PHOTO: AP/FELIPE DANA
PHOTO: AP/FELIPE DANA

NOVEMBER tahun lalu, Barack Obama boleh berbangga mampu menularkan virus ‘’Obama-Mania’’ ke segenap penjuru dunia. Obama yang pernah bersekolah di Jakarta, serta bulan depan dijadwalkan berkunjung ke ibu kota republik tercinta ini, tampil sebagai orang nomor satu di Amerika Serikat, sang negara adidaya.

Setelah menjadi Presiden, sepak terjang Obama masih membuat dunia berdecak kagum. Sebelum kini masih bersitegang dengan Iran seputar pengayaan uranium, Obama lebih dulu berusaha untuk dekat dan ‘’memahami’’ dunia muslim. Di bawah Obama, di bidang politik dan pertahanan, AS jelas masih memiliki power to dictate the world, mendikte dunia.

Namun dalam urusan olahraga, sosok Obama dan istrinya, Michelle, bukan jaminan kesuksesan. Pada kampanye menjadikan Chicago sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2016, Obama dan Michelle gagal total. Dalam pemungutan suara oleh 104 negara anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC) di Copenhagen, Denmark, Jumat (2/10) petang, Chicago bahkan tersisih di putaran pertama.

Tokyo (Jepang) tersisih di putaran kedua. Madrid (Spanyol) dan Rio de Janeiro (Brasil) bertarung di putaran berikutnya. Namun IOC akhirnya memastikan Olimpiade 2016 bakal mengukir sejarah baru. Untuk kali pertama dalam sejarahnya olimpiade bakal digelar di tanah Amerika Latin, tepatnya di ibu kota Brasil. Berarti, Brasil kembali akan menggelar hajat bertaraf mondial setelah negara itu dipastikan juga menjadi tuan rumah kejuaraan sepakbola Piala Dunia 2014.

olimpiadeMeski menang dan kalah merupakan hal yang biasa dalam sebuah persaingan, terlebih di bawah payung spirit sportivisme dunia olahraga, bagi rakyat AS kekalahan ini jelas sangat menyakitkan. Jauh-jauh sang Presiden dan Ibu Negara hadir langsung berkampanye di Copenhagen, tetapi pulang tanpa hasil yang diharapkan.

Padahal sebelum voting elektronik yang dirahasiakan itu digelar, bersama Rio, Chicago merupakan favorit. Toh realitasnya malah tersingkir di putaran pertama. Jelas ini menyakitkan mengingat sebelumnya New York juga gagal bersaing menjadi tuan rumah Olimpiade 2012 yang akhirnya menjadi milik London, Inggris.

Permasalahannya, mengapa negara sedigdaya AS bisa kalah beruntun dalam menancapkan pengaruhnya kepada dunia?

Menurut para pengamat, termasuk analisis The New York Times, tim bidding beranggotakan 10 orang dari Chicago yang dipimpin langsung Mr dan Mrs Obama plus Oprah Winfrey itu memang bagus dalam presentasinya. Penuh emosi plus sokongan visual yang menakjubkan. Namun mereka kurang siap pada berbagai aspek menyangkut detail sebagai calon penyelenggara, meski untuk bidding ini Chicago City Council telah melakukan voting dengan hasil mutlak 49-0 untuk menutupi setiap kekurangan pendanaan – yang pertama terjadi dalam sejarah bidding AS.

‘’Menjamu atlet dan pengunjung dari segenap penjuru dunia merupakan kehormatan tinggi sekaligus tanggung jawab yang besar. Dan Amerika siap serta berminat memikul sacred trust (kepercayaan suci) itu,’’ kata Obama dalam presentasi di IOC.

Namun dalam sesi resmi tanya jawab, sebuah pukulan datang dari Shahid Ali, anggota IOC asal Pakistan. Pada intinya Shahid menyangsikan Amerika bisa menjadi ‘’tuan rumah yang baik’’ bagi para pengunjung nanti jika selama ini saja banyak yang merasa direpotkan saat memasuki negara itu. Justru yang selama ini kerap muncul dari para pengunjung adalah ‘’pengalaman mengerikan’’, diinterogasi yang berlebihan di bandara.

Obama memang menjamin hal itu tidak akan terjadi. Tetapi jawabannya tidak cukup mampu membuat hati para anggota IOC melekat ke Chicago. Sebaliknya, bye, bye… Gagallah upaya AS kembali menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas setelah kali terakhir mereka menghelatnya di Atlanta, Georgia, pada 1996 silam. Dari 1996 ke 2016, setidaknya rentang 20 tahun memang cukup lama bagi AS untuk kembali mendapatkan rotasi sebagai tuan rumah.

Tapi, sebagaimana FIFA yang siap mengukir sejarah dengan menghelat Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan (untuk kali pertama di benua Afrika), IOC tampaknya tidak mau ketinggalan. Sehingga, meski Jepang juga menurunkan pelobi kelas berat yakni PM Yukio Hatoyama, justru faktor rotasi lah yang membuat Tokyo tersisih: terlalu dekat mengingat Olimpiade 2008 baru saja digelar juga di Asia pada 2008, tepatnya di Beijing (China).

Lalu, Madrid? Jika Tokyo untuk 2016 masih dinilai terlalu dekat dengan Olimpiade Beijing 2008, apalagi ibu kota Spanyol itu mengingat Olimpiade 2014 juga digelar di benua Eropa. Padahal Spanyol kali terakhir menjadi tuan rumah adalah pada 1992 di Barcelona – yang juga menorehkan memori indah bagi Indonesia ketika untuk kali pertama Indonesia Raya berkumandang di arena olimpiade melalui pasangan emas Alan Budikusuma-Susi Susanti dari cabang bulutangkis.

Alhasil, kampanye yang juga dilakukan Raja Juan Carlos, lobi oleh PM Jose Luis Zapatero, bahkan mantan Presiden IOC Juan Antonio Samaranch pun tidak membuahkan hasil seperti diharapkan. Hasil ini juga menyakitkan bagi Spanyol setelah mereka juga gagal di putaran ketiga untuk memperebutkan tuan rumah Olimpiade 2012. Padahal kala itu mereka selalu unggul pada dua putaran sebelumnya, tetapi yang justru sampai di putaran terakhir adalah London versus Paris yang dimenangi London dengan 54 berbanding 50 suara.

Akhirnya, kata Presiden IOC Jacques Rogge, ‘’It’s Rio time.’’ Saatnya Rio de Janeiro.

Begitu pengumuman itu keluar, pesta pun meledak di segenap penjuru Brasil, khususnya di Pantai Copacabana yang ingar bingar oleh tarian samba dan bunyi perkusi. Tidak sia-sialah permohonan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva yang datang ke Copenhagen dengan membawa Pele, legenda sepakbola itu, dalam timnya.

Dalam pidatonya, Lula memohon kepada IOC agar Brasil diberi kesempatan karena dari 10 negara kekuatan ekonomi dunia saat ini, hanya Brasil yang belum pernah menjadi tuan rumah olimpiade. ‘’Bagi yang lain mungkin itu sebatas kembali menggelarGames, tapi bagi kami merupakan kesempatan yang tak ternilai. Ia akan mengirimkan pesan bahwa Olympic Games adalah untuk semua orang, semua benua, dan seluruh matra kemanusiaan. Beri kami kesempatan dan yakinlah Anda semua tidak akan menyesalinya,’’ ucap Lula emosional.

Bagaimana dengan faktor kejahatan yang terbilang marak di sana? Gubernur Rio State, Sergio Cabral, justru memberikan antitesis. Bahwa dengan membawa event olahraga kelas dunia ke wilayahnya, angka kejahatan sangat mungkin malah bisa diturunkan. Untuk itu pihaknya akan berjuang keras.

Dia lantas merujuk pada penyelenggaran Pan American Games 2007 di Rio yang berjalan lancar tanpa ada gangguan atau keributan.

Memang benarkah karena IOC semata ingin mengukir sejarah atau karena ada faktor lain, sehingga Chicago, Tokyo, dan Madrid yang nota bene bisa dibilang lebih siap malah kalah dibandingkan Rio?

Kepada The New York Times, Frank Lavin, mantan duta besar AS di Singapura yang kalah dalam menggolkan New York sebagai tuan rumah Olimpiade 2012, punya pendapat menarik. Menurut dia, dalam beberapa hal IOC memang kadang tidak terlalu menitikberatkan pada bobot proposal itu.

‘’Banyak yang bermuatan politis dan melingkupi kepentingan pada tataran yang berbeda: politik internasional, personalitas, serta politik internal IOC sendiri,’’ ujarnya.

Namun, saya kira, inilah menarik dan fair-nya ‘’politik’’ di dunia olahraga. Terpilihnya Rio masih menandakan adanya cita-cita pemerataan, kesederajatan bagi human race, dan matra keadilan. Yang selama ini merasa besar dan mampu tidak harus selalu mendapatkan yang diinginkannya.