HIGUAIN
Gonzalo Higuain setelah dua kali membobol gawang Getafe pada laga La Liga di Santiago Bernabeu, 31 Oktober 2009. PHOTO: JASPER GUINEN/GETTY IMAGES

Apa yang Anda nantikan ketika AC Milan menjamu Real Madrid pada lanjutan pertandingan Liga Champions, pertengahan pekan ini: kembalinya Cristiano ‘’CR9’’ Ronaldo yang diharapkan mampu membawa El Real membalas kekalahan di Santiago Bernabeu dua pekan lalu?

RONALDO memang sempat dikabarkan siap untuk pertandingan penting di San Siro nanti. Tetapi kemungkinannya masih fifty-fifty. Jika turun, kemungkinan CR9 juga tidak bisa main full time. Selebihnya, tentu saja, adalah hasil pertandingan tersebut.

Namun yang terpenting, saya kira, kali pertama adalah pola permainan yang diperagakan Pelatih Manuel Pellegrini saat Real menjamu Milan dan kalah 2-3 (21/10) serta tiga laga sesudahnya: seri 0-0 lawan Sporting Gijon di La Liga (24/10), kalah telak memalukan 0-4 dari klub divisi tiga, Alcorcan, di pentas Piala Raja (27/10), hingga pertandingan terakhir La Liga melawan Getafe dan menang 2-0 pada Sabtu (31/10) malam.

Membincang pola permainan, jelas ini melibatkan tidak hanya skema main yang diterapkan, namun juga pemilihan pemain-pemain untuk menjalankan skema itu. Tanpa CR9 yang ditandai dengan kekalahan saat melawan Sevilla di La Liga sebelum menjamu Milan di Liga Champions, dilanjutkan dua hasil di luar harapan pada dua laga sesudahnya, jelas terlihat Pellegrini tidak bisa mengandalkan serangan atau counter-attack (serangan balik) yang cenderung dari sektor tengah, sehingga lawan-lawan cukup mudah membacanya dan menutupnya melalui pertahanan berlapis dengan perangkap jebakan ‘’supit kepiting’’.

Maksudnya, begitu para pemain Real berusaha membawa bola masuk ke daerah pertahanan atau wilayah rawan lawan, maka rival langsung melakukan antisipasi menjepit. Gelandang atau gelandang serang di sektor kiri dan kanan bergeser ke tengah memblokir, sementara para pemain belakang benar-benar fokus di kotak penalti sendiri.

Saat menjamu Milan, jelas terlihat betapa serangan Real bertumpu pada seorang Kaka, yang tidak lain mantan bintang I Rossoneri, sehingga sudah terbaca betul oleh bekas rekan-rekan seklubnya. Gerak Kaka sering terbaca Andrea Pirlo, Clarence Seedorf, maupun Massimo Oddo. Kaka tidak bisa leluasa memberikan bola ke Raul sebagai goal getter. Semua tahu gol Raul sebagai pembuka pada pertandingan itu lebih karena keteledoran dan tindakan ‘’amatiran’’ kiper Dida.

Saat Ronaldo main, serangan balik memang tidak cenderung lewat tengah, tetapi juga bisa dimainkan CR9 di sayap. Jika lawan terpancing oleh pergerakan dan unjuk skill Ronaldo, konsentrasi pertahanan mereka pun terpecah. Ronaldo bisa berperan langsung sebagai eksekutor penambang gol bila memungkinkan atau mengirimkan bola ke rekan di tengah maupun di depan gawang lawan bila tidak tersedia cukup celah.

Saya kira, mungkin karena kelemahan itu beberapa hari lalu Ronaldo mengusulkan Real untuk merekrut Wayne Rooney, bekas tandemnya di Manchester United (MU). Saat Ronaldo masih merumput bersama MU, Rooney sudah terbiasa tidak di posisi centre attack, tetapi sebagai penyerang sayap. Sejak Ronaldo pergi, dia pun meraih kembali posisinya sebagai penyerang tengah yang menjadi spesialisasinya ketika di Everton sebelum hijrah ke Old Trafford.

Ketika nama mantan Pelatih Timnas Spanyol Luis Aragones disebut-sebut siap mendarat di Bernabeu seturut rentetan hasil mengecewakan El Real itu, Pellegrini yang terultimatum didepak justru menemukan penyelamatan pada sosok Gonzalo Higuain saat menjamu Getafe, pada Sabtu (31/10) malam. Pada laga ini mulai tampak adanya perubahan pola main dengan lebih mengoptimalkan fungsi serangan lewat sayap, khususnya Marcelo.

Lantas di lini depan, Higuain lebih leluasa bermanuver menyusul dicadangkannya Raul. Hasilnya, meski dipaksa bermain dengan 10 orang sejak menit ke-27 setelah bek Raul Albiol diganjar kartu merah, El Real justru menang 2-0. Dua gol itu diborong Higuain –yang sebelumnya mengatakan merosotnya performa Real pada beberapa laga terakhir bukan karena faktor Ronaldo— pada menit ke-53 dan 56.

‘’Saya tahu butuh waktu untuk mengubah pola permainan. Sejujurnya saya juga tidak suka tim yang lebih mengandalkan serangan balik, saya ingin mengubahnya. Namun susah melakukannya dengan beberapa pemain baru, tetapi saya akan terus mencoba cara ini,’’ ujar Pellegrini usai laga melawan Getafe seperti dikutip Marca.

Kemenangan berkat gol-gol Higuain itu tidak semata, untuk sementara, mampu menyelamatkan Pellegrini dari pemecatan. Kemenangan itu juga membuat El Real bisa mempersempit jarak dengan pemuncak klasemen, Barcelona, yang dipaksa bermain imbang 1-1 di kandang Osasuna akibat gol bunuh diri Gerard Pique pada injury time jelang bubar. Real Madrid kini mengemas 22 poin atau terpaut hanya satu poin dengan El Barca.

Tentu Pellegrini juga berharap kembali lahir gol atau gol-gol penyelamatan untuk dirinya saat melawat ke San Siro pada laga penyisihan Grup C Liga Champions, Selasa (3/11) malam waktu setempat atau Rabu dini hari (4/11) WIB. Selain skema, tentu Higuain makin menjadi prioritas di kepala Pellegrini untuk lebih mengoptimalkan penerapan demi menjamin hasilnya di lapangan nanti.

Bagi Higuain –pemain kelahiran Prancis 21 tahun lalu yang memilih mengikuti jejak ayahnya bermain untuk Timnas Argentina— sepanjang bulan lalu dua pelatih telah dia selamatkan. Sebelum Pellegrini, golnya ke gawang Peru dalam debutnya di Timnas Argentina saat Kualifikasi Piala Dunia 2010, 10 Oktober lalu, andil menyelamatkan Pelatih Diego Maradona yang sedang kritis. Kemenangan Argentina 2-1 pada laga 10 Oktober itu menghidupkan asa Tim Tango untuk bisa lolos langsung ke putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Argentina kemudian memang lolos langsung setelah menang 1-0 di kandang Uruguay pada laga terakhirnya, 14 Oktober.

Borriello
Marco Borriello (AC Milan). PHOTO: CALCIOLINE

Keberuntungan Leonardo

Keberuntungan yang berdampak pada penyelamatan juga dimiliki Pelatih AC Milan Leonardo. Milan yang terseok-seok pada laga-laga awal Serie A musim ini sepeninggal Kaka, mendapatkan suntikan moral pada 18 Oktober dengan kemenangan 2-1 atas AS Roma. Pada laga itu, Alexandre Pato yang dilanda paceklik gol pada laga-laga sebelumnya mampu mencetak gol penentu kemenangan pada menit ke-67.

Senyum Leonardo pun makin lebar ketika Pato mencetak dua gol ke gawang Real Madrid di Bernabeu, tiga hari sesudahnya, dan mengantarkan Milan memetik kemenangan bersejarah 3-2. Padahal, seperti diakui Pato, sebelum melawan Roma dan Real Madrid itu dia sempat di ambang frustrasi karena tidak dipanggil Pelatih Timnas Brasil Dunga untuk dua laga terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2010. Pers Italia juga mulai mempertanyakan makna seorang Pato untuk Rossoneri.

Di tengah kondisi labil itu, demikian Pato, Leonardo selalu memberinya semangat. Kata sang pelatih, segalanya pasti bisa diraih asal kerja keras dan disiplin. Oleh karena itu, ketika para pemain Timnas Brasil berlatih di kampung halamannya untuk Kualifikasi Piala Dunia, begitu pula rekan-rekan setim yang juga membela timnas masing-masing di Zona Eropa maupun Afrika, Pato serius menggembleng diri di Milanello, kamp latihan Milan. Hasilnya tidak lain gol-gol ke gawang Roma dan El Real.

Perlahan tapi pasti, laga-laga sesudahnya dilalui Milan dengan kemenangan hingga kini bertengger di peringkat keempat klasemen sementara di bawah Inter Milan, Juventus, dan Sampdoria. Dari 5 kali menang, 4 kali seri, dan 2 kali kalah, Milan mengemas 19 poin. Sedangkan Inter 28 poin, disusul Juve dan Il Samp masing-masing 21 poin.

Jika El Real memiliki modal psikologis berupa kemenangan 2-0 atas Getafe, begitu pula Milan yang juga menang 2-0 ketika menjamu Parma di Serie A pada hari yang sama. Leonardo gembira konsistensi permainan timnya makin terjaga. Sepeninggal Kaka, Ronaldinho dan Seedorf mampu memainkan perannya yang makin apik dari hari ke hari.

Apalagi kini dia mendapatkan ‘’amunisi baru’’, seorang Marco Borriello. Dua gol ke gawang Parma (menit ke-12 dan 90) itu diborong Borriello, sang striker yang makin bisa diharapkan sebagai pengganti Pippo Inzaghi yang kini sudah berusia 36 tahun. Tujuh tahun dinantikan Borriello untuk bisa memberikan kontribusi seperti itu.

Selama tujuh tahun berstatus sebagai pemain Milan –namun kerap dipinjamkan dan didera cedera, dia gembira mendapatkan kepercayaan Leonardo saat melawan Parma. Tentu dia kini juga sudah makin lekat di kepala Leonardo untuk laga menjamu Real Madrid.