CR9: Ronaldo dengan seragam baru ''adidas'' di El Real bernomor 9. REUTERS
CR9: Ronaldo dengan seragam baru ''adidas'' di El Real bernomor 9. REUTERS

Kepindahan Kaka dan Cristiano Ronaldo ke Real Madrid tidak hanya mengirimkan sinyal panas ke Barcelona serta mendidihkan suhu La Liga musim depan, tetapi juga strategi revans nan cerdik yang, untuk sementara, membuat adidas menang telak atas nike.

KLUB mana yang paling terpukul dengan sukses fantastis Barcelona meraih  treble winners –Piala Raja, La Liga, serta Liga Champions Eropa— musim lalu? Tak lain Real Madrid, sang rival klasik di lapangan serta ‘’seteru historis-ideologis’’. Dalam persaingan domestik hingga ranah Eropa pada musim yang baru lewat, El Real harus mengakui kalah total dari pasukan kebanggaan Catalan tersebut.

Kiranya tak terlalu mengejutkan bila El Real kini begitu bernafsu mengembalikan masa-masa kejayaan dengan imperium jilid kedua  Galacticos. Megatransfer yang dicap ‘’membabi buta’’ oleh sebagian kalangan, termasuk Presiden Barca Joan Laporta, telah dilakukan dengan mengusung Ricardo Kaka dari AC Milan serta Cristiano Ronaldo dari Manchester United (MU). Beberapa pemain bintang dengan level ”lebih rendah” diprediksi juga akan bergabung.

Ambisi Florentino Perez, presiden baru tetapi wajah lama di El Real, tak bisa lagi ditawar. Klub kebanggaan ibu kota itu harus kembali menjadi yang terbaik di Spanyol dan Benua Biru. Setidaknya musim depan harus mengungguli El Barca dan tidak lagi dipermalukan setelak musim lalu. Mungkinkah?

Jawabannya bisa ‘’ya’’, pun ‘’tidak’’. Insan bola sedunia masih harus menunggu musim depan bergulir serta model-model amunisi macam apa lagi yang bakal diusung kedua klub untuk menyongsongnya. Yang jelas La Liga Spanyol bakal lebih menjanjikan sebagai tontonan menarik. Di liga Negeri Matador inilah dua mantan Pemain Terbaik Dunia FIFA, Kaka dan Ronaldo, segera bersaing langsung di lapangan dengan dua pemain Barcelona yang disebut-sebut bakal menjadi kandidat kuat Pemain Terbaik Dunia FIFA tahun ini: Lionel Messi (Argentina) dan Andres Iniesta (Spanyol).

Jika Messi akhirnya yang terpilih, publik mungkin sudah tidak banyak bertanya. Dia andil besar membawa Barca meraih tiga trofi itu. Permainan dan keterampilan serta seninya memainkan bola sungguh luar biasa.

Namun seandainya Iniesta yang mampu mengangkat trofi Pemain Terbaik Dunia, sebenarnya juga bukan hal ganjil. Seperti Messi yang ikut andil besar membawa Barca meraih treble, pemain didikan Barcelona itu merupakan salah satu kunci utama sukses timnas Spanyol menjuarai Euro 2008. Mulai bulan lalu, Spanyol pun berhasil menggusur Argentina dari puncak ranking FIFA.

Sayang di Piala Konfederasi 2009 Iniesta tidak tampil karena masih dalam taraf pemulihan akibat cedera. Tak ada Messi karena Argentina tidak meraih tiket ke turnamen guna menguji kesiapan Afrika Selatan sebelum menghelat Piala Dunia tahun depan tersebut. Ronaldo? Tak ada Portugal di Piala Konfederasi tahun ini dan Ronaldo pun sudah tidak lagi ikut dan berkostum MU saat melawat ke Jakarta bulan ini.  Kaka tampil dan andil membawa Brasil menjuarainya.

Namun dari segi perang syaraf dan uang pramusim, harus diakui Real Madrid sudah mulai revans dan terbilang sukses. Membikin Laporta berang atas ‘’permainan uang transfer’’ ibarat menanam sekam di dada Presiden El Barca itu.

Selanjutnya adalah kemenangan uang di balik penopang operasional El Real. Sebut saja inilah kemenangan telak ‘’adidas’’ atas ‘’nike’’. Dengan hengkang dari MU, Ronaldo bakal meluruhkan atribut nike yang selama ini membungkus skuad ‘’Setan Merah’’ dan segera berganti dengan adidas.

Jika diutak-atik, perhelatan final Liga Champions di Roma, 27 Mei lalu, ibaratnya merupakan panggung yang menampar adidas. Sebab finalisnya, Barca dan MU, masing-masing dibungkus nike apparel. Tentu sebelumnya adidas berharap banyak pada Chelsea maupun Bayern Munich yang di-‘’endorse’’. Toh keduanya gugur sebelum mencapai partai puncak.

Dalam kasus Kaka, sekilas memang tidak ada yang ganjil untuk urusan menang-kalah antar-apparel itu. Antara AC Milan dan Real Madrid sama-sama dibungkus adidas. Namun, saat menyaksikan ESPN pada Selasa pagi (9/6) WIB yang menayangkan Kaka mengucapkan ‘’The soap opera is over’’ guna menegaskan kepastian kepindahannya ke El Real, pikiran nakal saya (mungkin juga bukan suatu kebetulan) mengatakan, ‘’Inilah salah satu pukulan adidas buat nike.’’

Sebab saat mendeklarasikan kepindahannya itu Kaka tidak lagi di Milanello, kamp latihan Milan, yang bertabur atribut adidas, tetapi di kampung halamannya, tepatnya di kamp latihan timnas Brasil di Recife. Semua tahu apparel timnas Brasil adalah nike. Salah satu produk nike pun masih melekat di tubuh Kaka saat konferensi pers tersebut.

Padahal beberapa hari sebelumnya ketika masih di Milanello, dengan atribut adidas usai berlatih bersama timnya, kepada wartawan Kaka masih mengatakan bakal setia di klub Kota Mode tersebut demi klub dan Milanisti. Alotnya kepastian transfer di meja negosiasi dan Kaka cuma menyesuaikan waktu mengumumkannya memang bisa dijadikan excuse.

Namun bagi orang-orang  marketing yang sangat sadar dan paham dengan arti penting image, adakah yang dilakukan Kaka merupakan kebetulan semata?