Foto0411
M. Toha Takaba. PHOTO: NORMAN

Jalan hidup seseorang memang sulit diterka, namun kadang bisa dirumuskan andaikata dia menginginkan dan berjuang tanpa lelah untuk menggapainya. Keyakinan seperti itu dilalui dan hasilnya kini bisa dinikmati M. Toha Takaba, pemilik usaha pembuatan bola sepak berlabel ‘’Nusa INA Sport – Soccer Ball International’’ yang beralamat di Jalan Raya Parungkuda (Sukabumi-Bogor), Desa Bojong Kokosan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Sebelum 1995 silam, lelaki yang kini berusia 40 tahun itu masih berdagang bola secara asongan di kawasan Tugu Monumen Nasional (Monas) Jakarta. Tiga tahun lamanya dia mencari penghidupan dari penghasilan yang tidak pasti. Tak hanya tergantung pada sepi dan ramainya pengunjung Monas, tetapi juga lebih pada seberapa banyak di antara mereka yang membeli barang dagangannya.

Lelah dengan kondisi itu, pada 1995 M. Toha banting haluan dengan melirik usaha mandiri membuat bola. Keputusan ini tergolong nekat mengingat dia tidak memiliki keahlian khusus (skill) dalam usaha membuat bola. Tanpa mau menyebutkan jumlahnya, modal awalnya juga tidak besar. Itu pun hasil pinjaman dari kawannya dan juga digunakan untuk membeli sebuah peralatan manual sederhana dan mengontrak rumah di Bojong Kokosan, yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya sekarang.

Dibantu sembilan pekerja pada awalnya, M. Toha memantapkan hati untuk serius menekuni usaha pembuatan bola. Kini untuk memproduksi bola M. Toha juga memberdayakan warga di lingkungan sekitarnya yang berjumlah sekitar 100 orang.

‘’Kalau saya pikir mustahil rasanya tanpa modal bisa membuat usaha. Namun karena izin Allah, saya bisa mendapatkan pinjaman dari teman,’’ ujar M. Toha mengenang saat menerima Tabloid FORSAS di tempat usahanya.

Perlahan tapi pasti, usaha suami dari Heni Kusrini, 31 tahun, ini mulai membuahkan titik terang. Namun bukan berarti semuanya berjalan lancar. Ketika usaha bapak dua anak itu mulai membuahkan harapan, krisis moneter (krismon) 1997-1998 datang menghantam. Bahan baku memang tidak sulit didapat, namun dampak krismon membuat harganya di pasar membubung.

Meski tak mutlak sama, kondisi serupa dirasakan M. Toha saat ini akibat dampak krisis keuangan dunia. Namun semua itu tidak membuat M. Toha bersedih, apalagi sampai patah arang. Dia merasa sudah diberi kemudahan oleh Allah, sehingga selalu berusaha untuk mensyukurinya dalam kondisi apa pun.

‘’Saya berusaha selalu berpikiran positif. Saya anggap itu hal yang wajar. Yang penting bahan yang saya gunakan bermutu baik dan berkualitas. Jadi bahan dan harga jualnya berbanding lurus. Bahan bagus, ya harga jualnya juga bagus,’’ tutur ayah dari Yulina Takaba dan Muhammad Ali Takaba ini.

Kendala lain yang dirasakan M. Toha pada awal-awal usaha adalah memasarkan produk bolanya. Karena masih tergolong baru, tentu belum banyak konsumen yang mengenalnya. Tidak ada suatu usaha baru dibuka langsung diburu konsumen. Jika ada, demikian M. Toha, biasanya itu adalah usaha yang menjual berbagai kebutuhan pokok rumah tangga.

‘’Kondisi sulit dalam pemasaran itu saya alami selama tiga tahun. Saat itu rumah juga masih ngontrak dan harus dibayar tiap tahun. Berkat dukungan istri dan kedua anak saya, juga saudara dan teman-teman, saya bisa melewati tantangan itu. Sedikit demi sedikit, usaha saya mulai maju, sehingga kami tidak perlu lagi ngontrak. Saya bisa membeli sebuah rumah, meski sederhana,’’ ujarnya.

Meski tetap menghidupkan spirit kerja keras dan keinginan terus maju, M. Toha tidak mau ngaya. Jika tidak ada order, produksi bola hanya 500 hingga 1.000 buah per bulan untuk didistribusikan kepada konsumen (pemesan) yang sudah pasti sesuai kesepakatan. Jadi tidak diproduksi, kemudian dikirim atau dititipkan di toko-toko. Namun jika order lagi ramai, produksi per bulan bisa mencapai 2.500 hingga 3.000 bola.

Pemesan terbanyak memang berasal dari wilayah Jawa Barat. Meski demikian, pesanan juga diterima M. Toha dari berbagai wilayah lain di Indonesia, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera (Lampung, Bengkulu, Palembang, hingga Aceh), Makassar, Ambon, Kalimantan, hingga Jayapura (Papua).

Harga per bola variatif, mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 250 ribu, disesuaikan dengan bahan bakunya. Untuk membuat sebuah bola dibutuhkan waktu sekitar dua jam.

‘’Alhamdulillah,  sampai kini masih ada konsumen yang datang untuk membeli atau mengorder,’’ kata M. Toha, yang saat musim kampanye Pemilu Legislatif April lalu juga kebanjiran order dari para caleg maupun partai politik.

Dia lantas membagi resep usahanya hingga mampu bertahan. Menurut M. Toha, untuk produksi bolanya beberapa hal yang selalu diperhatikan adalah: pemilihan bahan baku berkualitas baik, sehingga bola yang dihasilkan juga berkualitas serta sesuai harapan; kualitas bola benar-benar bisa dirasakan pada saat dipakai di lapangan; selalu menjauhi godaan untuk memasukkan bahan-bahan berkualitas buruk, seperti goni, dalam pembuatan bola; bola yang dipakai selalu diupayakan bertahan lama; kerapian, warna, corak dan motif; serta harga yang cukup terjangkau oleh konsumen.

‘’Rezeki yang ada saat ini tetap harus kita syukuri. Ke depannya jelas kita selalu berusaha menjadikan produk kita lebih baik lagi, sehingga juga menghasilkan keuntungan yang lebih baik. Yang penting saat ini kita harus mensyukuri rezeki yang ada,’’ ucapnya.

Soal rezeki, selalu mensyukuri pemberian-Nya memang sebuah keniscayaan yang membahagiakan. Namun dalam dunia usaha, M. Toha selalu dipaksa agar merasa tidak cepat puas. Oleh karena itu, dia harus mengikuti perkembangan berkaitan dengan seluk-beluk produknya serta tidak segan bertanya kepada yang lebih tahu.

‘’Tentu saya harus selalu optimistis untuk memajukan usaha ini agar dapat berkembang menjadi lebih baik dan menjadi lebih besar. Pendeknya, lebih maju dari yang sekarang,’’ kata M. Toha.

Solichin – Laporan: Norman (Sukabumi)

Tabloid FORSAS Edisi Khusus (Oktober-November 2009)