Messi mengukir hat-trik ke gawang Real Zaragoza, Senin (22/3) dini hari WIB. PHOTO: GETTY IMAGES

Terasa habis kata-kata indah untuk mengguratkan kepiawaian otak dan utak-atik kaki Lionel Messi, si mungil dari Argentina yang belum lama ini ditahbiskan sebagai duta Unicef itu. Ia lebih dari sekadar Pemain Terbaik FIFA 2009.

MESSIDONA? Memang pantas. Bahkan Messi layak menyandang sebutan jauh melebihi titisan Diego Armando Maradona –legenda hidup Argentina yang kini juga menukangi Messi di timnas— jika Tim Tango tampil sebagai juara di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan (Afsel) pada Juni-Juli mendatang.

Misi yang jelas tidak ringan. Namun pemain berusia 22 tahun itu telah mengikrarkan target tersebut usai dinyatakan sebagai Pemain Terbaik Dunia FIFA, akhir tahun lalu. Menurut dia, gelar yang terbaik mondial itu benar-benar sempurna bila disandingkan dengan tampilnya Argentina sebagai juara dunia untuk kali ketiga di Afsel nanti setelah Piala Dunia 1978 dan 1986.

Di kandang Real Zaragoza, Senin (22/3), lagi-lagi Messi menunjukkan kelasnya sebagai penentu kemenangan Barcelona. Skor akhir 4-2 untuk El Barca, sehingga tim Catalan itu mampu menyamai rekor seteru klasiknya, Real Madrid yang berada di puncak klasemen dengan 68 poin. Dengan kepala dan skill kakinya yang dibarengi akurasi dan determinasi, Messi mencetak hat-trick (menit ke-5, 66, 78). Sebiji gol sisanya diukir Zlatan ‘’Ibra’’ Ibrahimovic dari titik penalti pada injury time (90+1).

Itulah hat-trick beruntun Messi setelah pertandingan La Liga sebelumnya (pekan ke-26) melawan Valencia memborong tiga gol dari kemenangan Barcelona 3-0. Sepanjang kariernya bersama Barca, Messi telah mencetak lima kali hat-trick.

Jika boleh dikata, gol Ibra itu sejatinya juga ‘’milik’’ Messi. Ibra yang sempat membuang sedikitnya empat peluang emas mencetak gol –ketika hanya tinggal berhadapan dengan kiper Zaragoza— dihadiahi sebagai eksekutor setelah, lagi-lagi, manuver Messi memasuki petak terlarang dihentikan paksa oleh pemain tuan rumah, Contini.

Hitungan lain yang tidak kalah fantastis, dari total 14 gol terakhir Barcelona, Messi memborong 11 gol. Pada pertengahan pekan lalu, Messi juga menyumbang dua gol sekaligus sebagai inspirator kemenangan timnya 4-0 atas Stuttgart pada babak 16 besar Liga Champions dan membawa El Barca ke perempat final.

Berbahagiakah Messi? Mungkin saja ya, tetapi kebahagiaan itu mungkin terasa kurang sempurna. Setidaknya itu yang bisa dibaca pada ekspresi entrenador Barca, Pep Guardiola, setelah peluit panjang mengakhiri laga. Pep berdiri di bench dengan kepala tertunduk. Sayang, sayang sekali mengapa jala Victor Valdez sampai bergetar dua kali kala hingga menit ke-84 El Barca masih unggul telak 3-0 atas Zaragoza.

Namun P.A. Colunga yang menggantikan Arizmendi pada menit ke-62 berhasil membobol gawang Barca dua kali (menit ke-85 dan 89). Skor akhir 4-2 membuat misi Barca menggusur Real Madrid dari tampuk singgasana pada pekan ke-27 La Liga pun gagal. Nilai mereka boleh sama, 68. Tapi El Real masih unggul dua gol (74-22) berbanding Barca (68-18).

Andai gawang Valdez tetap perawan pada laga itu, jelas El Barca yang bertakhta sementara. Selisih gol sama, tetapi pasukan Pep berhak di puncak mengingat catatan head-to-head kedua tim musim ini berpihak ke Barcelona.

Soal posisi puncak pada klasemen sementara memang perlu sebagai pendongkrak moral. Namun perjalanan musim ini masih cukup untuk El Barca. Lebih dari itu, di kandang Zaragoza saya kira ada hikmah penting yang sengaja disiapkan untuk dipetik Pep Guardiola: eksperimen strategi dan rotasi menyongsong duel sengit nan prestisius melawan Arsenal di perempat final Liga Champions.

Empat tahun lalu, tepatnya musim 2005-2006, Barca yang dipoles Frank Rijkaard berhasil mengalahkan Arsenal –yang kala itu masih diperkuat striker Barca saat ini, Thierry Henry— di partai final untuk mengangkat trofi juara. Namun semua tahu juga bahwa The Gunners yang masih setia dengan Arsene Wenger sebagai manajer kerap tampil spartan dan mengejutkan.

Mereka setia memoles dan mengandalkan tenaga-tenaga muda usia, sehingga kadang dijuluki sebagai The Young Gunners. Filosofi Wenger soal sepakbola dan Liga Champions pun cukup bermartabat. ‘’Anda tidak bisa membeli trofi Champions,’’ ujarnya beberapa waktu lalu, merujuk pada kecenderungan klub-klub kaya dan mapan secara finansial memborong pemain bintang demi ambisi menjuarai Liga Champions.

Nah, di kandang Zaragoza yang beberapa musim terakhir dikenal sebagai batu sandungan klub-klub raksasa itu, Pep mencoba memasang para pemain mudanya dalam starting eleven, termasuk hasil gemblengan Akademi Barcelona, serta mereka yang selama ini jarang diturunkan sebagai starter.

Di bawah mistar tetap Valdez yang menyandang ban kapten. Lalu Gerard Pique, pun ada Maxwell, Gaby Milito, Sergio Busquets, dan Seydou Keita. Tak lupa pula Pedro. Mereka dikombinasikan dengan para starter reguler seperti Yaya Toure, Dani Alves, maupun Messi, dan Ibra. Tak ada Iniesta, juga Carles Puyol maupun Thierry Henry sebagai starter.

Masuknya Iniesta menggantikan Yaya Toure pada menit ke-63 memang tidak mengurangi kegarangan Barca di lini tengah. Tetapi masuknya Puyol pada menit ke-70 menggantikan Pique, dan Rafael Marquez menit ke-73 mengisi tempat Milito justru membuat lini belakang Barca tampak kian keropos. Marquez dan Puyol kerap salah langkah dan kalah sprint mengantisipasi umpan-umpan terobosan para pemain Zaragoza.

Hasil di Zaragoza memang tidak mengecewakan. Namun kiranya Pep bisa memetik pelajaran penting dari laga ini sebelum menghadapi Arsenal yang memiliki pressing dan permainan cepat di perempat final Liga Champions nanti.