Piala Dunia 2010 Afrika Selatan hampir pasti tanpa Ronaldinho, Adriano, Diego, Alexandre Pato, Javier Zanetti, Esteban Cambiasso, Lisandro Lopez, Francesco Totti, Ruud van Nistelrooy, Patrick Vieira, bahkan Samir Nasri dan Karim Benzema, serta Charlie Davies –striker Timnas AS yang menjanjikan itu.

APAKAH pelatih sepakbola selalu benar? Karena para pengasah tim atau klub itu manusia, pasti tidak. Namun karena mereka lah penentu hitam-putihnya tim –yang bertanggung jawab atas kegagalan tim dan yang cenderung kali pertama dikorbankan seturut keterpurukan tim, tetapi tidak otomatis selalu yang terdepan dielu-elukan apabila tim berprestasi— maka selayaknya kepercayaan penuh diberikan kepadanya.

In coaches we trust.

Bukan haram. Tetapi disadari atau tidak, alangkah ganjil apabila pelatih merasa hak prerogatifnya telah dikebiri manajemen, publik, dan media. Jika ini yang terjadi, di tengah kegalauan dan tidak puas, bagaimana mereka bisa leluasa memainkan pola dan strategi di lapangan serta berharap hasil terbaik?

Karena enggan berspekulasi dengan kegagalan dan menyesal di kemudian hari, acapkali pelatih memilih berpegang teguh pada naluri prinsipnya. Inilah yang kiranya digenggam erat Carlos Dunga, pelatih Timnas Brasil ketika Senin (10/5) lalu mengumumkan daftar pemain sementara (provisional roster) skuad Samba untuk putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan bulan depan.

Wow, dari daftar sementara yang diserahkan ke FIFA itu tidak ada nama Ronaldinho. Tak hanya penggandrung bola di Brasil yang geleng-geleng kepala, tetapi juga para gibol di dunia. Bahkan Danny Jordaan, ketua panpel Piala Dunia 2010 Afsel, kelabakan dengan putusan Dunga meninggalkan Ronaldinho.

RONALDINHO: Gagal membuat Dunga terkesan dan membawanya ke Afrika Selatan. PHOTO: GETTY IMAGES

Jordaan bisa saja menyebut Ronaldinho sebagai a soccer genius, mantan Pemain Terbaik Dunia FIFA. Menyedihkan dan layak disesalkan bahwa turnamen sebesar Piala Dunia 2010 bakal ‘’menderita’’ tanpa Ronaldinho. Bintang yang ada di kepala hampir setiap orang tetap layak bisa unjuk kaki di Afsel nanti.

Namun Dunga telah bersikap, meskipun itu bertentangan dengan ‘’kelaziman’’. Di sisi lain, tidak adanya Ronaldinho dalam roster sementara sejatinya pula bukan kejutan yang luar biasa karena tengaranya terbaca jauh-jauh hari. Pada beberapa laga terakhir Kualifikasi Piala Dunia Zona Amerika Selatan (CONMEBOL), Ronaldinho sudah tidak terpakai. Begitu pula keputusan Dunga tidak membawanya ke perhelatan Piala Konfederasi di Afsel tahun lalu yang (toh) masih mampu dimenangi Brasil.

Dunga merasa tidak sreg lagi dengan kontribusi Ronaldinho di timnas beberapa tahun terakhir, khususnya penampilannya yang kurang prima bersama Samba di Olimpiade 2008 Beijing. Medali emas cabang sepakbola di olimpiade itu pun, lagi-lagi, dimenangi Timnas Argentina yang disokong magic skills Lionel Messi.

Publik dan media boleh saja menilai musim ini Ronaldinho telah menemukan kembali performa terbaiknya bersama AC Milan. Tapi di mata Dunga semua itu belum mencukupi. Skills terbaik sang bintang belum kembali. Dia masih menanggung ganjaran dari banyak ulah indisiplinernya di Barcelona, sehingga klub Catalan itu menjualnya ‘’jauh di bawah harga yang semestinya’’ ke AC Milan pada musim 2008-2009.

Dunga tidak terkesan. Masa keemasan Ronaldinho telah berlalu. Yang terakhir sebelum pengumuman roster sementara untuk Piala Dunia, Ronaldinho ditinggalkan kala Brasil melakukan laga persahabatan melawan Timnas Republik Irlandia di London pada 2 Maret 2010.

Tak hanya Ronaldinho. Adriano yang beberapa tahun terakhir juga kerap bikin ulah pun tidak masuk skuad sementara itu. Bahkan yang mencengangkan adalah tidak masuknya Diego, yang dinilai Dunga tidak cukup berkontribusi vital di Juventus musim ini, serta Alexandre Pato yang diakrabi cedera di AC Milan sepanjang musim ini.

Dunga telah mantap memilih dan harus siap menanggung risikonya. Begitu pula keputusan Marcello Lippi tidak memasukkan Francesco Totti di skuad sementara Timnas Italia. Pun tidak adanya Patrick Vieira, Karim Benzema, dan Samir Nasri di skuad sementara Timnas Prancis yang diinginkan Raymond Domenech.

Juga tidak ada Ruud van Nistelrooy di skuad sementara De Oranje Belanda. Tak masuknya Totti, Vieira, dan Nistelrooy mungkin bisa dipahami karena ketiganya sepanjang musim ini banyak dililit cedera.

MARADONA: Berketetapan hati meninggalkan Zanetti, Cambiasso, dan Lopez.

Namun untuk Nasri (Arsenal) dan Benzema (Real Madrid)? Oh, oh… Banyak yang bertanya-tanya. Begitu pula ketika Diego Maradona meninggalkan Javier Zanetti dan Esteban Cambiasso (keduanya di Inter Milan), serta Lisandro Lopez (Lyon) dalam skuad sementara Timnas Argentina untuk Piala Dunia 2010.

Publik bola dunia tahu betul Benzema dan Nasri masuk skuad ‘’Tim Ayam Jago’’ untuk kualifikasi lalu. Namun mereka juga masih ingat di timnas keduanya banyak duduk di bangku cadangan dan jarang dipasang sebagai starter.

Itu pula yang dialami Benzema di Real Madrid musim ini, meski kehadirannya di lapangan tidak jarang menjadi penyelamat klubnya dan menghadirkan ancaman bagi tim-tim lawan.

Nasri? Di Arsenal dia terbilang key player. Dia dikenal sebagai winger berbahaya. Kakinya lekat dengan bola. Larinya kencang. Dribbling skill-nya mumpuni. Manuver individunya acap kali membuat lawan-lawan Arsenal kelabakan. Ketika publik menilai tidak masuknya Nasri sebagai misteri, kiranya Domenech melihat segala kelebihan itu sebagai ‘’aset pribadi’’ yang kurang menopang kepaduan strateginya di Afsel. Apalagi Prancis memiliki stok wingers yang lebih tahan gempuran atau body contact dibandingkan Nasri yang mungil.

Cambiasso dan Zanetti adalah pemain-pemain hebat langganan Timnas Argentina. Bersama Cambiasso, musim ini kapten Inter Milan yang memang sudah berumur itu toh masih mampu membawa klubnya lolos ke final Liga Champions Eropa melawan Bayern Munich, 22 Mei nanti, di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid. Lopez musim ini juga mantap bersama Lyon hingga ke semifinal Liga Champions.

Mengapa Maradona meninggalkannya? Masih misteri. Namun saya kira ini lebih ke soal usia, kecenderungan pola main akhir-akhir ini, serta faktor persaingan di posisinya. Zanetti sudah berumur. Sebagai gelandang Cambiasso akhir-akhir ini lebih cenderung bertipe bertahan sebagai imbas policy Pelatih Inter, Jose Mourinho, yang bertentangan dengan naluri attacking football Maradona sebagai mantan penyerang jempolan.

Sedangkan untuk Lisandro Lopez, dalam beberapa kesempatan sebelumnya Maradona mengatakan sangat puas menyaksikan Lionel Messi (Barcelona), Gonzalo Higuain (Real Madrid), serta Diego Milito (Inter Milan). Pun, tidakkah di lini depan itu masih ada sang menantu, Sergio ‘’Kun’’ Aguero yang musim ini andil membawa Atletico Madrid ke final Europa League dan Piala Raja Spanyol?

Pelatih punya kuasa atas pertimbangannya. Karena kuasa itu pula, maka Pelatih Timnas AS Bob Bradley memastikan tidak memasukkan Charlie Davies, meskipun publik dan media menilai sang penyerang tetap layak dibawa ke Afsel. Bradley tidak mau tunduk pada romantisme publik kepada Davies sebagai penyerang menjanjikan. Mereka alpa pada realitas bahwa kecelakaan mobil pada Oktober lalu membuat Davies sepanjang musim ini banyak absen membela klubnya, Sochaux, di Ligue 1 Prancis. Belakangan dia memang sudah berlatih lagi, tetapi itu tidak cukup membuat Bradley yakin membawanya ke Afsel.

Davies memang tidak seberuntung Robin van Persie (Belanda), yang juga baru pulih dari cedera dan bermain di laga terakhir Arsenal di Premier League, tapi tetap masuk skuad ke Afsel. Juga Andres Iniesta, Cesc Fabregas, serta Fernando Torres (Spanyol) yang masih dimasukkan skuad meski sekarang masih bertarung dengan waktu untuk pulih dari cederanya.

Pelatih, lagi-lagi, punya kuasa atas pertimbangannya. Hanya keajaiban yang diharapkan para pemain yang tidak masuk daftar skuad sementara itu bisa berlaga di Afsel.

FIFA telah menetapkan 10 Mei lalu sebagai deadline penyerahan daftar skuad sementara beranggotakan maksimal 30 pemain, masing-masing kontestan harus memperkecilnya menjadi hanya 23 pemain dalam daftar skuad final per 1 Juni 2010. Artinya, dari maksimal 30 pemain dalam daftar sementara itu masih harus ada yang terpental. Logikanya, jika yang sudah masuk saja bisa dicoret, apalagi yang tidak masuk daftar sementara.

Meski demikian, pada keadaan darurat seperti cedera pemain dalam skuad akhir yang disahkan FIFA, timnas masih diberi kesempatan melakukan pergantian dengan memasukkan pemain baru sebagai pengganti. Nah, pengganti yang diizinkan itu tidak harus mereka yang sebelumnya masuk dalam daftar sementara. Pelatih bisa membawa pemain yang bahkan sebelumnya tidak ada dalam daftar sementara. Pergantian dilakukan paling lambat 24 jam sebelum timnas bersangkutan menjalani laga pertamanya di putaran final Piala Dunia 2010.

Jadi, untuk bisa berlaga di Afsel mendatang, Ronaldinho dan para idola lain yang tidak masuk skuad sementara harus menunggu dulu ada pemain dalam daftar itu yang cedera, mengundurkan diri, sehingga benar-benar tidak bisa bermain. Mungkinkah?

Mungkin saja meskipun amat sangat kecil peluangnya dan, lagi-lagi, semua berpulang pada kuasa pelatih.