Menguji perahu karet produk CV Cengkok Jaya Balaraja yang dimotori Kang Asep. PHOTO: FORSAS/UYUS SETIA BHAKTI

KETIKA perahu karet disebut, asosiasi ingatan kita bisa jadi langsung tertuju ke bencana banjir, tim rescue, aktivitas outdoor atau kegiatan di alam bebas seperti arung jeram yang belakangan sangat populer di kalangan profesional muda. Namun tahukah Anda di mana salah satu produsen lokal perahu karet itu?

Penelusuran pun tertuju pada sosok Asep Gana Kusuma, veteran pegiat alam Indonesia yang dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, pada 15 Oktober 1963. Sejak 1997 Kang Asep, demikian panggilan akrabnya, memulai kiprah memproduksi perahu karet lokal dengan kualitas yang tidak kalah baik dengan produk internasional.

Di pabriknya yang berlabel CV Cengkok Jaya di Jalan Raya Serang Km 25, Balaraja, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Kang Asep menceritakan perjalanan menjadi entrepreneur di bidang produksi perahu karet ini.

’’Saya merintis usaha produksi perahu karet ini pada tahun 1997. Pada waktu itu, saya masih menjadi konsultan aktif di salah satu pabrik perahu karet milik orang Korea. Orang Korea menjadikan saya konsultan karena mereka kebingungan saat melakukan proses pengeleman karena lem sulit merekat pada bahan karet,’’ ujar Kang Asep mengenang.

Selidik punya selidik, demikian Kang Asep menambahkan, ternyata lem sulit melekat akibat perbedaan suhu udara antara negara tempat lem dibuat dan Indonesia. Tantangan itu dijawab Kang Asep dengan berusaha meracik ulang lem tersebut dengan bahan lain hingga mempunyai daya rekat yang sangat tinggi.

’’Mulai saat itulah saya dipercaya sebagai konsultan dalam pabrik perahu karet itu,’’ tuturnya.

Roda bisnis dan jalan nasib seseorang terus berputar. Pabrik perahu karet milik warga Korea itu selanjutnya bangkrut. Merasa mendapatkan pengalaman dan ilmu soal ke-perahu karet-an dari jabatan sebagai konsultan di pabrik orang Korea itu, Kang Asep lantas meneguhkan hati  memulai usaha membuka workshop dibantu beberapa rekan dan pegiat alam.

Perahu karet perdana buatan Kang Asep dkk sukses diproduksi. Sosialisasi dan pemasaran terus dilakukan hingga kini perahu karet buatan Kang Asep dkk merambah ke berbagai pelosok negeri.

’’Meski kapasitas produksinya masih terbatas, namun perahu buatan kami telah menembus pasar nasional. Tentu ini bisa terjadi karena kualitas produk kami mampu bersaing dengan produk-produk internasional,’’ ujar Kang Asep, yang juga aktif dalam produksi acara ’’Bahenol’’ di Komedi TV itu.

Perahu karet dari Balaraja ini juga sering digunakan sebagai perahu andalan pada tiap event kejuaraan nasional (kejurnas) arung jeram yang digelar di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan life jacket produksi CV Cengkok Jaya juga pernah digunakan dalam pelatihan Rescue International di Bali beberapa tahun silam.

Pabrik perahu karet Kang Asep juga melayani berbagai jenis permintaan perahu karet dari konsumen, mulai dari banana boat, kayak impetable, lifer boat, roober boat, life jacket, dan lain-lain dengan harga yang relatif murah dibandingkan produk bermerek dari luar negeri.

Untuk perahu jenis lifer boat ukuran 390 cm untuk kapasitas 8 orang, misalnya, Kang Asep mematok harga Rp 15.000.000 (lima belas juta rupiah), sedangkan jenis roober boat dengan kapasitas 5 orang seharga Rp 12.500.000 (dua belas juta lima ratus ribu rupiah) dan kapasitas 12 orang Rp 22.000.000 (dua puluh dua juta rupiah). Sedangkan untuk life jacket, Kang Asep mematok harga cuma Rp 125.000 (seratus dua puluh lima ribu rupiah).

Bapak empat anak dari seorang istri bernama Siti Nurhasanah itu menuturkan, sejauh ini omset produksi perahu karet CV Cengkok Jaya memang baru berkisar antara Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per bulan. Namun, dengan semangat dan tekad yang terus berusaha dinyalakan, Kang Asep yakin usahanya ini akan berkembang karena sejauh ini tidak ada cukup masalah yang berarti dengan bahan baku.

’’Kami berharap pihak pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun daerah, memberikan perhatian terhadap kegiatan usaha yang tengah kami lakukan ini melalui pembinaan dan kemudahan dalam mendapatkan kredit dari pihak perbankan. Semua itu penting untuk peningkatan produksi kami dan membuka lapangan pekerjaan,’’ kata Kang Asep, yang juga menganjurkan para pemimpin bangsa bisa memakmurkan Balaraja karena di Balaraja tersimpan berjuta kisah dan silsilah leluhur bangsa.

Perahu karet buatan Kang Asep dkk menggunakan bahan PVC Woven, sementara asesorisnya masih diimpor dari Korea. Proses produksi dan perakitan menggunakan teknologi mesin press. Padahal, demikian Kang Asep, ’’Produk Korea saja masih menggunakan teknologi hand-made (manual), sementara produk Cengkok Jaya Balaraja sudah menggunakan mesin press.’’

Kang Asep –yang juga dipanggil Abah Talen di lingkungan Ikatan Paranormal Banten itu— juga tidak sungkan membeberkan tips proses pembuatan perahu karet. Menurut dia, pembuatan perahu karet tidak terlalu rumit, namun juga tidak cukup sederhana. Proses pembuatan perahu karet lazim dimulai dengan cutting atau pembuatan pola perahu yang akan di produksi berdasarkan pesanan ataupun stok pabrik.

Setelah itu dilakuan proses pencucian atau pembersihan, yaitu membersihkan minyak dan kotoran pada bahan perahu dengan pembersih (cleaner) khusus. Setelah bersih, dilakukanlah pengeleman dasar dengan dua kali proses pengeleman.

Baru kemudian proses penyambungan, yaitu menyambungkan bahan-bahan yang sudah dilem satu sama lain hingga membentuk pola perahu setengah jadi. Selanjutnya adalah pengepresan untuk lebih merekatkan bahan perahu dengan mesin press dibantu pemanas untuk hasil yang maksimal. Terus dilakukan penggabungan bagian per perahu hingga menjadi bentuk perahu yang utuh. Setelah bentuk utuh perahu didapat, dilakukanlah pembersihan sisa lem yang masih menempel. Perahu karet pun siap dipakai.

Solichin — Laporan Uyus Setia Bhakti (Tangerang)

Tabloid FORSAS Edisi 08/Desember 2009