Mourinho dan pemain Chelsea, Florent Malouda, sebelum laga Chelsea kontra Inter Milan. GETTY IMAGES
Mourinho dan pemain Chelsea, Florent Malouda, sebelum laga Chelsea kontra Inter Milan. GETTY IMAGES

Apa yang bisa dipetik dari duel Chelsea kontra Inter Milan pada turnamen Challenge Cup di Rose Bowl Pasadena, California, AS, Rabu (22/7) pagi WIB? Saya kira bukan hanya kemenangan 2-0 The Blues, julukan Chelsea. Lebih dari itu inilah tonggak penting bagi Carlo Ancelotti untuk bersiap diri mengarungi prestasi musim 2009-2010 bersama klub London tersebut.

PERLAHAN tapi pasti. Meninggalkan Kota Milan dengan prestasi musim lalu yang terbilang kurang untuk barometer klub sebesar AC Milan, Ancelotti mulai memahatkan namanya di Stamford Bridge –markas Chelsea. Langkah itu dimulai di Pasadena saat mengalahkan Jose Mourinho bersama pasukannya, Inter Milan.

Bagi Ancelotti pribadi, Mourinho memang bukan orang baru. Musim lalu mereka saling jegal di Serie A. Mourinho yang menang karena pada akhir musim berhasil membawa I Nerazzurri mempertahankan gelar Serie A. But it’s the past adventure. Namun petualangan itu sudah berlalu.

Ancelotti kini menghadapi tantangan yang tidak kalah sengit di Chelsea. Selain prestasi, secara pribadi dia harus mampu menghapus jejak-jejak Mourinho di Stamford Bridge yang ditinggalkannya menjelang akhir 2007 silam. Di ruang trofi The Blues, dua gelar Premier League –gelar yang diraih setelah penantian panjang 50 tahun, serta satu gelar Piala FA, merupakan bukti betapa lelaki asal Portugal itu telah memberikan persembahan yang membanggakan.

Beberapa pemain Chelsea masih merasakan ‘’kedekatan’’ di balik ulah semau gue-nya Mourinho. Fans masih mengenang indah namanya, kadang membayangkan kehadirannya kala Chelsea dililit masalah dalam kontes adu bola di lapangan. Di Stamford Bridge Mourinho pernah menjelma lebih dari sekadar manajer, tetapi sudah menjadi spirit tim.

Avram Grant dan Luis Felipe Scolari, yang menggantikannya, gagal menimbuni hall of fame-nya Mourinho. Tak sampai semusim mereka sudah didepak. Guus Hiddink? Andai masih berlanjut, manajer caretaker itu mungkin masih berpeluang. Namun dengan persembahan satu trofi Piala FA musim lalu, Hiddink toh memilih lebih melanjutkan misinya bersama timnas Rusia.

Jadi inilah momen Ancelotti mulai menimbuni (bukan menghapus) hikayat sukses Mourinho. Bagaimanapun, dalam bingkai sportivitas olahraga, sejatinya tidak ada kata ‘’musuh’’. Yang ada adalah ‘’lawan’’ atau ‘’pesaing (rival)’’ dan sejarah konsisten mencatat serta tidak akan bisa menghapus prestasi yang pernah diukir seseorang. Yang ada hanya upaya mengungguli prestasi itu.

Mourinho mungkin saja tidak menginginkan penggantinya di Stamford Bridge bisa melampaui prestasinya. Jika saat masih bersaing di Serie A saja dia telah melabeli Ancelotti sebagai no friend of mine (bukan kawan), apalagi sekarang saat sang rival mengisi kursi manajer yang pernah didudukinya.

Hasil di Rose Bowl Pasadena memberi amunisi awal bagi penguat ambisi Ancelotti untuk mengalahkan prestasi Mourinho. Dua gol kemenangan Chelsea pun dicetak pemain-pemain inti yang sebelumnya dikenal dekat dengan Mourinho. Striker asal Pantai Gading Didier Drogba, pengikut loyal Mourinho yang musim lalu sempat disebut-sebut bakal hengkang ke Inter agar bisa reuni dengan sang manajer, berkontribusi sebiji gol untuk Chelsea di bawah kendali Ancelotti. Begitu pula Frank Lampard lewat eksekusi penaltinya.

Sebelum duel Chelsea lawan Inter, harian The Guardian Inggris juga memprediksi pertemuan hangat nan mengharukan antara Mourinho dan mantan pemain-pemainnya. Bakal ada jabat tangan erat dan pelukan yang sangat emosional. Ternyata tidak. Sebelum dan usai laga, mereka hanya saling lempar senyum dan pelukan yang biasa-biasa saja.

Di luar skor akhir, gestures Mourinho dengan para pemain Chelsea itu bisa dikatakan sebagai ‘’kemenangan’’ lain Ancelotti. Namun hal sangat krusial yang harus diperjuangkan mati-matian oleh Ancelotti saat ini untuk menggagalkan risiko ‘’kekalahan pada masa mendatang’’ adalah mempertahankan kapten John Terry agar tidak hanyut oleh rayuan Manchester City. Jurus awal sudah dikeluarkannya dengan menyebut Terry sebagai ‘’kapten sepanjang masa’’ bagi The Blues.

Bagaimanapun Terry adalah jangkar sekaligus napas dan spirit tim di lapangan. Drogba pun menginginkan Terry agar tidak pindah supaya Chelsea musim depan bisa bersaing dengan Manchester United, Arsenal, Liverpool, dan City yang belakangan obral duit demi menggapai para pemain bintang semacam Carlos Tevez, Roque Santa Cruz, Adebayor, dan lain-lain.

Lagi-lagi, di luar skor akhir, pola permainan yang dipamerkan Ancelotti saat melawan Chelsea juga menunjukkan betapa dia sejatinya memang sosok yang dibutuhkan The Blues sebagai pengganti Hiddink. Saya pun ingat tulisan Simon Johnson di The Evening Standard beberapa hari lalu yang menyatakan, Chelsea kini butuh arsitek yang berprinsip tidak asal menang, melainkan benar-benar mampu menghadirkan revolusi gaya permainan (revolutionize the style of play).

Melawan Inter, Ancelotti telah menunjukkannya dengan menyingkirkan formasi 4-3-3 atau 4-3-2-1 dengan kecenderungan lone striker (striker tunggal) seperti dulu lazim dipakai Mourinho di Chelsea. Bagi Ancelotti, 4-4-2 dengan dua striker dan pola diamond di lini tengah lebih menjanjikan. Hasilnya memang terbukti. Pasukan Mourinho pun terkejut dan terkapar.

Sayang semua itu baru di laga pemanasan pramusim. Pasti akan lebih seru bila musim depan kita bisa menyaksikan Chelsea vs Inter, Ancelotti vs Mourinho, terjadi di turnamen resmi level Eropa. Semoga saja terwujud.