Gael Kakuta (kiri). Hasrat Chelsea lebih berdaya merekrut bintang muda asal Prancis ini berbuah masalah. PHOTO: FOOTBALL NETWORK
Gael Kakuta (kiri). Hasrat Chelsea lebih berdaya merekrut bintang muda asal Prancis ini berbuah masalah. PHOTO: FOOTBALL NETWORK

Menabung membawa buntung. Investasi bernilai tinggi yang malah merugi. Itulah yang menimpa Chelsea setelah palu vonis Federasi Asosiasi-asosiasi Sepakbola Internasional (FIFA), Kamis (3/9), menyatakan bahwa The Blues dilarang berbelanja pemain hingga Januari 2011 mendatang sebagai imbas dari pelanggaran klausul kontrak atas perekrutan pemain usia dini.

Jelas sebuah putusan yang sangat merugikan salah satu klub terkaya di dunia asal London itu, khususnya bagi manajer baru Carlo Ancelotti dan big boss Roman Abramovich. Bila vonis tidak berubah, termasuk diperingan, tentu The Blues harus siap melawan ‘’ombak petaka’’ dalam mengarungi perjalanan kompetisi musim ini, baik pada tataran domestik Premier League maupun di ranah Eropa. Mereka dipaksa mendaki bukit yang amat terjal demi ambisi menggapai pataka juara.

Dari sisi pembentukan tim, Ancelotti tentu akan sangat kerepotan. Manajer yang meninggalkan AC Milan dua bulan lalu untuk berlabuh di Stamford Bridge itu memulai musim ini bersama The Blues dengan tidak banyak dihiasi amunisi baru. Padahal Januari 2010 nanti sangat mungkin mereka juga ditinggalkan sejumlah pilar –sebutlah Didier Drogba, Michael Essien, Salomon Kalou, serta John Obi Mikel— untuk membela negara masing-masing di Piala Afrika 2010 di Angola.

Belum cukup di situ. Makin kerapnya jadwal kompetisi musim ini demi menyongsong perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, juga membuat para pemain rawan terkuras kondisi fisiknya serta cedera. Belum lagi tugas berat yang masih dipikul para pemain The Blues untuk meloloskan negara masing-masing ke Afrika Selatan.

Vonis larangan merekrut pemain hingga Januari 2011 itu merupakan bukti betapa FIFA tidak mau dianggap enteng oleh klub, sekaya apa pun mereka. Pun ketentuan umum yang sudah berlaku sebelumnya bagi semua klub untuk melepas para pemainnya demi tugas negara bersama timnas masing-masing menjadi bukti lain supremasi FIFA, meskipun klub lah yang selama ini menggaji besar para pemainnya.

Menghadapi kondisi ini, tentu rotasi jitu menjadi alternatif solusi bagi Ancelotti. Masalahnya, rotasi seperti apa lagi yang bisa diharapkan bila stok amunisi minim? Inilah ancaman nyata dan, mau tidak mau, The Blues harus melakukan perlawanan hukum atas vonis FIFA.

Bagaimana ‘’petaka’’ ini bermula?

Dalam putusannya, Badan Penyelesaian Persengketaan (Dispute Resolution Chamber—DRC) FIFA menyatakan bahwa Chelsea telah melanggar klausul kontrak dengan klub Lens dari Prancis atas perekrutan pemain muda berbakat Gael Kakuta. Kini Kakuta berusia 18 tahun. Perekrutan itu terjadi kala dia berusia16 tahun untuk dididik di akademi Chelsea, tapi masih menjadi milik Lens.

Melihat permainannya yang gemilang, The Blues pun kepincut berat dan memengaruhi Kakuta agar memutuskan ikatan dengan Lens untuk bisa dimiliki Chelsea secara penuh. Kakuta menurut dan berusaha keras agar Lens melepasnya. Pemain kelahiran Lille yang dikenal bernapas kuda dengan kekuatan tendangan kaki kiri dahsyat dan akurat itu pun tidak lagi mengindahkan klub lamanya dan berjuang keras membayar kepercayaan The Blues.

Namun dua tahun di Chelsea dilalui Kakuta bukannya tanpa masalah. Pada tahun pertamanya dia cedera hamstring dan retak ganda di engkel pada tahun keduanya, tepatnya pada Februari lalu ketika laga persahabatan melawan para pemain Glenn Hoddle Academy.

Kini dia sudah fit. Ditengarai inilah yang menjadi salah satu alasan The Blues tidak begitu bernafsu di bursa transfer pada awal musim ini. Namun Kakuta toh masih belum bisa dimainkan setelah diskorsing empat bulan dan diwajibkan DRC membayar kompensasi hingga senilai 780 ribu pounds ke Lens. Chelsea juga diwajibkan memberikan tambahan kompensasi sekitar 130 ribu pounds ke klub Prancis tersebut.

Kasus Kakuta memang jauh dari akhir karena Chelsea masih punya kans melawannya di peradilan umum. Apalagi putusan DRC juga tidak memiliki kekuatan hukum tetap yang mengikat mengingat lembaga itu hanya sejenis quasi-judicial body yang dibentuk FIFA untuk menyelesaikan pelbagai sengketa di luar peradilan umum.

Chelsea sebenarnya juga sudah mendapatkan ‘’pelajaran’’ itu pada kasus Adrian Mutu. Pemain asal Rumania yang kini membela Fiorentina itu didepak dari Stamford Bridge setelah kedapatan mengonsumsi kokain. DRC mewajibkan Mutu membayarkan kompensasi, termasuk untuk pembayaran kembali sisa kontraknya, senilai 17 juta pounds. Namun Mutu menjawabnya dengan siap membawa kasus ini ke Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) Eropa dan dikabarkan bakal disokong oleh Asosiasi Pemain Liga Italia.

Tapi Chelsea sebelumnya juga melunak dengan membayar kompensasi atas kasus perekrutan Ashley Cole dari Arsenal dan dua pemain muda dari Leeds United karena pelanggaran kontrak. Namun dalam kasus melawan DRC-nya FIFA kali ini, Chelsea kemungkinan besar akan melawannya dengan sokongan pengacara papan atas Jim Sturman.