Suswanto. PHOTOS: NORMAN

Tak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini. Selagi ada keinginan untuk maju, hanya usaha pantang menyerah –apa pun bentuk dan sifatnya— yang memungkinkan untuk mencapai kesuksesan.

KETIKA nama DR. Ir. Ciputra disebut, apa yang terlintas di benak Anda? Tak lain seorang pengusaha papan atas yang sukses, pengembang (developer) properti dengan kiprah yang sudah melampaui batas wilayah Nusantara, serta motivator ulung di bidang kewirausahaan.

Namun pernahkah Anda membayangkan bagaimana Pak Ci –sapaan akrab DR. Ir. Ciputra yang juga President JAYA Group, Metropolitan Group, Ciputra Group, dan Universitas Ciputra Entrepreneurship Center— meraih semua itu?

Tentu saja sukses tersebut tidak datang begitu saja. Butuh perjuangan keras: memeras otak, tenaga, waktu, dan biaya dengan tetap melestarikan optimisme serta keberanian yang penuh perhitungan cermat serta matang.

Semangat seperti itulah yang selalu digaungkan Pak Ci untuk memacu spirit kewirausahaan (entrepreneurship) bagi warga negara Indonesia, khususnya di kalangan generasi muda. Pak Ci tidak sebatas beretorika verbal, melainkan menularkannya melalui kegiatan praktis lewat Ciputra Foundation bagi semua orang, dari semua lapisan dan golongan, yang benar-benar memiliki spirit untuk maju.

Di sekolah, kampus, perkantoran, hingga ke pelosok pedesaan, Ciputra Foundation mengobarkan semangat berwirausaha itu. Salah seorang yang telah memetik manfaat nyata dari program kewirausahaan ini adalah Suswanto ST, 28 tahun, lulusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Suswanto adalah peserta Campus Entrepreneur Program (CEP) kerja sama UGM dengan Ciputra Foundation. Selama tiga bulan (November 2007 hingga Januari 2008) dia intens dan serius mengikuti program pelatihan kewirausahaan. Bagaimana dia bisa tertarik dengan program yang kini manfaatnya telah nyata dirasakan itu?

Kepada Tabloid FORSAS, Suswanto membagi kisah hidupnya hingga persentuhan dengan program kewirausahaan yang andil mengubah nasib diri dan keluarganya seperti adanya sekarang agar bisa menjadi inspirasi bagi yang lainnya.

Kehidupan masa kecil hingga mahasiswa dilaluinya dalam kondisi serbakekurangan. Sang ayah, Sudarno, 48 tahun, bekerja sebagai mandor bangunan tidak tetap dengan upah pas-pasan untuk menyambung hidup. Apalagi penghasilannya juga tidak tetap mengingat pekerjaan tidak selalu ada.

Namun dia menaruh respek pada orangtuanya yang tidak kenal lelah bekerja dan menggantungkan asa, termasuk mengirim Suswanto belajar hingga ke perguruan tinggi. Untuk mengimbanginya, Suswanto harus mengoptimalkan setiap peluang dalam keterbatasan itu.

‘’Karena kerja keras kami, akhirnya saya berhasil lulus juga dari UGM,’’ tutur Suswanto.

Beruntung sebelum menggenggam ijasah S-1 dari Teknik Mesin UGM pada Juli 2009, batin Suswanto sudah dipenuhi tanya: ‘’Akan ke manakah saya nanti?’’ Maknanya, ke mana dia akan melangkah dan berlabuh setelah lulus mengingat realitas hidup saat ini membuktikan bahwa gelar sarjana bukan otomatis tiket jaminan mendapatkan pekerjaan.

Bertautan dengan lahan pekerjaan bagi lulusan perguruan tinggi itu, Pak Ci sendiri pernah menyatakan keheranannya. Misalnya pada 2007 lalu, sebanyak 740.200 lulusan perguruan tinggi tidak memiliki pekerjaan alias menganggur. Pak Ci berpendapat, salah satu penyebab begitu banyak pengangguran lulusan perguruan tinggi itu umumnya karena mereka fokus mencari pekerjaan. Padahal seharusnya bukan mencari, tetapi menciptakan pekerjaan.

Di tengah gejolak memikirkan masa depan itu, Suswanto mendapatkan undangan untuk mengikuti CEP kerja sama UGM dengan Ciputra Foundation. Kesempatan itu pun tidak disia-siakannya. ‘’Awalnya saya hanya ingin mencoba untuk mengetahui program tersebut walaupun ilmu yang saya dapat berbeda,” ucapnya mengenang.

Niat sudah ada, tetapi Suswanto ketika itu masih dihadapkan pada tantangan klasik berupa dana. Ketentuan yang ada, untuk mengikuti CEP Suswanto harus membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 100 ribu. Jumlah yang masih dirasakan sangat besar bagi anak tunggal keluarga Sudarno ini.

Suswanto bisa mengatasi tantangan itu berkat pinjaman dari seorang sahabat baiknya. Suswanto dan sahabat yang baik itu kemudian sama-sama mendaftar CEP, tetapi sang karib gagal dalam tes penyaringan untuk mengikuti program tersebut.

‘’Ketika itu memang terasa sulit bagi saya untuk meraih ilmu. Semuanya nyaris terkendala oleh uang. Tapi itu bukanlah hambatan bagi saya. Yang penting segala sesuatunya harus berusaha. Itulah prinsip saya,” ucap Suswanto.

The first mission accomplished, but not finished yet. Setelah lolos tes penyaringan, tantangan lain masih menghadang Suswanto. Lagi-lagi soal duit yang kali ini jumlahnya jauh lebih besar. Dia diwajibkan membayar Rp 1 juta sebagai uang modal setelah kelak dinyatakan lulus dari CEP.

Setelah memutar otak, Suswanto memutuskan meminjam uang kepada seorang dosen yang dekat dengannya serta membantunya dalam pengerjaan skripsi. ‘’Saya coba menanyakan kepada dosen saya itu untuk meminjam uang meskipun uang itu nanti dikembalikan lagi kepada siswa yang mengikuti program tersebut.’’

Upaya bujangan kelahiran Sleman, DI Yogyakarta, pada 16 Maret 1981 itu tidak sia-sia. Sang dosen memberinya pinjaman, sehingga Suswanto bisa mengikuti CEP. Bahkan sederet perjuangan keras Suswanto tersebut diganjar dengan kelulusan dari CEP Angkatan I (2008) dari total 28 peserta.

Setelah lulus, Suswanto mempraktikkan pengetahuan dan skill dari CEP itu dengan mendirikan PT Total Prima Mandiri, yang bergerak di bidang perumahan. Sebagai Direktur Utama di PT tersebut, Suswanto bisa mewujudkan secara nyata segala yang diperoleh dari CEP itu dengan membangun perumahan Puri Citra Indah di Sleman, Yogyakarta.

Puri Citra Indah merupakan proyek perumahan kelas menengah ke atas. Tidak banyak yang dibangun Suswanto dengan bendera PT Total Prima Mandiri, hanya 13 unit rumah dua lantai bertipe 85 di atas lahan sekitar 2.525 meter persegi.

‘’Ini merupakan proyek pertama saya. Memang masih kecil, tetapi ini semua hasil dari perjalanan yang penuh perjuangan,” tutur Suswanto.

Teladan Pak Ci

Awal ketertarikan Suswanto mengikuti CEP juga tidak lepas dari sosok Dr. Ir. Ciputra yang sebelumnya sudah akrab di telinganya. Selain itu, saat membaca berbagai kisah tentang Pak Ci, Suswanto selalu bertanya kepada diri sendiri: ‘’Jika Pak Ci bisa, kenapa saya tidak?’’

Suswanto menilai Pak Ci adalah teladan sekaligus panutan bagi mereka yang ingin mendalami dunia wirausaha. Bertolak dari pemikiran itu Suswanto mantap mengikuti CEP. ‘’Bagi saya, beliau merupakan saka guru yang layak diacungkan jempol. Berawal dari situlah saya merasa harus bisa,’’ ucap Suswanto.

Meski dalam kadar yang berbeda, sebagaimana Pak Ci, Suswanto juga tak bisa lepas dari pelbagai tantangan untuk membumikan semangat berwirausaha. Atas semangatnya itu pula, kini Suswanto juga menjadi trainer di CEP untuk mengamalkan ilmu dan pengetahuannya dalam berwirausaha kepada yang lainnya.

‘’Beliau tidak pernah pantang mundur, jatuh bangun selalu dihadapi dengan kesabaran hati. Itulah yang menjadi dasar saya untuk meriah kesuksesan,’’ kata Suswanto.

Selama mengikuti CEP, Suswanto mendapatkan ilmu seputar motivasi, kreativitas, inovasi, marketing, serta life skill yang semuanya memberikan dampak positif agar bisa menciptakan lahan kerja baru.

‘’Jika kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang, itulah hal positif dan memberi hikmah bagi saya.”

Selain itu, dari module project di CEP seperti ‘’Crown, Trustworthy, dan Columbus’’, Suswanto bisa belajar membangun network atau jaringan yang sangat dibutuhkan untuk menambah wawasan serta memperluas kerja sama, termasuk dalam industri perumahan.

‘’Tidak mungkin kita mampu berjalan sendiri dalam membangun, melainkan diperlukan kerja sama dalam hal jaringan dengan para developer yang sudah maju lebih dulu,” tutur Suswanto menjelaskan.

Dengan bendera PT Total Prima Mandiri, Suswanto tidak hanya membangun rumah, tetapi juga masa depannya. Untuk mengawali perjuangan hidup ini, dia memilih untuk tidak dulu memanfaatkan tenaga dari luar, melainkan tenaga-tenaga dari lingkungan keluarganya sendiri.

Sudarno, sang ayah, tetap menjadi mandor di proyek, namun kini tidak lagi di perusahaan milik orang lain, tetapi milik anaknya sendiri. Sedangkan sepupunya, Gatot, dipercaya sebagai arsitek teknik untuk proyek di Puri Citra Indah. Sementara marketing dipercayakan kepada teman Suswanto yang bernama Nurwantoro.

Solichin – Laporan Ronald Siahaan I Jakarta

Tabloid FORSAS Edisi 07/November 2009