TIMESONLINE
TIMESONLINE

APA yang paling dibenci mazhab sportivisme dalam olahraga?

Jawabannya adalah cheating.  Pada kasus diving (sengaja menjatuhkan diri) yang berbuah hukuman larangan dua kali tampil di ajang Eropa untuk pemain Arsenal, Eduardo da Silva, kiranya dalam kasus ini cheating cenderung tidak berarti ”menipu”, tetapi lebih merupakan ”tipu daya”.

Karena bukan menipu, Badan Pengawas Pertandingan dan Disiplin UEFA memutuskan tidak menganulir kemenangan 3-1 Arsenal atas Glasgow Celtic, Skotlandia, di Kualifikasi Liga Champions pada 26 Agustus lalu. Diving Dudu –sapaan bintang naturalisasi timnas Kroasia itu— pada laga tersebut membuahkan tendangan penalti dengan gol yang di-sahih-kan UEFA.

Dalam sebuah pertandingan, ‘’tipu daya’’ bisa jadi merupakan strategi untuk meraih hasil yang diinginkan, meskipun FIFA tidak henti-hentinya menggelorakan semangat fair play. Hasilnya pun tidak selalu berupa kemenangan seperti yang dimaui Dudu dan, tentunya, Arsenal. Masih ingat kasus pemain timnas Indonesia, Mursyid Effendi, yang membobol gawang sendiri untuk sengaja mengalah dari Thailand pada pertandingan Piala Tiger di Vietnam lebih dari satu dasawarsa silam? Setelah kasus itu, Mursyid mendapatkan sanksi tegas berupa larangan seumur hidup membela Indonesia di ajang internasional dari AFC.

Dari berbagai insiden cheating di dunia olahraga, penulis mencatat adanya perbedaan pemaknaan yang berimplikasi pada sanksi. ‘’Tipu daya’’ (acting by chance) lazim dilakukan ketika pertandingan sedang berlangsung karena ada kesempatan dan tidak jarang dinilai oleh kubu-kubu yang terlibat sebagai the art and part of the game as well (seni sekaligus bagian dari permainan).

Sementara ‘’menipu’’ lebih dinilai merupakan tindakan melawan atau pengingkaran sejak awal –acap kali pula sudah diniatkan (acting by intention)— untuk meraih hasil secara tidak sportif. Oleh karena itu, tidak jarang hasilnya kerap dianulir oleh otoritas berwenang. Sebutlah dalam berbagai kasus pencurian umur dan doping dengan sanksi pencabutan medali maupun pengurangan nilai.

Manajer Arsenal Arsene Wenger jelas berang dengan putusan UEFA untuk Dudu tersebut. The Gunners memang masih memiliki waktu tiga hari sejak vonis dikeluarkan per 1 September untuk mengajukan banding. Namun bila banding ditolak, jelas klub ‘’Gudang Peluru’’ ini merugi karena tidak akan diperkuat Dudu pada pertandingan grup Liga Champions kontra Standard de Liege (Belgia) pada 16 September dan melawan Olympiakos (Yunani) dua pekan sesudahnya.

Vonis UEFA kali ini jelas bukan untuk menstempel Dudu sebagai satu-satunya pemain yang berbakat tipu-tipu karena memang sejarah panjang sepakbola telah mencatat banyak pemain dengan ulah serupa. Sebut salah satunya gol ‘’Tangan Tuhan’’ Maradona.

Lebih dari itu, yang dilakukan UEFA adalah menegakkan spirit fair play selagi masih memungkinkan. Untuk tujuan ini, memang better late than never. Lebih baik dinilai terlambat daripada tidak sama sekali.