Dunia ini sempit. Sekali menjejak lahan pergaulan, jangan pernah berpikir terlepas selamanya dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Mungkin pesan itu bersemedi pula di sanubari terdalam Jose Mario dos Santos Mourinho, allenatore Inter Milan (Italia), dan Aloysius Paulus Maria ‘’Louis’’ van Gaal, arsitek Bayern Munich (Jerman).

MENYONGSONG final Liga Champions 2009/2010 di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, 22 Mei, banyak hal berbau ‘’serbakebetulan’’ yang bakal tersaji pada partai puncak kompetisi antarklub paling bergengsi di Benua Biru itu. Kedua pelatih bersaing mengukir treble winners, yakni Mou setelah mempersembahkan juara Coppa Italia dan kampiun Serie A, serta Van Gaal usai memberikan trofi juara DFB Pokal (Piala Jerman) dan Bundesliga musim ini.

Mourinho vs Van Gaal. Banyak yang ingat bagaimana keduanya pernah bekerja sama memoles Barcelona pada tahun 1996 hingga 2000 . Van Gaal bertindak sebagai pelatih kepala, sedangkan Mourinho asistennya. Kala itu Pep Guardiola, kini pelatih El Barca, adalah pemilik ban kapten di tim senior klub kebanggaan warga Catalan tersebut.

Jelas keduanya sudah tak asing lagi dengan atmosfer Spanyol, termasuk venue final di Santiago Bernabeu. Publik setempat juga akan bangga bercampur kecewa. Sah-sah saja media Spanyol –termasuk terbitan ibu kota— mengecam Mourinho dan para punggawa Inter Milan yang mempertontonkan negative football dan kelewat pamer filosofi catenaccio (pertahanan gerendel) khas Italia pada leg kedua semifinal melawan Barcelona di Camp Nou lalu. Inter kalah supertelak dalam penguasaan bola maupun total passing. Alhasil mereka juga kalah telak dalam melepas tendangan ke gawang.

Namun orang tahu Mou dan semua pemain I Nerazzurri yang beraksi pada laga itu bukan asal Italia. Meski kalah 0-1 setelah dipaksa bermain dengan 10 orang, toh Inter yang lolos dengan keunggulan agregat 3-2 hasil kemenangan 3-1 pada leg pertama di kandangnya, Stadion Giuseppe Meazza, Milan.

Betapa pun kecewa publik Bernabeu, mereka harus menerima kehadiran Mou dan menyaksikan model permainan macam apa yang bakal dipertontonkan ketika menghadapi Bayern dan Van Gaal. Publik bola di ibu kota Spanyol itu juga dipaksa untuk menyaksikan pembuktian comeback-nya duo Belanda, Arjen Robben dan Wesley Sneijder, ke Bernabeu di bawah panji-panji dua klub yang berhadapan.

Robben di kubu Bayern dan Sneijder di Inter. Awal musim ini keduanya didepak raksasa Spanyol penguasa Bernabeu, Real Madrid, karena dinilai tidak cukup cocok dengan strategi permainannya. Juga karena faktor kehadiran bintang mahal Cristiano Ronaldo yang terbukti musim ini masih belum cukup membuat El Real unjuk gigi di ranah domestik maupun Eropa.

Apa pun yang bakal disuguhkan Mou, Sneijder, serta Robben, bagi publik Bernabeu kiranya lebih baik daripada harus menyaksikan rival klasiknya, Barcelona, berlaga di final Champions.

Thanks to Mourinho. Dialah yang membuat ‘’penghinaan’’ dari Barca untuk kesekian kalinya di Bernabeu gagal terwujud. Adakah faktor ini berperan mendorong manajemen El Real belakangan ramai disebut ngebet menggaet Mou ke Bernabeu musim depan?

Mou penjinak El Barca dan Pep Guardiola yang dinilai tetap menjadi ancaman musim depan. Alhasil, andai Inter dan Mou kalah di final melawan Bayern nanti, kiranya itu tidak akan menjadi faktor krusial Real Madrid mengurungkan niat merekrutnya. Jika tak jadi, mungkin ada faktor lain yang lebih pokok, misalnya soal salary dan fasilitas.

Namun seandainya Inter mampu menjinakkan Bayern di final nanti, publik di mana pun –tak terkecuali di Bernabeu— harus mengakui bahwa lelaki asal Portugal kelahiran 1963 itu memang pelatih cerdik dan jempolan. Pelatih yang fast learner alias cepat belajar dari yang pernah dijalani dan tidak mau mengulang kegagalan.

Pada turnamen pemanasan pramusim 2009/2010 Challenge Cup di Pasadena, AS, Mou menyaksikan pasukannya digebuk 0-2 oleh bekas klub yang pernah membesarkan namanya, Chelsea, yang ketika itu mulai dipoles Carlo Ancelotti. Semusim sebelumnya, antara Mou dan Ancelotti masih berperang di Serie A Italia memoles dua klub sekota, Inter dan AC Milan. Pada persaingan musim 2008/2009, Ancelotti langsung dipaksa mengakui kehebatan Mou yang membawa Inter juara Serie A.

Tapi kemenangan di Challenge Cup itu sempat membuat publik yakin Ancelotti akan membawa warna baru di Chelsea. Ancelotti juga diyakini berpeluang mengungguli catatan prestasi Mou di klub yang bermarkas di Stamford Bridge tersebut. Benarkah?

JOSE MOURINHO: Membayar dendam di Italia. PHOTO: GETTY IMAGES

Bukti menunjukkan, bukan Mou jika tidak cepat belajar dari kekalahan. Pada babak perdelapan final Liga Champions musim ini, Chelsea dan Inter bersua lagi. Momen pembuktian pun tiba untuk ditunjukkan Mou kepada big boss Chelsea, Roman Abramovich, yang telah mendepaknya karena tidak suka dengan pola dan strategi ‘’asal menang’’ yang disuntikkan Mou kepada skuad Chelsea. Apalagi Mou selalu gagal membawa Chelsea mampu menjuarai di Liga Champions. Padahal trofi kampiun Eropa itulah yang diidamkan sang tsar.

Maka dua gelar juara Liga Primer, dua kali juara Piala Liga (Carling Cup), serta sekali kampiun Piala FA yang dipersembahkan Mou untuk The Blues dalam kurun 2004-2007 tidak lagi masuk hitungan. Malam sebelum pemecatannya pada 20 September 2007, di gedung bioskop Fulham Broadway para staf dan pemain Chelsea –kecuali John Terry dan Frank Lampard— di-brainstorm dengan tontonan Blue Revolution, film dokumenter tentang tahun-tahun kejayaan Chelsea di bawah kekaisaran Roman Abramovich.

Mou mampu membalas ‘’penghinaan’’ tersebut. Di kandangnya Mou membawa Inter menang 2-1. Lalu pada leg kedua Chelsea kembali dipermalukan, kali ini di depan publik Stamford Bridge, dengan 0-1. Mou tidak hanya revans terhadap Ancelotti pada perjalanan musim ini. Namun yang terbesar adalah membuktikan diri bahwa seorang Abramovich telah salah mendepaknya.

Barcelona? El Barca sempat difavoritkan penggila bola di dunia bakal mengukir sejarah sebagai klub pertama yang mampu menjuarai Liga Champions dua kali beruntun. Prediksi semakin menguat ketika di penyisihan grup Barca begitu tampil perkasa –termasuk di Camp Nou menumbangkan Inter 2-0 setelah imbang tanpa gol pada laga pertama di Giuseppe Meazza. Juga setelah Barca begitu digdaya melumat Arsenal di perempat final.

Di semifinal Inter dan Barca berjumpa lagi. Hasilnya, semua tahu, Mou dan Inter kalah pada laga kedua di kandang Barca, namun surplus gol saat first leg cukup membawa I Nerazzurri melenggang ke final melawan Bayern Munich –yang menang telak atas Olympique Lyon (Prancis) di semifinal. .

Melawan ‘’Timnas Jerman’’

Lantas, bagaimana kans melawan Van Gaal dan Bayern di final?

Kedekatan dengan Van Gaal semasa di Barcelona kiranya belum cukup kuat dijadikan pijakan Mou untuk bisa menumbangkan Bayern. Dikenal pula sebagai arsitek cerdik, tentu Meneer Belanda itu akan mengubah racikan pola dan strategi berdasarkan materi skuadnya –termasuk tipikal masing-masing pemain— yang ada. Jelas materi pemain yang dimiliki di Bayern sekarang sangat jauh berbeda dengan saat memoles Barcelona dulu, yang disaksikan dan diketahui langsung dari dekat oleh Mou.

LOUIS VAN GAAL: Tertantang membesut Timnas Jerman. PHOTO: GETTY IMAGES

Apalagi sepanjang perjalanan musim ini antara Inter dan Bayern belum pernah berhadapan di turnamen resmi. Pertandingan final pun berlangsung hanya sekali, tidak home and away seperti kualifikasi, penyisihan grup, perdelapan, perempat, hingga semifinal. Jadi Mou tidak bisa berharap pelajaran dari memori pendek seperti saat menghadapi Chelsea maupun Barcelona.

Mou bisa saja menyaksikan pola dan gaya permainan Bayern di pelbagai ajang dari rekaman video dan, misalnya, mencermati saksama duo key players Bayern yang tampil sebagai penyelamat pada laga perdelapan, perempat final, dan semifinal –Ivica Olic serta Arjen Robben. Khusus untuk Robben, yang kembali jadi ace di final karena Franck Ribery masih dikenai larangan bermain, referensi Mou kiranya juga mencukupi mengingat bintang timnas Belanda dengan gocekan dan tendangan kaki kiri maut itu pernah dipolesnya saat di Chelsea sebelum terbang ke Real Madrid.

Seperti halnya Mou, tentu Van Gaal memiliki jurus pamungkas yang disesuaikan dengan tuntutan di lapangan. Bahkan bisa dibilang Bayern memiliki modal melebihi Inter, khususnya faktor ketenangan dan kegigihan dalam penguasaan bola (ball possession).

Menghadapi Bayern, Inter juga tidak bisa lagi mengandalkan strategi menunggu, lalu menghantam lewat serangan balik dengan long pass atau gempuran melalui manuver pemain sayap –seperti rajin diperankan Douglas Maicon— saat meladeni Chelsea dan Barca. Pertempuran lini tengah diperkirakan sengit, dengan Esteban Cambiasso (Inter) serta Mark van Bommel (Bayern) sama-sama bertipe breaker yang punya nyali menusuk ke jantung pertahanan lawan serta melepaskan bola tendangan jarak jauh.

Power pun tidak lagi menjadi dominasi Inter seperti saat meladeni Chelsea yang begitu mengandalkan Frank Lampard hingga tampak kelelahan, serta membuat kapten John Terry frustrasi hingga melakukan pelanggaran berbuah kartu merah. Inter juga tidak bisa mengandalkan power sebagaimana saat menghadapi Barcelona di laga pertama semifinal dengan lebih banyak memanfaatkan counter attack.

Pada laga kedua Barca ‘’memaksakan diri’’ mengimbanginya dengan menurunkan Seydou Keita, Gabriel Milito, dan Yaya Toure sebagai starter dengan harapan bisa meredam Cambiasso. Memang cukup bisa, tetapi Cambiasso tidak mau terpancing lebih banyak naik membantu serangan –apalagi setelah Thiago Motta di-kartu merah.

Alhasil esensi permainan cantik dan kreasi gempuran Barca dari lini tengah menjadi korban. Xavi Hernandez memang dominan menguasai dan membagi-bagi bola di tengah, tapi tidak cukup mengirimnya ke depan untuk bisa dilumat Zlatan Ibrahimovic maupun digoreng Lionel Messi menjadi gol.

Melawan Bayern, ibaratnya Mou dihadapkan pada ‘’Timnas Mini Jerman’’. Kiper Hans-Jorg Butt, defenders Holger Badstuber dan Philipp Lahm, gelandang Bastian Schweinsteiger, serta striker Mario Gomez, Miroslav Klose, dan Thomas Muller, semuanya anggota skuad pilar Timnas Der Panzer untuk Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Juga gelandang Toni Kroos (musim panas ini kembali ke Bayern setelah dua tahun dipinjamkan ke Bayer Leverkusen), yang sudah jadi langganan timnas meski jelas tidak memperkuat Bayern di final Liga Champions nanti.

Sejarah mencatat, saat pemain Bayern mendominasi skuad Timnas Jerman (terbilang juga Jerman Barat), sukses pun menghampiri. Di Piala Dunia 1974, enam pemain Bayern termasuk pilar-pilar seperti Franz Beckenbauer, Uli Hoeness, Paul Breitner, dan Sepp Maier andil membawa Jerman Barat sebagai juara dunia dengan menekuk Belanda di partai final.

Enam belas tahun kemudian, enam pemain Bayern serta dua mantan bintangnya –Lothar Matthaeus dan Andreas Brehme— juga menjadi pilar Timnas Jerman Barat ketika tampil sebagai juara Piala Dunia 1990 di Italia usai membekap Argentina pada partai puncak di Roma.

Tak mengherankan apabila Van Gaal, 53 tahun, sempat berkelakar, usai mengantarkan Bayern meraih treble musim ini akan membidik kursi pelatih Timnas Jerman menggantikan Joachim Loew. Sebab, demikian Van Gaal, dia memiliki amunisi jitu di Bayern guna memberikan hasil terbaik untuk Timnas Jerman.

Faktanya Bayern memang bukan Timnas Jerman. Liga Champions juga jelas-jelas bukan perhelatan Piala Dunia. Namun realitas bahwa Bayern tidak ubahnya ‘’Timnas Mini Jerman’’ itu merupakan tantangan serius untuk Mou dan Inter yang mayoritas diperkuat pemain dari Amerika Latin.

Spirit tempur khas Jerman yang disokong power serta determinasi prima, tidak tergoda nafsu beratraksi individu melainkan lebih melihat asas manfaat, begitu dipunyai Bayern. Martin Demichelis, Lahm, Schwensteiger dkk serasa lengkap berpadu dengan duo Belanda, Van Bommel dan Robben, yang berani ambil risiko fisik dan berspekulasi dengan tendangan-tendangan jarak jauh.

Mencoba peruntungan dari bola-bola mati dan tendangan penjuru juga menjadi jurus penakluk klub Jerman tersebut. Inilah yang kiranya perlu diwaspadai Mou dan para pemain belakang Inter yang dikenal cukup temperamental, termasuk Lucio yang cukup lama merumput bersama Bayern.

Terlalu berisiko apabila Mou dan para pemain Inter berharap mujur dari adu penalti dengan cenderung mengandalkan kepiawaian kiper Julio Cesar. Sudah tradisi para pemain Jerman –termasuk yang di Bayern— merupakan eksekutor cool dan jitu. Determinasi dan mental mereka lebih mantap dibandingkan rata-rata pemain Inter.

Mau tak mau, Mou dan para pemain Inter harus ekstrawaspada. Mengalahkan Bayern tidak semudah membikin Chelsea dan Barcelona frustrasi. (*)