PHOTO: THE MODERATE VOICE
PHOTO: THE MODERATE VOICE

BELUM genap setahun Barack Obama berkuasa di Gedung Putih. Namun sebuah penghargaan prestisius berkaliber mondial telah menjadi miliknya: Nobel Perdamaian 2009, sebagaimana diumumkan Komite Nobel pada Jumat (9/10). Sebuah pengakuan luar biasa besar setelah pekan lalu gagal menggolkan Chicago sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2016.

Tak seperti para penerima Nobel kategori lainnya yang tidak jarang masih cukup asing di telinga khalayak dunia begitu diumumkan, nama Obama jelas sudah sangat dikenal penduduk bumi. Tak terkecuali di Indonesia mengingat masa kecilnya sempat dihabiskan untuk mencicipi bangku sekolah di negara ini. Obama kala itu mengikuti ibu kandungnya yang menikah dengan lelaki Indonesia.

Menurut Komite Nobel, Obama layak mendapatkan penghargaan ini atas ‘’pelbagai upayanya memperkuat diplomasi internasional dan kerja sama antarpenduduk dunia.’’ Obama sudah membuktikannya dengan mencoba membuka dialog dengan dunia Muslim untuk menghindari benturan peradaban (clash of civilizations) antara dunia Muslim dan Barat.

Soal parameter keberhasilan memang masih multiinterpretatif. Belum genap setahun berkantor di Gedung Putih, yang dilakukan Obama kiranya baru lebih menitikberatkan pada proses. Proses yang jelas membutuhkan napas dan waktu panjang untuk mencapainya. Namun harus diakui bahwa inisiatif sudah diambil Obama, meskipun beberapa tantangan membentang.

Krisis nuklir Iran justru makin memanas. Masalah sejenis yang melibatkan Korea Utara juga masih berlarut-larut. Kampanye perang melawan terorisme global yang dimotorinya sejak Black September (tragedy WTC New York 11 September 2001) juga masih bergulir dan belum diketahui secara pasti kapan berhenti.

Para tentara AS masih berjatuhan di Afghanistan. Di Irak teror bom terus

PHOTO: ZIMBIO.COM
PHOTO: ZIMBIO.COM

berlangsung. Pada hari yang sama saat Komite Nobel Perdamaian menetapkan Obama sebagai penerimanya tahun ini, sedikitnya 42 orang tewas akibat ledakan di Peshawar, Pakistan, yang diyakini masih terkait dengan aksi-aksi di Afghanistan. Tetapi di Indonesia dua anak buah dan kaki tangan utama Noordin M Top –yang tewas menjelang Lebaran lalu—menyusul tewas oleh amunisi Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

Mungkin masih ada –meski tidak banyak jumlahnya— publik di Indonesia yang menilai Obama layak mendapatkan Nobel Perdamaian itu karena namanya yang memang sudah terkenal. Namun berbagai pandangan dari pengamat politik dan kalangan intelektual yang betebaran menghiasi halaman situs media internasional setelah pengumuman dari Oslo, Norwegia, itu toh masih mengkritisi pemberian Nobel kepada Obama.

Pada intinya mereka tidak memprotes pemberian Nobel untuk Obama, tetapi menyadarkan Presiden AS itu tentang arti penting penghargaan tersebut. Jangan sampai Nobel Perdamaian itu membuat Obama makin ‘’tidak terkendali’’ dalam menjalankan diplomasinya dengan mengatasnamakan demi kepentingan nasional AS dan dunia.

Hadiah Nobel ini seharusnya merupakan wujud pengakuan atas kerja nyata, tidak sekadar bicara. Jangan sampai dengan hadiah ini Obama kemudian justru bisa ‘’bermain seenaknya’’ – bermain di pentas diplomasi internasional yang semau gue atau malah sebagai excuse untuk berleha-leha karena belum setahun menjabat sebagai presiden toh kinerjanya sudah diakui dunia.

Obama mungkin sekali bukan sosok seperti itu. Komite Nobel jelas sudah menimbang matang ‘’dampak’’ dari keputusannya. Saya berpendapat Komite Nobel memberi penghargaan tersebut karena betul-betul sadar bahwa Obama merupakan sosok yang memiliki potensi besar untuk mengubah masa depan masyarakat dunia yang lebih toleran lagi.

Obama sudah mulai melakukannya meski memerintah kurang dari setahun. Jika dia setia untuk terus menggulirkannya, modal pendukungnya juga sudah sangat siap. Selamat, Mr Obama…