logo PSSITERKADANG nama memang bukan masalah besar. Cuma mengecoh mata dan ganjil di telinga. Itulah yang saya rasakan ketika menyaksikan spot iklan di Global TV. ‘’Community Shield 2009’’. Apa lagi ini?

Bukankah pertandingan berlabel seperti itu –yang mempertemukan Manchester United dan Chelsea menyongsong digelarnya musim kompetisi 2009-2010— sudah berlangsung jauh-jauh hari? Tidakkah sudah diketahui pemenangnya adalah Chelsea? Adakah stasiun tersebut akan menayangkan ulang duel dua klub papan atas Inggris itu?

Seperti kata William Shakespeare, apalah arti sebuah nama. Memang tidak ada yang salah ketika iklan di Global TV yang menjual laga pembuka musim antara Juara Liga Super Persipura Jayapura dan juara Copa Dji Sam Soe Sriwijaya FC di Stadion Andi Mattalatta, Makassar, Rabu (7/10), dengan label itu. Namun dalam hati saya –mungkin juga beberapa yang lainnya— mengapa harus mencontoh total titelnya dari tanah Inggris?

Biar keren. Mungkin begitu. Mudah diucap. Bisa jadi demikian, meski tidak sepenuhnya benar. Saya maklum seandainya PSSI, panitia penyelenggara pertandingan, serta GlobalTV  tidak memakai, misalnya, Piala Super (Super Cup) karena Eropa sudah memakainya untuk pertandingan mempertemukan juara Liga Champions dan Piala UEFA (kini Liga Eropa). Apalagi di Indonesia juga ada Liga Super yang menempati kasta tertinggi kompetisi sepakbola di Tanah Air. Takut salah persepsi di kalangan pencinta bola mungkin.

Namun kadang geli juga bila ada anggapan publik di Indonesia sudah terbiasa dengan label-label asing itu. Ketika Asian Cup berlangsung di Jakarta dua tahun lalu, orang toh lebih banyak menyebutnya Piala Asia. Saat demam World Cup melanda, orang lebih mengakrabinya dengan panggilan Piala Dunia. Begitu pula ketika European Cup (Euro) bergulir, tidak sedikit yang memanggilnya Piala Eropa.

Tanpa bermaksud merendahkan suporter dan publik bola di Tanah Air, termasuk juga para pengurus klub dan petinggi sepakbola di republik ini, coba tanya pahamkah mereka dengan arti sebenarnya dari Community Shield? Bagaimana pelafalannya (pronunciation) yang benar? Saya yakin tidak semuanya tahu dan bisa.

Namun saya yakin pula banyak yang paham ‘’makna’’-nya, yaitu pertandingan yang mempertemukan juara Liga Super dan Copa Dji Sam Soe di Indonesia. Dari perspektif pesan, memang makna kadang lebih diutamakan daripada arti harfiah. Tetapi alangkah mantap selain mengerti arti, publik juga paham maknanya.

Nama adalah identitas. Jati diri. Ketika bangsa ini masih disibukkan dengan upaya menancapkan jati diri, kiranya memakai identitas bangsa bukan bentuk xenophobia di tengah deras arus globalisasi.

Banyak label yang sebenarnya bisa dipakai. Misalnya, Piala Jawara karena mempertemukan dua juara. Bisa juga Piala Nusantara mengingat kompetisi Liga Super dan Copa Dji Sam Soe melibatkan tim-tim berstatus terbaik dari seluruh wilayah Indonesia. Tidak saja tim-tim dari kasta tertinggi Liga Super, tetapi juga dari level Divisi Utama, Divisi I, dan Divisi II. Atau mungkin khalayak punya usulan nama lain yang lebih pas.

Jika Community Shield versi Indonesia ini dimaksudkan sebatas ‘’ritual’’ untuk memulai lembaran musim kompetisi baru, sehingga menghindari pemakaian kata ‘’Piala (Cup)’’, namun tetap mengedepankan penerjemahan perwujudan gengsi, maka ketidakhadiran label yang merupakan entitas asli bangsa kiranya merupakan ‘’kerugian’’.

Pesan dari label itu kurang sepenuhnya bisa menggugah kebanggaan sejati sebagai insan sepakbola Indonesia dan lebih cenderung menjadikan orang memegang idolanya secara parsial: pilih Persipura atau Sriwijaya. Demi gengsi dan kebanggaan daerah, bukan demi –misalnya— kejayaan prestasi mengangkat Piala Nusantara.

Sekali lagi memang tidak salah memilih label Community Shield, yang untuk kali pertamanya pertandingan pembuka tirai musim baru ini digelar di Indonesia. Dengan segala kekuatan masing-masing tim, semoga pertandingan berjalan aman dan lancar dengan tetap mengedepankan spirit nasionalisme dan sportivitas.

Semoga pula tidak ada dendam yang ditumpahkan melampaui batas, baik oleh pemain maupun suporter. Semua tahu bahwa laga final Copa Dji Sam Soe musim lalu antara Sriwijaya dan Persipura di Palembang menyisakan catatan yang tidak enak. Persipura meninggalkan lapangan dalam keadaan tertinggal karena merasa dikerjai sang pengadil, Purwanto, dan tidak mau kembali lagi ke arena.