Soesdiarto (tengah) dan rekan-rekannya di bengkel pembuatan piano ''Kantata''. FORSAS/IMANULLAH IBRAHIM
Soesdiarto (tengah) dan rekan-rekannya di bengkel pembuatan piano ''Kantata''. FOTO-FOTO: FORSAS/IMANULLAH IBRAHIM

KENALKAH Anda dengan kata ’’Kantata’’?

Menyebut kata itu, ingatan mayoritas publik di Indonesia selalu mengacu pada Kantata Takwa atau Kantata Samsara yang berpersonel Iwan Fals, Sawung Jabo, Setiawan Djodi, Jockie Surjoprajogo dan kawan-kawan dengan mendiang backing vocal (puisi) almarhum WS Rendra.

Kantata berasal dari Cantare, kata dalam bahasa Italia, yang berarti ’’bernyanyi bersama.’’ Meski saat itu belum menyebutkan arti atau maknanya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa cocok bila kata ’’Kantata’’ diberikan sebagai merek piano buatan anak bangsa dari Tangerang, Provinsi Banten, pada sebuah sore di puncak peringatan Hari Koperasi Nasional 2009 di Stadion Madya Semapaja, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), 15 Juli 2009. Presiden SBY bahkan membubuhkan tandatangan di sebuah piano dan menuliskan nama yang diberikan untuk piano itu dalam huruf kapital ’’KANTATA’’.

Siapakah motor pembuat piano yang merupakan satu-satunya produk asli home industry di Indonesia itu?

Adalah Soesdiarto sosok penting di balik pembuatan piano tersebut. Jangan dulu membayangkan penelusuran kami berakhir di sebuah pabrik piano yang cukup besar dengan produksi massal. Pertemuan ini berlangsung di sebuah bengkel sederhana di Jalan Danau Maninjau No. 15, RT 004/07 Kelurahan Bencongan, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Di sanalah Soesdiarto berusaha mempertahankan spiritnya melalui Kantata, bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Koperasi Produksi dan Jasa (Kopsija) Hijriyah Kelurahan Bencongan, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang.

Kepada tabloid ini, Soesdiarto mengaku bangga hasil karyanya bersama rekan-rekannya di Kopsija Hijriyah diapresiasi langsung oleh Presiden SBY. ’’Alhamdulillah, kami bersyukur hasil perjalanan hidup sebagai teknisi piano di berbagai pabrik akhirnya bisa menghasilkan sebuah produk yang bisa dinikmati orang lain. Secara pribadi saya bangga karena piano kami telah diberi merek Kantata langsung oleh Presiden Republik Indonesia,’’ ujar suami dari Rohmah yang tinggal di  Jl Danau Batur XII Perumnas II Karawaci, Tangerang, ini.

Selain bangga bercampur haru, Soesdiarto juga mengaku makin terpacu oleh pesan Presiden SBY. ’’Beliau mengatakan piano buatan kita harus lebih baik dari piano merek-merek terkenal yang sudah terlebih dahulu menguasai pasar.’’

Di sisi lain, apresiasi tersebut membuat Soesdiarto dan kawan-kawan yang andil dalam proses pembuatan piano tersebut dituntut lebih bertanggung jawab atas produk yang dihasilkannya itu. ’’Justru kami harus meningkatkan kualitas produk mengingat ketika nama Kantata telah ditorehkan oleh Bapak Presiden, otomatis kami sedang mengusung nama Indonesia di kancah produksi piano di dunia.’’

piano1Menurut Soesdiarto, ide membuat piano lewat koperasi itu terbilang belum lama, yakni tepat pada 1 Muharram 1430 Hijriyah yang jatuh pada 29 Desember 2008 lalu. Maka koperasinya disebut Kopsija Hijriyah. ’’Sedangkan piano Kantata yang kemarin kami bawa ke Samarinda itu kami buat kurang lebih dua bulan yang lalu karena koperasi kamipiano kantata1 baru memiliki dana untuk membeli bahan baku piano dan alat-alat pembuatannya,’’ tutur lelaki tamatan STM kelahiran Tegal, Jawa Tengah, pada 1947 silam ini.

Bahan baku pembuatan piano diperoleh Soesdiarto dan kawan-kawan dari Pasar Senen, Jakarta, berupa bekas peti kemas yang terbuat dari jati belanda lokal. Kayu-kayu bekas itulah yang mereka olah. Sekitar 60 persen dari bahan dan bentuk fisik piano itu dihasilkan melalui kerajinan tangan, sedangkan 40 persen berupa instrumen diimpor dari Inggris, Belanda, dan China.

Bagi Soesdiarto, membuat piano memang bukan hal baru. Selama 30 tahun dia malang melintang sebagai teknisi di berbagai pabrik yang membuat piano dengan merek-merek ternama. ’’Dari pengalaman 30 tahun itulah saya lalu mencoba merakit sendiri piano yang kemudian diberi nama Kantata oleh Bapak Presiden.’’

Soal pembentukan koperasi itu, Soesdiarto menyatakan sudah tiba saatnya dia bangkit untuk menunjukkan hasil karya. Saatnya untuk mandiri. Tidak kurang 30 rekannya lantas bergabung dalam koperasi itu. ’’Karena selama ini hasil karya saya selalu diberi merek asing. Padahal tenaga ahlinya dari Indonesia, negeri kita tercinta ini,’’ ucap bapak enam anak ini menegaskan.

Membentuk koperasi juga merupakan ’’jalan keluar’’ mengingat Soesdiarto merasa belum memiliki modal sendiri untuk membeli bahan baku maupun komponen piano yang harganya cukup tinggi mengingat sebagian besar masih diimpor dari luar negeri. ’’Akhirnya saya dan kawan-kawan berinisiatif untuk membentuk koperasi, sehingga modal awal untuk pembuatan piano ini bisa ditanggung bersama anggota koperasi yang lainnya.’’

Selain itu, lewat koperasi Soesdiarto dan kawan-kawan bisa menularkan ilmunya kepada yang lainnya melalui workshop dengan dukungan dan pembinaan dari Pemerintah Kabupaten Tangerang.

Optimiskah Soesdiarto dan rekan-rekannya di Kopsija Hijriyah bahwa produknya itu bakal bisa bersaing dan laku di pasar?

’’Piano buatan kami memiliki kelebihan, antara lain, perangkat atau komponen-komponen dalam piano lebih hemat 800 digit jika dibandingkan dengan piano yang saat ini beredar di pasaran. Selain itu, kami juga yakin bahwa masyarakat Indonesia ke depan akan lebih memilih produk dalam negeri daripada produk asing,’’ ujarnya.

Soal harga, Soesdiarto dan rekan-rekannya mengaku belum berani menetapkannya. Tapi menilik harga piano di pasaran memang masih cukup tinggi, Soesdiarto mengatakan selama promosi harga per unit Kantata ditawarkan antara Rp 30 juta hingga Rp 35 juta. Namun pada masa mendatang harga ini bisa saja naik seiring kenaikan bahan-bahan baku.

Dalam kurun 50 hari sebelum keberangkatan ke Samarinda, empat piano telah dihasilkan. Sejauh ini Soesdiarto dan rekan-rekannya cukup gembira bisa memproduksi piano lewat koperasi. Meski demikian, mereka juga tidak mengubur impian memiliki pabrik yang mampu memproduksi piano Kantata secara massal.

’’Itu keinginan kami, tapi ongkos pembuatan pabrik itu kan mahal, bisa miliaran rupiah. Tetapi kami menantikan investor yang berani dan bersedia berinvestasi dalam produksi massal piano buatan dalam negeri ini. Kami yakin produk kita adalah terbaik. Meski tanpa label, selama ini Indonesia sudah dikenal sebagai negara pengekspor piano berkualitas tinggi, terutama untuk negara adikuasa seperti Amerika,’’ katanya optimistis.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasih kepada Presiden SBY yang telah memberikan apresiasi, Soesdiarto berharap Presiden bisa membantu mengarahkan dan mengerahkan investor untuk berinvestasi dalam produksi massal piano di dalam negeri demi pengakuan mutlak atas hasil karya putra-putra bangsa.

piano 31Apresiasi Kang Purwa

Saat di-launching di Samarinda, piano Kantata telah dipesan sebanyak lima unit dengan harga satuan berkisar Rp 35 juta dengan produksi per unit ketika itu masih Rp 20 juta. ‘’Jika luar negeri memiliki produk merek Yamaha, maka Indonesia juga memiliki Kantata,’’ ujar Purwa Tjaraka, musisi sekaligus anggota Koperasi Hijriyah, setelah mendemokan piano tersebut sebagaimana dilansir situs resmi Pemprov Kaltim.

Menurut pendiri Purwa Caraka Music Studio itu, beda kualitas Kantata dengan produk-produk piano ternama di pasaran sangat tipis. Bentuk fisik Kantata juga perlu sentuhan lebih. Namun masih banyak waktu ke depan. Yang justru harus diacungi jempol adalah Kantata lahir dari sebuah koperasi yang merupakan UKM berskala kecil, tetapi mampu menghasilkan produk yang hampir setara dengan produk mancanegara.

‘’Jika dilihat, sebenarnya masyarakat Indonesia memiliki potensi yang perlu diarahkan dan dikembangkan. Salah satunya melalui koperasi,’’ tutur Kang Purwa, sapaan akrab kakak penyanyi Trie Utami ini.

Bupati Tangerang H. Ismet Iskandar dan Wakil Bupati H. Rano Karno sangat mendukung produksi piano tersebut. Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Tangerang Machdiar berharap produk piano tersebut bisa memberikan inspirasi kepada koperasi-koperasi lain untuk memberikan terobosan hingga mampu menjangkau pasar mancanegara.

Solichin — Laporan Imanullah Ibrahim & Uyus Setia Bhakti (Banten)

Tabloid FORSAS Edisi 4/Agustus 2009