inilah.com
inilah.com

Sekitar 1.500 kiai di Jawa Timur, Kamis (2/7), mendukung pasangan Jusuf Kalla-Wiranto dengan rasionalisasi JK itu orang NU. Tanpa mengurangi rasa hormat dan tawadlu kepada beliau-beliau, mengapa Pak Kiai terlibat lagi dalam permainan panas duniawi ini?

Saya bukan orang berilmu mumpuni seperti beliau-beliau yang akrab disapa almukarram di kalangan santri dan massa NU itu. Namun ketika kiai langsung melibatkan diri pada perebutan kekuasaan duniawi seperti ini, apalagi sampai ada yang berikrar siap mempertanggungjawabkan dukungannya di hadapan Allah SWT, kiranya ada yang ‘’ganjil’’ di telinga ini.

Bahkan dengan sikap seperti itu tidak bisa disalahkan apabila ada ‘’kecurigaan’’: jangan-jangan dukungan itu merupakan estafet ketidakpuasan batin para kiai tersebut atas sikap politiknya selama ini. Adakah para kiai itu masih ber(ter)-himpun di bawah panji PKB yang sudah berikrar mendukung SBY-Boediono atau partai-partai ‘’sempalan akibat konflik internal’’ seperti PKNU? Atau ada misi lain?

Pak Kiai, mohon maaf, kali ini izinkan saya menggugat. Biarlah pemilih menilainya dengan akal sehat. Pak Kiai, serukanlah kepada rakyat agar menggunakan hak pilihnya pada 8 Juli nanti sekaligus tiada henti memelihara persaudaraan dan kedamaian di negeri yang majemuk ini.

Sebagai warga negara, Kiai memang berhak mengemukakan pendapat dan dukungan. Namun sekarang, dengan tanpa maksud mengambil alih peran ceramah yang selama ini menjadi milik beliau, kiranya lebih arif jika Pak Kiai bersikap dan bersuara netral sebagai saka guru bangsa tanpa harus membulatkan tekad mendukung capres tertentu –terlepas NU atau bukan.

Sekali lagi maaf, bukan maksud saya menceramahi, namun tidakkah lebih baik jika ikhtiar Pak Kiai dicurahkan untuk ‘’melawan’’ diri sendiri: meluruhkan ego akibat konflik berlarut-larut karena perbedaan wadah politik praktis? Pusatkan tenaga bersama dan satukan langkah demi membangun NU agar menjadi organisasi yang selalu ‘’up-to-date’’ dengan perkembangan zaman, demi peningkatan kemaslahatan umat.

Terlahir dan tumbuh dalam lingkungan kultur NU, jujur saya bangga dan mensyukurinya. Namun, jujur pula, saya jengkel menyaksikan beberapa kiai masih saja ribut di kandang politik praktis, yang justru mengesankan demi orang-orang dekatnya, keluarganya. Demi Gus, Gus… dan sejenisnya.

Pak Kiai, ini zaman digital, zamannya Teknologi Informasi. Jangan seret-seret nahdliyin sebagai ‘’sapi perah suara’’. Biarkan nahdliyin bebas menentukan pilihan untuk urusan duniawi ini. Tolong jangan beri lagi saya alasan ‘’demi pendidikan dan pendewasaan politik’’ kaum nahdliyin, sementara masih sangat banyak saudara saya butuh ‘’makanan’’ yang lebih dari sekadar politik. Lebih dari sekadar pengajian dan istighatsah.

Pak Kiai, kini izinkan saya bertanya, ‘’Adakah JK-Wiranto bakal menang pada Pilpres nanti, khususnya di Jawa Timur? Yakinkah Pak Kiai bila nanti JK-Wiranto tidak akan mengulangi kekalahan Hasyim Muzadi dan Salahuddin Wahid pada Pilpres 2004 atau Khofifah Indar Parawansa di Pilgub lalu?’’

Sekali lagi, maaf Pak Kiai. Semoga semua yang tertulis itu tidak lebih dari sekadar ‘’gejolak kebodohan’’ yang tiada mampu saya bendung. Saya menilai sebaiknya Pak Kiai jangan ikut-ikutan masuk dunia abu-abu seperti itu, tetapi saya juga yakin Pak Kiai tahu yang terbaik.