CARLO ANCELOTTI
CARLO ANCELOTTI

SEPERTI pada tulisan sebelumnya, naluri saya mengatakan bahwa Premier League 2009-2010 bakal menjadi milik Chelsea. Tentu Anda boleh tidak sependapat. Bila saya menjagokan The Blues, jelas ada beberapa alasan sebagai pendukung.

Namun sebelum memaparkan sejumlah alasan tersebut, perlu saya ingatkan bahwa jangan sampai melewatkan laga Community Shield di Stadion Wembley pada Minggu (9/8) malam. Sebuah teropong awal yang menarik ketika The Blues, sebagai juara Piala FA musim lalu, berhadapan dengan juara Premier League 2008-2009 Manchester ‘’The Red Devils’’ United.

Memang laga tersebut mengesankan sekadar formalitas sebagai tirai pembuka Premier League 2009-2010. Meski demikian, gengsi duel ini begitu tinggi untuk memompa spirit kedua tim selama satu musim ke depan. Di sinilah kecerdikan dan peruntungan Manajer MU Sir Alex Ferguson bakal serius diuji. Tak terbantahkan bila lelaki asal Skotlandia pembesut ‘’Setan Merah’’ yang akrab disapa Fergie itu dikenal sebagai manajer jempolan.

Namun memasuki musim ini tanpa Cristiano Ronaldo dan Carlos Tevez yang begitu vital dalam kiprah MU meraih beberapa gelar selama dua musim terakhir, mampukah Fergie menghadapi skuad The Blues yang masih komplet plus polesan manajer anyar Carlo Ancelotti?

Kepada Goal, Fergie memilih merendah dengan menyatakan bahwa Ancelotti punya kans besar membawa Chelsea juara Premier League 2009-2010. ‘’Carlo memang memiliki gaya bermain berbeda. Chelsea juga punya banyak pemain berpengalaman dan luar biasa,’’ ucap Fergie.

Yang paling vital, tutur Fergie menambahkan, adalah sukses The Blues mempertahankan kapten John Terry. ‘’Ini yang membuat mereka semakin tangguh. Dia (Terry) sangat berpengalaman. Dialah kapten Timnas Inggris dan piawai dalam zone marking.’’

Sederhana saja, bila Fergie memuji lini pertahanan Chelsea yang digalang Terry, justru dia kini dipaksa memeras otak guna menajamkan lini serang timnya tanpa Ronaldo dan Tevez. Selama dua musim lewat setidaknya 67 gol dicetak Ronaldo (yang hijrah ke Real Madrid) di berbagai ajang yang andil besar membawa MU meraih beberapa gelar domestik, Liga Champions, hingga Kejuaraan Dunia Antarklub.

Sedangkan gol-gol maupun assists Tevez (kini berkostum Manchester City) tidak terbantahkan kerap memberikan keberuntungan bagi MU, meskipun kerap diturunkan dari bangku cadangan. Tanpa Ronaldo dan Tevez, akankah fans MU tetap bisa meneriakkan Glory, Glory, Man United hingga akhir musim sembari menyaksikan tim kesayangan mengangkat trofi juara Premier League?

MU memang masih memiliki pemain berpengalaman di lini depan semacam Wayne Rooney dan Michael Owen yang baru mendarat di Old Trafford. Juga ada Dimitar Berbatov. Tapi mengilas hikayat Rooney dan Owen yang rentan cedera, plus Berba yang mengesankan ‘’ogah bekerja keras’’ itu –ditambah masih harus mengandalkan salah satu pemain gaek antara Ryan Giggs dan Paul Scholes di lini tengah— saya kira MU bakal tidak sekuat dua musim lalu ketika berhadapan dengan rival-rivalnya.

Meski demikian, Nicolas Anelka menilai MU masih tim kuat dengan Fergie sebagai manajer cerdik yang tahu harus berbuat apa, sehingga tetap patut diwaspadai. ‘’Namun aku yakin musim ini mereka tidak sekuat dulu lagi. Ronaldo pergi, begitu pula Tevez. Itu memberi kami banyak kesempatan untuk memenangi gelar nanti karena, mungkin saja, kami memang lebih kuat dibandingkan United,’’ kata striker Chelsea ini.

Musim ini pilar-pilar The Blues memang masih lengkap. Selain Terry, masih ada gelandang elegan sekaligus pekerja keras macam Frank Lampard, Michael Ballack, Michael Essien, serta Didier Drogba dan Anelka di lini depan. Kehadiran Ancelotti saya kira juga akan menyuntikkan lagi semangat tempur bekas anak asuhnya di AC Milan, Andriy Shevchenko. Bahkan amunisi baru bernama Yuri Zhirkov juga menjanjikan.

Setelah bulan lalu menggebuk Inter Milan di ajang uji coba pada turnamen Challenge Cup, AS, untuk mengerosi pahatan prestasi Jose Mourinho di Stamford Bridge, maka laga melawan MU di Community Shield besok merupakan ‘’perang’’ Ancelotti untuk bisa memenangi gelar pertamanya sejak 2006 saat masih bersama AC Milan.

Sejauh kehadirannya di Stamford Bridge, para pemain The Blues mengaku puas dengan pendekatan Ancelotti di dalam maupun di luar lapangan. Sukses dalam bermesraan dengan para pemain ini juga dia catatkan kala masih memoles Milan. Sementara bos besar Roman Abramovich maupun petinggi lain Chelsea juga puas menyaksikan The Blues tampil lebih tajam di bawah kendali manajer yang akrab disapa Don Carletto tersebut.

Bahkan selama beberapa laga pramusim bersama Chelsea, Carletto serasa bukan tactician asal Italia dengan kecenderungan berprinsip ‘’asal menang’’, sehingga lebih mengutamakan catennaccio alias strategi pertahanan gerendel.

Carletto memilih bermain lebih terbuka berpola 4-4-2 dengan dua striker dan formasi diamond di lini tengah. Dia pun sedikit mengadaptasi strategi mantan manajer caretaker Guus Hiddink, yang memberi Chelsea gelar Piala FA musim lalu, tetapi dengan improvisasi di lini tengah yang vital itu. Carletto meninggalkan pola lone striker alias striker tunggal yang sebelumnya diterapkan Mourinho, Avram Grant, hingga Luiz Felipe Scolari pada skuad The Blues.

Andai menghadapi MU pada Community Shield nanti Carletto bisa membuktikan hasilnya, kiranya jalan menjuarai Premier League 2009-2010 pun lebih menjanjikan. Saya kira sejauh ini hanya MU pesaing serius Chelsea, meski beberapa rival utama lainnya –Liverpool, Arsenal, Aston Villa, Tottenham Hotspur, bahkan ‘’gugusan bintang baru’’ Manchester City— juga tak lupa terus menata kesiapan diri.