DSCN1025
Gigin Mardiansyah (tengah) dan kawan-kawan yang tak lelah berkreasi lewat boneka Horta. PHOTO: ARIF MARGOLANG

Ada filosofi dalam pepatah Jawa bahwa ngelmu iku tinemu akanthi laku. Ilmu hanya bisa didapat dengan menjalani atau mempraktikkannya. Ilmu pun bukan hanya yang didapat di sekolah, tetapi juga dari hasil proses belajar dari membaca kehidupan demi kehidupan itu sendiri. Hanya dengan ketekunan dan serius menjalaninya, maka impian bisa diraih.

Dari belajar itu pula, pada 2004 silam tujuh mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) Angkatan 2001 dan 2002 mengasah kreativitas lewat sebuah produk boneka dengan nama yang cukup unik, Horta, yang diambilkan dari nama program studi mereka, Hortikultura.

Di bawah bimbingan dosen IPB, Dr.Ir. Ni Made Armini Wiendi, MSc, ketujuh mahasiswa itu –Gigin Mardiansyah, Asep Rodiansah, Imam R. Izzati, Rachmatullah, Nisa Rahmania, Agustina Nugraheni, dan Nurheidy—mengajukan proposal untuk berpartisipasi dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti).

Bervisi ’’Membangun Generasi Cinta Lingkungan yang Dapat Menghijaukan Dunia Melalui Kreasi Mainan Edukatif, Kreatif, dan Imajinatif’’, terciptalah Horta yang unik. Horta terbuat dari limbah serbuk gergaji dari jenis kayu tertentu, benih sejenis rumput golf namun varietasnya dirahasiakan karena merupakan paten perusahaan, stocking, dan asesoris lainnya.

Namun Horta bukan mainan semata, melainkan juga sebuah media tanam yang dikemas dalam bentuk boneka. Bila disiram dengan air setiap hari pada bagian atas, maka kepala boneka itu akan ditumbuhi rumput layaknya rambut di kepala manusia.

Dengan demikian, anak-anak dapat belajar mengamati pertumbuhan tanaman sambil bermain. Permainan dimulai ketika anak merendam boneka dengan air dan menyiram kepalanya setiap hari. Bukan rahasia bahwa cukup banyak anak suka bermain air. Saat itu pula mereka diajak mengamati pertumbuhan tanaman di kepala Horta.

Bila rumput sudah tumbuh terlalu tinggi atau panjang, anak-anak pun bisa memangkasnya sebagaimana memotong rambut di kepala manusia. Anak-anak bisa memangkasnya sesuai keinginan dan seleranya.

anak-anak dan HORTA
Anak-anak dan boneka Horta. PHOTO: DOKUMENTASI D'CREATE

Dengan demikian, selain memanfaatkan limbah organik untuk diolah menjadi suatu karya inovatif yang bermanfaat, Horta juga berperan mengenalkan dunia tanaman dan lingkungan sejak dini kepada anak-anak lewat media yang manarik. Selain itu, Horta juga mengajarkan kecintaan dan rasa tanggung jawab anak-anak terhadap lingkungan sekitar melalui kegiatan bermain, serta melatih jiwa sabar, disiplin dan tanggung jawab sejak dini kepada anak-anak.

‘’Alhamdulillah, proposal yang kami ajukan lolos dan mendapatkan modal awal untuk mengadakan penelitian dan mengembangkan boneka Horta sebesar Rp 4.750.000 (empat juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah). Dengan modal tersebut, kami terus berupaya mengembangkan boneka Horta menjadi sebuah usaha yang serius dan bisa bermanfaat untuk orang banyak,’’ tutur Gigin.

Sejak saat itu hingga tahun 2007, ketujuh mahasiswa tersebut memproduksi boneka Horta, dibantu mahasiswa satu angkatan dan para junior mereka di Departmen Agronomi dan Hortikultura IPB. Mengingat boneka Horta merupakan jenis produk inovasi baru, diperlukan waktu yang cukup lama untuk mengenalkannya kepada masyarakat.

Awal pengenalan juga terbilang konvensional, yakni menjualnya di atas gelaran tikar di koridor kampusnya dan dititipkan ke beberapa penjual asongan serta di kios-kios di sekitar kampus IPB. Perlahan-lahan boneka Horta juga mengisi stand pameran, meski masih harus patungan sewa stan dengan peserta pameran lainnya.

’’Kalau pemasaran dulu karena masih pakai sistem konsinyasi. Jadi ada sebagian boneka yang dibawa sama distributor tapi nggak dikembaliin lagi. Kalau dikembaliin, bonekanya sudah rusak,’’ ujar Gigin.

Di tengah keterbatasan dana dan tantangan tersebut, toh tujuh mahasiswa tersebut tidak putus asa. Mereka terus mencari cara dan celah agar Horta semakin dikenal masyarakat. Boneka Horta pun diikutkan berbagai lomba, seperti Innovative Entrepreneur Challenge (ITB), Business Plan (Menpora), Lomba Wirausaha Muda Mandiri, serta Lomba Wirausaha Muda Berprestasi (Menpora).

‘’Walaupun tidak pernah menjadi juara dalam lomba-lomba tersebut, tapi tujuan kami bisa tercapai. Yaitu mengenalkan boneka Horta ke masyarakat luas menjadi kenyataan. Alhamdulillah saat ini boneka Horta sudah menjelajah hampir di seluruh wilayah Indonesia,’’ kata Gigin mengenang kepada Tabloid FORSAS.

070422_152539Mulai tahun 2007, tiga ibu rumah tangga di Desa Ciomas Rahayu, Bogor, mulai dilibatkan dalam proses produksi. Sejak saat itu pula permintaan Horta semakin meningkat, sehingga kini tidak kurang 40 ibu rumah tangga di Ciomas Rahayu dilibatkan dalam proses produksi plus lima tenaga pemasaran.

Saat ini rata-rata produksi Horta adalah 700 pieces (buah) per hari atau sekitar 15.000 hingga 20.000 pieces per bulan dengan harga per buahnya Rp 10 ribu. Beberapa jenis produknya, antara lain, Boneka Horta Cup yang merupakan produk pertama, lalu ada juga Horta Panda, Horta Kura-Kura, Horta Platipus, Horta Sapi, Horta Kodok, Horta Babi, dan Horta Kucing.

Namun dari tujuh penggagas awal Horta, yang tersisa kini hanya tiga orang: Gigin Mardiansyah, Asep Rodiansah, dan Nisa Rahmania. ‘’Teman-teman yang lainnya memilih untuk mencoba peruntungan di usaha lain,’’ ujar Gigin.

DSCN0754Tahap pembelajaran dalam upaya membentuk usaha mandiri telah mereka tempuh mulai 2004 hingga 2008. Mulai 2009 ini usaha boneka rumput Horta bernaung di bawah usaha yang legal secara administrasi dalam sebuah perusahaan komanditer (CV) bernama D’Create yang berdomisili di Kampung Selahuni RT 03 / RW 06, Desa Ciomas Rahayu, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor.

Mewakili teman-temannya, Gigin berharap Horta bisa eksis dan terus berkembang. ’’Kami berharap Horta bisa pula dijadikan salah satu media untuk kampanye go green dan bermanfaat untuk masyarakat dunia dalam upaya mencegah global warming (pemanasan global).’’

Ke depan Gigin dkk juga terus berupaya menghasilkan berbagai inovasi dalam bentuk dan jenis tanaman yang digunakan. Selain itu, demi terus memperluas peredarannya, mereka akan bekerja sama dengan pihak-pihak yang peduli dengan lingkungan, serta sekolah-sekolah yang punya kepentingan mengenalkan siswa didiknya sejak dini pada tanaman.

’’Oleh karena itu, selain menilai bekerja adalah ibadah dan memperkokoh kerja tim lewat komunikasi, kami harus terus belajar dan berpikiran selalu belum tahu, sehingga segalanya akan selalu menarik untuk dipelajari. Bagaimanapun sukses adalah milik bersama,’’ ucap Gigin.

Berbicara soal tantangan memproduksi Horta, Gigin mengatakan yang terberat terjadi pada masa-masa awal, khususnya pada bahan baku benih rumput. ’’Alhamdulillah sekarang kami sudah bisa impor benih rumput sendiri dan saat ini terus dilakukan riset tentang benih rumput itu agar kami bisa memproduksi benih rumput sendiri,’’ kata Gigin.

Solichin – Laporan: Arif Margolang (Bogor)

Tabloid FORSAS Edisi 05/September 2009