bonekSAYA tidak banyak mengikuti perjalanan Persebaya tahun ini. Tak hanya dinamika di tubuh tim, tetapi juga klik maupun intrik dalam kepengurusannya. Tapi saya rasa terlalu kecil membincang dunia olahraga, yang berpaham sportivisme, bila hanya larut dengan persoalan-persoalan nonteknis di luar lapangan seperti itu, sehingga mengorbankan esensi perjuangan di lapangan dan menafikan ketulusan dukungan moral para pencinta setianya.

Selamat untuk skuad Green Force, ofisial, pengurus, dan Bonekmania sehingga Persebaya bisa menjejak lagi kasta tertinggi kompetisi sepakbola Tanah Air. Kemenangan melalui adu penalti 6-5 (1-1) atas PSMS Medan pada playoff di Stadion Siliwangi Bandung, Selasa (30/6) malam, merupakan bukti bahwa, lagi-lagi, spirit tempur merupakan faktor terpenting dalam rona liku perjuangan guna mencapai hasil maksimal. Selamat pula untuk PSSI yang berhasil ‘’mengamankan’’ pertandingan krusial nan menarik ini.

Lebih dari itu, angkat topi tinggi-tinggi dan dua jempol untuk Aji Santoso, arsitek caretaker Green Force pada laga ini. Dari tayangan langsung antv, dia begitu menarik sebelum maupun saat duel. Mantan bintang Arema, Persebaya, dan timnas Merah Putih itu masih menebarkan aura low profile, tetapi tidak mengesankan rendah diri menghadapi Rudi Keeltjes dan pasukan ‘’Ayam Kinantan’’ yang (musim lalu) berasal dari kasta lebih tinggi daripada Persebaya.

‘’Persebaya yang sekarang tidak seperti dulu,’’ ucap Rudi Keeltjes, arsitek PSMS yang mengukirkan namanya pada 1970-an di Surabaya bersama Persebaya dan Niac Mitra itu, sebelum pertandingan.

Sombong? Mungkin sedikit orang beranggapan demikian. Namun dalam bingkai persaingan di dunia olahraga, yang dikatakan Rudi sangat lumrah dan wajar, bahkan tidak jarang harus dilakukan. Sebuah psywar untuk mendegradasikan moral lawan. Inilah seni persaingan.

Sebaliknya dengan tatapan optimistis justru Aji Santoso memilih merendah dalam pernyataannya. Dia mengungkapkan beberapa kendala yang dihadapi di skuad Green Force, bahkan berani membeber formasi yang siap dipakai pada duel melawan PSMS itu. Hati saya pun berkata, ‘’Nih orang sangat cerdik. Yang dia ungkapkan formasi, meski belum tentu dipakai. Formasi, bukan strategi.’’

Begitu bola bergulir di lapangan, ingatan saya melayang pada selembar halaman KOMPAS Edisi Jawa Timur, pertengahan tahun lalu, yang memuat tulisan tentang Aji Santoso setelah sukses mengantarkan tim sepakbola Jatim meraih medali emas di PON Kaltim. Atas sukses itu, dalam rajutan kalimat filosofis Aji mengatakan lebih suka memimpin sekawanan ‘’kucing’’ daripada ‘’harimau’’.

Aji ingin meniru hikmah dari perjalanan perawi hadist Abu Hurairah? Saya tidak tahu pasti. Namun nyata terlihat sosok pemilik nomor 3 saat masih aktif bermain ini tidak hanya fokus pada urusan di lapangan, tetapi masih didera haus untuk terus menambah wawasan dengan beragam literatur yang berkaitan dengan disiplin profesinya.

Selain nama besar kedua tim dengan hikayat tipe main yang sama-sama keras, penikmat bola Tanah Air masih bisa menyaksikan perbedaan kualitas pemain yang ada. Dalam diskursus ini jelas PSMS lebih unggul materi. Andaikan saja skuad Persebaya itu sekawanan ‘’kucing’’, sedangkan PSMS sekawanan ‘’harimau’’.

Namun sepakbola juga tidak bisa lepas dari joy luck, peruntungan yang harus diperjuangkan dari sebuah pertandingan. Aji pun terbukti ‘’tidak taat’’ dengan formasi yang dijanjikan dengan, salah satunya, cepat-cepat menarik Taufik dari lapangan. Selebihnya dan yang paling vital, dia sukses besar menyuntikkan semangat tempur khas Arek-arek Surabaya. Pantang menyerah. Jangan lihat lagi siapa lawan, tetapi terus mencari cara untuk menumbangkannya. Aji berhasil menghipnotis sekawanan ‘’kucing’’-nya untuk terus berlari dan ‘’mencakar’’ bilik-bilik pertahanan ‘’para harimau’’.

Saya pun menyaksikan ekspresi sosok Aji yang berbeda kala Jairon menyamakan kedudukan 1-1 dari titik putih empat menit sebelum laga waktu normal usai. Apalagi setelah Green Force dipastikan lolos berkat kemenangan adu penalti. Aji mengepalkan tangan, meninju ke udara, ‘’Yes!’’

Kiranya Aji sangat layak dipertimbangkan untuk memoles tim nasional pada masa mendatang.