O Allah the Almighty
Protect me and guide me
To Your love and mercy
Ya Allah, don’t deprive me
From beholding Your beauty…

sami-ammanjuli2006.rtr
Konser Sami Yusuf di Amman, Yordania, Juli 2006. PHOTO: REUTERS

Pemuda itu menyusuri jantung Kota London, naik bus, lalu memberikan kursinya kepada seorang perempuan tua. Lirik terus mengalir, dari bahasa Inggris ke bahasa Arab, lalu Hindi. Yang tampak pun berganti ke sekeliling Taj Mahal.

Pemuda di klip video itu adalah Sami Yusuf yang bersenandung Hasbi Rabbi dari album ‘’My Ummah’’. Selama Ramadhan 1430 H lalu, beberapa stasiun televisi di Indonesia menayangkan klip itu. Di antaranya SCTV dan JTV Surabaya. Mungkin sekali masih ada beberapa stasiun lain di Indonesia yang lepas dari pengamatanku.

Nama Sami Yusuf telah kuakrabi karena kebetulan sudah mendengarkan dan menyimpan beberapa lagunya, seperti Allahu, Mother, dan Munajat.  Tetapi Hasbi Rabbi lepas dari koleksi untuk telingaku, meski dua lagu terakhir yang sudah kuakrabi tersebut awalnya sekemasan dengan Hasbi Rabbi pada album ‘’My Ummah’’ yang dirilis empat tahun lalu.

Ada beberapa alasan aku berusaha ‘’mengenal’’ dan sekarang sudah telanjur ngefans dengan penyanyi muslim Inggris kelahiran Teheran, Iran, 29 tahun lalu dari ayah berdarah Azerbaijan ini.

Pertama, terdorong suka mendengarkan syair-syair pujian dengan aneka bahasa dan warna musik. Berikutnya, nuansa berbeda melalui syair dan warna musik yang diusung Sami Yusuf.

Dari album dengan syair-syair pujian diwarnai bahasa Inggris, aku sempat mengira Sami Yusuf masih bertalian darah dengan Yusuf Islam –penembang A is for Allah— yang sebelum masuk Islam dikenal sebagai Cat Stevens lewat tembang tenar Morning Has Broken. Ternyata sama sekali tidak.

Sebelum wajahnya nampak jelas dan tag judul lagu di klip video Hasbi Rabbi itu muncul, aku sempat mengira Ahmed Bukhatir –pendendang nasyid lainnya dari Uni Emirat Arab yang lebih menonjolkan unsur acapella dengan iringan instrumen yang sangat minim— sudah beralih haluan musik pengiring karena vokalnya nyaris identik dengan Sami. Lagi-lagi aku keliru.

Musik dan syair Debu jelas-jelas berbeda. Begitu pula Haddad Alwi (yang belum lama ini menemukan pengganti Sulis, mitra vokal sejak album Cinta Rasul 1) hingga kolaborasi dengan Dwiki Dharmawan yang menghasilkan album bernuansa orkestra bersama Victoria Philharmonic Orchestra Melbourne serta Sydney Concert Orchestra. Jelas pula sangat beda.

Selebihnya, yang mendorongku tertarik dengan Sami Yusuf adalah latar kehidupan di lingkungannya yang multietnis dan kultur, prinsipnya, serta sederet julukan yang diberikan kepadanya. Majalah berita bertaraf internasional TIME menjulukinya Islam’s Biggest Rock Star; koran The Guardian Inggris melabelinya Muslim Superstar, dan sempat kusaksikan laporan khusus di saluran berbahasa Inggris televisi Aljazeera yang menyebut Sami sebagai The King of Islamic Pop.

Sami YusufSuara Muslim

Membaca berbagai laporan media internasional tentang Sami Yusuf beberapa tahun terakhir, pikiranku melayang ke penyanyi besar lain yang pernah dimiliki dunia muslim dan juga diapresiasi penghargaan UNESCO, yakni almarhumah penyanyi asal Mesir, Um Kultsum (Umi Kalsum menurut lidah kebanyakan orang Indonesia).

Namun fenomena Sami jelas berbeda, sangat berbeda, baik secara individu, lingkungan asal, lingkungan sekitar tempat tumbuh, hingga iklim dunia yang dihadapi. Um Kultsum sempat dicekal dan dimusuhi rezim di dalam negeri Mesir yang merasa ‘’tersentil’’ oleh statemen dan syairnya, sementara Sami Yusuf merasakan kebebasan di Inggris.

Jika dalam syairnya Um Kultsum juga sempat mengecam Israel akibat tindakannya di tanah Palestina yang mendapatkan apresiasi muslim, begitu pula Sami Yusuf, misalnya lewat Forever Palestine yang dirilis tahun ini. Kepedulian terhadap muslim di Irak, Lebanon, dan Sudan juga diangkat dalam syair-syairnya.

Namun, dibandingkan Um Kultsum yang syairnya selalu berbaju musik Timur Tengah, fusion kolaborasi Timur-Barat yang diusung Sami mulai hadir dan dikenal di tengah iklim dunia yang lebih menantang, tepatnya mulai Juli 2003 ketika album Al-Mua’llim dirilis dan terjual lebih dari 2 juta kopi, pada saat sebagian belahan dunia masih dilanda Islam-phobia akibat tragedi WTC New York pada 11 September 2001.

Konser Sami Yusuf di sejumlah negara di Timur Tengah, Eropa, hingga Amerika Serikat (Dallas, Chicago, Los Angeles, New Jersey, dan Detroit) –menurut berbagai laporan media— hampir selalu dipenuhi pengunjung, yang tentu hampir semuanya adalah muslim dan muslimah. Bahkan pada 2007 lalu, konser di Stadion Wembley, London, untuk mengumpulkan dana bagi muslim di Darfur, Sudan, dipenuhi pengunjung. Sebanyak 10 ribu tiket ludes terjual.

Manusia berjubah dan berturban, berkafiyeh, ber-burqah, bahkan kaum perempuan muda berjilbab dengan jins ketat, hadir dan menikmati konser-konsernya. Padahal dalam semua syairnya, Sami tidak pernah menyinggung asmara syahwat, tetapi memuji Allah dan Rasul-Nya, serta mengekspresikan kepedulian terhadap nasib manusia, khususnya sesama muslim.

Menurut Sami, selama ini umat muslim merasa ‘’dikorbankan’’, namun harapan harus selalu dinyalakan. Dia juga tidak percaya konflik antara muslim dan non-muslim tidak bisa dihindarkan. ‘’Saya tidak percaya adanya clash of civilizations (benturan antarperadaban) itu. Yang ada adalah benturan antara orang-orang yang tidak beradab,’’ ujarnya kepada TIME tiga tahun lalu.

Islam adalah agama yang menebarkan rahmat dan keindahan bagi semesta alam. Al Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk saling membenci dan menyakiti. Sebagai muslim, Sami Yusuf merasa sudah menjadi tugas muslim untuk lantang melawan setiap penindasan, membela yang tertindas tanpa memandang apa pun agamanya.

Dia mengkritik pembantaian para siswa di sebuah sekolah di Beslan, Chechnya, beberapa tahun lalu oleh gerilyawan muslim. Sami juga mengkritik pemerintah Prancis yang melarang siswanya mengenakan jilbab ke sekolah. Berbagai kegiatan amal lewat organisasinya bagi anak-anak juga acap kali dilakukan.

Tidakkah itu ‘’idola’’ bagi muslim, khususnya kaum mudanya, untuk membendung radikalisme yang penuh amarah? Pun, sebagai penawar atau penyeimbang bagi kegandrungan mereka kepada grup-grup musik yang tidak menyuarakan kepentingan umat Islam dan lebih banyak menawarkan godaan hasrat duniawi?

Mendengarkan Hasbi Rabbi (bisa pula diakses di YouTube ) serasa tidak percaya itu meluncur dari bibir seorang muslim bernama Sami Yusuf; yang sejak usia tiga tahun hingga remajanya tumbuh di London Barat, bergaul dengan teman-teman non-muslim dari berbagai etnis dan berbagai penjuru dunia, dengan pola pergaulan yang lebih longgar dan bebas.

Hampir juga tidak percaya bahwa Hasbi Rabbi itu lahir dari Sami Yusuf, penggandrung Bach, Chopin, U2, dan Sting yang sempat mencicipi ilmu musiknya di Royal Academy London, serta disokong ayahnya yang juga komponis itu.

Dengan bakatnya, serta kemampuannya memainkan piano dan biola plus beragam alat musik dari Timur Tengah, Sami Yusuf bisa saja menjadi musisi klasik yang menjanjikan. Namun dia lebih memilih di jalan Allah dengan keyakinan bakat duniawinya: menyeru untuk mencintai-Nya, mencintai Rasul-Nya, serta mencintai sesama manusia.

Sami Yusuf, bintang dunia Islam. Mungkinkah kelak kau bisa datang langsung dan menyuarakan itu semua di Indonesia, negeri berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia ini?