goyangLEBIH dari 18 tahun kutinggalkan dunia itu. Tiba-tiba e-mail seorang teman lama mencoba membangkitkan kenanganku pada masa silam: panggung bermandi cahaya aneka warna berbaur kecut peluh yang membasahi tubuh. Kenangan pada lautan manusia di depan panggung, umumnya remaja belasan tahun yang tidak kenal lelah menggoyangkan tubuh berjam-jam demi sebuah ”hiburan rakyat” gratisan, serasa masih di pelupuk mata.

”Sol, aku kadang kangen main lagi di panggung. Tapi mana mungkin?” tulis Budi, temanku yang kini hidup mapan sebagai seorang pegawai itu, berusaha mengingatkan kehangatanku bermain bersamanya di atas panggung dangdut pada paruh kedua 1980-an hingga awal 1990-an.

Membaca e-mail temanku, aku hanya tersenyum. Buku panggung itu telah sekian lama kututup. Namun tidak bisa dibantah bahwa lembar demi lembar di dalamnya tercatat perjalananku menghabiskan banyak malam untuk berusaha membuat orang lain gembira. Untuk tujuan terakhir itu, selain kukantongi uang ”hasil mengamen” yang terbilang cukup besar untuk ukuranku sebagai bujangan, juga harus kubayar dengan sengatan kantuk di bangku SMA hingga kuliah di pagi hari.

Dengan uang itu aku bisa bayar kos dan kebutuhan sehari-hari, beli buku dan kaset, berlangganan koran dan beli majalah, mentraktir teman-teman, serta setidaknya membantu menghidupi teman-teman yang kiriman uang kos dari orangtuanya terlambat. Meski tidak diminta dan harus mencuri-curi kesempatan lepas dari pengamatan orangtua, dari panggung itu pula sedikit-sedikit aku bisa membantu orangtuaku menafkahi sekolah adik-adikku, membeli mesin ketik hingga notebook murahan untuk mengembangkan hobiku yang lain: menulis.

Aku benar-benar tidak mau ambil pusing dengan aneka cibiran yang menyebut dangdut ”ndeso, kampungan, dan seterusnya”. Masa bodoh. Selain Tuhan, hidupku adalah milikku. Tidak seorang pun berhak mendikteku soal selera. Mengapa harus mengekang hidup dengan berpura-pura menikmati sesuatu yang sebenarnya kurang atau tidak bisa kita nikmati?

Lagi pula, jika aku juga bisa menikmati jenis musik lain selain dangdut, toh tidak ada juga keharusan bagiku untuk pamer kepada orang lain. Be myself, be yourself. Sejak awal prinsipku sederhana saja, nikmati hidup apa adanya. Jangan pernah merasa terpaksa hanya karena ”sungkan” atau ”gengsi” kepada orang lain. Lebih baik dianggap orang tidak mengerti tapi kita mengerti daripada merasa mengerti namun sejatinya tidak mengerti.

Dari panggung dangdut aku belajar banyak tentang warna kehidupan. Wajah-wajah gembira, tetapi hatinya kadang menangis pilu. Sekali waktu aku harus pulang tanpa amplop honor karena seorang teman lebih membutuhkannya untuk biaya anaknya daftar ulang sekolah. Seorang penyanyi dituntut tetap menyanyi, meski hatinya perih. Pada sebuah dini hari, aku harus kembali ke Surabaya dari sebuah desa di Gresik hanya dengan ongkos secukupnya karena seorang penyanyi grup dangdutku lebih membutuhkannya untuk biaya anaknya di rumah sakit.

Dari panggung dangdut aku bisa belajar arti penting persahabatan. Di atas panggung, teman2 dan aku memang tidak harus senada, tetapi kami harus mampu menciptakan harmoni. Demi harmoni itu, semua dituntut ikhlas memerankan fungsi masing-masing dan tidak merasa benar sendiri. Tidak pengin menang sendiri. Kami juga dituntut bisa menyelami masalah rekan segrup, tanpa prasangka, karena memang ”mood” sangat memengaruhi nada dan irama yang dihasilkan.

Di atas panggung, kami menatap ke depan dan bawah, serta selalu berusaha membuat para penonton gembira. Demi tujuan ini, jelas kami kadang harus mengorbankan perasaan. Seberapa pun hati merintih, bahkan meronta, menghibur penonton dan tidak membuat tuan rumah kecewa adalah yang utama.

Oh, masa lalu. Seperti dikatakan Budi, jujur sekali-sekala aku juga merindukannya. Namun roda zaman telah beralih. Aku hanya bisa berucap syukur dan bangga bahwa kehidupan beberapa teman remaja dan seniorku yang tetap setia di panggung dangdut –yang bernaung di grup-grup lain di Jawa Timur– jauh lebih beruntung dibandingkan para pengamen gerobak yang beberapa tahun ini kerap kusaksikan di Jakarta.

Selain beberapa di antaranya masih punya garapan di sawah dan tambak, beberapa teman juga sangat berkecukupan untuk membiayai sekolah anak-anaknya, merenovasi rumah, hingga membeli mobil meski tidak tergolong mewah. Lahan panggung dangdut sudah berkembang jauh lebih baik dibandingkan dua dasawarsa silam. Selain honor manggung dari koefisien hasil bagi, mereka juga masih mendapatkan bagian dari penjualan VCD (kini rata-rata sudah berizin resmi) hasil syuting saat manggung itu.

Aku dan Budi sudah lama tidak hidup di dunia panggung dangdut itu, tetapi kami bisa menyaksikan bahwa pilihan di panggung yang setia ditekuni teman-teman itu pada akhirnya bermanfaat juga bagi kehidupannya. Karena sudah lama tidak bersama di atas panggung, mungkin kami juga tidak sepenuhnya tahu bila sebelumnya lembar demi lembar buku panggung dangdut teman-teman itu tidak semengkilap sekarang.