Jelas tidak sama, tetapi perebutan posisi ketiga antara Uruguay dan Jerman, dini hari nanti, kiranya tetap menarik disaksikan sebelum final Belanda vs Spanyol, Senin (12/7) dini hari WIB. Uruguay dan Jerman memburu sembuh untuk jenis luka yang berbeda. Kesembuhan yang tidak saja diharapkan menyehatkan sesaat, namun membuatnya lebih tegar melangkah ke depan. Mungkin hingga empat tahun ke depan saat Piala Dunia 2014 bergeser lagi ke Brasil di Amerika Latin.

Datang ke Afsel berstatus underdog, bahkan di antara sesama tim Amerika Latin, Uruguay mengukir prestasi gemilang pada kurun 40 tahun terakhir. Gagal ke final demi menoreh kejutan sebagai juara tentu menyedihkan. Namun bisa lolos ke semifinal merupakan capaian sangat besar untuk tim yang kini berada di peringkat ke-16 FIFA ini. Kesempatan tersisa meraih posisi ketiga kini di depan mata. Hanya ini penawarnya.

Luis Suarez, striker yang diskorsing saat kalah 2-3 dari Belanda menyusul ‘’tangan usilnya’’ yang berbuah kartu merah kala melawan Ghana di perempat final, sudah bisa diturunkan lagi melawan Jerman. Kepada media, Suarez pun mengatakan, kini tiba saatnya ‘’bermain sampai mati’’ untuk tempat ketiga itu. Piala Dunia kali ini memberi Uruguay kesan luar biasa dan mereka tidak mau sekadar masuk empat besar.

Bisa masuk tiga besar tidak hanya menjanjikan kenaikan tajam posisi Uruguay di peringkat FIFA yang akan diperbarui 14 Juli nanti atau tiga hari pasca perhelatan Piala Dunia 2010. Sukses akan menjadi capaian terbaik Uruguay sejak menjuarai Piala Dunia 1950. Catatan terbaik sebelumnya adalah semifinalis Piala Dunia 1970, tapi kalah 0-1 dalam perebutan posisi ketiga oleh Jerman Barat lewat gol Wolfgang Overath pada menit ke-26 di Stadion Azteca, Mexico City, pada 20 Juni 1970.

Empat puluh tahun berlalu. Dini hari nanti di Port Elizabeth, Timnas Uruguay bertemu lagi dengan Jerman yang sudah bersatu. Selain nostalgia memberi kans untuk revans atas kekalahan 40 tahun silam, inilah kesempatan memantapkan kebangkitan baru La Celeste. Suarez, pencetak tiga gol di Piala Dunia 2010, bertekad memenanginya.

Begitu pula Diego Forlan. Bahkan selain demi kebesaran timnasnya, terdapat misi pribadi yang diusung Forlan agar tetap diturunkan pada laga ini meski bermasalah dengan paha kanannya. Yaitu, mengejar predikat pendulang gol tersubur (top scorer) Piala Dunia 2010. Saat ini Forlan mengemas 4 gol alias tertinggal satu gol dari playmaker Belanda Wesley Sneijder dan striker Spanyol David Villa.

Forlan telah mengemas lima gol dalam dua kali Piala Dunia. Saat Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang, ia mencetak satu gol namun Uruguay gagal lolos dari fase grup. Dia sudah mengemas 28 gol untuk timnas atau terpaut hanya tiga gol dari Hector Scarone sebagai pemilik rekor sepanjang masa di Timnas Uruguay. Dua kali pula Forlan meraih ‘’Sepatu Emas Eropa’’ sebagai pencetak gol terbanyak di Benua Biru.

Selain Sneijder dan Villa yang berkesempatan menambah pundi-pundi gol karena timnas yang dibelanya masih akan duel di final, koleksi 4 gol juga dikemas duo striker Jerman: Thomas Mueller dan Miroslav Klose. Mueller bisa diturunkan lagi dini hari nanti setelah absen melawan Spanyol karena akumulasi kartu. Tetapi kondisi Klose fifty-fifty akibat cedera punggung yang didapat ketika melawan Spanyol. Padahal inilah kans tersisa Klose menyamai rekor 15 gol Ronaldo (Brasil) di Piala Dunia. Sami Khedira serta Mesut Oezil yang juga dinyatakan bermasalah dengan kebugaran.

***

Perebutan tempat ketiga jelas bukan target ideal Die Panzer. Meski datang ke Afsel bukan di posisi empat besar unggulan juara –masih di bawah Brasil, Spanyol, Argentina, dan Inggris— Jerman menyentak publik bola dunia sepanjang perhelatan ini karena tampil sebagai tim paling produktif (plus-minus gol 13-2 sebelum dihentikan Spanyol di semifinal) dengan para pemain muda usia dari berbagai latar pertalian darah.

Tapi timnas berperingkat ke-6 FIFA itu (Spanyol di peringkat ke-2 dan Belanda di posisi ke-4) membersitkan harapan Jerman segera meraih gelar juara untuk kali keempat setelah menang 4-1 atas Inggris pada babak 16 besar dan mengempaskan Argentina 4-0 di perempat final. Nyatanya keperkasaan Die Panzer belum cukup ampuh mengungguli kecerdikan La Furia Roja Spanyol, yang juga menundukkannya di final Piala Eropa 2008.

Lantas, apa makna perebutan posisi ketiga ini untuk Jerman?

Test case mental. Sejauh mana Philipp Lahm dkk bisa cepat bangkit dari keterpurukan setelah diberi ‘’pelajaran’’ Spanyol. Selain hasil akhir laga yang menjadi barometer absolut prestasi, sangat menarik menyaksikan permainan Die Panzer. Duel dini hari nanti sekiranya juga bisa memberi gambaran apakah bakal menjadi momen terakhir Joachim Loew mendampingi tim setelah menggenggam jabatan pelatih dari Juergen Klinsmann usai Piala Dunia 2006 di rumah sendiri.

Jika Jerman menang dengan permainan yang kembali mengesankan, jalan Loew bertahan mungkin masih terbuka. Itu pula yang diungkapkan Kapten Lahm dan berbagai pihak yang mendukung Loew dipertahankan pasca kekalahan dari Spanyol. Jika kalah, terbuka juga peluang Loew segera dicopot meski lelaki 50 tahun ini menorehkan catatan pelatih terbaik di antara seluruh pelatih timnas untuk kategori rasio menang-kalah.

Ibarat pepatah, pantang seseorang terperosok di lubang serupa untuk kali kedua. Dua kali kesempatan Loew membawa Timnas Jerman melawan Spanyol di laga-laga krusial, final Piala Eropa 2008 dan semifinal Piala Dunia 2010. Tapi dua kali pula Die Panzer kalah. Apalagi Februari lalu Loew dan Deutscher Fusball-Bund (DFB, Persatuan Sepak Bola Jerman) sempat berselisih seputar beberapa hal terkait kontraknya, di antaranya soal kompensasi finansial dan penentuan staf untuk pelatih kepala.

Kekalahan memperebutkan tempat ketiga, apalagi jika permainan Jerman tidak mengesankan seperti melawan Spanyol, perlahan tapi pasti bukan mustahil para pengurus DFB mengungkit kepiawaian pelatih yang mantan gelandang serang itu sebagai tactician.

Di luar semua kemungkinan itu, Loew telah mewariskan wajah baru di Timnas Jerman dengan segala plus-minusnya. Timnas Jerman yang ia yakini tetap padu meski ia tidak lagi bersama mereka. Skuad Die Panzer yang menjanjikan untuk kompetisi mendatang, Piala Eropa 2012 dan Piala Dunia 2014. ‘’Tim ini memiliki para pemain bagus, segala kemungkinan masih bisa terjadi. Terlepas siapa yang memegang kendali, tim ini tetap padu. Perkembangan tim ini bukanlah akhir, namun baru permulaan,’’ tuturnya dalam konferensi pers usai kekalahan melawan Spanyol.

Oleh karena itu, menarik ditunggu bagaimana permainan Jerman dini hari nanti serta hasilnya melawan Uruguay. Apakah usai laga ini Presiden DFB Theo Zwanziger masih tetap menilai Loew sebagai ‘’pelatih yang baik’’?

* ) Beberapa bagian dari artikel ini dimuat di Jurnal Bogor, Sabtu 10 Juli 2010.