Mario Vargas Llosa, penerima Nobel Sastra 2010. PHOTO: AFP-GETTY

 

Jarum jam menunjukkan pukul 05.00 pagi waktu New York, Kamis 7 Oktober 2010. Mario Vargas Llosa, 74 tahun, masih terpaku di meja kerjanya. Tak lama lagi ia bersiap meninggalkan apartemennya, berjalan-jalan pagi menghirup udara segar Central Park.

Belum sempat melintasi pintu ke luar, telepon di apartemennya berdering. Seorang pewarta nan jauh di seberang –dari Lima, Peru, negeri kelahirannya— memberi tahu sang novelis kabar termutakhir dari Stockholm, Swedia. Swedish Academy menganugerahkan Nobel Kesusastraan 2010 untuk novelis Peru itu. Selain piagam, pada upacara penyerahan Hadiah Nobel Sastra ke-102 ini di Stockholm, 10 Desember, Llosa juga akan menerima hadiah tunai 100 juta kronor (US$ 1,5 juta).

Llosa terperanjat. Nyaris tak percaya mendengarnya, tetapi ia juga penuh harap kabar itu nyata. Semuanya menjadi nyata setelah ia menerima telepon resmi dari Stockholm. ‘’Kejutan luar biasa. Cara bagus memulai hari di New York,’’ ujar Llosa, kini juga pengajar kajian Amerika Latin di Princeton University, kepada The New York Times.

Komite mengganjar novelis yang pernah kalah dalam Pemilihan Presiden Peru 1990 itu karena dua hal utama. Pertama, karya-karya Llosa dinilai sarat gambaran dengan kritik atas sisi buruk kekuasaan dan dampak jahat korupsi pada sistem pemerintahan serta rakyat. Kedua, eksistensi Llosa yang tidak hanya sebagai ‘’penyaksi’’, melainkan juga pernah sebagai pelaku dalam sistem politik.

Menurut Llosa, karya sastra (novel) akan lebih berbicara bila memang mempertanyakan sekaligus merekam kenyataan riil di sekeliling. Karya sastra bisa berwujud fiksi, tetapi ia harus mempunyai kekuatan untuk menggelorakan spirit manusia. Menghidupkan manusia.

Oleh karena itu, tak salah jika Permanent Secretary Swedish Academy Peter Englund bahkan menjuluki Llosa sebagai a divinely gifted story-teller. Ditakdirkan dilahirkan menjadi pencerita andal. ‘’Karya-karyanya mampu menyentuh pembaca,’’ kata Englund seperti diwartakan The Associated Press.

Novel-novel Llosa, yang sudah diterjemahkan dalam 31 bahasa di dunia, tidak hanya sebagai karya sastra, tapi juga ‘’referensi politik’’ untuk politisi di dunia. Llosa telah memberikan gambaran yang detail dan penuh nyawa atas rupa kekuasaan politik dengan hampir segala dampak gelapnya.

Nobel Sastra untuk novelis dari negara berbahasa Spanyol ini merupakan yang kali pertama sejak 1990 yang dianugerahkan kepada Octavio Paz (Meksiko). Bisa dicermati, Akademi Nobel kini menaruh perhatian baru pada para penulis dari Amerika Latin era 1960-an yang andil melahirkan boom generation di wilayah itu, seperti Julio Cortazar (Argentina) dan Carlos Fuentes (Meksiko). Tentu tidak ketinggalan nama Gabriel Garcia Marquez, penerima Nobel Sastra 1982 yang pernah menjadi karib Llosa.

Selain itu, pemilihan Llosa sebagai pemenang Nobel Sastra 2010 juga menandai kecenderungan Akademi Nobel terhadap karya-karya yang bergelut dengan dunia politik. Tahun lalu hadiah itu menjadi milik Herta Mueller, novelis Jerman kelahiran Rumania. Sebelumnya Nobel Sastra 2007 diberikan kepada Orhan Pamuk (Turki) dan Harold Pinter (Inggris) pada 2005, juga dengan karya-karya ‘’berbau politik’’.

Llosa dan Popularitas

Lahir di Arequipa, Peru, pada 1936, Llosa menulis lebih dari 30 novel, drama, dan esai, termasuk The Feast of the Goat dan The War of the End of the World. Diilhami kekagumannya pada novel-novel Jules Verne, sejak kecil ia bercita-cita menjadi penulis. Pada usia 15 tahun, ia sudah bekerja sebagai reporter kriminal.

Di usia belasan tahun itu pula ia bergabung dengan sel perjuangan komunis, lalu memutuskan kawin lari dengan Julia Urquidi yang sudah berusia 33 tahun sekaligus ipar pamannya pada 1956. Sembilan tahun usia pernikahan itu mengilhami Llosa menulis novel Aunt Julia and the Script Writer (La Tia Julia y el Escribidor) dan menuai sukses. Usai bercerai, pada 1965 itu pula Llosa menikahi sepupunya, Patricia Llosa, yang 10 tahun lebih muda dari usianya. Mereka dikaruniai tiga anak.

Masa kecilnya banyak dihabiskan di Cochabamba, Bolivia, lalu mengikuti orangtua hijrah ke pinggiran Lima. Di ibu kota Peru itu dia belajar hukum dan sastra di Universitas San Marcos pada 1950-an, saat Peru dilanda konflik politik dan kekerasan. Berdasarkan pengalaman hidup itu, lahirlah novel Conversation in the Cathedral (1969).

Selepas kuliah, dia menulis untuk berbagai koran di Peru. Lazimnya kehidupan para penulis Amerika Latin, saat muda Llosa juga berusaha menancapkan karier kepenulisannya di luar negeri. Ia pun melanglang ke Paris, Madrid, dan London. Pada 1960-an novelnya, The Time of the Hero, yang bertutur tentang kehidupan akademi militer di Peru, mulai disambut hangat publik pembaca dunia, namun di dalam negeri memicu kontroversi.

Pada 1970-an, Llosa mengecam pemerintahan Kuba di bawah kendali Fidel Castro, serta perlahan-lahan menunjukkan perubahan haluan ke arah konservatisme pasar bebas. Perubahan sikap ini memicu perdebatan sengit dengan para sastrawan kontemporer Amerika Latin, tidak terkecuali dengan karibnya, Gabriel Garcia Marquez.

Pertikaian memuncak menjadi bentrok fisik saat premiere sebuah film di Mexico City pada 1976. Saat Garcia Marquez mendekat dan hendak memeluk Llosa, tiba-tiba Llosa menghunjamkan pukulan ke mata Marquez hingga lebam. Foto mata lebam itu bisa diabadikan fotografer Rodrigo Moya dan menjadi santapan dunia beberapa hari kemudian.

Misteri menyelimuti insiden tersebut. Ada yang bilang Llosa meninju telak wajah Garcia Marquez karena setia sebagai ‘’antek’’ Castro. Namun ada juga yang meyakini insiden itu terjadi dipicu oleh keberangan Llosa karena sebelumnya sang istri telah digoda Marquez di Paris.

Awal 1980-an bisa dibilang Llosa merupakan penulis Amerika Latin yang paling sukses. Karya-karyanya, seperti Green House, Conversation in the Cathedral, serta Aunt Julia and the Scriptwriter, mendapatkan sambut luas di dunia. Namanya pun membubung.

Saat Peru dihajar inflasi tinggi dan serentetan serangan berdarah oleh pemberontak Shining Path (Jalan Bersinar) yang berhaluan Maois, pada 1990 Llosa mencalonkan diri sebagai presiden melawan Alberto Fujimori. Ia mengusung ide-ide perekonomian berorientasi pasar (market-oriented) dalam kampanye dan unggul di berbagai polling prapemilihan. Tapi hasil pemilu bertolak belakang. Beberapa hal penting ditengarai menjadi penyebab kekalahannya, di antaranya, penampilan cenderung aristokrat di tengah mayoritas penduduk miskin dan pengakuan ia agnostik di negeri berpenduduk mayoritas penganut Katolik Roma. Llosa juga dinilai tidak cukup tegas siap meninggalkan karier menulisnya jika terpilih.

Ketika berkuasa (28 Juli 1990—17 November 2000), Fujimori juga menerapkan berbagai kebijakan market-oriented yang digagas Llosa dan mampu menciptakan stabilitas perekonomian Peru. Kini Fujimori meringkuk di penjara Peru karena vonis pelanggaran hak asasi manusia saat berkuasa setelah sempat kabur ke Jepang menyusul penggulingan pemerintahannya. Namun Llosa tetap low profile merespons nasib bekas lawan politiknya itu.

Pengalaman pahit politik di dalam negeri juga tidak mengerosi pengaruh Llosa di dunia, khususnya di negara-negara berbahasa Spanyol. Salah satu cara melanggengkan popularitas itu adalah rutin menulis kolom ‘’Piedra de Toque (Batu Uji)’’ di koran El Pais Madrid, Spanyol. Tulisan itu juga didistribusikan ke koran-koran di negara-negara berbahasa Spanyol. Tak hanya sastra, sisi lain politik dan travel di Amerika Latin serta Timur Tengah dikupas Llosa. Pada 1995, ia pun mendapatkan Cervantes Prize, penghargaan sastra tertinggi dari negara-negara berbahasa Spanyol.