Lani Cahyaningsari di ''galeri'' lukisan kaleng bekasnya. PHOTOS: NORMAN

Berawal dari bakat melukis dan cinta kepada anak-anak, Lani Cahyaningsari mendapati bekas kaleng kerupuk tidak hanya sebagai media bagi ekspresi artistiknya, tetapi juga lahan usaha yang menjanjikan. Hasilnya cukup memuaskan.

MENYAKSIKAN anak-anak tersenyum gembira melihat gambar bunga, kupu-kupu, pesawat, Mickey Mouse, dan lainnya sangat menyentuh hati Lani. Kedekatan dan cinta perempuan berusia 35 tahun ini kepada anak-anak mendorongnya untuk terus berkarya hingga pada tahun 1998 silam dia menemukan kaleng bekas kerupuk sebagai media baru bagi ekspresinya.

Jauh dari perkiraan Lani, ternyata tidak hanya anak-anak yang menyukai lukisan di kaleng bekas itu, tetapi juga orang dewasa, khususnya ibu-ibu yang memiliki anak kecil. ‘’Karena warna yang saya gunakan bisanya yang cerah dan cemerlang, sehingga bila dilihat atau dipandang memiliki daya tarik tersendiri,’’ ujar Lani kepada Tabloid FORSAS.

Kegiatan melukis pada kaleng bekas itu kemudian tak sekadar hobi, tetapi sudah menjadi lahan bisnis baru untuk Lani. Atas saran ayah mertuanya, Budi Heryanto, 59 tahun, Lani menjadikan restoran milik sang ayah mertua sebagai ‘’galeri’’ untuk memajang karya-karyanya. Dengan demikian, selain aneka menu di restoran itu, pengunjung dan pelanggannya juga bisa menikmati lukisan-lukisan Lani.

‘’Tahap demi tahap, saran bapak mertua saya ternyata membuahkan hasil,’’ tutur Lani, ibu dari tiga anak –Alief Roseno, 10 tahun; Jasmine Roseno, 6 tahun; dan Qinthara Roseno, 3 tahun— tersebut.

Didukung penuh suaminya, Judi Roseno, 38 tahun, Lani makin mantap berkarya. Karena pembeli lukisan yang nota bene pengunjung dan pelanggan Restoran INNS milik mertua di Jalan Raya Cilandak KKO Nomor 2 Kampung Kandang, Ragunan, Jakarta Selatan, itu datang dari berbagai kota, otomatis karya-karya Lani juga telah merambah berbagai wilayah di Indonesia. Sebutlah Surabaya, Jember, Bali, Mataram, Lombok, Pontianak, Samarinda, Makassar, Medan, Palembang, Padang, Pekanbaru, Jambi, Bandar Lampung, dan kota-kota lain. Berkat sosialisasi seperti itu pula order juga berdatangan dari kota-kota tersebut.

‘’Bahkan ada pengunjung yang makan (di restoran) berasal dari luar negeri, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, juga tertarik membeli lukisan saya,’’ kata Lani dengan raut muka bangga.

Memang tidak cukup alasan bagi Lani untuk mengendurkan semangat dalam bisnis lukisan bermedia kaleng bekas ini. Bahan-bahan hampir selalu tersedia. Meski demikian, Lani juga masih menyediakan wadah untuk menampung limbah kaleng dari warga sekitar tempat tinggalnya. Ukuran kaleng pun bervariasi, mulai dari yang kecil, sedang, dan besar.

Dengan adanya penampungan kaleng bekas itu, masyarakat di sekitar kediaman keluarga Lani juga terbantu. Selain andil menjaga kebersihan lingkungan, mereka juga bisa mendapatkan tambahan pemasukan meski tidak besar.

‘’Karena dari kaleng yang dikumpulkan itu ada yang saya beli, selain ada yang memang diberi begitu saja oleh warga,’’ tutur Lani menjelaskan.

Untuk menjamin stok kaleng bekas, Lani juga memesan kepada para pedagang es buah dan es campur. Jika stok kaleng bekas masih juga belum mencukupi atau tuntutan order menghendaki, maka Lani juga tidak segan memanfaatkan kaleng baru.

Dalam mengerjakan hobi yang kini sudah menjadi bisnis ini, Lani dibantu tiga pekerja. Tugas mereka adalah memoles atau mewarnai motif dan desain –khususnya di kaleng baru—  yang masih dikerjakan Lani sendiri. Jika ada pesanan, tiga pekerja tersebut mampu menghasilkan 20 hingga 30 buah lukisan di kaleng berukuran kecil. Untuk yang berukuran besar, meski Lani turun langsung membantu para pekerjanya, mereka menghasilkan dua hingga tiga buah lukisan per hari.

Harga jual lukisan kaleng itu bervariasi sesuai ukurannya. Untuk lukisan kaleng kecil dipatok Rp 15 ribu, ukurang sedang Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu, dan Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu untuk yang berukuran besar. Lani memilih memajang produk-produk karyanya itu hanya di Restoran INNS milik mertuanya. Jadi tidak didistribusikan ke toko-toko.

Meski demikian, perlahan tapi pasti, semakin banyak orang yang tahu. Order juga terus mengalir, termasuk dari para orangtua yang akan merayakan ulang tahun anak-anaknya di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

‘’Desain atau pola yang banyak digemari anak- anak, terutama untuk hadiah ulang tahun, biasanya dipesan langsung karena mereka ingin menambahkan kata-kata, memberi ucapan selamat, dan sejenisnya,’’ kata Lani.

Model dan bentuk lukisan kaleng juga disesuaikan dengan kegunaannya, seperti tempat tisu, tempat pensil/ pena, tempat buku, celengan atau tempat untuk menabung, tempat sampah, dan lain-lain. ‘’Bila ada yang menginginkan untuk fungsi lain, kami juga siap melayani,’’ ucap Lani.

Lazimnya orang menjalankan bisnis, hambatan juga pernah dialami Lani. Saat usahanya mulai berjalan, dia terbentur pada permodalan saat pesanan mulai meningkat. Namun Lani menilainya lebih sebagai tantangan yang harus dijawab dengan tindakan nyata. Dukungan keluarga pun menjadi senjata ampuh bagi Lani untuk terus mengobarkan spirit usahanya. Begitu pula saat harus memaksimalkan metode pemasaran produknya.

‘’Terus berusaha saja karena saat itu saya maklum dan sangat menyadari masih pendatang baru di usaha ini, dengan media yang terbilang baru pula, apalagi dengan produk berbahan dasar kaleng bekas,’’ tuturnya.

Lakukan segala sesuatu dengan hati senang, tanpa beban, niscaya hasilnya bakal memuaskan. Keyakinan itu yang dipegang teguh Lani. Dia juga tidak takut akan mendapatkan pesaing dari usahanya ini. Oleh karena itu, Lani juga tidak segan membagi ilmu dan keterampilan melukisnya kepada mereka yang ingin belajar, termasuk kepada anak-anak di sebuah panti tunarungu di Jakarta.

Sedangkan bagi para ibu yang berkeinginan mengajarkan kepada anak- anaknya melukis dengan membentuk sebuah kelompok belajar, Lani juga siap dipanggil menjadi instruktur atau guru les privat. ‘’Ilmu dan keterampilan saya ini semoga juga bermanfaat bagi orang lain, bisa diteruskan, sehingga tidak hilang ditelan bumi.’’

Solichin – Laporan: Norman I Jakarta

Tabloid FORSAS Edisi 07/November 2009