Warsito: Usahanya yang tak kenal lelah membuahkan hasil gemilang. PHOTO: SOLICHIN

Hidup tiada henti bekerja. Bekerja sambil jalan-jalan, jalan-jalan sambil bekerja.

MOTTO hidup itu kini berusaha selalu dihayati Warsito di jengkal bumi mana pun berpijak dan melangkah. Namun bukan motto itu yang dulu membawanya hingga ke tanah Kalimantan. Kondisi ekonomi keluarga lah yang mendorong tekad bajanya merantau selepas lulus dari bangku Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) di Malang pada 1981 silam.

Selain demi masa depannya, anak petani kelahiran Dusun Cendol Barat, Desa Ngadirejo, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, pada 7 Januari 1961 ini juga ingin mengangkat harkat keluarganya. ‘’Saya anak kedua dari tujuh bersaudara. Orangtua saya petani kecil di desa. Karena tak ada biaya melanjutkan belajar, saya merantau, mencari kerja ke Kalimantan,’’ tuturnya mengawali pembicaraan dengan Tabloid FORSAS.

Ikhtiar demi masa depan membawanya ke Kalimantan Selatan (Kalsel). Di sana mula-mula dia bekerja seadanya, termasuk ikut menambang batubara. Hasil yang seadanya juga harus pandai-pandai dikelola untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun hati kecilnya selalu berkata, jika bekerja dengan serius dan jujur, niscaya Tuhan akan memberi jalan dan ganjaran semestinya.

Jalan menuju perubahan nasib mulai terbuka ketika Warsito bekerja di sebuah perusahaan kontraktor milik anak seorang pejabat tinggi di Kalsel. Di perusahaan ini dia menunjukkan dedikasi dan loyalitasnya dengan bekerja keras, sungguh-sungguh, dan berusaha selalu menjaga prinsip jujur yang bertekad digenggamnya selepas meninggalkan tanah kelahiran.

‘’Dari situ lama-lama saya ditawari membikin perusahaan. Pada tahun 2000, proyek pertama saya adalah membangun masjid di Kecamatan Tanjung dari Bupati Tabalong, Kalsel, kala itu,’’ ujar ayah dua anak ini mengenang.

Bagi Warsito, tawaran tersebut jelas sebuah peluang. Urusan bangun-membangun memang bukan hal baru mengingat dia sudah berpengalaman bekerja bersama kontraktor. Bangunan utama masjid tidak menjadi masalah baginya. Tapi dia merasa dihadapkan pada tantangan pada bagian kubah masjid itu.

Apalagi dia menginginkan bangunan masjid lengkap dengan kubahnya itu nanti terlihat tidak hanya kukuh dan mewah, tetapi juga unik dan artistik. Harus ada diferensiasi dan nilai lebih. Dengan demikian, bagi yang memandangnya, bangunan masjid dan kubah itu berbeda dengan yang lainnya.

Setelah berpikir mencari solusi, Warsito teringat pada rekan-rekannya yang mengerjakan kubah Masjid Al Akbar (Masjid Agung) Surabaya. Saat itu tahun 2000, proyek Masjid Agung Surabaya hampir rampung.

Bersama rekan-rekannya yang mengerjakan kubah Masjid Agung Surabaya, pada tahun itu pula Warsito mendirikan PT Bangun Kubah Sarana. Selain sebagai pendiri, di perusahaan itu hingga kini Warsito menjabat sebagai direktur. Mengapa harus bernama Bangun Kubah Sarana?

‘’Karena sejak awal saya dan rekan-rekan memang menginginkan membuat sesuatu yang unik. Membangun kubah itu memberi tantangan khas, selain kami juga senang bisa berkontribusi bagi pembangunan tempat ibadah,’’ tutur Warsito.

PT Bangun Kubah Sarana berkembang pesat. Lebih dari 200 kubah masjid, sebagian besar juga termasuk bangunan utama dan pendukungnya, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke telah dibangun perusahaan yang dibidani Warsito itu. ‘’Beberapa kontraktor besar di Indonesia yang mengerjakan proyek membangun masjid juga sering memercayakan pembangunan kubahnya kepada kami,’’ tutur lelaki yang kini juga menjabat sebagai Pimpinan Gabungan Kontraktor Indonesia (Gakindo) Kabupaten Malang ini.

Bila Anda menatap kubah Masjid Baiturrahman di Kepanjen-Malang, Masjid Al-Fithrah Surabaya, Masjid Agung Gresik, Masjid Agung Tuban, dan Masjid Agung Trenggalek (semuanya di Jawa Timur), itulah beberapa hasil karya PT Bangun Kubah Sarana yang didirikan Warsito. Begitu juga dengan Masjid Raya Semarang di Jawa Tengah.

Juga di Sulawesi Selatan seperti Masjid Raya Makassar, Masjid Raya Maros, Masjid Agung Soppeng, dan Masjid Raya As-Salam Bone. Sedangkan di Kalsel, tempat Warsito memulai perjuangan, selain proyek pertama masjid di Tanjung-Tabalong itu, PT Bangun Kubah Sarana juga mengerjakan Masjid Al-Karamah Martapura, Masjid Nurul Falah Tapin, Masjid Raya Amuntai, dan masih banyak lagi.

Masjid Nurul Falah di Tanah Grogot (Kalimantan Timur), Masjid Shirothol Mustaqim di Muara Teweh (Kalimantan Tengah), serta Masjid Raya Karimun (Kepulauan Riau) juga tidak lepas dari polesan PT Bangun Kubah Sarana.

‘’Saat ini kami juga sedang mengerjakan tahap kedua pada proyek pembangunan dua lantai masjid di Murung Raya, Puruk Cahu, Kalteng. Masjid ini akan menjadi yang terbesar dan diharapkan menjadi icon Kalteng, dengan bangunan induk saja berukuran 67 x 67 meter. Belum termasuk bangunan untuk perkantoran, tempat wudlu, maupun menara yang semuanya di luar bangunan utama,’’ kata Warsito.

Lelaki yang kini juga menjabat Wakil Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Malang itu mengaku tersentuh dan sangat apresiatif terhadap pembangunan masjid di Murung Raya, Puruk Cahu, itu. Bupati dan pejabat penting lainnya di sana non-muslim, tetapi sangat memerhatikan tempat ibadah bagi umat Islam.

Melihat ekspansi itu, Worlwide Quality Assurance (WQA)-UKAS Quality Management pada 2008 memberikan sertifikasi manajemen mutu ISO-9001 kepada PT Bangun Kubah Sarana. Setahun sebelumnya PT Bangun Kubah Sarana juga mendapatkan apresiasi OHSAS 18001 untuk manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

Sesuai namanya, meski selama ini proyeknya lebih didominasi membangun masjid dan kubah, ternyata perusahan yang didirikan Warsito tersebut juga banyak menerima tender membangun yang non-masjid. ‘’Kami juga sudah mengerjakan proyek membangun jembatan, pasar, dan rumah sakit, serta bangunan lainnya,’’ tutur Warsito.

Di antara yang non-masjid itu, misalnya, gedung Islamic Center Samarinda, Gedung Olahraga Banjarbaru dan Gedung DPRD Tanah Bumbu (keduanya di Kalsel). Seperti kubah masjid, semua proyek itu menggunakan baja khusus yang diimpor dari Jepang dan dikerjakan sendiri oleh karyawan PT Bangun Kubah Sarana di workshop yang menyatu dengan bangunan dan kantor di kawasan Jalan Raya Brigjen Katamso, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur.

Soal resep suksesnya, Warsito menjawab sederhana: jujur, ikhlas, trust (kepercayaan), serta menempatkan kepuasan konsumen sebagai prioritas. ‘’Apalagi yang kami tangani ini masjid, jelas kami tidak mau main-main. Jika perusahaan lain umumnya memberikan garansi 6 bulan hingga 1 tahun, jika atap atau kubah yang kami bangun itu, misalnya bocor, sampai dua hingga tiga tahun, bahkan kapan pun, akan kami perbaiki asalkan kerusakan itu murni, bukan akibat kesalahan kerja pihak lain. Kami juga senang bila ada tantangan berupa permintaan kubah dengan desain yang mereka inginkan.’’

Keluarga dan Manajemen Kekeluargaan

Seiring perkembangan usahanya, jelas waktu Warsito banyak dihabiskan di luar rumah kediamannya di Malang. Sehari dia di Malang, bisa saja dua hari kemudian di Kalimantan, lalu ke Sulawesi, terus ke beberapa tempat lainnya. Mobilitas ini dilakukan mengingat dia harus mengunjungi proyek-proyeknya yang tersebar di berbagai wilayah.

‘’Anak saya juga sering protes, minta saya di rumah saja. Tapi beruntung keluarga saya mendukung, sehingga bisa memberi pengertian kepada mereka,’’ ujarnya.

Menyadari tuntutan manajemen waktu itu, Warsito tidak menilainya sebagai beban. ‘’Hidup tiada henti bekerja, tapi ya itu, kerja sambil jalan-jalan, jalan-jalan sambil bekerja,’’ tuturnya, disambung derai tawa.

Toh Warsito juga tidak harus terpaku di satu lokasi proyeknya. Sebab selain di tempat-tempat lain juga ada kantornya, urusan proyek di lapangan sudah dipercayakan penuh kepada para mandornya. Dengan handphone di tangan yang selalu aktif, kapan pun dia bisa berkoordinasi dan memberikan solusi bila anak buahnya menghadapi masalah di lapangan.

‘’Saya percaya sepenuhnya kepada mereka. Mereka semua baik dan saya bersyukur mendapatkan orang-orang seperti itu,’’ ucap Warsito, yang kini sudah memiliki lebih dari 100 karyawan tetap dan ratusan lainnya tenaga lepas untuk berbagai proyek di berbagai daerah.

Kepercayaan itu tumbuh karena Warsito menerapkan manajemen kekeluargaan di perusahaannya, memperlakukan mereka sebagai keluarga besar. Hubungan batin yang harus ditumbuhkan dan bukan hubungan struktural yang kaku. Untuk menumbuhkan spirit kekeluargaan itu, berbagai kegiatan yang melibatkan karyawan dan keluarganya pun digelar PT Bangun Kubah Sarana.

‘’Di kantor Waru itu rutin digelar pengajian tiap pekan yang diikuti karyawan dan keluarganya. Berkala kita juga rekreasi bersama, sewa vila, bakar ikan rame-rame… Pokoknya agar semua bahagia. Ada juga arisan, membantu karyawan dengan kredit tanpa bunga atau bunga ringan yang kami siap membantu urusannya dengan bank. Kalau ada hasil lebih, ya dibagi. Pokoknya bagaimana bersama merasa memiliki perusahaan ini. Semua ini saya lakukan karena saya tahu dan sudah merasakan bagaimana rasanya berjuang dalam hidup ini,’’ tutur Warsito.

Solichin I Malang

Tabloid FORSAS Edisi 07/November 2009