demi_cucu

MENATAP Merah Putih berkibar, hatiku bertanya, ”Benarkah ini Indonesia?”

Saat memasuki bilik suara pada pemilu legislatif 9 April lalu (baru kali pertama ini sepanjang hidupku menggunakan hak pilih di pemilu lesiglatif), kugandeng tangan anak perempuanku. Kutunjukkan kepadanya empat lembar kertas suara yang berukuran seperti koran itu. Vivin, anak perempuanku itu, berkata, ”Kok gede banget Yah, banyak sekali calonnya.”

Aku tak menjawabnya dengan kata, melainkan meresponsnya dengan senyum. Hatiku berkata, ”Ya, inilah Indonesia, anakku. Indonesia negara yang kaya dengan banyak rakyatnya merasa pantas menjadi wakil dari yang lainnya, menjadi pemimpin. Namun setelah dipilih tidak jarang mereka, langsung atau tidak langsung, justru menyengsarakan rakyatnya.”

Aku rasa belum saatnya menjejali (mengotori?) pikiran anakku dengan pengetahuan tentang politik praktis ala Indonesia. Lebih baik berbincang dengannya soal musik atau tentang bahasa Inggris. Aku yakin dia lebih senang diajak bicara soal Dewa, The Changcuters, atau grup-grup lainnya, termasuk soal warna baru lagu ”Menunggu” oleh Ridho Rhoma bersama Sonet 2-nya. Lebih baik pula berbicara soal grammar atau menambah kosa kata (vocabulary) Inggris anakku.

Jika kali ini harus mengajari anakku untuk sekadar tahu politik, maka kubiarkan dia memasukkan empat kertas suara jumbo dengan gambar partai dan calon yang sudah kucentang dalam empat kotak suara yang tersedia. Tak lupa kujelaskan makna keempat kertas suara yang dimasukkannya itu. Vivin tak berkata apa2 setelah rampung memasukkan keempat kertas suara itu. Dia hanya tersenyum puas karena, dengan sedikit usaha keras, kertas-kertas suara itu akhirnya bisa masuk empat kotak.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Vivin kembali bertanya, ”Apakah orang-orang itu menjadi caleg karena nanti mendapatkan gaji?” Untuk pertanyaan yang satu ini, langsung kujawab, ”Ya. Jadi mereka akan berdosa apabila mengkhianati kepercayaan rakyat yang memilihnya. Kalau mereka korupsi dan uangnya untuk memberi makan istri dan anaknya, maka daging dan darah yang mengalir di tubuh istri dan anaknya juga tidak membawa berkah. Kita harus jeli memilih wakil-wakil meski tidak tahu pasti apakah nanti para wakil itu bersih dan bertanggung jawab.”

Selanjutnya, kataku kepada Vivin, ”Jika Mbak nanti sudah besar dan mempunyai hak pilih, Mbak bisa menggunakannya. Jika Mbak merasa nggak ada yang cocok, nggak memilih juga nggak apa-apa. Itu hak Mbak. Yang penting berusahalah menjadi orang yang berguna bagi sesama dan bangsa.”

Seperti yang dulu pernah kudapat dari guru ngajiku di pelosok, kukatakan kepada Vivin bahwa ”jangan memberikan jabatan kepada orang yang meminta-minta”. Beberapa kiai belakangan jarang terdengar mengucapkan kalimat ini (mungkin sudah lupa karena ditimbuni kepentingan duniawi atau mulai pikun).

Namun, aku juga menyitir kalimat Mao Tse Tung dan kukatakan kepada Vivin, ”Untuk mendapatkan surga peluklah agama. Jika ingin mengubah negara, masuklah partai politik.” Jadi jalan terbaik adalah memilih orang-orang partai politik yang beragama dan bersih. Kepadanya kita berharap mereka mampu membawa negara dan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Bukankah baik apabila mereka mampu menghadirkan surga di atas secuil bumi bernama Indonesia ini?

Jujur saat ini aku senang sekali menyaksikan anakku langsung mengubah saluran televisi begitu di layar tampak para (sok) elite partai sibuk yang, katanya, menjalin komunikasi politik. Bagiku sih, justru sebenarnya mereka lebih condong menjalankan ”politik komunikasi”: dengan banyak muncul di televisi menunjukkan mereka eksis, mampu, dan merasa bisa membawa negara dan bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Tapi siapa mereka dan apa yang sudah diperbuat untuk negeri ini? Mereka masih mengesankan hanya ”rame ing pamrih” tapi masih ”sepi ing gawe”.