LAMA tidak terdengar kabarnya, nama Mills Lane tiba-tiba muncul kembali. Wasit berkepala plontos yang mengakrabi pemirsa pertarungan tinju dunia, khususnya di kelas berat, pada era 1970 hingga 1990-an itu, Jumat (5/3), dinyatakan bakal dianugerahi penghargaan James J. Farley oleh Asosiasi Penulis Tinju Amerika (Boxing Writers Assocation of America/BWAA).

Penghargaan James J. Farley diberikan kepada mereka yang dinilai memiliki ‘’kejujuran dan integritas’’ dalam olahraga tinju. Penyerahan penghargaan dilakukan pada acara BWAA dinner di New York, 4 Juni mendatang.

Terlahir dengan nama Mills B. Lane III pada 12 November 1936, sejak 2002 silam stroke mendera Lane hingga dia tidak lagi aktif di dunia olahraga. Sejak itu namanya perlahan-lahan tenggelam, meski berusaha tetap diangkat ke permukaan oleh dua anak lelakinya melalui bendera Let’s Get It On Promotions yang berbasis di Nevada. Nama perusahaan kepromotoran itu diambil dari frasa Let’s Get It On yang sering diucapkan dan menjadi ciri khas Lane.

Karier di ring sejatinya dimulai Lane dengan mengarungi persaingan sebagai petinju amatir, kemudian mencoba peruntungan di kerasnya tinju profesional sebelum memutuskan gantung sarung tangan untuk menjadi wasit. Di luar ring, Lane juga seorang hakim, komentator berbagai adu bogem kelas dunia, serta bintang utama di serial televisi Judge Mills Lane.

Mills Lane dalam ''Judge Mills Lane''. PHOTO: COMCAST.NET

Adalah Lane pula yang menjadi orang ketiga di ring saat rematch Evander Holyfield vs Mike Tyson II di MGM Grand Graden Arena, Las Vegas, pada 28 Juni 1997 silam. Penunjukan Lane menjadi pengadil pada duel ini terjadi pada menit-menit akhir dan sempat menuai protes dari kubu Tyson yang tetap menginginkan Mitch Halpern sebagai wasit sesuai penjukan awal. Halpern adalah wasit pada duel pertama, sembilan bulan sebelumnya, yang dimenangkan Holyfield lewat TKO pada ronde ke-11.

Pada duel kedua berlabel Holyfield-Tyson II: The Sound and the Fury ini, Lane mendiskualifikasi Tyson karena menggigit bagian atas kuping kanan Holyfield hingga cuil. (Ketika itu saya dan para senior di Jawa Pos menjulukinya sebagai ‘’ciak kuping’’ untuk berita yang kami buat dan terbitkan).