NOORDIN M TOP
NOORDIN MAT TOP

‘’Sejak awal lagi, naluri hati saya kurang yakin dengan laporan media bahawa menantu saya terbunuh dalam serbuan polis minggu lalu. Ternyata telahan saya itu tepat apabila polis sahkan yang mati itu bukan Noordin.’’

NALURI. Sebutlah begitu dan naluri Rusdi Hamid, 68 tahun, mertua Noordin M Top –di Malaysia populer disapa Noordin Mat Top— yang diungkapkan dalam dua larik kalimat tersebut ternyata tidak meleset. Rabu (12/8) pagi Polri memastikan sosok yang ditembak mati saat operasi di Temanggung, Jawa Tengah, akhir pekan lalu bukan Noordin yang diburu.

Beberapa jam setelah kepastian resmi Polri tersebut, di rumahnya di Kampung Sungai Tiram, Ulu Tiram, Johor Bahru, Rusdi mengaku tidak ada perasaan sedih maupun gembira soal nasib menantu kelimanya itu. Tidak sedih andaikata mayat itu memang Noordin. Pun tidak gembira setelah tahu bahwa si menantu ternyata masih hidup.

‘’Saya sudah tidak rasa apa-apa pun dengan berita ini. Sudah lama sangat… lebih lapan tahun kami tidak pernah bersua muka. Harapan hendak jumpa semula dia memang sangat tipis. Andai dia balik ke sini dan jumpa kami semula, saya tidak tahu hendak cakap apa. Mungkin kena sembahyang istikharah dahulu bagi memohon petunjuk,’’ tuturnya sebagaimana dilaporkan Utusan Online.

Dari hasil pernikahan dengan Rahmah, istrinya di Malaysia, Noordin memiliki tiga anak: Muawwids, Labibah, dan Hafsah. Noordin meninggalkan istri dan anak-anaknya itu sejak 2002 silam ketika Hafsah masih dalam kandungan.

Setelah kabar tersiar bahwa ayah mereka ‘’ditembak mati’’ oleh polisi Indonesia, demikian Rusdi, ketiga cucunya itu untuk sementara tidak diizinkan ke sekolah. Ya, sebagai tindakan menjaga mental mereka. Mereka memang masih kecil dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan ayahnya.

‘’Bila balik dari sekolah, mereka ada tanya pasal ayah mereka tetapi saya yakin isteri Noordin dapat memberi penjelasan. Namun saya rasa mereka masih tidak tahu apa-apa kerana ditinggalkan Noordin sejak kecil lagi,’’ ucap Rusdi.

Rusdi pun bersyukur bahwa masyarakat di sekitarnya tidak bersikap memusuhi keluarganya akibat ulah Noordin. Tentang seruan agar Noordin keluar dari tempat persembunyian dan menyerahkan diri, Rusdi hanya bisa berkata bahwa segalanya terserah kepada menantunya itu; mana yang menurutnya baik dan buruk.

Sementara itu, Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) menyatakan akan terus bekerja sama dengan Kepolisian RI untuk terus memburu Noordin. Menurut Ketua PDRM Tan Sri Musa Hassan, walaupun PDRM tidak mempunyai sebarang maklumat mengenai kedudukan Noordin, namun pihaknya akan tetap membantu Indonesia dari semua aspek.

Jika diminta, demikian Musa, PDRM juga siap mengirimkan kesatuan khusus ke Indonesia untuk membantu misi memburu Noordin.

Sebelumnya Malaysia hanya membantu sesuai permintaan Polri melalui kedutaan besarnya di Jakarta. Yang terakhir adalah mengirim sampel DNA dan sidik jari keluarga Noordin untuk dicocokkan dengan mayat dari operasi di Temanggung yang sebelumnya dikatakan sebagai Noordin, tetapi kemudian disimpulkan sebagai mayat Ibrohim—otak serangan di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Mega Kuningan pada 17 Juli lalu sekaligus ‘’calon pengantin’’ untuk aksi di kediaman Presiden SBY di Cikeas, Bogor.

Soal kemungkinan PDRM akan meminta ekstradisi bagi Noordin untuk dijatuhi hukuman mati di Malaysia seandainya nanti tertangkap, Musa mengatakan semuanya memungkinkan tergantung keadaan dan lokasi kejahatannya.

‘’Kalau keterangan dan maklumat mendapati dia perlu dituduh di Malaysia, kita akan berbuat demikian,’’ ucap Musa.

Dia masih menampik kemungkinan Noordin memiliki jaringan dengan Ketua Wakalah Jemaah Islamiah (JI) Singapura, Mas Selamat Kastari. Yang jelas, demikian Musa, setelah teror di Jakarta pada 17 Juli itu pengamanan di seluruh pintu masuk Malaysia diperketat semaksimal mungkin.

‘’Selain itu kita sering mengadakan perbincangan dan pertukaran maklumat dengan negara-negara Asia yang ada kaitan dengan kumpulan-kumpulan pengganas ini,’’ tuturnya. — solichin m. awi