (China, Ekuador, Senegal, Slovenia)

2006 Jerman: 32 kontestan, 8  debutan (Angola, Pantai Gading, Republik Ceko, Ghana, Serbia-Montenegro, Togo, Trinidad-Tobago, Ukraina)                   

2010 Afrika Selatan: 32 kontestan, 2 debutan (Serbia, Slovakia)                                                                                                                                                                                      

2014 Brasil: 32 kontestan, 1 debutan (Bosnia-Herzegovina)

 

* Dimuat di HARIAN NASIONAL edisi Rabu 11 Juni 2014

 

Featured post

PIALA DUNIA 2014 – Afrika (Tetap) Merindu Sensasi Ghana *

Fans Ghana di antara suporter Belanda saat laga uji coba kedua tim di Stadion Feyenoord Rotterdam, Belanda, 31 Mei lalu. Ghana berada di ‘’grup maut’’ putaran final Piala Dunia 2014. REUTERS | TOUSSAINT KLUITERS | UNITED PHOTOS
Fans Ghana di antara suporter Belanda saat laga uji coba kedua tim di Stadion Feyenoord Rotterdam, Belanda, 31 Mei lalu. Ghana berada di ‘’grup maut’’ putaran final Piala Dunia 2014. REUTERS | TOUSSAINT KLUITERS | UNITED PHOTOS

”GRUP MAUT’’. Setidaknya julukan ini layak disematkan kala kontestan Grup G putaran final Piala Dunia 2014 diumumkan. Di grup ini bercokol Jerman, Portugal, Amerika Serikat, dan Ghana. Persaingan bakal sengit.

Namun, pada Ghana ‘’Benua Hitam’’ Afrika sekiranya tetap layak berharap. Setidaknya Ghana mampu mengulang sukses di Piala Dunia 2010 Afsel ketika menjejak perempat final, bahkan nyaris ke semifinal andai Luis Suarez tidak sengaja menampar bola yang meluncur ke gawang Uruguay pada detik-detik akhir perpanjangan waktu. Sial, Asamoah Gyan gagal mengeksekusi ganjaran penalti. Black Stars pun kalah adu penalti 2-4 (1-1).

Empat tahun lalu, Ghana menjadi sensasi baru Afrika, seperti torehan Roger Milla dan timnas Kamerun di Piala Dunia 1990 Italia, juga Senegal di Piala Dunia 2002 Korea-Jepang. Mereka sama-sama sukses menjejak perempat final, capaian tertinggi tim-tim Afrika. Namun, dunia juga mencatat sepak bola Afrika terbilang fast learner alias cepat belajar mengikuti tuntutan persaingan di putaran final Piala Dunia.

GHANA: Berada di ‘’grup maut’’, performa Ghana tetap layak diharapkan di Brasil. Beberapa pertimbangan bisa dikemukakan. Pertama, di antara tim-tim Afrika yang lolos ke Piala Dunia Brasil ini, Ghana paling konsisten. Putaran final Piala Dunia kali ini merupakan yang ketiga beruntun diikuti Ghana dengan peningkatan performa dan capaian pada dua partisipasi sebelumnya.

Di Piala Dunia 2006 Jerman, partisipasi perdana Ghana, tim ‘’Bintang Hitam’’ lolos ke putaran kedua (16 Besar) ketika tim-tim Afrika lainnya —Angola, Pantai Gading, Togo, dan Tunisia— terhenti di penyisihan grup. Padahal ketika itu Pantai Gading lebih dijagokan. Di Piala Dunia 2010 saat Nigeria, Kamerun, Pantai Gading, Aljazair, dan tuan rumah Afrika Selatan terganjal di penyisihan grup, Ghana justru melangkah hingga perempat final.

Kedua, dengan materi pemain yang sebagian besar sama dengan skuad Piala Dunia 2010 dan merumput di liga-liga elite Eropa, termasuk Kwadwo Asamoah yang andil membawa Juventus juara Serie A Italia tiga kali beruntun musim lalu, Ghana yang saat ini dipoles pelatih lokal Kwesi Appiah justru dinilai yang paling harmonis dan mantap. Appiah adalah asisten pelatih Milovan Rajevac (Serbia) kala sukses mengantarkan Ghana ke perempat final Piala Dunia 2010.

Ketiga, setidaknya Ghana sudah mengenal dan memelajari tipikal permainan rival-rivalnya di Grup G. Jerman yang masih dipoles Joachim Loew berada satu grup dengan Ghana di Piala Dunia 2010 meski ketika itu ‘’Bintang Hitam’’ kalah tipis 1-0. Sedangkan AS dibekap di perempat final 1-2 melalui perpanjangan waktu. Jika di Grup G pada Piala Dunia kali ini Jerman difavoritkan lolos, Ghana pun berpeluang bersaing dan bisa dibilang selevel dengan Portugal dan AS.

KAMERUN: Harus bersaing di Grup A bersama tuan rumah Brasil, Kroasia, dan Meksiko, tipis peluang Kamerun lolos dari grup ini. Capaian Samuel Eto’o dkk diprediksi tidak jauh berbeda dengan Piala Dunia empat tahun lalu, terhenti di putaran pertama.

Kemenangan tipis 1-0 di rumah sendiri, Yaounde, atas tim lemah Moldova dalam uji coba terakhir sebelum bertolak ke Brasil membuat publik tak berharap banyak. Apalagi kondisi Eto’o, sang kapten, dinyatakan tidak sepenuhnya fit. Ini menjadi tantangan serius pelatih Volker Finke (Jerman) yang belakangan ramai dihujani kritik pedas, termasuk dari legenda sepak bola Kamerun Roger Milla.

NIGERIA: Selain Ghana, pada Nigeria Afrika juga bisa berharap. Nigeria yang dibesut pelatih lokal Stephen Kesi —kapten timnas ‘’Elang Super’’ di Piala Dunia 1994—sangat berpeluang mendampingi Argentina lolos dari Grup F, yang juga dihuni debutan Bosnia-Herzegovina dan Iran. Inilah kans Nigeria mengulang sukses Piala Dunia 1994 dan Piala Dunia 1998, lolos dari penyisihan grup.

Namun, tidak seperti Ghana, tuntutan publik pada skuad Kesi kali ini jauh lebih besar, terlebih menyandang status juara Afrika. Banyak suara menilai tim Nigeria kali ini berisi pemain yang ‘’biasa-biasa saja’’, jauh beda ketika Kesi turun arena bersama Austin Okocha, Sunday Oliseh, Rashidi Yekini, dkk di Piala Dunia 1994 plus Nwankwo Kanu di Piala Dunia 1998. Maka pengalaman Kesi diharapkan menjadi senjata ampuh ‘’Elang Super’’.

PANTAI GADING: Usia kapten Didier Drogba sudah 36 tahun dan telah menyatakan Piala Dunia Brasil menjadi ajang terakhirnya membela timnas. Piala Dunia kali ini yang ketiga beruntun diikutinya setelah menjadi kunci sukses Pantai Gading lolos ke Piala Dunia 2006 dan 2010. Tentu Drogba berharap Pantai Gading tidak lagi terhenti di penyisihan grup seperti di dua Piala Dunia itu.

Pelatih Sabri Lamouchi bisa berharap membawa Pantai Gading lolos dari jeratan grup mengingat di Grup C yang kekuatan terbilang merata. Di grup ini, Pantai Gading harus bersaing dengan Kolombia, Yunani, dan Jepang. Andai Drogba tidak dipaksakan main, Lamouchi memiliki sejumlah amunisi jempolan pada striker Wilfried Bony, Salomon Kalou, Gervinho, juga dua bersaudara Toure (Kolo dan Yaya), maupun Didier Didier Zokora.

ALJAZAIR: Piala Dunia kali ini yang keempat diikuti Aljazair. Sebelumnya mereka tampil di Piala Dunia 1982, 1986, dan 2010. Saat ini pula merupakan kans terbesar Aljazair lolos dari penyisihan grup mengingat rival-rival di Grup H terbilang sepadan. Selain favorit juara grup Belgia, Rusia dan Korea Selatan adalah rival sepadan.

Diperkuat pemain-pemain kelahiran Prancis serta merumput di liga-liga Eropa, seperti gelandang berusia 19 tahun Nabil Bentaleb (Tottenham Hotspur), pelatih Vahid Halilhodzic (Prancis-Bosnia) —pemain timnas Yugoslavia di Piala Dunia 1982— menilai lolos dari grup merupakan target realistis.

TIM-TIM AFRIKA DI PIALA DUNIA & CAPAIANNYA
1930 Uruguay:
1934 Italia: Mesir (Putaran I)
1938 Prancis: –
1950 Brasil:
1954 Swiss:
1958 Swedia:
1962 Chile:
1966 Inggris: Memboikot
1970 Meksiko: Maroko (Putaran I)
1974 Jerman Barat: Zaire (Putaran I)
1978 Argentina: Tunisia (Putaran I)
1982 Spanyol: Aljazair (Putaran I), Kamerun (Putaran I)
1986 Meksiko: Aljazair (Putaran I), Maroko (16 Besar)
1990 Italia: Kamerun (Perempat Final), Mesir (Putaran I)
1994 AS: Kamerun (Putaran I), Maroko (Putaran I), Nigeria (16 Besar)
1998 Prancis: Kamerun (Putaran I), Maroko (Putaran I), Nigeria (16 Besar), Afrika Selatan (Putaran I), Tunisia (Putaran I)
2002 Korea-Jepang: Kamerun (Putaran I), Nigeria (Putaran I), Afrika Selatan (Putaran I), Senegal (Perempat Final), Tunisia (Putaran I)
2006 Jerman: Angola (Putaran I), Pantai Gading (Putaran I), Ghana (16 Besar), Togo (Putaran I), Tunisia (Putaran I)
2010 Afrika Selatan: Aljazair (Putaran I), Kamerun (Putaran I), Pantai Gading (Putaran I), Ghana (Perempat Final), Nigeria (Putaran I), Afrika Selatan (Putaran I)

* Dimuat di HARIAN NASIONAL edisi Senin 9 Juni 2014

 

Featured post

PIALA DUNIA 2014 – Asa Asia: Kejutan ala Al-Owairan dan Dua Korea *

Tandukan sudden death striker Korea Selatan Ahn Jung-hwan mengakhiri langkah Italia hanya sampai putaran kedua Piala Dunia 2002 Korea-Jepang.  REUTERS | FILES
Tandukan sudden death striker Korea Selatan Ahn Jung-hwan mengakhiri langkah Italia hanya sampai putaran kedua Piala Dunia 2002 Korea-Jepang. REUTERS | FILES

ALMANAK 29 Juni 1994. Cuaca sore di Stadion Robert F Kennedy Washington DC masih menyengat kala Belgia dan Arab Saudi berhadapan pada laga terakhir penyisihan Grup F putaran final Piala Dunia 1994. Mengingat ini aksi perdana Saudi di putaran final, Belgia –yang diperkuat Marc Robert Wilmots, pelatih timnas sekarang— pun lebih diunggulkan.

Beruntung Saudi memiliki ‘’mukjizat’’ pada sosok Saeed al-Owairan. Dengan skill luar biasa, ia mengontrol bola di arealnya sendiri, melakukan solo run, dan oh, wow, wow, mengecoh lima pemain Belgia, lantas bola tendangan keras kaki kanannya memerdayai kiper Michel Preud’homme. Sebiji gol al-Owairan ini tidak saja mengantarkan Saudi yang kala itu dipoles pelatih Jorge Solari (Argentina) menang, tetapi juga lolos ke putaran kedua.

Lolosnya Saudi membuat Asia berbangga karena tidak lagi dinilai sebagai ‘’pelengkap penderita’’ di ajang Piala Dunia. Apalagi saat itu kontestan lain dari Asia, Korea Selatan, tersingkir di penyisihan grup. Meski di putaran kedua dibekap Swedia 1-3, sukses Saudi pada partisipasi perdananya andil besar mendongkrak jatah Asia di putaran final Piala Dunia dari semula dua menjadi empat tim –seturut penambahan kontestan putaran final dari 24 menjadi 32 tim sejak Piala Dunia 1998 Prancis.

Gol al-Owairan juga dinobatkan FIFA di peringkat kelima dari 100 gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia sepanjang abad ke-20. Sukses Saudi di Piala Dunia 1994 AS juga membuka jalan tim negeri petrodolar lolos ke putaran final Piala Dunia Prancis pada 1998, 2002 di Korea-Jepang, dan 2006 di Jerman. Namun, Saudi dipaksa absen di putaran final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan dan Piala Dunia 2014 Brasil kali ini.

Berkat al-Owairan dan timnas Saudi, sepak bola Asia menyentak dunia. Serasa sepak bola Asia menggeliat lagi setelah lama tertidur pascakejutan yang diukir Korea Utara, satu-satunya wakil Asia di Piala Dunia 1966 Inggris. Dipoles pelatih lokal Myung Rye-Hun, Korut lolos hingga perempat final melawan Portugal. Korut bahkan sempat unggul 3-0 sebelum di-kick balik Eusebio dkk menjadi 3-5. Langkah Korut menjejak perempat final setelah mengimbangi Chile 1-1 dan menang 1-0 atas Italia, meski sempat kalah 0-3 kepada Uni Soviet di penyisihan grup, cukup mampu membuka mata dunia.

Striker Arab Saudi Saeed al-Owairan memerdayai beberapa pemain Belgia sebelum mencetak gol yang andil mengantarkan Saudi lolos ke putaran kedua Piala Dunia 1994 Amerika Serikat. ESPN | GETTY | FILES
Striker Arab Saudi Saeed al-Owairan memerdayai beberapa pemain Belgia sebelum mencetak gol yang andil mengantarkan Saudi lolos ke putaran kedua Piala Dunia 1994 Amerika Serikat. ESPN | GETTY | FILES

Al-Owairan dan Saudi membangunkan Asia dari tidur panjang. Sejak Piala Dunia 1994, langkah tim-tim Asia tidak lagi terhenti di penyisihan grup (lihat tabel).

Bahkan, terlepas kontroversi yang sempat muncul, prestasi fantastis diukir tim Korea Selatan kala menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 bersama Jepang. Sebelum langkah Taegeuk Warriors yang dibesut Guus Hiddink dihentikan Jerman 0-1 di semifinal, Korsel melibas Polandia 2-0, seri 1-1 kontra AS, dan menang 1-0 atas golden generation Portugal yang diisi Luis Figo dkk. Di putaran kedua, berkat gol penentu Ahn Jung-Hwan, Italia dibabat 2-1 (1-1) di babak perpanjangan waktu yang masih memberlakukan sudden death dan menang adu penalti 5-3 (0-0) melawan Spanyol di perempat final.

PIALA DUNIA 2014

Mungkinkah berharap kejutan ala al-Owairan dan dua Korea di Piala Dunia 2014 Brasil?

Seturut bergabungnya Australia ke Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pasca-Piala Dunia 2006 Jerman, Asia serasa lebih bertaji. Persaingan regional semakin sengit. Pun, kian banyak pemain Asia berkompetisi di liga-liga elite Eropa.

Namun, dari empat wakil Asia (Australia, Iran, Jepang, dan Korsel) pada Piala Dunia 2014 Brasil kali ini, tampaknya Samurai Blue Jepang yang lebih berpeluang melewati penyisihan grup, bahkan mampu melangkah hingga perempat final. Sejumlah alasan sekiranya bisa dipaparkan dalam analisis ini.

AUSTRALIA: Skuad polesan Ange Postecoglou ini rata-rata muda usia dan kurang pengalaman. Di Grup B, bisa dibilang Socceroos yang terlemah karena harus bersaing dengan juara Eropa sekaligus juara dunia bertahan Spanyol, Belanda sebagai runner-up Piala Dunia 2010, juga Chile yang dikenal bermaterikan para pemain ngeyel. Tak lagi diperkuat pemain-pemain senior kenyang pengalaman seperti kiper Mark Schwarzer, Lucas Neill, Brett Holman, maupun Brett Emerton, harapan pun banyak tertumpu ke Tim Cahill, Mark Bresciano, Luke Wilshere, dan Josh Kennedy.

IRAN: Skuad besutan Carlos Queiroz ini yang paling minim persiapan ketimbang tim-tim lain. Kondisi politik dan minimnya dana membuat Iran kurang diperhitungkan. Bisa jadi mereka masih kesulitan mencetak gol seperti di beberapa putaran final Piala Dunia sebelumnya, pengecualian kala menang atas ‘’seteru klasik’’ AS di Piala Dunia 1998 Prancis. Apalagi di Grup F, Iran harus bersaing dengan Argentina. Setitik celah harapan mungkin muncul jika muncul kejutan Iran mampu mengimbangi Nigeria dan Bosnia Herzegovina guna mendampingi Argentina lolos dari grup.

JEPANG: Kepada Jepang Asia berharap. Mengandalkan para pemain yang merumput di liga-liga elite Eropa seperti Shinji Kagawa, Keisuke Honda, Yasuhito Endo, dan Shinji Okazaki, pelatih Alberto Zaccheroni telah menguji keampuhan racikannya kala Jepang menahan imbang Belanda 2-2 dan menang 3-2 atas Belgia di partai uji coba. Di Grup C, Jepang juga harus bersaing dengan tim-tim yang bisa dibilang setara seperti Kolombia tanpa striker andalan Radamel Falcao, Pantai Gading, serta Yunani.

KOREA SELATAN: Paling sering mewakili Asia di Piala Dunia, bisa dibilang tim mereka di Piala Dunia 2014 ini ‘’yang terlemah’’ dibandingkan para pendahulunya. Korsel sepertinya harus mengandalkan kemampuan Hong Myung-ho memompa spirit tempur anak asuhnya. Setidaknya seperti Hong, kapten Korsel di Piala Dunia 2002, digembleng Guus Hiddink ketika meraih sukses 12 tahun silam. Di Grup H, Korsel dipaksa bersaing dengan Belgia yang lebih difavoritkan lolos dari grup ini, juga Rusia dan Aljazair.

Menarik ditunggu kiprah tim-tim Asia di Piala Dunia 2014 Brasil ini. Bola itu bulat, bergulirnya sulit diterka. Yang terpapar itu sekadar prediksi. Segala kemungkinan di lapangan bisa terjadi.

KIPRAH TIM-TIM ASIA & CAPAIANNYA DI PIALA DUNIA

1930 Uruguay: tanpa partisipan
1934 Italia: tanpa partisipan
1938 Prancis: Indonesia/Hindia Belanda (Putaran I)
1950 Brasil: tanpa partisipan
1954 Swiss: Korsel (Putaran I)
1958 Swedia: tanpa partisipan
1962 Chile: tanpa partisipan
1966 Inggris: Korut (Perempat Final)
1970 Meksiko: Israel (Putaran I)
1974 Jerman Barat: tanpa partisipan
1978 Argentina: Iran (Putaran I)
1982 Spanyol: Kuwait (Putaran I)
1986 Meksiko: Irak (Putaran I), Korsel (Putaran I)
1990 Italia: Korsel (Putaran I), Uni Emirat Arab (Putaran I)
1994 AS: Arab Saudi (16 Besar), Korsel (Putaran I)
1998 Prancis: Iran (Putaran I), Jepang (Putaran I), Arab Saudi (Putaran I), Korsel (Putaran I)
2002 Korea-Jepang: Korsel (Semifinal), Jepang (16 Besar), China (Putaran I), Arab Saudi (Putaran I)
2006 Jerman: Iran (Putaran I), Jepang (Putaran I). Arab Saudi (Putaran I), Korsel (Putaran I)
2010 Afrika Selatan: Australia (Putaran I), Jepang (16 Besar),
Korsel (16 Besar), Korut (Putaran I)

* Dimuat di HARIAN NASIONAL edisi Minggu 8 Juni 2014

Featured post

PIALA DUNIA 2014: Romario, Ronaldo, dan Kemujuran Presiden *

Presiden Brasil Dilma Rousseff (tengah) menandatangani bola didampingi Sekjen FIFA Jerome Valcke (tiga dari kiri) dan Ronaldo (tiga dari kanan), mantan bintang Brasil sekaligus anggota lokal organizing committee  Piala Dunia 2014, Wali Kota Porto Alegre Jose Fortunati (kanan tengah), serta beberapa pemain klub Internacional saat upacara pembukaan Stadion Beira-Rio, salah satu venue Piala Dunia 2014, di Porto Alegre, 20 Februari 2014. Presiden Rousseff berharap Piala Dunia memberinya kemujuran. REUTERS | EDISON VARA | FILES
Presiden Brasil Dilma Rousseff (tengah) menandatangani bola didampingi Sekjen FIFA Jerome Valcke (tiga dari kiri) dan Ronaldo (tiga dari kanan), mantan bintang Brasil sekaligus anggota lokal organizing committee Piala Dunia 2014, Wali Kota Porto Alegre Jose Fortunati (kanan tengah), serta beberapa pemain klub Internacional saat upacara pembukaan Stadion Beira-Rio, salah satu venue Piala Dunia 2014, di Porto Alegre, 20 Februari 2014. Presiden Rousseff berharap Piala Dunia memberinya kemujuran. REUTERS | EDISON VARA | FILES

ROMARIO andil membawa Brasil juara Piala Dunia 1994 di AS. Ronaldo brilian dan berperan memberi Brasil gelar kelimanya di Piala Dunia 2002 Korea-Jepang. Ketika Piala Dunia diboyong ke tanah kelahiran mereka tahun ini, dua bekas bintang itu pun berseteru menyikapi kesiapan Brasil.

Romario menuding Ronaldo tak konsisten lewat ucapannya yang ‘’malu atas persiapan Brasil’’ di Piala Dunia ini. Padahal, Ronaldo tercatat sebagai anggota organizing committee di kejuaraan sepak bola empat tahunan terbesar sejagat ini. ‘’Setiap orang tahu bagaimana saya bersikap. Saya tidak berubah keberpihakan tergantung perubahan permainan ini,’’ ujar Romario kepada UOL, portal berita terkemuka di Brasil, seperti dinukil Reuters.

Romario adalah anggota parlemen dari oposisi yang keras mengkritisi kesiapan Brasil menjadi tuan rumah Piala Dunia. Ia menilai, dana yang begitu besar untuk Piala Dunia sebaiknya dimanfaatkan untuk infrastruktur dan kesejahteraan. Aksi-aksi protes terus berlangsung, termasuk oleh para guru dan warga yang memukuli bus pengangkut timnas saat hari pertama latihan di Teresopolis, Senin (26/5).

Sementara itu, Ronaldo dikenal sebagai pendukung Presiden Dilma Rousseff dan menyokong penuh Brasil sebagai tuan rumah. Banyak yang berpendapat, jika di rumah sendiri Brasil menjuarai Piala Dunia untuk keenam kali, Rousseff dan Partai Pekerja-nya yang berkuasa berpeluang besar memertahankan jabatan hingga empat tahun ke depan. Usai Piala Dunia, tepatnya pada 5 Oktober 2014, Brasil menggelar pemilu.

Namun, sejumlah analis memprediksi tidak ada garansi kemujuran bagi Rousseff dan Partai Pekerja-nya meskipun Brasil tahun ini juara dunia. Jika benar juara, euforia diyakini berlangsung beberapa pekan saja. Setelah itu rakyat akan larut lagi dalam masalahnya. Bisa dibayangkan andaikata Brasil gagal juara, apalagi tersisih pada babak-babak awal yang sangat tidak mereka harapkan.

Sentimen negatif itu bisa semakin membesar mengingat, berbeda dengan kegagalan di Piala Dunia 1950, kali ini hampir seluruh pemain timnas Selecao berbendera klub-klub luar negeri, khususnya di Eropa. Persepsi kurangnya rasa memiliki (sense of belonging) timnas bila mereka gagal di Piala Dunia bakal begitu besar.

Eduardo Campos, salah satu penantang utama Rousseff, mengakui dampak persiapan Piala Dunia yang selama ini telah berperan menurunkan popularitas Rousseff.

Kasus Piala Dunia 2014 Brasil dan kemujuran prediksi Rousseff setidaknya bisa diteropong dari hasil kajian riset Stanford Graduate School of Business pada 2010 silam. Kemenangan atau juara yang dicapai 10 hari sebelum pemilu digelar berkontribusi penambahan suara bagi petahana (incumbent) sebesar 1-2 persen. Jika kemenangan atau gelar itu dicapai lebih dari dua pekan sebelumnya, dampaknya pun sangat kecil.

Setelah 1994, saat Romario dkk di Selecao mengangkat trofi di AS, pemilu Brasil selalu bersamaan tahun dengan helatan Piala Dunia. Selain meraih gelar keempatnya di AS, kondisi dalam negeri Brasil berbeda dengan saat ini. Kala itu Brasil meraih gelar ketika rencana stabilisasi ekonomi, yang ditandai pula dengan pemberlakuan mata uang baru real, sedang bergulir. Presiden saat itu, Fernando Henrique Cardoso, pun bisa mulus menggulirkan rencananya, terlebih mood rakyat lagi berbunga-bunga berkat gelar juara Piala Dunia. Cardoso pun terpilih kembali saat pemilu pada akhir 1994.

Setelah itu, korelasi antara juara dunia dan kemujuran presiden tidak lagi sebagai penjamin absolut. Pada 1998 Brasil gagal juara setelah di final dikandaskan tuan rumah Prancis. Namun, Cardoso terpilih lagi.

Empat tahun berikutnya, ketika Brasil menjuarai Piala Dunia 2002 dengan mengalahkan Jerman di final, justru tokoh oposisi Luiz Inacio Lula da Silva tampil sebagai presiden mengalahkan kandidat yang disokong Cardoso. Lula toh terpilih lagi pada 2006 meskipun pada Piala Dunia tahun yang sama Brasil disingkirkan Prancis di perempat final. Disokong Lula, Rousseff memenangi pemilihan pada 2010, hanya beberapa bulan setelah Brasil diempaskan Belanda pada Piala Dunia Afrika Selatan.

Piala Dunia kali ini benar-benar pertaruhan bagi Rousseff. Selain prestasi di lapangan, kondisi di luar stadion juga mengancam, apalagi disorot miliaran mata dunia. ‘’Apa pun yang terjadi, apakah itu lampu padam saat pertandingan, kemacetan lalu lintas, bandara yang semrawut, atau kecelakaan jalanan akibat buruknya infrastruktur, ia (Rousseff) yang langsung layak disalahkan,’’ tutur Thiago de Aragão, mitra perusahaan konsultan Arko Advice di Brasilia. ‘’Presiden Rousseff seharusnya berharap Brasil tidak menggelar pemilu saat Piala Dunia.’’

Meski demikian, beberapa yakin popularitas Rousseff bakal terdongkrak naik karena optimisme Brasil menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kini, kata Senator Romero Jucá dari Partai PMDB, harapan Rousseff adalah timnas bermain bagus di lapangan untuk meminimalkan protes-protes jalanan.

‘’Ia lebih baik berharap Neymar bermain bagus, Brasil menang dan juara,’’ tuturnya.

* Dimuat di HARIAN NASIONAL, Rabu 28 Mei 2014

Featured post

PIALA DUNIA 2014: ”Kuda Hitam” dan ”Tahun Kuda Kayu”

Neymar dkk ketika menjuarai Piala Konfederasi 2013 setelah menggilas Spanyol, juara dunia dan juara Eropa, 3-0 di partai final di Stadion Maracana Rio de Janeiro, Brasil, 1 Juli 2013. Akankah peruntungan ''Tahun Kuda Emas'' berpihak ke mereka?
Neymar dkk ketika menjuarai Piala Konfederasi 2013 setelah menggilas Spanyol, juara dunia dan juara Eropa, 3-0 di partai final di Stadion Maracana Rio de Janeiro, Brasil, 1 Juli 2013. Akankah peruntungan ”Tahun Kuda Emas” berpihak ke mereka? PHOTO: REUTERS | KAI PFAFFENBACH

PERTANDINGAN sepak bola, tidak terkecuali di ajang Piala Dunia, bukan arena tos-tosan. Kesiapan mental dan fisik menjadi kunci kesuksesan. Meski bukan klenik, sepak bola toh juga kerap diwarnai kejutan-kejutan yang bertumpu pada faktor luck alias peruntungan.

Piala Dunia 2014 Brasil pada Juni-Juli mendatang sekiranya tidak terlepas dari kemungkinan itu. Spanyol, sang juara Eropa beruntun dalam dua edisi terakhir dan juara Piala Dunia 2010, masih layak diperhitungkan. Begitu pula Jerman dan Belanda yang berperforma fantastis sepanjang babak penyisihan mereka di Zona Eropa.

Gairah menantikan kejutan di Brasil semakin bertambah dengan kehadiran Inggris. Rasanya tidak lengkap persaingan di arena sepak bola mondial ini tanpa kehadiran timnas The Three Lions.  Dengan kompetisi domestik Premier League dinilai paling mentereng di dunia, sukses melampaui ujian cukup menantang pada penyisihan level benua, plus seri 2-2 saat laga persahabatan melawan tuan rumah Brasil pada peresmian Stadion Maracana, terlalu dini kiranya menilai Inggris mati harapan.

Namun, sebagaimana diulas Jon Harvey di The Metro, dengan bintang-bintang seperti Eden Hazard, Vincent Kompany, Romelu Lukaku, Jan Vertonghen, Mousa Dambele, Christian Benteke, dan Marouane Fellaini, timnas Belgia serasa lebih pas mewakili Premier League ketimbang The Three Lions. Belgia pun layak sebagai dark horses alias ‘’kuda hitam’’ di Piala Dunia 2014.

Debutan Bosnia-Herzegovina yang diperkuat pemain-pemain berkualitas seperti Edin Dzeko, Asmir Begovic, serta Miralem Pjanic juga sekiranya patut masuk kategori ‘’kuda hitam’’ itu. Selama babak penyisihan grup, Pelatih Safet Susic berhasil menyuntikkan semangat tempur luar biasa kepada skuadnya.

Peningkatan performa timnas-timnas Asia, sudah menghitung Australia, sejak Piala Dunia 2002 belum bisa otomatis dianggap enteng. Timnas dari benua ini seperti Jepang dan Korea Selatan tetap potensial menjadi batu sandungan tim benua-benua lain yang lebih punya nama. Potensi ini dimiliki tim-tim dari Zona Amerika Tengah, Utara, dan Karibia (CONCACAF) seperti  Meksiko dan Amerika Serikat.

Sukses mengejutkan Ghana ke perempat final Piala Dunia 2010 bakal menyemangati tim-tim dari Benua Hitam Afrika. Dari sejumlah tim Afrika yang lolos ke putaran final di Brasil kali ini, fokus sepertinya tertuju ke Pantai Gading. Dengan performa Didier Drogba, Wilfried Bony, Salomon Kalou, dan Yaya Toure masih berkilau terang, The Elephants tetap menjadi ancaman yang sangat layak diperhitungkan tim-tim rival, tidak terkecuali dari Amerika Latin yang menjadikan Piala Dunia 2014 ini sebagai rumah mereka.

Piala Dunia di ‘’Tahun Kuda’’

Sebagaimana diketahui, 2014 dalam kalender China merupakan ‘’Tahun Kuda Kayu’’. Sebelumnya enam kali Piala Dunia juga digelar di ‘’Tahun Kuda’’ dengan proses dan hasil yang cukup menarik dicermati. Keenam Piala Dunia sebelumnya itu adalah 1930, 1954, 1966, 1978, 1990, dan 2002.

Mengilas peruntungan pada tahun-tahun penyelenggaraan itu, tuan rumah bisa berharap banyak. Dari enam kali penyelenggaraan di ‘’Tahun Kuda’’, separuh atau 50 persen dijuarai oleh tuan rumah. Pada Piala Dunia 1930 di Uruguay, tuan rumah mengalahkan Argentina di final 4-2, Inggris mengungguli Jerman Barat 4-2 di final Piala Dunia 1966, dan Argentina menundukkan Belanda 3-1 di final Piala Dunia 1978.

Menilik performa Piala Dunia di ‘’Tahun Kuda’’, hanya lima negara yang mencatatkan sukses sebagai juara. Mereka adalah Uruguay, Jerman/Jerman Barat yang menjuarai Piala Dunia 1954 setelah menumbangkan tim favorit Hungaria 3-2 di final, Inggris, Argentina, dan Brasil yang mengandaskan Jerman 2-0 di final Piala Dunia 2002 —Piala Dunia untuk kali pertama digelar di benua Asia. Dari lima negara yang masih didominasi Eropa dan Amerika Latin itu, performa Jerman dan Argentina yang terbilang mentereng.

Jerman juara dua kali di ‘’Tahun Kuda’’ dan dua kali masuk partai final (1966 dan 2002). Sedangkan Argentina sekali juara dan dua kali masuk partai final (1930 dan 1990). Berbeda dengan Argentina, dua kali Jerman menjuarai Piala Dunia yang tidak digelar di rumah sendiri. Bahkan pada 1954, sukses Jerman meraih trofi pertama Piala Dunia-nya ini terbilang ‘’ajaib’’ sehingga melahirkan sebutan Miracle of Bern (Keajaiban di Bern) di dalam negeri.

Betapa tidak, Hungaria ketika itu adalah raja Eropa. Pada babak penyisihan Piala Dunia 1954 itu pun Jerman dipaksa bertekuk lutut 3-8. Namun di final Jerman justru menggulingkan prediksi dan membangkrutkan bandar taruhan dengan meng-kick balik Ferenc Puskas dkk di timnas Hungaria.

Masihkah peruntungan Jerman moncer di ‘’Tahun Kuda Kayu’’ pada 2014 ini? Menarik ditunggu. Dengan anggota skuad yang sebagian besar sama, timnas polesan Joachim Loew kali ini hadir di Brasil dengan lapar prestasi yang teramat hebat. Der Panzer tersisih di semifinal Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012.

Atau, masihkah ‘’hukum’’ Jerman dan tim-tim Eropa serta benua lainnya tidak pernah bisa menjuarai Piala Dunia di ranah Amerika Latin bertahan pada 2014 ini? Jika masih berlaku, sekiranya tuan rumah Brasil bisa berharap peruntungan lebih besar. ‘’Tahun Kuda’’ pada 2002 menjadi acuan. Dengan talenta-talenta gemilang yang dimilikinya sekarang —ditambah faktor sang pelatih saat ini, Luiz Felipe Scolari yang andil membawa Brasil merengkuhi Piala Dunia kelimanya pada 2002 itu— Brasil serasa memiliki segalanya.

Jika demikian, sekiranya Lionel Messi dkk di timnas Argentina mengharapkan keberuntungan ‘’Tahun Kuda’’ kali ini tidak berpihak ke Brasil, melainkan ‘’kesialan’’ sebagai tuan rumah yang gagal juara sebagaimana di Piala Dunia 1950. Begitu pula Uruguay yang ingin mengulang sukses tuah ‘’Tahun Kuda’’ di ranah Amerika Latin sebagaimana Argentina. Tim-tim lain seperti Cile dan Kolombia pasti juga menyiapkan kejutan dan, siapa bisa mengira, ‘’keajaiban’’ sebagaimana yang dicatat Jerman Barat di ranah Eropa di Piala Dunia 1954.

Menarik ditunggu. Semua mafhum tim paling siap strategi dan mental lah yang bakal tampil sebagai juara. Namun, semua juga tidak bisa menyangkal faktor luck kadang hadir di pertandingan-pertandingan krusial seperti Piala Dunia.

PIALA DUNIA DI ‘’TAHUN KUDA’’: PIALA DUNIA 2002 – Korea-Jepang (Brasil juara); 1990 – Italia (Jerman juara); 1978 – Argentina (Argentina juara); 1966 – Inggris (Inggris juara); 1954 – Swiss (Jerman Barat juara); 1930 – Uruguay (Uruguay juara)

* Tulisan ini dimuat di HARIAN NASIONAL edisi 10 Februari 2014

Featured post

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: