Maradona menyaksikan para pemain Brasil berpesta di Rosario. PHOTO: DANIEL GARCIA/AFP/GETTY IMAGES
Maradona menyaksikan para pemain Brasil berpesta di Rosario. PHOTO: DANIEL GARCIA/AFP/GETTY IMAGES

APA yang bisa dipetik dari kekalahan Argentina 1-3 atas Brasil pada Kualifikasi Piala Dunia, Sabtu malam (5/9) waktu setempat atau Minggu pagi (6/9) WIB lalu?

Salah satunya, nuansa sakral dan doa ternyata bukan jaminan seseorang berhasil mencapai yang diinginkannya. Argentina memindahkan laga krusial itu dari Ibu Kota Buenos Aires ke kota suci Rosario dengan harapan bisa mengangkat lagi moral dan peluang tim Negeri Tango itu lolos otomatis ke putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan (Afsel).

Kamis (3/9), pelatih Diego Maradona membawa pasukannya ke gereja di Rosario untuk berdoa bersama. Toh doa itu tidak terkabul di lapangan. Bahkan untuk kali pertama dalam sejarah Kualifikasi Piala Dunia, Argentina dipaksa meratap di tanahnya sendiri oleh Brasil, sang seteru klasiknya.

Brasil pun bisa berpesta ganda. Selain mencatatkan rekor mengalahkan Argentina di rumahnya, kemenangan memastikan Tim Samba yang bertengger di posisi puncak klasemen lolos otomatis ke Afsel.

Dengan Kualifikasi Piala Dunia 2010 Zona CONMEBOL menyisakan hanya tiga laga, kini Argentina bertengger di tempat keempat alias pada posisi jatah terakhir untuk bisa lolos otomatis ke Afsel. Akankah Argentina untuk kali pertama dipaksa tidak lolos ke putaran final sejak Piala Dunia 1970?

Harus diakui putaran final Piala Dunia tanpa Argentina bakal kurang gereget. Namun hasil di lapangan lah yang menentukan, bukan sentimen emosional dan fanatisme. Seperti itu pula yang dirasakan fans ketika Inggris dipaksa tidak bisa ke Austria-Swiss pada putaran final Euro 2008.

Seandainya Argentina gagal lolos ke putaran final Piala Dunia –setelah lewat playoff sekalipun— jelas fakta itu akan menjadi berita besar di jagat sepakbola. Tak ubahnya ketika putaran final Piala Dunia 2002 di Jepang-Korea lalu tanpa kehadiran timnas Oranje Belanda. Namun mungkin saja fans akan terus diburu tanya: kok bisa salah satu negeri bola dengan nama-nama pemainnya yang ‘’menjajah’’ dunia semacam Lionel Messi, yang dibesarkan di Rosario itu, gagal lolos?

Semuanya belum menjadi kenyataan. Teriakan mengejek ‘’Tersingkir!’’ yang datang dari tribun pemandu sorak kubu Brasil di Stadion Rosario itu juga belum nyata terjadi. Masih terbuka pintu bagi Maradona untuk membawa Argentina lolos otomatis atau sekadar lolos ke Afsel selagi mampu memetik hasil maksimal pada tiga laga sisa: melawan tuan rumah Paraguay –yang kini bertengger di peringkat kedua— pada Rabu (9/9) waktu setempat, menjamu Peru, serta away ke Montevideo melawan Uruguay.

Tantangan besar kini benar-benar dihadapi Maradona. Pelatih berusia 48 tahun yang juga mertua striker Atletico Madrid dan timnas Argentina, Sergio ‘’Kun’’ Aguero, itu terancam tererosi namanya seandainya gagal lolos otomatis, apalagi jika sampai gagal total lolos ke Afsel. Predikat legenda yang dinikmatinya selama ini dari lapangan ketika aktif bermain memang tidak akan pernah bisa dihapus. Namun kadarnya pasti akan berkurang.

‘’Sebagai pemain, aku mengaguminya. Bagi kami dia itu bagai dewa,’’ tutur Jorge Rodriguez, 55 tahun, seorang fans saat meninggalkan Stadion Rosario sebagaimana dikutip The New York Times, ‘’Tetapi Maradona bukan pelatih yang tepat. Strateginya tidak jalan. Kami mendapatkan pembenaran itu malam ini. Kami memiliki pemain-pemain terbaik di dunia. Namun mereka kurang tertib, kurang disiplin, kurang segalanya. Mereka butuh seseorang yang benar-benar sebagai pelatih.’’

Bagi negara seperti Argentina dengan hanya segenggam living heroes, bisa dikatakan Maradona masih yang teratas. Segala yang pernah diperbuat di lapangan demi kebesaran nama Argentina mampu menghapus apa pun ulahnya, termasuk yang bisa dikatakan sudah di luar kontrol selepas gantung sepatu. Tapi Maradona adalah manusia yang tidak selamanya sempurna. Kata pepatah yang lazim, nobody is perfect.

Saya masih ingat betul ketika Presiden Asosiasi Sepakbola Argentina (AFA) Julio Grondona memilihnya sebagai pelatih timnas pada November lalu. Media internasional, termasuk yang mengutip media lokal, sudah mulai meragukannya. Jika disimpulkan, kata mereka ketika itu, ‘’Maradona is a player, not a coach.’’ Titahnya Maradona itu seorang pemain, bukan pelatih. Maradona ditakdirkan besar sebagai pemain, bukan arsitek tim.

Media saat itu memang lebih fokus menyoroti mimimnya pengalaman sang legenda dalam melatih tim. Namun ada juga yang mencemaskan Maradona bakal kembali lagi pada kiblat pelarian nge-drug dan beralkohol ria andaikata stres sebagai pelatih menderanya.

Tinjauan psikologis memang menempatkan seorang pelatih bagai dewa bagi tim yang dilatihnya. Pelatih adalah sumber spirit. Oleh karena itu, rekam jejak pelatih –baik di dalam maupun di luar lapangan— sebisanya sesempurna mungkin. Maradona jelas tidak memilikinya secara lengkap.

Di sisi lain, argumen itu juga bisa dipatahkan dengan antitesis bahwa sejarah mencatat beberapa pelatih besar toh bukan sosok yang cemerlang ketika menjadi pemain. Lalu apa bedanya dengan seorang Diego Armando Maradona?

Atas kontroversi yang ketika itu belum satu pun mendapatkan pembenaran, Grondona menunjuk Carlos Bilardo –pelatih yang sukses mengantarkan Argentina menjuarai Piala Dunia 1986 di Meksiko yang juga ditandai oleh gol ‘’Tangan Tuhan’’ Maradona itu— sebagai asisten pelatih. Namun ego Maradona melebihi segalanya. Berbagai masukan Bilardo, 70 tahun, dipangkas. Bahkan Bilardo dilarang makan bersama para pemain, apalagi sampai taraf membuat keputusan berdasarkan analisis pribadi.

Sejak menjadi pelatih timnas, Maradona memang telah berusaha menjadi bapak yang baik. Dia berusaha akrab dengan semua pemain di ruang ganti. Dia kunjungi rumah para pemain dan meneleponnya untuk membesarkan hati. Namun menata pemain agar berada dan bertindak yang tepat di lapangan, ternyata, sejauh ini tidak bisa dilakukannya.

‘’Yang dilakukannya itu tidak ada kaitannya dengan taktik,’’ kata Sergio Levinsky, penulis biografi Maradona: Rebel With a Cause.

Sebelum pernyataan Levinsky, kritik senada sebenarnya sudah disampaikan Juan Roman Riquelme. Sang playmaker memutuskan mundur dari timnas setelah mengkritik strategi permainan yang diterapkan Maradona sebagai ‘’taktik kaku’’. Peristiwa ini terjadi setelah Argentina dibantai 1-6 oleh Bolivia pada Kualifikasi Piala Dunia 2010, April lalu.

Maradona boleh saja berkelit faktor ketinggian di La Paz sebagai penyebab kekalahan. Namun dengan skor setelak itu, betapa hal tersebut sebenarnya juga membuktikan seorang Maradona tidak memiliki cukup strategi untuk segala medan pertempuran.

Kini yang diharapkan publik Argentina, tentu juga fans tim Tango di seluruh dunia, adalah kembali ‘’keluarnya mukjizat’’ seorang Maradona dalam balutan baju pelatih. ‘’Mukjizat’’ itu pernah dimiliki Argentina dan sang legenda kala menjadi pemain.

Pada 1985, tepatnya di laga terakhir Kualifikasi Piala Dunia 1986, Argentina nyaris tidak bisa lolos otomatis. Gol pada menit akhir memaksa laga terakhir penyisihan melawan Peru berakhir imbang 2-2 dan menyelamatkan Tango. Argentina lolos ke Meksiko dan tampil sebagai juara, salah satunya dibantu oleh gol ‘’Tangan Tuhan’’ Maradona saat melawan Inggris di semifinal.

Pada 1993, Argentina gagal lolos otomatis ke putaran final Piala Dunia 1994 di AS. Argentina dalam kondisi krisis. Maradona, yang sebelumnya diskorsing, dipanggil untuk menyelamatkan timnas. Pada playoff melawan Australia, Maradona andil membuat hasil akhir 1-1 pada laga di Sydney dan menang 1-0 di Buenos Aires. Argentina pun lolos.

Toh, apa yang akan diukir timnas Argentina nanti, sebagian publik sudah telanjur apatis terhadap sosok Maradona sebagai pelatih. ‘’Meski seandainya nanti kami memenangi Piala Dunia, itu tidak akan mempertegas posisi Maradona sebagai pelatih besar, tetapi hanya akan menegaskan Maradona itu ibarat dewa,’’ ujar Omar Bello, direktur sebuah biro periklanan di Buenos Aires.