PHOTO: FIFA
PHOTO: FIFA

ANTARA kondisi pesimistis dan prihatin memang beda-beda tipis. Pesimistis condong bermakna tanpa harapan serta lebih menggantungkan asa tersebut pada sebuah keajaiban. Sedangkan prihatin cenderung masih menyimpan harapan itu sekalipun tipis.

Rakyat Argentina kini memang belum dilanda pesimisme, namun lebih pada terkena serangan keprihatinan massal menatap peluang timnas sepakbolanya menuju putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan (Afsel). Dari 10 tim di Zona CONMEBOL (Amerika Latin) dengan empat tim teratas pada klasemen akhir lolos langsung ke Afsel, Argentina masih berkutat di peringkat kelima. Padahal kualifikasi menyisakan hanya dua pertandingan.

Di zona itu, Brasil dan Paraguay sudah memastikan lolos. Jika pada klasemen akhir Argentina tetap di peringkat kelima, berarti tantangan lolos juga semakin berat mengingat mereka harus menjalani playoff dengan format duel home and away (kandang dan tandang) melawan peringkat keempat Zona CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia).

‘’Saya baru datang dari Argentina. Yang ada di sana memang bukan pesimisme, tetapi lebih pada keprihatinan itu,’’ tutur Mario Kempes, megabintang timnas Tango kala menjuarai Piala Dunia 1978 di rumah sendiri, saat menjadi juri pada audisi kontestan reality show ‘’Dream Job: El Reportero’’ di Manhattan, New York, Sabtu (4/10) lalu.

Komentator ESPN Deportes yang di pengujung kariernya sempat bermain di Indonesia bersama klub Pelita Jaya pada era kompetisi Galatama itu mengaku heran bagaimana mungkin timnas Argentina bisa sekritis itu. Padahal negara itu merupakan pengekspor pemain-pemain top yang merumput di klub-klub elite dunia, khususnya yang ada di benua Eropa.

‘’Saat ini rakyat berharap tidak muluk-muluk kok selain hanya bisa lolos. Itu saja. Aneh memang karena kami memiliki banyak bakat,’’ tutur Kempes menambahkan.

Sekadar lolos memang terasa ganjil mengingat sejak 1970 Argentina tidak pernah absen dari putaran final Piala Dunia. Bila sampai tidak lolos ke Afsel, maka sejarah baru Piala Dunia yang untuk kali pertama dihelat di benua Afrika itu juga akan diwarnai hikayat tanpa aksi-aksi para bintang Argentina. Memang tragis bila harus terjadi.

Sekarang saja rakyat Argentina pasti sudah cenut-cenut akibat serangan ‘’iri’’ menyaksikan sukses bertubi-tubi yang dirayakan rakyat Brasil –seteru klasiknya di Amerika Latin dalam sepakbola. Kedua negara selama ini selalu mengklaim sebagai yang terbaik, meski seandainya rekor juara dunia dijadikan tolok ukur jelas Brasil lebih unggul. Brasil lima kali juara dunia, sedangkan Argentina baru dua kali.

Brasil sudah memastikan lolos ke Afsel. Brasil tuan rumah Piala Dunia 2014. Baru saja pula Brasil dinobatkan sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2016 sekaligus mencatatkan sejarah baru turnamen multievent empat tahunan sejagat itu untuk kali pertama diselenggarakan di Amerika Latin.

Nasib Argentina memang bergantung pada dua laga sisa: menjamu tim juru kunci Peru pada Sabtu (10/10) waktu setempat nanti dan tandang ke Rio Plata menghadapi tuan rumah Uruguay pada 14 Oktober. Jika pada kedua laga tersebut Argentina bisa meraup poin penuh, maka peluang lolos langsung masih terbuka asalkan dua tim peringkat ke-3 dan ke-4 tidak berhasil meraih angka penuh pada dua pertandingan sisanya.

Jika selalu menang saja masih berisiko, apalagi kalau sampai tidak berhasil meraup poin penuh. Apalagi poin Argentina dengan tiga tim di bawahnya juga sangat tipis. Persaingan benar-benar sangat ketat (lihat klasemen).

Kempes mengaku sangat tidak senang menyaksikan timnasnya berjuang lolos seperti ini. Tanpa mau mengkritik pelatih timnas Argentina Diego Maradona yang pada Kualifikasi Piala Dunia 2010 sejauh ini mencatatkan rekor buruk (hanya 6 kali menang, 4 seri, dan 6 kalah), Kempes menilai saat inilah momen pembuktian seberapa besar nasionalisme para pemain timnas.

‘’Pada masa-masa sebelumnya Argentina tidak harus berjuang seperti ini untuk bisa lolos. Memang kadang tidak buruk menjadi takut karena kondisi seperti itu bisa membantu pada tahap selanjutnya,’’ kata Kempes memberi semangat para pemain timnasnya.

DUA LAGA SISA KUALIFIKASI ZONA AMERIKA LATIN

Sabtu, 10 Oktober 2009

Kolombia              vs       Cile

Ekuador                vs       Uruguay

Venezuela            vs       Paraguay

Argentina             vs       Peru

Minggu, 11 Oktober 2009

Bolivia                  vs       Brasil

Rabu, 14 Oktober 2009

Peru                     vs       Bolivia

Paraguay           vs       Kolombia

Brasil                   vs       Venezuela

Cile                       vs       Ekuador

Uruguay            vs       Argentina

Momen indah Mario Kempes usai mencetak gol ke gawang Belanda pada partai final Piala Dunia 1978 di Stadion River Plate, Buenos Aires, Argentina, 25 Juni 1978. Argentina menang 3-1 setelah melalui perpanjangan waktu dan tampil sebagai juara dunia. PHOTO: GETTY IMAGES
Momen indah Mario Kempes usai mencetak gol ke gawang Belanda pada partai final Piala Dunia 1978 di Stadion River Plate, Buenos Aires, Argentina, 25 Juni 1978. Argentina menang 3-1 setelah melalui perpanjangan waktu dan tampil sebagai juara dunia. PHOTO: GETTY IMAGES

Klasemen Sementara

  1. Brasil                      16      9 6 1  32-9      33 – lolos
  2. Paraguay               16      9 3 4  22-13   30 – lolos
  3. Cile                          16      8 3 5  27-20   27
  4. Ekuador                16      6 5 5  21-23    23
  5. Argentina             16      6 4 6 20-19    22
  6. Uruguay                16      5 6 5  26-18    21
  7. Venezuela             16      6 3 7  22-27   21
  8. Kolombia              16      5 5 6  10-14     20
  9. Bolivia                    16      3 3 10   20-34  12
  10. Peru                        16      2 4 10    9-32   10