Edinson Cavani (Uruguay). PHOTO: EPA

MUSTAHIL memutar balik jarum jam. Juli 2009, pesta yang dirancang megah di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta, dipaksa batal menyusul teror bom pada dua hotel berbintang di ibu kota. Manchester United (MU) urung beraksi di atas hamparan rumput SUGBK.

Dalam pidato merespons teror itu, Presiden SBY mengucapkan duka mendalam untuk korban dan keluarganya. Diam beberapa saat menahan geram sebelum mengungkapkan kesedihan karena MU batal hadir. Impian rakyat di Tanah Air menyaksikan aksi Wayne Rooney dkk pun terkubur. Pembatalan lawatan MU seturut berita teror menyebar ke seantero jagat.

Tragedi teror itu lebih dari setahun berlalu. Kini pesta disiapkan lagi di SUGBK. Bukan untuk menjamu MU, tapi Timnas Uruguay yang sudah tiba di Jakarta sejak Selasa (5/10) untuk laga persahabatan melawan Timnas Indonesia, Jumat (8/10) malam. Timnas Uruguay memberikan lebih dari sekadar panacea alias pereda nyeri akibat sakit oleh ulah teroris yang andil membatalkan kunjungan MU. Sakit itu masih tersisa, tetapi sepak bola tidak boleh berhenti sebagaimana kesinambungan membasmi teroris di republik ini.

Timnas Uruguay memang bukan MU yang lebih rutin disaksikan, sehingga hampir seluruh nama pemainnya diakrabi publik sepak bola di Indonesia. Namun dua jempol, angkat topi tinggi-tinggi, serta apresiasi yang tidak tepermanai layak diberikan kepada Pemerintah dan Timnas Uruguay. Dengan hadir di negara ini, belum bertanding pun sejatinya mereka telah memberi Indonesia kemenangan besar.

Kemenangan di luar lapangan yang jauh melampaui catatan skor mengingat bobot nilainya menjadi lebih besar di mata otoritas, pengamat, dan publik sepak bola global. Timnas Uruguay, penghuni peringkat keempat pada putaran final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, bersedia bertanding di Indonesia.

Inilah pertandingan antarnegara, bukan tim nasional versus klub. Oleh karena itu, lagu kebangsaan kedua negara lazim dikumandangkan sebelum laga dan membuat siapa pun pemain berbangga bisa membela timnas. Suporter juga terbakar nasionalismenya. Bahkan tidak jarang yang hadir di stadion disulut haru hingga menitikkan air mata kala Indonesia Raya berkumandang. Semuanya akan terwujud pada Jumat malam berkat La Celeste, julukan Timnas Uruguay.

Mereka berjasa menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia (masih) tempat yang aman untuk klub dan timnas mana pun dari berbagai penjuru dunia. Meski berlabel persahabatan, semoga perwakilan media dan kantor berita asing di Indonesia mengabarkan laga penting ini ke penjuru dunia. Semoga pula kabar laga ini terpampang di website resmi Kofederasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA), Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Konfederasi Sepak Bola Amerika Latin (CONMEBOL), serta berbagai global news and live score olahraga, khususnya sepak bola.

Yang terjual ke dunia luar pun tidak lagi sekadar kata tetapi bukti. Mungkin nanti tidak ada lagi pertanyaan ‘’lugu’’ seperti dilontarkan seorang teman di Eropa setelah FIFA resmi menggugurkan rencana pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. ‘’Memang di Indonesia ada sepak bola? Kok saya tidak pernah tahu kabar timnas Anda,’’ katanya.

***

Timnas Uruguay telah memberi Indonesia pesta kemenangan. Kiranya tidak ada yang lebih pas sebagai imbalan selain menjadi tuan rumah yang baik. Baik penyelanggaraan, baik perilaku suporternya, maupun baik dalam mengalur dan mengalirkan jalannya pertandingan jika wasit serta para asisten pertandingan ini berasal dari Indonesia (baru pada Kamis sore PSSI memastikan pertandingan ini dipimpin wasit dari Singapura, sedangkan wasit cadangan dan para asisten dari Indonesia).

Prinsip Fair Play harus tetap ditegakkan.Jangan sampai pesta ini ternoda dan hanya akan memperburuk lagi citra Indonesia. Jadikan laga persahabatan itu sebagai pesta yang menghibur. Jangan kelewat berharap dan akhirnya Anda kecewa. Tanpa maksud melemahkan semangat tempur Timnas Indonesia, berharap skuad negeri ini mampu mengungguli Timnas Uruguay rasanya berlebihan. Seri, bahkan asal tidak jadi lumbung gol Uruguay, akan menjadi capaian besar.

Mampu menang, wow, sungguh luar biasa mengingat gap prestasi kedua tim saat ini begitu lebar. Uruguay di peringkat ke-7 ranking termutakhir FIFA. Indonesia yang hampir dua dasawarsa terakhir tidak mampu menjadi raja meski dalam scope terkecil, Asia Tenggara –terhitung sejak perolehan medali emas di SEA Games 1991 Manila— di posisi 131 dunia. Lantas, apa yang dicari?

Belajar sambil terus mengevaluasi diri. Selain menyaksikan langsung aksi para bintang Uruguay, suporter bisa terus belajar menikmati pertandingan berkualitas. Sesempit apa pun, pengurus PSSI dan insan sepak bola nasional juga bisa menimba pengetahuan bagaimana Uruguay membina talenta-talenta pemain sepak bolanya.

Untuk pelatih dan pemain Indonesia, selain teknik serta skill kiranya yang bisa dipelajari di lapangan dari Timnas Uruguay adalah physical endurance alias ketahanan fisik. Staminanya. Mengaca saat kualifikasi hingga putaran final Piala Dunia 2010, mereka solid bertahan dengan melibatkan pemain dari hampir semua lini, namun juga cepat menyerang balik. Ada kecenderungan langsung menggempur lawan pada 15 menit awal, lalu menurunkan tempo untuk menakar stamina lawan demi serangan berikutnya.

Bukankah sudah menjadi rahasia umum selama ini stamina selalu menjadi masalah utama di Timnas Indonesia? Jika Uruguay tetap memeragakan strategi itu, kesempatan belajar pun kian besar. Sungguh modal sangat berharga untuk Timnas Indonesia demi prestasi di masa mendatang.

Selamat bertanding. Semoga aman dan lancar.

* Tulisan ini dimuat di TopSoccer, Jurnal Nasional, Kamis 7 Oktober 2010.