Merah PutihJangan mengerdilkan bangsa sendiri dengan berbagai pernyataan yang melemahkan semangat.

DUA jempol untuk Ketua Umum PSSI Nurdin Halid yang melontarkan kalimat itu. Saya bukan ngefans kepada Nurdin, tetapi kalimat tersebut layak dijadikan quotable quote, dikenang, apalagi jika Indonesia benar-benar terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia (World Cup) 2022.

Dalam wacana ini, saya tidak menyoal sosok Nurdin –yang pernah dan sekarang kembali terlibat masalah hukum— tetapi lebih pada ide besar yang ditawarkan lewat organisasi yang dipimpinnya demi Indonesia.

Di kubangan lumpur mutiara tetap mutiara. Yang terbilang itu nilainya, meski tidak jarang nilai sebuah ide tidak mampu dihitung dengan angka-angka. Sebagai sebuah bangsa, kita memang harus punya cita-cita: gantungkan itu setinggi langit.

At-thayr yathiir bi janakhaihi wa insaan yathiir bi himmatihi (Burung terbang dengan kedua sayapnya, manusia terbang dengan cita-citanya). Demikian pepatah Arab mengajarkan dalam kehidupan ini.

Jangan ada prasangka macam-macam, demi kepentingan pribadi Nurdin misalnya. Jika tercapai, sebagaimana kita, pada tahun 2022 itu Nurdin juga belum tahu apakah masih diberi umur oleh Tuhan. Sebuah upaya jelas membutuhkan pengorbanan, PSSI pun mengalokasikan dana US$ 24 juta atau sekitar Rp 240 miliar demi membawa event Piala Dunia itu ke Tanah Air. Duit dari mana?

Dana tersebut, demikian Nurdin saat mengenalkan konsultan bidding Michel G Bacchini dari Swiss, Minggu (1/11), berasal dari PT Bakrie Capital Indonesia –anak perusahaan Bakrie Brothers milik keluarga Bakrie— yang bertindak sebagai sponsor utama. Sebagai kompensasi dari upaya yang sejatinya juga mengesankan gambling alias untung-untungan ini, PT Bakrie Capital memiliki seluruh hak (rights) komersial dari perhelatan industri sepakbola tersebut.

Bidding itu telah disetujui oleh Pemerintah RI lewat surat yang ditandatangani Menko Kesra (kala itu) Aburizal Bakrie pada Juli lalu. Menurut Nurdin, setidaknya 11 departemen telah mendukung bidding itu. Persetujuan Pemerintah RI mutlak diperlukan untuk bisa melalui beberapa tahapan yang sudah digariskan Federasi Asosiasi Sepakbola Internasional (FIFA). Tahap awal sudah diterima FIFA, namun Indonesia masih harus melalui beberapa tahapan lagi, juga bersaing dengan sejumlah negara berkeinginan serupa.

Piala DuniaHaruskah kita sinis dan pesimistis? Tentu tidak. Seharusnya kita tetap optimistis, namun jangan sampai kelewat berharap, dengan beberapa alasan sebagai berikut:

Pertama, mari melihat diri sendiri. Jelas tidak semua yang kita inginkan pasti terpenuhi atau terkabul. Namun tiadanya jaminan absolut seyogianya tidak lantas membuat kita tidak berdaya upaya. Hasil urusan belakangan. Lagipula, dalam argumen ekstremnya, apa sih susahnya memberikan dukungan jika bidding tersebut juga tidak mengusik kepentingan pribadi dan keluarga?

Kedua, sebagai negara yang masuk lima besar di planet bumi ini untuk kategori jumlah penduduk, event Piala Dunia jelas bakal memberikan banyak keuntungan untuk lebih menunjukkan kapasitas Indonesia di pentas global. China, India, AS, dan Rusia telah menunjukkan kekuatannya di sektor industri dan perdagangan. Kecuali India yang mengandalkan prestasi mondial olahraganya di cabang kriket –sebagaimana bulutangkis bagi Indonesia, meski belakangan juga turun pamor—semua tahu China, AS, dan Rusia adalah jago-jago di ajang multievent olimpiade.

Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, telah menunjukkan mampu menggulirkan proses demokratisasinya secara aman dan lancar, sehingga bisa menjadi teladan bagi dunia muslim dalam berdemokrasi. Saat dunia saat ini masih merasakan dampak krisis keuangan global, harapan juga tertuju pada Indonesia sebagai salah satu motor pemulihan dari kawasan Asia.

Tak mengherankan apabila beberapa lembaga, pengamat, serta pelaku ekonomi memperkirakan bakal lahir tambahan ‘’I’’ pada akronim BRIC sebagai kekuatan baru ekonomi dunia. Tambahan ‘’I’’ itu merujuk pada Indonesia, sedangkan BRIC adalah akronim dari abjad depan Brasil (tuan rumah Piala Dunia 2014 dan tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2016), Rusia, India, dan China.

Baru saja diterimanya Indonesia sebagai anggota permanen G-20 kiranya merupakan salah satu langkah menuju kekuatan baru ekonomi dunia tersebut. Dengan keanggotaan baru tersebut –di luar keanggotaan di berbagai organisasi sebelumnya seperti ASEAN, APEC, OKI, dan lainnya— maka suara dan lobi Indonesia pun kian diperhitungkan di percaturan global. Misalnya, kini dunia benar-benar melihat pada Indonesia sebagai pelopor dalam mengatasi pemanasan global (global warming). Tak mengherankan bila dalam pencalonan ini Indonesia menawarkan logo ‘’Green 2022 Indonesia’’ kepada FIFA.

Seperti beberapa orang yang terlibat obrolan dengan saya, mungkin sebagian besar yang sinis, bahkan pesimistis, bermula dari kondisi perekonomian Indonesia saat ini dan prestasi tim nasionalnya. Namun, sejatinya pesimisme berdasarkan penilaian seperti itu tidak cukup kuat. Apakah tahun 2022 kita membayangkan perekonomian Indonesia masih seperti sekarang? Apakah pada tahun itu prestasi timnas sepakbola Indonesia juga seperti sekarang, peringkat ke-129 dalam ranking terbaru FIFA?

Lihatlah Afrika Selatan, tuan rumah Piala Dunia 2010 yang saat tulisan ini diturunkan bertengger di peringkat ke-85 FIFA. Peringkat yang terbilang jauh di bawah para kontestan lain yang sudah memastikan maupun yang masih berpeluang lolos ke putaran final tahun depan.

‘’Kalau kita bandingkan dengan Afrika Selatan, Australia, dan Qatar, mungkin saja mereka memiliki keunggulan di satu sisi, tapi tidak di bidang lain. Kondisi perekonomian Afrika Selatan tak jauh lebih baik dibanding Indonesia,’’ kata Nurdin.

Nah, dengan menjadi tuan rumah Piala Dunia, Indonesia bisa menunjukkan segenap potensi dalam pelbagai sektor yang dimilikinya. Tak hanya di cabang olahraga, khususnya sepakbola, tetapi juga diharapkan mampu mengerek laju perekonomian, khususnya dari sektor pariwisata.

Selain itu, negara ini juga bisa berharap adanya modernisasi infrastruktur, khususnya pada beberapa stadion sepakbolanya, agar berstandar internasional. Bukankah semua itu bermanfaat alias masih bisa dimanfaatkan dalam kurun waktu yang cukup lama setelah perhelatan Piala Dunia usai. Namun yang terpenting adalah makin tebalnya Indonesia di peta dunia, sehingga makin banyak warga dunia yang memahami bahwa ‘’Indonesia bukan bagian dari Bali’’, namun sebaliknya.

Menjadi tuan rumah Piala Dunia memang memberikan tantangan berat, tetapi tidak ternilai harganya, bagi seluruh elemen bangsa ini untuk menyukseskan perhelatan olahraga terfavorit di planet bumi ini. Jika event internasional untuk cabang-cabang lain sudah pernah digelar di republik ini dan sukses, mengapa tidak dengan Piala Dunia?

Toh pada perhelatan Piala Asia 2007, Indonesia terbilang sukses sebagai tuan rumah. Kemudian ada ‘’noda’’ akibat batalnya lawatan Manchester United pada 20 Juli 2009 karena teror bom di Jakarta, tiga hari sebelumnya. Namun itu semua merupakan tantangan yang perlu dijawab, tidak dihindari, bahkan ditakuti.

Ketiga, karena Indonesia masih harus bersaing dengan negara-negara lain, seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Qatar, serta sejumlah negara di Amerika Selatan, dalam pencalonan menjadi tuan rumah itu sebaiknya tidak memasang ‘’harga mati dengan dalih harga diri’’ alias memaksakan diri sebisa mungkin semua pertandingan digelar di Indonesia. Jika memungkinkan sangat bagus karena idealnya memang begitu.

Menteri Keuangan Thailand Korn Chatikavanij, di sela-sela penutupan KTT Ke-15 ASEAN di Hua Hin, bulan lalu, menyerukan agar ASEAN maju sebagai tuan rumah bersama di Piala Dunia 2022 itu, sebagaimana saat Piala Asia 2007. ‘’Korea Selatan dan Jepang bersama-sama menjadi tuan rumah di Piala Dunia FIFA pada 2002. Jadi saya lihat tidak ada alasan ASEAN tidak mampu melakukan hal serupa. Seluruh negara bisa jadi tempat menggelar pertandingan,’’ ujarnya.

Namun Nurdin tidak cukup yakin FIFA akan mengizinkan tuan rumah bersama itu. Jika Indonesia pada akhirnya disetujui sebagai tuan rumah, katanya, mungkin FIFA hanya mengizinkan Indonesia minta bantuan meminjam stadion di negara-negara lain yang dikehendaki, seperti Australia, Thailand, atau negara terdekat seperti Malaysia dan Singapura, atau lainnya.

Yang jelas, tahun 2022 masih cukup lama dan Nurdin beserta PSSI harus siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk yang datangnya dari FIFA. Terpenting, semua harus dikembalikan kepada kepentingan bangsa ini, demi Indonesia Jaya.