PHOTO: THE ASSOCIATED PRESS
PHOTO: THE ASSOCIATED PRESS

NAMANYA selama ini memang tidak banyak disebut dalam percaturan karya sastra berbahasa Inggris di dunia. Namun Hertha Mueller, 56, tiba-tiba menjadi pusat pembicaraan insan sastra dunia setelah dianugerahi hadiah Nobel Sastra 2009 yang diumumkan Akademi Nobel di Stockholm, Swedia, Kamis (8/10) waktu setempat.

Mueller adalah novelis dan esais kelahiran Rumania. Pada 1987 dia berimigrasi ke Jerman untuk menghindari represi diktator Nicolae Ceausescu. Dengan kekuatan prosa liris dalam berbagai karyanya, penggambaran penindasan di era Ceausescu dan kehidupan pelarian politik di pengasingan yang ditorehkan Mueller dinilai mampu mewakili ‘’kata batin orang-orang tertindas dan terbuang’’.

Penghargaan untuk Mueller juga pas dengan momentum ulang tahun ke-20 kejatuhan rezim komunis di Eropa Timur. Sebelum Mueller, kali terakhir penulis Jerman yang menerima Nobel Sastra adalah Guenter Grass pada 1999. Mueller merupakan penulis Jerman ke-13 yang menerima hadiah itu sejak kali pertama diberikan pada 1901. Dia pun menjadi perempuan ke-12 penerima hadiah Nobel Sastra.

Mueller sebenarnya telah menulis tidak kurang 20 buku, namun yang diterjemahkan ke bahasa Inggris baru lima buah –termasuk novel The Lands of Green Plums dan The Appointment. Oleh karena itu, Hadiah Nobel ini diharapkan makin memopulerkan nama Mueller ke percaturan sastra dunia.

Sangat gembirakah Mueller dengan sukses ini? Perasaan gembira dan bangga tentu ada, tetapi Mueller tidak mau tampak dilanda euforia. Pribadi dia merasa tidak tersedia cukup alasan untuk merayakan kisah hidupnya selama 30 tahun di bawah cengkeraman diktator sekeji Ceausescu, dengan teman-teman yang dipaksa menyerahkan nyawanya.

Nobel Sastra ini untuk karya-karyanya, bukan pribadinya sebagai manusia. ‘’Itu adalah buku-buku dan mereka telah melakukannya. Itu bukan untuk diriku sebagai manusia,’’ ucapnya dalam konferensi pers, Kamis petang, di kantor German Publishers & Booksellers Association, Berlin, seperti dilaporkan The New York Times.

Menurut Mueller, dengan atau tanpa Hadiah Nobel itu, dia tidak berubah. Tak merasa lebih baik atau makin buruk. ‘’O.K. Katakan saja memang menyenangkan, tetapi itu tidak akan mengubah apa pun pada diriku. Naluriku adalah menulis dan itu yang akan tetap kulakukan.’’

Dalam pengumuman beberapa jam sebelumnya oleh Peter Englund, Permanent Secretary Akademi Nobel, Mueller layak mendapatkan hadiah itu karena karya-karyanya begitu nyata bertutur tentang kisah hidup tumbuh di era kediktatoran dalam kemasan bahasa khasnya. Bahasa yang menurut Englund, sangat, sangat berbeda dan khas.

Di sisi lain, Mueller juga bertutur bagaimana rasanya hidup sebagai pelarian politik. Di Jerman memang dia diterima dan sudah dianggap sebagai anggota keluarga. Namun dia tetap saja merasa asing dalam keluarganya.

Pujian Englund itu cukup mampu untuk menetralkan suasana mengingat dua hari sebelumnya dia mengkritik panel juri Nobel Sastra yang dinilainya ‘’Eurocentric’’ alias ‘’Eropa-sentris’’. Dari 10 penerima Nobel Sastra terakhir, sembilan dari Eropa. Bias dan bukan tujuan sebenarnya dari pemberian Nobel Sastra. Begitu penilaiannya dalam wawancara dengan The Associated Press.

Mueller lahir di Nitzkydorf, sebuah kota di Rumania yang penduduknya berbahasa Jerman. Ayahnya adalah anggota agen rahasia SS selama Perang Dunia II. Pada 1945 ibunya dideportasi ke Uni Soviet dan dikirim kerja paksa ke sebuah kamp yang kini masuk wilayah Ukraina.

Saat di bangku kuliah sebagai mahasiswa pengkaji Sastra Jerman dan Rusia, dia ikut menentang rezim Ceausescu dengan bergabung Aktionsgruppe Banat, kelompok para penulis pembangkang yang merindukan kebebasan berekspresi.

Karya pertamanya adalah kumpulan cerita pendek pada 1982 ketika dia bekerja sebagai guru Taman Kanak-Kanak (TK) merangkap penerjemah di sebuah perusahaan. Namun karya kumpulan cerpen itu langsung ditebas pisau sensor rezim Ceausescu. Mueller pun dipecat dari tempat kerjanya setelah menolak bekerja sama dengan polisi rahasia, Securitate, untuk membeberkan aktivitas para penulis pembangkang.

Saat bekerja sebagai guru TK itu naskahnya yang belum disensor, Niederungen (Nadirs), diselundupkan ke Jerman dan diterbitkan. Sambutan dan pujian pun mengalir. Pada Niederungen, Mueller bertutur tentang kehidupan di sebuah desa kecil dengan penduduknya setiap hari menghadapi penindasan.

Di The Lands of Green Plums dan The Appointment, pendekatan alegoris dipakai untuk menggambarkan kekejian nan brutal yang dialami rakyat jelata di bawah rezim totaliter. The Lands of Green Plums –yang disebut Englund sebagai novel terbaik Mueller itu— pada 1998 silam memenangi penghargaan International Dublin IMPAC Literary Award. Novel terakhir Mueller, Atemschaukel, merupakan finalis peraih German Book Prize.

Lyn Marven, dosen kajian Jerman di University of Liverpool yang menulis tentang karya-karya Mueller mengatakan, bahasa yang dipakai Mueller memang khas. Adalah tidak lazim bertutur tentang kehidupan di bawah kediktatoran itu menggunakan bahasa puitis dan prosa liris.

Padahal, demikian Marven, ‘’Yang kita harapkan adalah lebih pada sastra berbahasa pengakuan atau sejenis testimoni.’’

Namun Mueller lebih mengemasnya dalam bahasa puitis dan prosa liris. Bertutur tentang orang-orang tertindas dan terbuang dalam bahasa yang mengiris-iris dan menggugah. Tanpa nada memberontak.

Sara Bershtel, penerbit pada Metropolitan Books, unit usaha Macmillan yang merilis terjemahan The Lands of Green Plums dan The Appointment dalam bahasa Inggris di Amerika Serikat, mengatakan, karya-karya Mueller itu memiliki pembaca yang cukup signifikan di AS, meskipun kehadirannya acap kali dikritisi.

Di Jerman, penerbit Mueller, Carl Hanser Verlag, kini berjuang keras menyiapkan cetak ulang Atemschaukel dan juga karya-karya lain yang dulu masuk daftar hitam rezim Ceausescu. Kini juga banyak permintaan untuk menerbitkan dalam bahasa Inggris, namun belum ada penerbit yang dipilih.