darkSepenggal kisah sejati yang mewarnai hidup saya: Seorang teman, yang sudah lama menyandang predikat almarhum, semasa hidupnya dikenal bengal. Kulitnya sawo matang. Tatapan matanya tajam, hidungnya cukup mancung, dan beralis tebal. Tato menghiasi kedua pundak dan di atas mata kaki kiri.

Jika tersinggung, dia tak segan-segan mengumpat, bahkan menantang berkelahi. Sekilas dia memang tidak bisa diatur, namun itu tidak benar sepenuhnya. Meski telah beristri dan dikaruniai tiga anak, teman yang bengal itu masih takut (patuh?) dengan ibunya. Tak terhitung lagi saya dan teman yang bengal ini ngobrol, merokok, dan ngopi bareng tengah malam hingga dini hari. Namun teman ini selalu mengajak menyudahi kebersamaan jika sang ibu, yang tinggal serumah, memanggilnya untuk pulang.

Suatu malam seorang rekan mengabarkan bahwa anak teman saya yang bengal itu sedang diopname di RS Islam Surabaya. Diserang kantuk yang sebenarnya sudah tidak lagi tertahankan selepas deadline di koran tempat saya dulu bekerja, saya sempatkan diri untuk membesuk.

Ketika kaki bergegas menuju kamar opname anaknya, teman yang bengal itu lebih dulu menghambur ke luar, memeluk saya erat-erat sambil menangis terbata-bata. Hati saya mengatakan, mungkin teman yang mengaku menganggur itu bingung dan butuh duit untuk biaya anak keduanya yang terserang demam berdarah. Tetapi saya keliru. Sangat keliru.

Teman itu menangis karena mengaku sangat tidak tahan dan tidak tega menyaksikan darah anaknya berulang-ulang diambil untuk dites. Saat saya hendak masuk, di kamar opname ternyata dua suster sedang mengambil darah anak teman saya itu. Sudah tiga kali lengan anak itu ditusuk jarum, tetapi tempat yang dikehendaki belum juga ditemukan. Teman saya tidak tega mendengar tangis kesakitan anaknya.

Lebih dari setahun saya tidak bercengkerama dengan teman yang bengal itu seperti malam-malam pada tahun-tahun yang lewat karena saya telah berpindah tempat tinggal. Jelang tengah malam atau dini hari selepas kerja, saya tidak bisa lagi mampir nongkrong dan ngopi di warung dekat rumahnya dalam perjalanan pulang ke rumah. Saya harus langsung pulang ke tempat tinggal baru yang berada cukup jauh di luar Surabaya.

Lima tahun lalu, pada sebuah Kamis malam, seorang rekan mengabarkan teman yang bengal itu telah dipanggil oleh Sang Khalik akibat serangan liver. Tentu kekagetan saya tak terbilang. Teman yang berbadan tegap, berotot, dan berwajah garang, tetapi suka melontarkan joke-joke segar itu  telah pergi selamanya. Di luar pengetahuan saya pula, sebelum embusan napas terakhirnya itu tiga bulan dia terkapar di ranjang rumahnya setelah sempat dua pekan dirawat di rumah sakit.

Ketika kabar duka tiba, kenangan bersama teman itu saat masih hidup berkelebat di depan mata, serasa gambar hidup. Terekam jelas ketika dia pagi-pagi berdandan rapi dan berseragam ke pabrik tempatnya bekerja. Bukan krisis moneter yang membuatnya di-PHK, tetapi –katanya kepada saya—karena berkelahi dan menjotos mandor yang berbuat semena-mena dan tidak manusiawi terhadap rekan sekerjanya.

Keadaan lah yang membuatnya berubah. Dari segi ekonomi, sebenarnya tidak terlalu bermasalah karena istri teman saya itu juga bekerja di sebuah perusahaan yang mapan, meski penghasilannya terbilang pas-pasan untuk menutupi kebutuhan keluarga. Selepas di-PHK, bermodal ijasah SMA dia masih berusaha mencari tempat berlabuh, namun kemujuran tidak pernah menghampirinya hingga membuatnya frustrasi. Dia malu terus-menerus ‘’dihidupi’’ istrinya.

Namun, oh My God, selepas kepergian abadinya dari dunia ini, karib si teman yang bengal itu memberi tahu saya bahwa almarhum kadang malak orang yang lewat di jalanan yang sepi, bahkan merampas sepeda motor orang lain. Dia juga pemakai ganja dan konsumen setia minuman keras. Semua itu dilakukan agar dia masih dipandang sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, meski harus berbohong kepada istri dan ibunya bahwa uang yang diberikan itu hasil kerjanya sebagai makelar tanah dan sepeda motor.

Rahasia itu terjaga rapi sepanjang hidupnya karena hingga ajal menjemput, dia tidak sampai menorehkan catatan kriminal di buku kepolisian. Namun Tuhan tidak pernah tidur. Lantaran hobi lamanya di SMA berganja dan bermabuk ria kambuh lagi seiring dengan ‘’pekerjaan barunya’’ itu serta untuk menyolidkan ‘’persaudaraan dengan teman-teman baru seprofesi’’, sakit pun didapat dan mengantarkannya pada kematian.

Saya terkecoh. Naluri dan indera kewartawanan saya tak jalan. Begitulah. Semasa hidupnya, di hadapan saya teman yang bengal itu tidak lebih dari seorang teman yang enak diajak ngobrol, periang tapi mudah tersulut amarahnya jika tersinggung, tetapi sayang nasib baik tidak memihaknya. Dia penganggur. Itu saja. Jika bersama saya, dia juga tidak pernah menawarkan minuman keras, apalagi ganja. Justru saya yang sering membayari kopi dan makanan pendamping ngobrol.

Saya juga tidak pernah merasa dibohongi dan merasa perlu untuk mencari tahu bagaimana kehidupannya lebih jauh, khususnya selepas di-PHK. Dia juga tidak pernah meminta bantuan saya untuk mencarikannya pekerjaan. Setahu saya dia tidak akan menyerah dan terus berusaha.

Dari peristiwa di RS Islam Surabaya tersebut, yang saya tahu, di balik perangainya yang bengal dan keras, dia adalah bapak yang lembut bagi anak-anaknya dan tidak tahan menyaksikan anak-anaknya menderita. Justru peristiwa di rumah sakit itu yang saya ingat ketika memori tentang dia muncul. Meski dari kegiatannya malak dan merampas sepeda motor itu merugikan dan menyakiti  orang lain, juga keluarganya.

Apakah saya menyesal pernah bergaul dengannya?

Bisa tidak, bisa juga ya. Dia teman yang enak dan saya tidak punya kapasitas menghakimi apakah perangai dan perbuatan yang dilakukannya semasa hidup di luar sepengetahuan saya itu selamanya salah di hadapan Tuhan, meski jelas-jelas salah menurut hukum yang berlaku di dunia dan dia telah menanggung akibat dalam wujud lain.

Yang saya sesali adalah tidak tahu kegiatannya di luar ngobrol dengan saya hingga ajal menjemputnya. Andai sempat tahu, mungkin saya akan berusaha mengingatkan dan menasihatinya meski saya juga tidak tahu apakah itu mampu meluluhkannya. Saya menyesal mengapa saat masih hidup teman saya itu tidak menceritakannya terus terang.

***

Semua kenangan saya dengan teman yang bengal itu memang telah berlalu. Semasa hidup tidak jarang orang –apa pun jabatan dan status sosialnya— memang harus menanggung dan melakukan apa yang tidak diinginkan dan sebisanya dihindari, tetapi justru tidak mampu dielakkan. Tubuh yang tegap dan kekar, jabatan dengan segenap perisai dan kosmetiknya, bukan jaminan mampu menangkal berbagai godaan dan ajakan yang ditimbulkan oleh keadaan yang menyertainya.

Almarhum teman saya yang bengal itu telah meraihnya. Apakah serangan liver yang mengantarnya pada kematian itu wujud hukuman dari Tuhan? Saya tidak tahu pasti karena memang hanya Tuhan yang Maha Tahu.

Meski tidak sepenuhnya identik, Antasari Azhar, Susno Duadji, Abdul Hakim Ritonga, Bibit Samad Rianto, Chandra M. Hamzah, Anggoro, Anggodo, dan sosok-sosok lain yang terlibat dalam krisis hubungan Polri-KPK saat ini (khususnya setelah pembeberan rekaman di Mahkamah Konstitusi) mengalami hal serupa. Mereka telah mendapatkan ‘’hukuman’’ dalam versi dan wujudnya masing-masing.

Tetapi, bagaimanapun, tetap berikan celah untuk memandang mereka sebagai manusia-manusia yang layak dimanusiakan. Hendaknya kita, apalagi juru warta, tidak telanjur sinis. Biarkan mereka menjalani ‘’hukuman’’ yang sudah dan mungkin bakal ditanggungnya. Biarkan para penegak hukum di bumi Indonesia ini bekerja dan bertindak melakukan pembuktian karena semua ini akan mereka pertanggungjawabkan kepada Tuhan.

Mengingkari sumpah adalah mengingkari Tuhan. Jika Susno mengingkari sumpah yang diucapkannya dalam rapat dengan Komisi III DPR RI, yakinlah Tuhan pasti memberikan balasan yang setimpal. Begitu pula yang lain-lainnya, tak terkecuali Ritonga, Bibit, Chandra, dan lainnya.

Mengapa dalam krisis Polri-KPK ini banyak di antara kita yang gampang mengumpat, mencela, mengejek, dan merendahkan orang-orang yang terlibat? Mengapa kontrol diri terhadap adat ke-Timur-an dalam berperilaku gampang hilang dalam menyikapi masalah yang –saya yakini— kita juga tidak sepenuhnya paham apa yang ada di balik semua ini? Demi gengsi, sok tahu, atau sok gaul?

Tanpa berpikir jernih dan prinsip diri yang kuat, jangan-jangan kita malah ditunggangi (atau sengaja siap untuk ditunggangi) kepentingan pihak lain. Apa selama ini kita sudah cukup bersikap adil dan berani meneriaki korupsi –dalam arti luas— di rumah sendiri atau malah takut karena khawatir kehilangan pekerjaan, status, dan takut tidak bisa makan?

Bagaimana kepedulian kita terhadap korupsi di luar bisa terasah jika di rumah sendiri kita justru menutup mata dan seolah-olah merasa tidak terpenjara? Dalam kasus krisis Polri-KPK ini, saya kira, tidak memihak salah satu di antara mereka bukan berarti kita tidak punya sikap.