DV475028
Annie Leibovitz. PHOTO: MICHAEL GOTTSCHALK/AFP/GETTY IMAGES

Aku bukan fotografer. Memotret pun tidak mahir. Asal jepret. Jika ada yang layak disandang saat harus memotret, sebut saja diriku fotografer ‘’AFP’’. Bukan akronim Agence France Presse, kantor berita Prancis yang sudah tenar itu. Sekadar dalam mimpi pun rasanya tidak pantas.

Bukan pula AFP yang –seperti acap kali dipelesetkan teman-teman— sebagai akronim dari Asosiasi Fotografer Pengantin, yang jelas-jelas juga membutuhkan skill mumpuni. Bakat, pengetahuan, serta skill-ku juga nggak nutut.

Jika aku harus memotret, yang tentu asal klik, hasilnya pun AFP alias Arang-arang Fokus Photo. Gado-gado kan akronimnya? Ada bahasa Jawa, kata serapan dalam bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Namun maksudnya jelas. Arang-arang dalam bahasa Jawa di daerah asalku, Jawa Timur, berarti jarang. Artinya pula foto yang kuhasilkan jarang yang fokus alias sering meleset, nggak sesuai harapan.

Namun seperti orang kebanyakan, tidak mahir memakai kamera tidak menghalangiku selalu berusaha bisa menikmati foto beraneka nuansa, mencoba memaknai setiap pixel, dan mencoba merangkainya dengan lem makna karena foto –konon katanya— lebih berbicara dibandingkan seribu, beribu dan berpuluh ribu, bahkan berjuta kata.

Foto kurasakan menebarkan nyawa. Bukan sekadar produk imitasi yang sempurna atas sebuah objek dan latarnya oleh peranti teknologi. Karena setiap foto adalah nyawa, yang dinamis lazimnya kehidupan, ia menawarkan peluang berbeda bagi setiap kepala untuk mempersepsinya.

Tentang seberapa nilai atau harga nyawa sebuah foto, dengan talent, penguasaan teknik dan skill-nya fotografer lah yang meniupkan roh. Tentu nyawa itu juga tidak lepas dari objek foto. Jangan lupa pula, momentum!

OBAMA & KELUARGA
PERTAMA: Obama dan keluarga di Green Room yang diambil Annie Leibovitz pada awal September 2009. Foto keluarga pertama Presiden AS itu sejak memasuki Gedung Putih. PHOTO: WHITE HOUSE HO/ANNIE LEIBOVITZ

Annie Leibovitz…

Tentu aku tidak mengenalnya secara pribadi, namun sebatas nama sejak ABG ketika membaca berbagai artikel di majalah dan buku tentang John Lennon dan The Beatles-nya. Leibovitz, kini 60 tahun, memang bukan penulis, tetapi perempuan pewarta foto selebritas yang justru tidak bisa kuhapus dari otakku. Sementara nama-nama juru warta tulis, penulis artikel, atau buku tentang Lennon serta Beatles sudah jauh hari lepas dari batang otak besarku.

Mengapa begitu? Sederhana saja, foto Leibovitz jauh menguatkan memoriku tentang Lennon—tepatnya saat dia telanjang di ranjang bersama Yoko Ono yang dimuat di cover majalah musik kelas dunia, Rolling Stone. Apalagi hampir semua buku tentang Lennon memuat foto tersebut plus credit-nya, yang aku sendiri juga tidak tahu apakah itu sudah mendapatkan restu (courtesy) resmi atau tidak dari Leibovitz.

Sekitar tiga tahun lalu majalah Rolling Stone menurunkan laporan khusus tentang  sampul-sampulnya yang ‘’mengguncang’’ dunia. Salah satunya adalah foto Lennon telanjang di ranjang bersama Yoko Ono karya Leibovitz. Kunikmati pula kisah Leibovitz seputar karya itu yang, ternyata, merupakan foto terakhir Lennon sebelum dia tewas oleh peluru seorang penggemarnya.

Foto Leibovitz adalah kesaksian terakhir pada sosok Lennon. Mungkin juga seperti dilakukan banyak orang, sudah kucoba menelisik saksama foto terakhir Lennon tersebut sebelum ajal menjemput. Sekilas biasa saja, pose seorang pesohor dan pasangannya. Tapi aku punya persepsi atas ‘’nyawa’’ foto itu yang sangat mungkin juga akan berbeda dengan yang ada di benak dan kepala orang lain.

Kemudian saat di dunia, termasuk di Indonesia, orang belum bisa sepenuhnya lepas dari membincang Ghost, Leibovitz menghadirkan pemeran utama wanita di film itu, aktris Demi Moore yang sedang hamil telanjang di sampul majalah Vanity Fair..

Baru saja memasuki Gedung Putih, Presiden AS Barack Obama ‘’dimangsa’’ Leibovitz. Pada Januari lalu sang Presiden dipotretnya untuk portofolio ke Vanity Fair. Leibovitz kemudian mengarahkan lensanya ke istri Obama, Michelle, dan ditampilkan di sampul Vogue, majalah fashion kelas dunia, pada edisi Maret 2009.

Jumat (25/10) lalu, Kantor Kepresidenan AS merilis foto Obama dan keluarga yang diambil Leibovitz awal bulan lalu di Green Room, Gedung Putih. Selain Obama, di foto bernuansa rileks itu juga ada Michelle beserta dua anak mereka: Malia, 10 tahun, dan Sasha, 7 tahun.

Lagi-lagi sekilas hasilnya mengesankan biasa saja, layaknya foto keluarga-keluarga lain. Namun jelas foto itu punya nyawa kuat karena yang menjadi objek adalah Obama —presiden kulit hitam pertama negara adidaya dan baru saja memenangi Hadiah Nobel Perdamaian 2009 meski belum genap setahun menjabat—lengkap dengan istri dan anak-anaknya.

Lebih dari itu, ternyata itulah foto keluarga pertama yang diambil di Gedung Putih. Lagi-lagi Leibovitz beruntung. Sangat mungkin foto itu akan diturunkan media pada momentum laporan setahun Obama berkantor.

Dalam hati mungkin Anda protes, ‘’Foto gitu aja kok, apa susahnya?’’

Tapi cobalah untuk meyakinkan diri (tahu diri?) bahwa, dalam momen ini saja, Anda bukan fotografer dalam arti yang sebenarnya. Jika fotografer, coba realistis dulu bahwa Anda tidak secanggih, seterampil, dan semujur Leibovitz.

Namun sejatinya banyak di antara Anda sekarang jauh lebih beruntung dibandingkan Leibovitz. Seperti dilaporkan media AS, ketika memotret Obama sekeluarga itu hingga hasilnya dirilis, Leibovitz terancam dipailitkan akibat pinjaman senilai lebih dari US$ 20 juta untuk membayar utang-utangnya, termasuk untuk membiayai hobi yang sudah menjadi profesinya itu.

Leibovitz kan mendapatkan duit dari memotret Obama sekeluarga itu untuk membayar utangnya walaupun tidak lunas?

Bisa jadi, meski berbagai laporan menyatakan pemotretan ini free alias gratis . Tapi itu bukan urusan kita. Lebih baik kita bersiap diri memosisikan diri sebagai penyaksi pada karya terbaru Leibovitz tersebut karena yakinlah nyawa foto itu lebih bicara dan bakal tahan lama daripada kata-kata yang mengabarkan Leibovitz sedang bermasalah keuangan saat mengambil foto Obama sekeluarga ini.

Di tengah keterbatasan pengetahuan dan skill, termasuk diriku seperti yang kupaparkan pada awal tulisan ini, mari kita mencoba selalu berusaha memahami hasil karya Leibovitz. Hanya itu yang bisa kita lakukan lebih fair dibanding menjustifikasi latarnya untuk hasil karya yang sebenarnya kita juga tidak mampu melakukannya.