Peter Lim serius mengakuisisi Liverpool. PHOTO: PETER LIM VIA THE STRAITS TIME

 

UNTUK apa membeli klub sepakbola? Duit, duit, baru trofi. Begitulah penuturan orang-orang terdekat Peter Lim, 57 tahun, miliuner Singapura yang beberapa hari ini getol berusaha mengakuisisi Liverpool yang dirundung masalah keuangan serius.

Ketika pada Selasa (12/10) masalah penjualan klub itu dibawa ke Pengadilan Tinggi London, pada hari yang sama Lim justru menaikkan nilai penawarannya dari semula 300 juta pounds menjadi 320 juta pounds (US$ 663 juta). Nilai penawaran terbaru ini belum termasuk gelontoran dana 40 juta pounds untuk membeli pemain baru pada jendela transfer Januari nanti agar Liverpool on the right track lagi sesuai nama besarnya.

Performa Liverpool pada perjalanan musim ini sangat mengecewakan. Klub berjuluk The Reds ini bertengger di posisi ke-18 klasemen sementara Premier League alias di zona degradasi. Dari total tujuh laga musim ini, mereka hanya meraup 6 poin. Sebuah raihan terburuk sejak 1953. Kali terakhir klub yang bermarkas di Anfield itu menjuarai Premier League pada 1990, namun pada 2005 mereka mampu menorehkan prestasi gemilang menjuarai Liga Champions Eropa melalui laga final dramatis melawan AC Milan di Istanbul, Turki.

‘’Saya commit membangun klub tersebut. Saya percaya utang begitu besar itu bisa dihapus, sehingga klub mampu fokus memperbaiki performanya di lapangan,’’ kata Lim dalam pernyataan tertulis seperti dilansir The Straits Times.

Lim mengatakan secara tegas, ia tidak butuh kreditor atau bank penjamin untuk membeli Liverpool. Semua uang sudah disiapkan dari koceknya sendiri, dari tabungan cash-nya. Luar biasa. Betapa kaya Lim. Siapa dia?

Menurut daftar Forbes, Lim adalah orang terkaya kedelapan di Singapura dengan total aset mencapai sekitar US$ 1,6 miliar. Ia memang penggila bola, namun selama ini justru lebih dikenal sebagai fans Manchester United (MU). Bahkan sosok ini pula yang memegang hak eksklusif atas pengoperasian jaringan restoran dan bar bertema MU di Asia. Ia juga merupakan pemegang saham terbesar kedua di ritel fesyen FJ Benjamin <FJBN.SI>, yang sebelumnya mengoperasikan jaringan Manchester United Theatre of Dreams di Singapura.

Lim, putra pengusaha ikan itu, sejauh ini memang dikenal tidak suka obral popularitas. Meski terbilang sebagai pialang saham jempolan, menjadi private investor sejak 1996, ia jarang memberikan wawancara kepada media. Ia memiliki saham di Wilmar International <WLIL.SI>, perusahaan pengolah kelapa sawit terbesar sedunia, serta saham di perusahaan penyedia layanan pendidikan regional, Informatics <INFO.SI>, yang dibangkitkannya dari masa-masa sulit.

Awal bulan ini, ia berinvestasi senilai US$ 100 juta di Global Logistic Properties, perusahaan raksasa penyedia fasilitas pergudangan di China dan Jepang yang mana saham mayoritasnya dimiliki oleh GIC Singapura. Baru-baru ini ia juga mendermakan 10 juta dolar Singapura (U$ 7,65 juta) kepada Singapore Olympics Foundation untuk beasiswa atlet-atlet berprestasi dari keluarga kurang mampu.

Apa yang dicari Lim dari Liverpool?

Menurut orang-orang dekatnya, Lim adalah jago ‘’menggoreng saham’’. Pasti ia sudah menghitung cermat apa yang bisa diraihnya dan bisa diyakini itu tidak sekadar trofi. Ia dikenal jago menyehatkan perusahaan yang sakit.

‘’Liverpool adalah brand name yang terperosok pada masa-masa sulit. Jika Anda bisa melunasi seluruh utangnya, klub itu secara operasional menguntungkan,’’ tutur Mano Sabnani, mantan redaktur sebuah surat kabar yang kini mengepalai riset investasi pada satu dari tiga bank besar Singapura, sebagaimana dilansir Reuters.

 

Liverpudlian di depan Pengadilan Tinggi London, Selasa (12/10). Mereka berharap kemelut segera berakhir. PHOTO: REUTERS

Ironi Nama Besar

Sebagai kreditor Liverpool, Royal Bank of Scotland (RBS) memaksakan penjualan klub itu kepada pemilik baru dan melepasnya dari kepemilikan duo pengusaha AS, Tom Hicks dan George Gillett Jr. Otoritas Premier League menyetujui proposal penjualan ini. Tetapi Hicks dan Gillett keberatan atas putusan jajaran pengurus (board) yang menjual Liverpool kepada New England Sports Ventures (NESV), pemilik klub Boston Red Sox AS, senilai 300 juta pounds. Harga ini dinilai kelewat rendah.

Meski demikian, Hicks-Gillett mengaku telah melanggar kontrak dengan RBS sebagai kreditor atas upayanya menggusur dua anggota board untuk digantikan oleh orang-orangnya sebelum penjualan kepada NESV itu diputuskan. Menurut duo AS itu, langkah itu terpaksa ditempuh karena board dinilai gagal menyodorkan secara cepat berbagai opsi atas penjualan Liverpool serta minta RBS memberi mereka tenggat waktu lagi untuk mendapatkan calon pembeli potensial. Kata mereka, semua demi The Reds.

Selain menyoal nilai penjualan, RBS juga menilai upaya Hicks-Gillett tersebut arogan. Padahal hanya chairman Martin Broughton yang berhak mengganti keanggotaan board. Selain untuk menggugurkan upaya Hicks-Gillett menghentikan penjualan Liverpool, pengadilan juga mengkaji apakah Broughton memiliki otoritas menyetujui penjualan kepada NESV.

Pun dimungkinkan adanya peluang pemilik baru jika pengadilan memutuskan demikian (administrasi), tapi berisiko Liverpool dikurangi 9 poin sesuai aturan yang berlaku di Premier League. Langkah itu bisa terjadi jika Hicks dan Gillett, yang membeli klub Merseyside itu pada Februari 2007 senilai 218,9 juta pounds, tidak mampu memenuhi tenggat akhir 15 Oktober ini untuk melunasi seluruh utangnya kepada RBS, sehingga bank ini berhak melakukan penjualan sendiri untuk menentukan pemilik baru The Reds.