Mourinho dan Ancelotti di Stamford Bridge. PHOTO: GETTY IMAGES

Fase knockout babak 16 besar Liga Champions purna. Delapan tim sudah memastikan tiket perempat final. Mereka adalah Arsenal dan Manchester United (Inggris), Lyon dan Bordeaux (Prancis), Barcelona (Spanyol), Inter Milan (Italia), CSKA Moskow (Rusia), serta Bayern Munich (Jerman).

TIM mana yang berpeluang juara musim ini? Tiap kepala boleh punya favorit. Namun hitung-hitungan baru bisa dilakukan setelah drawing alias undian untuk perempat final dan semifinal dilakukan pada Jumat (19/3) besok. Sejak musim lalu UEFA menerapkan policy untuk sebisa mungkin menghindari tim-tim dari satu negara berhadapan pada babak perempat final ini.

Jika terpaksa dua tim dari satu negara harus bertemu, tidak lain karena pertimbangan agar Liga Champions tetap menarik hingga partai puncak. Dengan kata lain, sebagai antisipasi agar di partai final tidak mempertemukan dua tim dari satu negara.

Siapa jago Anda: Arsenal, MU, Barcelona, atau Inter Milan?

Dari perjalanan babak 16 besar, tidak terbantahkan bahwa MU dan Inter terbilang sebagai tim-tim paling menjanjikan. Dalam arti, mereka bisa memenangi baik laga kandang maupun tandang atas lawan-lawan yang terbilang kelas berat. MU menggulung AC Milan dan Inter mengubur ambisi Chelsea.

Namun Arsenal dan Barcelona –yang masing-masing berbekal defisit dan seri pada laga tandang— justru ‘’mengamuk’’ pada laga kandangnya. Tetapi sukses mengejutkan Lyon (yang menggulung Real Madrid) dan Bordeaux juga tak bisa dipandang sebelah mata. Begitu pula CSKA yang justru lolos berkat kemenangan tandang atas Sevilla dari hasil seri pada leg pertama. Bayern juga kadang menyengat, meski lolos berkat tertolong aturan gol agregat walaupun kalah pada leg kedua atas tuan rumah Fiorentina.

Bola itu bundar. Sulit diterka arah bergulirnya. Namun dari seluruh perjalanan babak 16 besar musim ini, kiranya yang layak mendapat sematan bintang dari segala bintang bukan lagi Wayne Rooney dan Lionel Messi. Bukan pula Arsene Wenger, Alex Ferguson, maupun Pep Guardiola.

Saya kira yang layak mendapatkan sebutan bintangnya bintang adalah Jose Mourinho, allenatore Inter. Dia superbrilian. Mou –demikian lelaki Portugal itu akrab disapa— mampu menjawab tidak hanya tantangan taktik di lapangan, tetapi juga beban psikologis.

‘’Benarkah ini Chelsea?’’ Sepanjang pertandingan kedua babak 16 besar di Stamford Bridge, Rabu (17/3) dini hari WIB lalu, pertanyaan itu tiada henti mengoyak-koyak batin saya.

Sepanjang pertandingan hampir tidak bisa disaksikan performa The Blues seperti laga-laga sebelumnya di pelbagai ajang. Chelsea yang spartan. Chelsea dengan para pemain yang memiliki umpan-umpan akurat. Chelsea yang hampir selalu bisa menemukan celah menggebrak dan, tentu saja, menambang gol.

Namun menghadapi 22 kaki pemain Inter yang menjejak lacak rumput Stamford Bridge, The Blues tampak terpidana di hadapan mayoritas pendukungnya, di kandang sendiri. Rasanya semua gerakan para pemainnya –tak kecuali para bintang semacam Didier Drogba, Frank Lampard, John Terry, dan Michael Ballack— serbasalah. Mereka frustrasi hingga membuat Drogba di-kartu merah akibat kehilangan kontrol diri.

Di sisi lain, Mou –mantan manajer Chelsea yang memberi The Blues satu trofi Piala FA dan dua gelar juara Premier League hasil penantian panjang selama 50 tahun sebelum didepak menjelang akhir 2007 lalu—justru menunjukkan performa yang nyaris serbabenar. Bahkan bisa dikata I Nerazzurri berhasil meluruhkan tipikal ‘’citra’’ sepakbola Italia yang cenderung pasif dan defensif.

Pressing-pressing dan berbagai model intercept dengan tidak membiarkan sejengkal pun lahan rumput Stamford Bridge tak bertuan, justru Inter yang lebih kentara memainkan ciri khas sepakbola Inggris dibanding Chelsea. Sebagaimana nama aslinya, Internazionale yang berkibar menaungi pemain dari berbagai bangsa, Inter benar-benar menunjukkan kelasnya.

Tanpa Michael Essien yang biasanya menjadi jembatan penghubung lini belakang dan tengah The Blues, sangat tampak tugas mahaberat berada di otak dan kaki Lampard maupun Ballack yang kurang fit. Kali ini mereka pun tidak mampu berbuat banyak. Tuntutan menang ‘’hanya’’ 1-0 untuk bisa lolos ke babak perempat final –karena kalah 1-2 pada leg pertama di Stadion Giuseppe Meazza, Milan, tiga pekan lalu— malah berbalik menjadi 0-1 untuk tim tamu. Pasukan Mou lah yang lolos dengan agregat 3-1. Inter memberi hadiah yang menyesakkan, memaksa tuan rumah menikmati kekalahan pertama dalam 22 laga kandang terakhirnya di Liga Champions.

Messi membobol gawang Stuttgart di Camp Nou, Kamis (18/3) dini hari WIB. PHOTO: GETTY IMAGES

Mou kembali memaksa publik Stamford Bridge meratap dan tidak dulu menghapus nama lelaki Portugal itu. Dia mengirimkan pesan jelas: mereka harus berpikir makin mempertanyakan Carlo Ancelotti, manajer The Blues saat ini, dengan amanat mengukir kejayaan Chelsea di pentas Eropa yang belum sempat diberikan Mou.

Khusus kepada Ancelotti, mantan pelatih AC Milan yang pernah semusim dihadapinya di Serie A, Mou berhasil melampiaskan ‘’dendam profesional’’-nya setelah manajer Chelsea itu memberinya sengatan listrik sebelum kompetisi musim ini bergulir.

Rabu pagi, 22 Juli 2009. Chelsea menghadapi Inter pada turnamen tur pramusim Challenge Cup di Rose Bowl Pasadena, California, AS. The Blues menggulung Inter 2-0. Publik Stamford Bridge menilai awal yang bagus untuk Ancelotti di Chelsea. Sebelum Premier League 2009-2010 bergulir, Ancelotti kembali memberi hadiah dengan membawa Chelsea menjuarai Community Shield.

Dalam hatinya mungkin dia berkata, ‘’Aku idola baru pengganti Mourinho di Stamford Bridge.’’ Tapi, seperti diakuinya dalam berbagai kesempatan, hati Mou tidak akan pernah lepas dari Stamford Bridge. Suara profesional Mou mungkin saja mengatakan tidak menginginkan penggantinya di Chelsea mampu melampaui prestasinya.

Jika saat masih bersaing di Serie A saja dia telah melabeli Ancelotti sebagai no friend of mine (bukan kawan), apalagi sekarang saat sang rival mengisi kursi manajer yang pernah didudukinya.

Setelah drawing babak 16 besar Champions musim ini diketahui, Mou tampaknya belajar banyak dari kesalahan di Challenge Cup itu. Strategi baru melawan Chelsea disiapkan plus perang watak dengan tetap menjaga hubungan baik dengan The Blues, serta terus menarik simpati publik Stamford Bridge. Misalnya, sebelum duel leg kedua lalu, dia mengatakan tidak akan merayakan secara berlebihan bila Inter mencetak gol dan lolos. Itu benar-benar dilakukannya.

Jika dulu dia didepak dari Stamford Bridge dengan alasan tidak mampu menyuguhkan permainan menarik karena hanya berpegang pada prinsip asal menang, Mou kemudian menunjukkannya dengan mengubah pola main bersama Inter.

Saat bersama Chelsea, Mou lebih suka dengan formasi 4-3-3 atau 4-3-2-1 dengan kecenderungan lone striker (striker tunggal). Itu pula yang dia terapkan saat laga Challenge Cup menghadapi Chelsea di bawah Ancelotti yang menggemari pola 4-4-2 dengan dua striker dan pola diamond di lini tengah. Saat itu strategi Ancelotti yang unggul.

Tetapi begitu mereka bertemu lagi di babak 16 besar Liga Champions musim ini, Mou menantang masuk dengan pola yang sama, 4-4-2. Dengan kata lain, dia memainkan dua striker. Jika Chelsea masih mengandalkan manuver Lampard di lini tengah, Mou justru menjawab tantangan tersebut dengan mengoptimalkan kedua sayap. Hasilnya? Semua tahu.