setanEUFORIA menyambut kehadiran Manchester United (MU) ke Jakarta sudah terasa. Jalanan ibu kota bersolek wajah-wajah ceria manajer dan para pemain ‘’Setan Merah’’ yang mengenakan kostum klub berbalut batik. Di televisi, setelah iklan ‘’jualan tiket’’ sebuah operator seluler untuk menyaksikan tim Indonesia All Stars diuji MU di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) 20 Juli, kini giliran Wayne Rooney dan Edwin Van Der Sar ramah menyapa, ‘’Hi, Indonesia…’’, disambung iklan para pemain MU belajar bahasa Indonesia di kelas:  ”Ini budi…” (hehehe)

Red Devils-mania. Demam ‘’Setan Merah’’. Anda boleh tidak suka, tetapi harus menerima tanpa koreksi bahwa MU memang idola. Mereka adalah sekumpulan bintang yang segera hadir menerangi ‘’gelap’’ di stadion sepakbola kita. Dua dasawarsa terakhir dari stadion sepakbola itu tubuh kita tidak pernah lagi bergetar mendengarkan Indonesia Raya berkumandang, para pemain basah kuyup oleh peluh perjuangan dan mata sembab oleh air mata haru dengan kepingan emas bergelayut di leher anak-anak negeri ini.

Sebaliknya yang acap terjadi adalah rentetan kisah pilu: kericuhan, bentrokan, perusakan dan pembakaran pada beberapa bagian atau atribut stadion, hingga ratapan pilu beberapa orangtua akibat kematian anak-anaknya. Terlepas dari kenyataan MU merupakan gugus bintang yang spesial, mereka adalah tamu yang wajib disambut ramah sesuai adat ke-Timur-an kita. Seperti bunyi hadist, jika kita beriman, maka sudah menjadi kewajiban untuk memuliakan tamu – meski tidak seorang pun di skuad ‘’Setan’’ itu muslim.

Seperti seni dan budaya, itulah hebatnya spirit olahraga. Tanpa sekat agama dan ras. Rombongan yang tidak seiman bakal disambut meriah dan dimuliakan di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia yang dikenal ‘’gila bola’’, tetapi sepanjang usia republiknya belum juga pernah mampu menjejakkan kaki di Piala Dunia. ‘’Setan’’ akan dimuliakan di sini.

Bukan karena mereka sudah diperlakukan sedemikian rupa hingga bersedia berbatik dan mengatakan, ‘’Hi, Indonesia…’’, tetapi mereka adalah tamu yang sangat istimewa.

Namun kini saatnya bertanya, apakah kehadiran MU akan kita persepsi sebagai ‘’bintang tamu’’ atau ‘’tamu bintang’’?

Jika bintang tamu, rasanya tepat bila kita menilai kehadiran mereka tidak lebih sebagai ajang berpesta bersama idola. Inilah saatnya berbondong-bondong menyaksikan langsung pasukan Sir Alex Ferguson beraksi. Tak berdosa bila hasrat menyaksikan wajah para idola dari jarak sepelemparan batu diwujudkan. Kita puas. Setelah itu biarkan rombongan ‘’Setan’’ itu pergi menggoda mangsanya dari satu kota ke kota lain, satu negara ke negara lain, dan satu benua ke benua lainnya karena mereka memang memiliki kekuatan penggoda.

Tetapi jika menyambutnya sebagai tamu bintang, tentu Indonesia akan berupaya maksimal memanfaatkan momen ini: ajang berpesta bersama idola sekaligus berusaha memetik keuntungan besar dengan cara seefektif mungkin. Sebab kita semua tahu label kehadiran MU ke negara ini adalah lawatan.

Biarlah fans MU berpesta. Namun, bagi para pemain dan insan bola di Tanah Air, selain bisa jumpa idola, hendaknya momen langka yang juga mahal ini mampu menjadi arena pembelajaran untuk bisa mengorek rumus-rumus (tentu mustahil bisa sepenuhnya) sukses skuad ‘’Setan’’. Para pemain dan insan bola di Indonesia kiranya sudah tahu dan paham apa yang bisa dilakukan untuk mencari profit dari kunjungan mahal MU ini. Bukannya pesimistis, tetapi kiranya tujuan itu lebih realistis dibandingkan bercita-cita muluk mampu mengalahkan ‘’Setan’’ di sangkar kita.

Contoh paling aktual adalah lawatan Arsene Wenger bersama skuadnya di Malaysia pekan ini. Seperti diwartakan Utusan Online, Rabu (10/6), Wenger yang lekat dijuluki  The Professor itu diminta menganalisis kemampuan dan skill para pemain Harimau Muda (timnas U-19 Malaysia) dalam sesi latihan di Dataran Merdeka, Kuala Lumpur, pada Selasa (9/6) malam. Apa hasilnya?

Wenger terkesan dengan performa dua pemain di tim Harimau Muda itu. Kedua pemain tersebut, yang masih dirahasiakan namanya oleh Utusan, dinilai Wenger sangat luar biasa untuk ukuran Asia. Dalam sprint 20 meter, keduanya mencatatkan waktu masing-masing hanya 2,67 dan 2,71 detik, yang menurut analisis Wenger sudah layak untuk bersaing dengan para pemain muda di klub-klub elite Inggris dan di Eropa.

‘’Luar biasa. Ini merupakan pertanda baik karena mereka adalah pemain muda. Empat tahun lagi akan menjadi momen penentuan apakah mereka mampu bersaing di skuad timnas senior,’’ kata Wenger.

Sang manajer Arsenal itu juga membeberkan resep bagaimana seharusnya sebuah tim dibentuk dan metode ideal pembibitan untuk mencetak para pemain sepakbola yang andal. Dari pujian Wenger tersebut, Malaysia pun merasa tersanjung dan merasa masih punya harapan besar atas prestasi timnasnya.

‘’Harapan baru sepak bola negara,’’ tulis judul berita di Utusan Online, yang disambung dengan lead (seperti teks aslinya): ‘’Di sebalik kesuraman bola sepak negara, masih ada bakat muda yang boleh disandarkan harapan untuk memulihkan maruah bola sepak tempatan.’’

Saat MU datang atau setelah meninggalkan Jakarta nanti, mungkinkah ada juga berita-berita bernada optimistis seperti itu di media massa Indonesia? Semoga…