Thierry Henry memimpin rekan-rekannya menjalani misi superberat di Beograd pada Kualifikasi Piala Dunia 2010, dini hari nanti WIB. PHOTO: STU FORSTER/GETTY IMAGES
Thierry Henry memimpin rekan-rekannya menjalani misi superberat di Beograd pada Kualifikasi Piala Dunia 2010, dini hari nanti WIB. PHOTO: STU FORSTER/GETTY IMAGES

ANDA pencinta Les Bleus Prancis? Dini hari nanti bersiaplah menerima kejutan awal yang tidak mengenakkan dari Red Star Stadium, Beograd, ketika tuan rumah Serbia menjamu Prancis pada Kualifikasi Piala Dunia 2010.

Jika tidak kalah, sangat mungkin Prancis juga tidak bisa menang. Bila ini benar-benar terjadi, jalan menuju putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan (Afsel) bakal semakin terjal. Mungkin saja Prancis gagal lolos mengingat prospek lawan yang dihadapi pada babak playoff sesama Eropa –seandainya pada akhir kualifikasi Les Bleus hanya bertengger di posisi kedua Grup 7— juga bisa dibilang tidak enteng.

Dini hari nanti sekitar 55 ribu pasang mata di Red Star Stadium jadi penyaksi apakah Thierry Henry dkk masih benar-benar digdaya setelah akhir pekan lalu di rumah sendiri hanya mampu main imbang 1-1 melawan Rumania. Apalagi Serbia yang mereka hadapi sekarang tidak seperti empat atau lima tahun terakhir.

Bisa dibilang inilah kebangkitan terdahsyat tim negara di Balkan itu sejak Federasi Yugoslavia pecah. Puluhan ribu fans tuan rumah pasti akan merindukan kembali lahirnya kejayaan di Red Star –yang pada era Yugoslavia selalu bangga dengan menjuluki timnasnya sebagai ‘’Brasil-nya Balkan’’— di bawah polesan Raddy Antic.

Demi timnas Serbia untuk Piala Dunia 2010, Antic rela pulang meski klub-klub mapan Eropa masih meminatinya. Antic bukan pelatih kemarin sore. Tak kurang tiga klub ternama Spanyol –Atletico Madrid, Real Madrid, dan Barcelona— pernah dipolesnya. Di bawah kendalinya pula, Serbia selalu menang dalam tiga laga kualifikasinya sejauh ini dan tidak kemasukan satu gol pun.

Oh… oh… Bisa mengalahkan Prancis dini hari nanti, misi Antic membawa Serbia ke Afsel pun terpenuhi mengingat saat ini tim Balkan itu sudah unggul empat poin dari Prancis dengan kualifikasi menyisakan tiga laga, termasuk dini hari nanti.

Peluang sukses itu sangat terbuka bagi tuan rumah. Selain dukungan fans fanatik, para amunisinya di lapangan juga prima. Di lini tengah ada Dejan Stankovic (Inter Milan), yang diulas banyak pengamat bola di Eropa mampu memainkan peran tak lelah mengatur irama serangan sebagaimana para pemain era Yugoslavia. Di lini belakang, misalnya, ada juga benteng kokoh Nemanja Vidic (Manchester United).

Prancis? Memang banyak bintang kelas dunia di sana. Namun Henry dkk saat ini bukan timnas Prancis era 1984 yang begitu kompak, seperti saat hat-trick Michel Platini mampu menggulung Yugoslavia 3-2 di Saint-Etienne. Prancis sekarang juga tidak sedahsyat angkatan 1998 ketika Zinedine Zidane, Didier Deschamps, Lilian Thuram, dan lainnya mampu menumbangkan tim asal Balkan lainnya, Kroasia, di semifinal Piala Dunia.

Henry memang kapten. Selama 12 tahun terakhir membela timnas, dia masih yang terbaik di timnas dengan 49 gol dari 112 laga. Namun striker Barcelona itu kini sudah 32 tahun. Tenaganya sudah berkurang dan di lapangan jelas akan membatasi pergerakannya untuk melakukan improvisasi memelopori rekan-rekannya seandainya strategi yang diinstruksikan pelatih Raymond Domenech membentur karang lawan sebagaimana saat melawan Rumania.

Apalagi selepas hasil seri itu, Henry dikabarkan berselisih dengan Domenech karena perbedaan strategi di lapangan. Bahkan sebelum laga melawan Rumania itu, demikian Le Parisien, Henry sudah memberi tahu Domenech bahwa saatnya mengubah skema main.

‘’Karena pelatih masih begitu, kami akan selalu punya masalah. Coach, kami juga punya sesuatu untuk dikatakan,’’ ujar Henry dalam konferensi pers di kamp latihan Clairefontaine, sehari sebelum laga melawan Rumania.

Domenech tidak menghiraukannya dan malah menilai komitmen para pemainnya mulai menyusut. Melawan Rumania, semuanya terbukti. Para pemain Prancis memang sangat bersemangat dan bisa dibilang unggul dari segi individual skill. Namun dalam hal permainan secara tim dalam bingkai strategi tempur, betapa tampak mereka tidak cukup mampu menggigit.

Karim Benzema (Prancis)
Karim Benzema (Prancis)

Di lapangan tak muncul bakat alami mereka. Pada usianya yang masih 22 tahun, Yoann Gourcuff  terbilang terlalu muda untuk mengganti peran Zidane. Franck Ribery juga bukan Zidane dan masih bermasalah dengan kebugarannya. Prancis di ambang bahaya.

Kepada media, Senin (7/9), Henry bisa saja meralat bahwa tak ada perpecahan di tubuh timnas. Dia juga tidak meragukan kualitas seorang Domenech, mantan pelatih timnas U-21 Prancis yang sukses membawa timnas senior ke partai final Piala Dunia 2006 namun tersingkir pada putaran pertama Euro 2008 lalu.

Domenech dan Federasi Sepakbola Prancis (FFF) bisa saja berdalih, apa pun hasil di Beograd tidak akan memengaruhi Les Bleus. Memang begitu seandainya dini hari nanti Serbia yang benar-benar menang.

Jika itu benar terjadi, target akhir Domenech adalah runner-up grup. Seandainya FFF masih mempertahankannya, dia memiliki dua lagi kesempatan mendampingi timnya, yakni menjamu Austria dan away melawan Kepulauan Faroe.

Di atas kertas Prancis memang bisa memetik poin sempurna dalam dua laga itu untuk meraih posisi kedua. Namun calon lawan di playoff juga bisa dibilang tidak enteng: Rusia, Rep Irlandia, Swedia, Portugal, Yunani, bahkan dengan tim Balkan lainnya, yakni Bosnia-Herzegovina atau Kroasia.