PHOTO: FLICKR--HOMELESS WORLD CUP
PHOTO: FLICKR--HOMELESS WORLD CUP

YUTARO Gomikawa namanya. Tentu dia tidak setenar Hidetoshi Nakata, Shunsuke Nakamura, atau pesepakbola asal Jepang lainnya yang sudah mendunia. Saya baru tahu nama Gomikawa pekan ini dari artikel tentang lelaki paruh baya itu di situs The Christian Science Monitor.

Kisah Gomikawa mengharu biru layaknya dongeng yang membangkitkan iri, khususnya bagi kaum papa dan terpinggirkan. Jika Anda sudah menonton Slumdog Millionaire-nya Danny Boyle dengan tokoh utama Jamal Malik, pemuda dari perkampungan kumuh di Mumbai yang mendadak kaya setelah mengantongi 20 juta rupee dari reality show ‘’Who Wants To Be A Millionaire?’’, hidup Gomikawa berjalan serupa meski tidak sama.

Dia seorang tunawisma. Pada Maret lalu dia dipecat dari kerja sebagai sopir forklift setelah mencuri sepeda dan mencicipi penjara 10 hari. Kata Gomikawa kepada polisi, dia terpaksa mencuri sepeda karena ingin cepat-cepat bisa ke tempat kerjanya agar tidak dipecat. Pemecatan juga berimplikasi pengusiran Gomikawa dari mes perusahaan yang selama ini ditinggalinya.

Tanpa pekerjaan di tangan dan atap yang menaungi, Gomikawa hidup menggelandang di sebuah taman Kota Tokyo dengan sedikit uang di saku. Tabungan sekitar US$ 600 pun cepat ludes untuk makan-minum dan pergi ke warnet selama beberapa malam. Berulang-ulang dia mengurus uang jaminan tunjangan hidup, tetapi selalu mendapatkan perlakuan kurang bersahabat dari para petugas dinas sosial. Usahanya mendapatkan jaminan sosial pun selalu kandas.

Guna menyambung hidup, Gomikawa lantas menjajakan majalah Big Issue di taman kota. Siapa sangka dari sana nasibnya mulai berubah. Staf di majalah itu memberi tahu bahwa Jepang sedang membangun sebuah tim nasional sepakbola yang beranggotakan para tunawisma untuk dikirim ke Homeless World Cup (Piala Dunia Tunawisma) di Milan, Italia, pada 6—13 September ini. Gomikawa lolos seleksi dan masuk tim.

Secepat kilat dia menjadi perhatian media cetak dan elektronik di Negeri Sakura. Sebuah stasiun televisi menayangkan perjalanan hidupnya. Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, Gomikawa lalu mengundang kru sebuah stasiun televisi untuk meliput upayanya mendaftarkan diri ke kantor dinas sosial setempat guna mendapatkan tunjangan kesejahteraan.

Hasilnya, tutur Gomikawa, ‘’Sikap para petugas di sana sangat bertolak belakang dengan yang mereka tunjukkan sebelumnya.’’

Kini Gomikawa mendapatkan tunjangan kesejahteraan. Dengan uang tunjangan itu pula dia bisa menyewa sebuah kamar. Pekerjaan tetap memang belum dimiliki. Namun pekan ini dia bisa jalan-jalan ke Milan dan berharap mendapatkan pekerjaan sepulang dari Kota Mode. Apalagi bila dia bersama timnya mampu meraih prestasi yang membanggakan, juara misalnya.

************

Apa yang bisa dipetik dari kisah Gomikawa?

Tak lain menciptakan harapan sekaligus kesempatan bagi rakyat, apa pun strata sosialnya. Dengan mengirimkan tim ke Piala Dunia Tunawisma ini, negara seharusnya tidak perlu malu dan berpikiran partisipasi hanya bakal ‘’menampar image’’ atas sukses pembangunan untuk menyejahterakan rakyatnya.

Dari daftar partisipan dalam Piala Dunia di Milan 2009 ini, toh sejumlah negara maju –seperti Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Inggris, dan Kanada— juga mengirimkan timnya. Begitu pula negara-negara lainnya, tak terkecuali negara-negara tetangga Indonesia (lihat daftar).

Namun sejak turnamen tahunan yang disokong proyek sepakbola untuk kalangan grassroots di 60 negara ini kali pertama digelar di Graz (Swiss) pada 2003, belum sekalipun Indonesia mengirimkan tim tunawismanya. Karena alasan klasik faktor dana atau malu?

Saya belum tahu pasti. Dana juga bukan alasan yang bisa diterima secara absolut mengingat banyak negara dengan pendapatan per kapita lebih rendah dibandingkan Indonesia toh ikut serta dalam kejuaraan yang tidak mengenal sistem kualifikasi ini.

Adakah karena malu? Sekali lagi saya belum tahu pasti. Jika karena kurangnya kepedulian, jelas itu akan mempertegas ironi bagi negara yang beradab ini, dengan rakyatnya yang dikenal murah senyum dan ramah ini, namun harus diakui masih saja kurang (bahkan tidak) peduli dengan nasib mereka yang kurang atau tidak beruntung.

Jika mengirimkan tunawisma ke Piala Dunia dinilai berlebihan, bagaimana dengan kepedulian dalam wujud yang lain? Sudah cukupkah kita memberi fasilitas kemudahan atau yang memudahkan bagi, misalnya, para penyandang cacat dan manula pada berbagai fasilitas umum?

Jelas tidak seorang pun menginginkan hidupnya tidak beruntung. Oleh karena itu, para pejabat di republik ini seharusnya pula tidak asal omong dan gampang bertindak ‘’menghakimi’’ mereka yang kurang atau tidak beruntung itu tanpa memberi harapan bagi mereka untuk berubah.

Piala Dunia Tunawisma juga bukan turnamen hura-hura dan terlalu naïf bila langsung dihakimi sebagai tindakan sia-sia ‘’menghabiskan biaya untuk mereka yang kurang berguna bagi negara’’. Sebab, menurut situs resmi panitia kejuaraan itu, dampak kejuaraan ini dari tahun ke tahun sungguh terasa. Sebanyak 73 persen pesertanya dinyatakan mengalami perubahan hidup selepas mengikuti kejuaraan itu, di antaranya terbebas dari obat-obatan telarang dan alkohol, mendapatkan pekerjaan, makin sadar atas arti penting pendidikan, bersatu lagi dengan keluarga, bahkan di antaranya berprofesi sebagai pemain atau pelatih sepakbola di klub-klub semiprofesional.

Karena misinya yang mulia itu, tidak mengherankan apabila UEFA, Nike, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Manchester United, Real Madrid, Eric Cantona, Didier Drogba, dan Rio Ferdinand mendukung Piala Dunia Tunawisma ini.

Bagaimana dengan Indonesia?

————————————-

KONTESTAN PIALA DUNIA TUNAWISMA 2009 MILAN

Argentina, Australia, Austria, Belgia, Brasil, Kamboja, Kanada, Cile, Kosta Rika, Kroasia, Rep. Chek, Denmark, Inggris, Finlandia, Prancis, Jerman, Ghana, Yunani, Hong Kong, Hungaria, India, Irlandia, Italia, Pantai Gading, Jepang, Kazakhstan, Kyrgystan, Lithuania, Luksemburg, Malawi, Meksiko, Namibia, Belanda, Nigeria, Norwegia, Filipina, Polandia, Portugal, Rumania, Rusia, Skotlandia, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia, Swiss, AS, Ukraina, Wales.

KONTESTAN SEBELUMNYA

Afghanistan, Kamerun, Kolombia, Kenya, Liberia, Selandia Baru, Paraguay, Rwanda, Timor Leste, Uganda, Zambia, Zimbabwe.