Wahyudi: kenangan masa kecil yang mengusik semangatnya berwirausaha. PHOTO: FORSAS/NANANG R PARLINDUNGAN

Setiap ciptaan Tuhan pasti punya makna dan manfaat. Banyak hal atau benda kita jumpai di alam bebas. Sepintas mereka dinilai kurang atau tidak bermanfaat, penghias alam semata. Namun bila dikaji dan diolah, ternyata manfaatnya besar, bahkan luar biasa berguna.

PEMIKIRAN seperti itu yang disadari dan dikembangkan Wahyudi, 30 tahun. Lulusan Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini mengembangkan potensi manfaat biji dari pohon nyamplung (Calophyllum inophyllum L) yang terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia sebagai alternatif pengganti bahan bakar solar atau biodiesel.

Lulusan angkatan pertama Campus Entrepreneur Program (CEP) hasil kerja sama UGM dan Ciputra Foundation itu terkenang masa kecilnya di sebuah kampung di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dia dan teman-temannya sering mencari biji nyamplung untuk dijadikan lampu. Saat itu listrik belum mengaliri desanya.

‘’Sejak kecil, di sela-sela membantu orangtua yang pegawai rendahan, hidup serbakekurangan, saya dan teman-teman sering bermain dengan biji nyamplung. Kami heran kenapa biji ini bisa dinyalakan dengan api. Dari situ saya mulai mencoba mengembangkan ide,” tuturnya.

Berdasarkan pengalaman masa kecil tersebut, Wahyudi tertarik mengembangkan ide memanfaatkan biji nyamplung ketika mengikuti CEP. Dia meyakini CEP bisa memberinya peluang untuk mengasah pikiran sekaligus mendorongnya mengembangkan spirit berwirausaha dengan memanfaatkan segala sesuatu yang bernilai dan berdaya guna.

‘’Sangat sayang bila kita tidak dapat mengolah biji nyamplung itu menjadi bahan bakar alternatif yang sangat berguna karena untuk memperolehnya sangat mudah, tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Saya berusaha menggunakan salah satu hasil alam yang awalnya tidak banyak orang tahu untuk mengolahnya,’’ kata Wahyudi usai memberikan testimoni sukses di depan peserta pelatihan kewirausahaan di Jakarta yang diselenggarakan Ciputra Foundation.

Menurut Wahyudi, banyak yang diperolehnya selama mengikuti CEP dan yang paling terasa adalah spirit entrepreneur. ‘’Kemudian bagaimana agar kita memulai sesuatu usaha bisnis secara aman. Artinya, bagaimana kita mengkalkulasi risiko-risiko bisnis yang mungkin muncul  di tengah-tengah kita menjalani bisnis. Bagaimana kita lebih responsif memanfaatkan peluang dari sisi  atau cara pandang yang berbeda, tidak seperti cara memandang peluang bisnis yang umum dilakukan oleh kalangan-kalangan pebisnis. Lalu peluang yang sudah diperoleh, kita kembangkan melalui serangkaian inovasi,’’ ujarnya menambahkan.

Lulus dari CEP, Wahyudi dan tiga temannya mulai mengembangkan biji nyamplung untuk menjadikannya bahan bakar alternatif pengganti solar. Mereka berusaha menciptakan hasil semaksimal mungkin dengan modal patungan.

Tekad kuat dan kerja keras –termasuk riset— lebih dari setahun pun membuahkan hasil cukup gemilang. Mengolah biji nyamplung menjadi alternatif pengganti bahan bakar yang sudah ada. Selain itu, demikian Wahyudi, sukses tersebut juga melibatkan peran serta masyarakat setempat untuk meningkatkan perekonomiannya.

Buah nyamplung yang bijinya bisa dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar solar (biodiesel).

Wahyudi menuturkan, pada awalnya memang tidak mudah untuk mengajak masyarakat mau mengumpulkan biji nyamplung. Sebab di antara mereka ada yang berpikiran mengumpulkan biji nyamplung itu ‘’kurang produktif’’. Setidaknya Wahyudi dan kawan-kawan butuh waktu tiga bulan untuk benar-benar mampu memberdayakan masyarakat setempat.

Dari konsistensi melibatkan masyarakat tersebut, Wahyudi dan kawan-kawan akhirnya mampu mengumpulkan biji nyamplung 25 ton hingga 40 ton per pekan dari satu wilayah. Mereka menghargai 1 kg biji nyamplung sebesar Rp 1.000. Dengan kata lain, total uang yang berputar di masyarakat bila mereka dapat mengumpulkan 25 ton hingga 40 ton per pekan adalah Rp 25 juta hingga Rp 40 juta.

Di Indonesia, berbagai regulasi telah dikeluarkan pemerintah dalam rangka mendorong penggunaan energi terbarukan sesuai dengan Peraturan Presiden No.5  Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Pada tahun 2025, bahan bakar nabati (BBN) ditargetkan mampu memasok 5 persen dari kebutuhan nasional. Langkah ke arah itu akan dimulai dari besaran 0,5 persen dari total konsumsi energi nasional pada tahun 2010.

‘’Riset kami atas bahan bakar alternatif ini sesuai dengan Peraturan Presiden untuk dapat menemukan energi bahan bakar nabati,’’ ujarnya menegaskan.

Di Indonesia, pohon nyamplung sangat mudah didapat. Tanaman ini bisa ditemui di beberapa daerah pesisir, antara lain, di Alas Purwo, Kepulauan Seribu, Ujung Kulon, Cagar Alam Penanjung Pangandaran, Batu Karas, Pantai Carita Banten, Yapen (Jayapura), Biak, Nabire, Sorong, Fakfak, Halmahera, serta Ternate.

Pohon nyamplung dapat tumbuh pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut. Hasil penafsiran tutupan lahan dari citra satelit Landsat 7 ETM+ didapati, di wilayah pantai provinsi di seluruh Indonesia diperkirakan luas areal pohon nyamplung mencapai 480.000 hektare.

Nah, apabila dari luasan indikatif total hutan alam sebesar 10 persen saja nyamplung bisa tumbuh produktif dengan produktivitas biji per hektare sebesar 10 ton atau total produksi sebesar 500 ribu ton (setara dengan 225 juta liter biodiesel, 3,8 juta ton pupuk organik, 72 ribu ton pakan ternak, 18 ribu ton gliserin, dan 12 ribu ton bahan oleokimia lain), maka bisa didapat nilai total hingga Rp 5,02 triliun.

Potensi yang begitu besar itu membuat nyamplung layak diperhitungkan sebagai bagian dari  ‘’identitas’’ energi nabati nasional Indonesia—sebagaimana India dengan biofuel methanol tebunya.

‘’Selain bahan bakar minyak pengganti solar, biji nyamplung juga memiliki manfaat lainnya, salah satunya menjadi pupuk organik,” ucap Wahyudi.

Nyamplung pun merupakan penghasil rendemen minyak mentah paling tinggi. Satu kilogram daging buah nyamplung mampu menghasilkan antara 0,5–0,7 liter minyak mentah. Sedangkan 1 kg daging bauh jarak menghasilkan hanya antara 0,3–0,4 liter minyak mentah. Apalagi dengan keterbatasan teknologi di Indonesia saat ini, rata-rata hanya dihasilkan 0,2 liter minyak mentah dari 1 kg daging buah jarak.

Oleh karena itu, Wahyudi berharap peran serta pemerintah dalam bentuk kerja sama untuk menghasilkan biodiesel dari biji nyamplung itu sebagai alternatif pengganti bahan bakar solar.

Solichin – Laporan Ronald Siahaan (Jakarta)

Tabloid FORSAS Edisi 08/Desember 2009