Zlatan Ibrahimovic (Barcelona). PHOTO: AP/MANU FERNANDEZ
Zlatan Ibrahimovic (Barcelona). PHOTO: AP/MANU FERNANDEZ

Ketika menjanjikan ‘’dendam’’ dengan berbagai faktor pembentuk, di situ sebuah pertandingan sepakbola sangat layak ditunggu. Sepakbola memang bukan ajang perang, meski nuansa ‘’perang’’ tidak bisa dipisahkan.

SEANDAINYA di sebuah perhelatan Piala Dunia hasil drawing menempatkan Iran berhadapan dengan Amerika Serikat, seperti pada Piala Dunia 1998 di Prancis, apa yang ada di benak Anda? Ke mana batin Anda akan berpihak?

Begitu pula saat timnas Inggris harus melawan Diego Maradona dkk di semifinal Piala Dunia 1986 di Meksiko, kala bau mesiu Perang Falkland –yang di Argentina dikenal dengan nama Malvinas itu— belum sepenuhnya sirna. Lewat mesin-mesin dan strategi perangnya, Inggris berhasil menguasai kepulauan yang disengketakan tersebut, serta memaksa Argentina sebagai pihak yang kalah.

Namun kekalahan di perang nyata itu membakar revans Maradona dkk di lapangan bola. Dengan segala taktik dan trik, termasuk gol ‘’Tangan Tuhan’’ Maradona, Argentina tampil sebagai pemenang. Inggris tumbang menyakitkan di semifinal. Argentina lolos ke final dan akhirnya tampil sebagai juara dunia. Dengan trik Diego Simeone terhadap David Beckham, Inggris kembali ‘’gulung tikar’’ pada babak kedua putaran final Piala Dunia 1998 sebelum akhirnya The Three Lions mampu menuntut balas kepada Argentina di Piala Dunia 2002.

Mungkin sekali Inggris vs Argentina akan selalu dikenang oleh para penggila bola di dunia sebagai ‘’partai dendam’’ hingga beberapa dasawarsa mendatang. Juga, duel timnas kedua negara tetap bermakna dendam dengan kadar lebih tinggi dan lebih berasa bagi penggila bola di negara masing-masing; selagi mulut para pancarita dan penggila bola di kedua negara tak meninggal bebarengan.

Bukankah para suporter tim-tim di Indonesia –baik di Liga Super, Divisi Utama, Divisi I, Divisi II, dan sebagainya hingga ke level tarkam— juga kadang menghidup-hidupkan dendam itu?

***

Jika pada level dunia nuansa dendam tak bisa dibendung, lantas apa yang bisa dilakukan Zlatan Ibrahimovic kala dini hari nanti balik lagi ke Stadion Giuseppe Meazza, kandang Inter Milan, bekas klubnya, pada laga Liga Champions? Tentu jawabannya Ibra harus melakukan segalanya demi kebaikannya dan Barcelona, klubnya sekarang.

‘’Dari saya, dia akan menerima pelukan sangat hangat, tetapi dari fans saya tak tahu. Saya akan memeluknya sebelum pertandingan, tetapi selama 90 menit berikutnya saya tak ingin tahu namanya. Kami adalah lawan. Saya tidak merasa dikhianati. Terima kasih untuknya, kami kini bisa jadi juara Italia,’’ tutur Jose Mourinho, pelatih Inter, sebagaimana dilansir The New York Times.

Kehangatan hubungan memang masih ditawarkan Mourinho. Mungkin sekali seperti itu pula bagi sebagian besar Interisti. Jika ada yang merasa dikhianati dan melakukan teror, toh nuansa seperti ini juga bukan hal baru bagi striker asal Swedia itu. Kala dia masih berkaus Inter harus bersua lagi di Serie A melawan Juventus –klub yang ditinggalkannya pada 2006 karena terdegradasi akibat kasus calciopoli (pengaturan skor)— fans Juve menghardiknya sebagai pengkhianat.

Namun teror sesungguhnya bukan berasal dari fans, tetapi dari orang-orang di tengah dan pinggir lapangan. Lawan main beserta pelatih dan ofisialnya. Masih ingatkah Anda pada laga Serie A 2007-2008 ketika Inter mendapatkan giliran pertama ke Stadion Olimpico, Turin, melawan Juve yang naik lagi ke kasta tertinggi Liga Italia itu?

Karena nuansa dendam yang diletupkan fans Juve, para pemain klub berjuluk Si Nyonya Tua itu, khususnya Giorgio Chiellini, main tebas kepada Ibra. Tak ada fans Juve yang anarkis. Ibra tampak pakewuh pada laga itu, tetapi dia bisa menjalaninya meski tidak full time.

Ke Giuseppe Meazza melawan Inter dini hari nanti, sebagian kecil fans yang marah mungkin hanya bisa berteriak-teriak memaki. Tetapi ancaman sejati  justru datang dari ‘’amarah taktik’’ bekas rekan-rekan seklub. Khususnya kepada pendatang baru di Inter, Samuel Eto’o, bekas mesin gol Barcelona yang awal musim ini dibarter dengan Ibra.

Padahal sebelum ‘’ditukar guling’’ dengan Ibra, Eto’o ramai dikabarkan enggan meninggalkan Camp Nou, markas Barcelona, klub kebanggaan Catalan yang telah diberinya 130 gol selama lima tahun dan beberapa pekan sebelumnya dia bantu pula menjuarai Liga Champions.

Meski Ibra tidak segarang Eto’o di Liga Champions (hanya 18 gol dari 66 kali main sepanjang kariernya di Ajax, Juventus, dan Inter Milan—bandingkan dengan 57 gol dari 88 kali membela Inter di berbagai ajang domestik), konon bos besar Inter Massimo Moratti enggan melepasnya.

Namun Barca ngotot mendapatkan Ibra karena sudah tidak cocok lagi dengan Eto’o yang dinilai kian menuntut imbalan. Ibra yang ngebet cabut dari Kota Milan pun rajin menelepon para petinggi Barca agar benar-benar membawanya. Saat kondisinya di Barca tertekan, tiga kali Eto’o ditelepon Ibra yang mengatakan sangat bernafsu ke Barcelona.

Eto’o, bintang timnas Kamerun itu, merasa terjepit. Tekanan Barca akhirnya membuat dia harus realistis; pergi ke Milan dibarter dengan Ibra. Moratti sepakat karena untuk ‘’tukar guling’’ ini Inter juga sebenarnya mendapatkan tambahan kompensasi fulus yang lumayan.

Jika ada pemain lain di Inter yang sudah mengirimkan ancaman itu, tidak lain sang defender Marco Materazzi— bek timnas Italia yang menjadi provokator atas diusirnya Zinedine Zidane para partai final Piala Dunia 2006. ‘’Terima kasih atas tiga gelar (Serie A)-nya Ibra. Kita akan bertempur pada Rabu malam (dini hari nanti WIB),’’ tuturnya usai drawing Liga Champions 2009-2010 beberapa waktu lalu.

Namun pemain berjuluk Matrix itu dua pekan lalu cedera dan kemungkinan nanti tidak dimainkan. Bahkan Mourinho sudah mengisyaratkan sama sekali tidak akan menurunkan pemain asli Italia. Benarkah? Sangat menarik ditunggu apa maunya.

Sebab, kata Entrenador Barcelona Pep Guardiola, masih ada satu ancaman lagi yang layak dicermati di Inter. Dialah Mourinho. Sejarah mencatat bahwa Mourinho akan selalu mengatakan dan berulah yang ‘’aneh’’ tiap kali hendak, saat, dan setelah melawan El Barca pada laga-laga krusial di pentas Eropa. Mengapa begitu?

Dari tinjauan psywar (perang saraf), sebenarnya tidak ada yang ganjil. Kepada klub-klub non-Barca pun dia sering melakukannya, khususnya ketika masih memoles Chelsea di Premier League Inggris. Namun bagi Barca, apa pun manuver Mourinho layak diperhitungkan karena bisa dikata pelatih asal Portugal itu cukup paham jeroan klub serta mental pemain dan pengurus klub Catalan tersebut.

‘’Omongan manis, biasa-biasa saja, bahkan yang sangat pedas pun ada motifnya: mencari keuntungan,’’ kata Guardiola.

Mari kita telisik jauh ke belakang. Mourinho melakukan karier kepelatihannya sebagai asisten pelatih di Barcelona, mula-mula sebagai asisten Bobby Robson (Inggris) dan penerusnya, Louis van Gaal (Belanda).

Tahukah siapa kapten Barcelona pada era dua pelatih tersebut? Guardiola-lah orangnya.

Pada 2005 lalu ketika masih mengarsiteki Chelsea, saat melawan Barca di Liga Champions pun Mourinho mengerjai wasit Anders Frisk (Swedia) yang disebutnya telah ‘’dibeli’’ Barca setelah insiden kartu merah kepada Didier Drogba pada babak kedua. Pelatih Barca Frank Rijkaard pun dituding macam-macam oleh Mourinho.

***

Permainan macam apa yang bisa diharapkan dini hari nanti? Tentu selain ‘’trik dendam’’ di lapangan, baik oleh pemain maupun ofisial, yang tidak layak dilewatkan adalah pola permainan di kedua kubu.

Samuel Eto'o (Inter Milan). PHOTO: AP/LUCA BRUNO
Samuel Eto'o (Inter Milan). PHOTO: AP/LUCA BRUNO

Seperti khittahnya tim-tim Italia dan juga ciri khas Mourinho, Inter kemungkinan tetap cenderung defensif. Mereka juga cenderung memainkan striker tunggal serta lebih mengandalkan pada kecepatan serangan balik dan improvisasi sang striker. Bila berhadapan dengan sesama tim Italia, pola seperti itu memang tidak banyak masalah mengingat lawan juga punya kecenderungan yang sama.

Namun bila harus menghadapi tim-tim penggempur di daratan Eropa, Inter selalu kewalahan. Di kandang sendiri pun mereka susah menang. Itulah yang selalu mereka rasakan di Liga Champions dalam beberapa dasawarsa terakhir. Mungkin karena pola itu pula sewaktu di Inter Ibra produktif di Serie A yang lebih memberinya keleluasaan gerak dan berimprovisasi sepersetujuan pelatih, tetapi kering di pentas Liga Champions ketika pelatih cenderung strict pada strateginya.

Kini dengan bergabung Barca, Ibra dikelilingi dan dipasok oleh rekan-rekan setim yang haus gol. Ada Lionel Messi, Thierry Henry, Xavi, Andres Iniesta, dan lain-lain.

Sebaliknya Eto’o yang terbiasa dengan iklim itu harus meninggalkannya untuk masuk dalam skema baru yang ‘’lebih gersang’’ dan hingga kini masih menuntut adaptasinya. Jika Eto’o dini hari nanti bisa menyiasati kondisi itu, bahkan mampu menjebol gawang Barcelona, tentu akan menjadi kebahagiaan nan tidak terperikan baginya.

Meminjam kata-kata Xavi, permainan Barcelona sangat romantis. Ibra telah memasuki iklim romantis itu dan membuatnya bergairah yang telah dibuktikan dengan mulai lahir golnya untuk Barca. Mampukah Ibra menggulung bekas klubnya yang cenderung bergaya defensif, tetapi kini memilik seorang Eto’o?

Sangat menarik ditunggu ‘’dendam’’ siapa yang lebih berbuah nyata. Jika Ibra yang lebih digdaya, saya juga tidak terlalu kagum. Dia kini dikelilingi para pemain yang memang sudah terbukti haus gol jauh sebelum kedatangannya.

Selain itu, pikir saya, bagi Ibra dengan orangtua berdarah Kroasia dan Bosnia yang berimigrasi ke Swedia, tambang uang itu tidak lain adalah dari gol-gol yang diukirnya. Selagi mampu dia pasti akan memilih bermain di klub-klub papan atas, di liga teratas, dan berusaha selalu mencetak gol.

Selain demi menabung banyak gol pada masa mendatang, pindah ke Barcelona itu konon juga memberi Ibra uang yang tidak sedikit. Pun, saya yakin ada yang masih ingat ketika Marcello Lippi –mantan pelatih Juventus yang sukses mengantarkan Italia menjuarai Piala Dunia 2006 dan kini peruntungannya dicoba lagi untuk Piala Dunia 2010—menjuluki Ibra sebagai greedy player (pemain yang rakus) saat meninggalkan Juve ke Inter.

So, laga dini hari nanti memang menjanjikan ‘’dendam’’ dalam berbagai dimensinya. Jadi, Inter atau Barcelona?