SAMPAI satu dasawarsa silam, setiap kali nama Angola disebut, yang terbayang adalah darah akibat perang sipil yang mengoyak tanah Afrika itu. Namun mulai Minggu 10 Januari 2010, tanah Angola tidak lagi terkesan mengerikan. Justru yang ada adalah pesta ketika timnas sepakbola negara tersebut bertanding melawan Mali sebagai tirai pembuka kejuaraan Piala Afrika 2010.

Angola bangkit dan menata diri? Begitulah. Selama 27 tahun negara itu dirajam perang sipil setelah Portugal, yang menjajahnya hingga beberapa dekade, angkat kaki.  Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF) menunjuk Angola  sebagai tuan rumah Piala Afrika kali ini tidak lepas dari upaya memberi negara yang kaya sumber daya alam itu kepercayaan diri sebagai ‘’negara baru’’.  Angola memang butuh itu melengkapi prestasinya sebagai salah satu negara yang kini mencatat pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Soal menang dan kalah di lapangan, itu urusan belakangan. Yang terpenting adalah pengakuan –sebagaimana Federasi Asosiasi Sepakbola Internasional (FIFA) memercayai Afrika Selatan (Afsel) menggelar Piala Dunia untuk yang kali pertama di ‘’Benua Hitam’’ pada Juni-Juli 2010.

Jika dibandingkan negara-negara lain yang berlaga di Piala Afrika kali ini, Angola bisa dikata ‘’tidak ada apa-apanya’’ alias bukan pesaing yang sebanding. Mali misalnya. Bekas koloni Prancis di Afrika Barat ini terbilang sebagai salah satu dari lima negara dengan pertumbuhan ekonomi terendah di dunia. Namun dalam urusan sepakbola, beberapa tahun terakhir Mali tidak lagi asing di telinga pencinta bola di dunia.

Siapa tidak kenal Fredric Kanoute, striker Sevilla, klub anggota divisi utama Liga Spanyol (La Liga)? Para pemain Mali juga banyak yang tumbuh dan berkarier di negara-negara lain di Eropa, khususnya Prancis. Bahkan dari data yang dirilis CAF, pada Piala Afrika 2010 ini, dari seluruh anggota skuad Eagle (Elang) –julukan timnas Mali—hanya dua pemain yang diambil dari liga domestik. Bandingkan dengan 13 pemain yang merumput di Liga Prancis.

Tak hanya Mali, beberapa timnas kontestan lain juga diperkuat pemain yang banyak merumput di Liga Prancis, serta beberapa lagi di negara-negara lain di Eropa. Mengapa Prancis mendominasi? Tak lain karena Prancis merupakan kolonialis yang paling berjaya di Afrika. Alhasil, bisa dikata Prancis pula yang menanamkan ideologi dan kultur sepakbola di Afrika. Sebutlah ini Francophone dalam sepakbola Afrika.

Tak termasuk Angola yang lolos otomatis karena statusnya sebagai tuan rumah, bisa dicatat bahwa 9 dari 15 tim kontestan lainnya adalah negara-negara bekas koloni Prancis. Bila mau lebih tepat, sebutlah 8,5 tim mengingat Kamerun juga bisa dikategorikan sebagai separuh bekas jajahan Prancis serta separuh bekas koloni Inggris. Tapi website federasi sepakbola Kamerun lebih condong memakai bahasa Prancis.

Pun, hitungan bekas koloni Prancis itu masih termasuk Togo yang saat tulisan ini diturunkan menyatakan mundur dan siap kembali ke negaranya setelah sehari sebelumnya bus timnasnya diserang seusai latihan. Dalam insiden ini, lapor BBC, sopir bus tewas dan empat lainnya terluka. Togo juga menyerukan negara-negara kontestan lainnya memboikot Piala Afrika 2010.

Selain Kamerun, Pantai Gading dan Aljazair yang diunggulkan dalam Piala Afrika kali ini dan sudah memastikan tiket ke putaran final Piala Dunia 2010,  juga bekas koloni Prancis. Tapi bukan berarti ideologi dan kultur sepakbola Prancis mutlak unggul.

Didier Drogba, motor spirit dan kekuatan tempur Pantai Gading. PHOTO: INDEPENDENT.CO.UK

Dua kekuatan lain –Ghana dan Nigeria yang merupakan bekas koloni Inggris— tidak pula bisa dipandang enteng. Kedua negara itu juga sudah memastikan lolos ke putaran final Piala Dunia 2010. Juga ada juara bertahan Piala Afrika, Mesir, yang tidak bisa disepelekan, meski gagal merebut tiket ke Afsel setelah dikalahkan Aljazair pada babak playoff.

Pendek kata, latar belakang Francophone memang memberikan keuntungan pada kontestan Piala Afrika 2010 ini. Apalagi bila menilik bahwa lima pelatih timnas kontestan berkebangsaan Prancis, termasuk yang melatih timnas Zambia yang nota bene bekas koloni Inggris. Pelatih berkebangsaan Prancis merupakan yang terbanyak, sementara tidak ada satu pun pelatih tim-tim kontestan berkebangsaan Inggris.

Namun, di sisi lain, fakta-fakta itu belum bisa menjadi parameter mutlak sukses sebuah tim. Banyak pemain berlatar dari negara bekas jajahan Prancis justru mendapatkan bintangnya dengan bermain di liga-liga di negara bukan bekas penjajahnya. Selain Kanoute, contoh nyata lainnya adalah Didier Drogba (Pantai Gading) yang kini memperkuat Chelsea di Inggris atau Samuel Eto’o (Kamerun) di Italia bersama Inter Milan setelah sebelumnya berjaya di Spanyol dengan Barcelona.

Lebih dari itu, data dan fakta juga menunjukkan bahwa Francophone tidak mendominasi sejarah perhelatan Piala Afrika. Justru Mesir yang bertengger di puncak perolehan trofi dengan enam gelar juara, disusul Ghana dan Kamerun masing-masing empat kali juara. Mengapa bisa demikian?

Kiranya sinyalemen Paul Darby dalam bukunya Africa, Football and FIFA: Politics, Colonialism and Resistance bisa memberikan jawaban.  Sepakbola modern di Afrika tidak lagi terdikte oleh latar politik dan ideologi, tetapi oleh kapital di negara-negara Eropa yang bisa mengubah permainan hingga ke pelosok-pelosok Afrika.

Jika orang-orang di Pantai Gading lebih mengidolakan Drogba, jelas menonton Liga Primer Inggris dari tayangan televisi lebih menarik perhatian mereka dibandingkan Liga Prancis. Apalagi fakta dari berbagai riset perputaran kapital di sepakbola Eropa telah menguatkannya. Permainan yang mereka tonton itulah yang bakal berusaha ditiru, menjadikannya budaya baru menggantikan akarnya.

Dalam perkembangan sepakbola Afrika, sejatinya Inggris tetap menanamkan pengaruhnya, namun lebih memilih secara tidak langsung. Ini berbeda dengan Prancis, yang tampak lebih dominan secara langsung ‘’membangun kultur’’ di negara-negara bekas jajahannya di Afrika dan memboyong sangat jauh lebih banyak pemain kelahiran Benua Hitam itu ke liga di negaranya.

Dalam kasus Prancis, sebelum FIFA pada 2004 mengeluarkan aturan pemain berdarah Afrika bisa membela timnas negara nenek moyangnya, para pemain bagus bisa dimanfaatkan membela panji Les Bleus. Dengan demikian, stok pemain di Prancis begitu melimpah. Namun siapa kira di Piala Dunia 2002, para pemain Senegal yang banyak bermain di divisi dua dan tiga di Prancis dan tak dilirik masuk timnas Les Bleus, justru mampu menyentak dunia dengan mengalahkan tuannya yang nota bene terdiri dari pemain-pemain bintang di liga-liga utama Eropa.

Fenomena Senegal dan keputusan FIFA semakin menguatkan keinginan negara-negara bekas jajahan di Afrika untuk menunjukkan identitas kebangsaannya. Contoh pun sudah diberikan Mesir di Afrika Utara, yang lebih memegang prinsip sepakbola sebagai sarana lebih menunjukkan jati diri bangsa merdeka pada dunia dibandingkan saudara-saudaranya di barat, timur, dan selatan.

Layak ditunggu latar politik seperti apa yang bakal berjaya di Angola pada Piala Afrika 2010 ini.

KONTESTAN PIALA AFRIKA 2010

Ranking FIFA/ 16 Des 2009 Jumlah Penduduk Merdeka dari ……… pada …….. Kebangsaan Pelatih Pemain di Liga Domestik Pemain Non Liga Domestik
GRUP A
Angola 95 18,5 juta Portugal pada 1975 Portugis 11 4 di Portugal
Mali 47 13 juta Prancis pada 1960 Nigeria 2 13 di Prancis
Malawi 99 15 juta Inggris pada 1964 Malawi 9 10 di Afsel
Aljazair 26 35 juta Prancis pada 1962 Aljazair 9 4 di Inggris
GRUP B
Pantai Gading 16 21 juta Prancis pada 1960 Bosnia 1 6 di Inggris
Burkina Faso 49 16 juta Prancis pada 1960 Portugis 2 4 di Jerman
Ghana 34 24 juta Inggris pada 1957 Serbia 3 4 di Inggris
Togo 71 6,6 juta Prancis pada 1960 Prancis 2 9 di Prancis
GRUP C
Mesir 24 77 juta Inggris pada 1922 Mesir 19
Nigeria 22 155 juta Inggris pada 1960 Nigeria 0 7 di Inggris
Mozambik 72 23 juta Portugual pada 1975 Belanda 12 4 di Afsel
Benin 59 9 juta Prancis pada 1960 Prancis 7 10 di Prancis
GRUP D
Kamerun 11 19,5 juta Prancis pada 1960 dan Inggris pada 1961 Prancis 0 7 di Prancis
Gabon 48 1,5 juta Prancis pada 1960 Prancis 4 10 di Prancis
Zambia 84 13 juta Inggris pada 1964 Prancis 6 8 di Afsel
Tunisia 53 10,5 juta Prancis pada 1956 Tunisia 16 3 di Prancis